
Bulan mulai menampakkan wajahnya di langit malam. Lampu kota pun mulai memancarkan cahayanya. Seorang gadis berjalan tanpa tujuan di tengah keramaian. Langkahnya terhenti di sebuah kursi taman. Kakinya terasa letih dan wajahnya tampak pucat. Ia menyeka peluh di dahinya menatap ke langit malam itu.
'Apa sebaiknya aku pulang saja?' batin Amira saat ini, ia memegang perutnya yang mulai berbunyi meminta untuk diisi. Sudah setengah hari ia berjalan dan belum makan, dompet dan ponselnya tertinggal di rumah.
'Seharusnya aku tadi minta Adrian mengantarku ke rumah saja,' sesal Amira di dalam hati.
Sekarang tenaganya untuk berjalan pulang kembali saja ia tidak punya, walaupun ia enggan untuk pulang ke rumah. Ia menundukkan wajahnya dan menghela nafas panjang, hingga suara langkah kaki mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di depan Amira membuyarkan lamunannya.
Amira mendongakkan wajahnya dan menatap seorang pria berbadan tinggi berdiri di hadapannya, tersenyum lega kepadanya. Ia segera berdiri dan menyapanya.
"Kakak?"
"Kamu ini, kenapa keluar gak bawa handphone? Kamu tau sekarang ibu dan kakek mencemaskanmu!" omel Daniel sambil berkacak pinggang.
"Kakak kenapa bisa tau aku ada di sini?" tanya Amira heran tanpa menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Vincent yang memberitahuku, kalau tidak aku mau mencarimu ke mana coba!" gerutu Daniel.
Amira mengerutkan keningnya heran, 'Bagaimana Vincent bisa tahu?' batin Amira sambil menatap ke sekelilingnya. Ia curiga Vincent menyuruh orang untuk mengikutinya.
"Tak usah peduli dia tahu dari mana, yang penting ayo pulang! Ibu dan kakek menunggumu," ajak Daniel sambil merangkul pundak adiknya itu.
Sebenarnya Daniel dihubungi oleh ibunya untuk mencari Amira, tetapi ia tidak berhasil menemukan adiknya itu. Akhirnya ia mencoba menghubungi Vincent untuk membantunya.
Hanya dalam beberapa menit Vincent sudah mengetahui lokasi adiknya itu. Ia sendiri pun heran, tetapi ia tidak mau ambil pusing.
Sebenarnya Vincent ingin menjemput Amira sendiri, tetapi ia tidak bisa meninggalkan tempatnya karena masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan. Dengan terpaksa ia meminta Daniel menggantikan dirinya untuk menjemput Amira saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu kabur dari rumah?" tanya Daniel setelah berada di dalam mobil.
"Apa ibu sudah tahu masalah hubunganmu dengan Vincent?" terka Daniel.
Amira hanya diam dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil di sampingnya.
'Sepertinya tebakanku benar', batin Daniel menghela nafas pelan dan fokus mengendarai mobilnya menuju kediaman keluarga Lin.
°
°
°
°
°
Nyonya Merina dan Kakek Juan sudah menunggu Amira di ruang tengah. Mereka berdua segera menyambut gadis itu ketika Daniel membawanya pulang ke rumah.
"Ami, kamu ke mana aja. Apa kamu tidak memikirkan kami yang mencemaskanmu di sini?" omel Nyonya Merina kepada putrinya itu.
Amira hanya diam dan memalingkan wajahnya. Ia masih enggan berbicara dengan ibunya, walaupun sebenarnya ia tahu ibunya dan kakeknya mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Sudahlah. Biarkan dia beristirahat dahulu," bela Kakek Juan melihat kondisi cucunya yang sedikit mengkhawatirkan.
Nyonya Merina menghela nafas pelan. "Maafkan Ibu, Ami," ucap Nyonya Merina pelan.
Wajah Amira sedikit cerah mendengarkan ucapan ibunya. "Apa ibu sudah menyetujui hubungan kami?" tanyanya penuh harap.
Nyonya Merina memalingkan wajahnya, tidak menjawab. "Makanlah dulu. Kamu pasti belum makan," kilahnya mengalihkan perhatian putrinya.
Amira terpaksa menuruti ibunya karena perutnya memang minta untuk diisi. Selama makan, tidak ada satu pun yang ingin mengungkit masalah tadi pagi. Semuanya makan dalam diam. Amira dan Daniel merasa sedikit aneh.
Apalagi Kakek Juan juga tidak mengatakan sepatah kata pun, menyelesaikan makannya dan kembali ke kamarnya.
"Ibu, aku dan Vincent …." Amira mencoba membuka pembicaraannya di meja makan.
"Selesaikanlah makanmu. Ibu tidak ingin membahasnya saat ini," sela Nyonya Merina melanjutkan makannya dalam diam.
Amira memanyunkan bibirnya sebal. Daniel yang berada di sampingnya berusaha menghibur adiknya itu, menepuk pundaknya pelan. "Makanlah, setelah itu istirahatlah. Biarkan ibu menenangkan diri dulu," hibur Daniel setengah berbisik. Amira hanya mengangguk pelan dan meneruskan makannya.
Setelah selesai makan, Amira kembali ke kamarnya. Ia menemukan Tiffany yang hanya melamun duduk di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa?" tanya Amira menghampiri sahabatnya dan duduk di sebelahnya.
Tiffany menoleh dan menghela nafas lega. "Ah kamu sudah pulang?"
"Kamu sudah makan?" tanya Amira kepada sahabatnya itu karena tidak melihatnya keluar kamar untuk makan tadi.
"Sudah tadi. Aku lagi proses diet," jawab Tiffany sambil memegang perutnya yang rata.
"Huss … sembarangan aja kalau ngomong," protes Tiffany dan segera membungkam mulut Amira.
Amira menepuk tangan Tiffany di mulutnya dan menyingkirkannya. "Cih … tanganmu bau," ledek Amira.
"Enak aja! Wangi kok," protes Tiffany sambil mengendus-ngendus tangannya.
"Apa yang kamu lamunin tadi?" tanya Amira yang teringat dengan sikap sahabatnya yang tadi.
Tiffany menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. "Tidak kok. Tidak ada apa-apa. Aku ngantuk, aku tidur dulu ya," ucapnya berusaha menghindari pertanyaan sahabatnya itu.
'Sebenarnya ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka semua seperti menghindariku?' batin Amira merasa aneh.
°
°
°
°
°
Gedung Royal Group.
__ADS_1
Seorang pria berdiri di depan jendela besar di ruangannya. Ia memandangi langit malam yang tak berbintang saat ini. Melonggarkan dasinya dan menghela nafas panjang. Tergurat rasa lelah yang begitu mendalam di wajahnya. Beberapa kali ia menghela nafas pelan. Suara ketukan di pintunya mengalihkan pandangannya. "Masuk," jawabnya.
Vincent melihat ke arah pintu dan kembali berbalik menatap pemandangan malam di depannya. Lucas masuk dan menghampiri atasannya itu.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Vincent tanpa menatap Lucas.
"Sudah, Bos. Sebagian besar para pemegang saham lama tetap mendukung Anda. Mereka tetap akan memberikan suaranya untuk Anda nanti pada rapat pemegang saham minggu depan," lapor Lucas.
Saat ini posisi Vincent sedikit terancam karena beberapa para pemegang saham kecil berbalik menusuknya dari belakang. Mereka menjual sebagian saham-sahamnya kepada Adrian Song, sehingga jumlah saham Adrian menyamai Vincent. Minggu depan akan diadakan rapat pemegang saham yang akan membahas pemilihan jabatan Direktur Utama yang biasa diadakan lima tahun sekali. Walaupun ia tahu para pemegang saham yang lama masih memihaknya, namun ia masih cemas Adrian akan berbuat curang di belakangnya.
Seharian ini Vincent berusaha memutar otak mencari cara untuk menghadapi Adrian dan menghentikan cara liciknya itu. Ia meminta Lucas untuk mencari tahu siapa saja yang masih memihaknya saat ini dan siapa saja yang telah mengkhianatinya.
"Apakah kamu sudah mengetahui identitas para tetua yang telah menjual sahamnya?" tanya Vincent dingin. Mata elangnya memincing menatap langit malam di depannya, seolah akan menerkam mangsa yang sudah diintainya sejak lama.
"Sudah, Bos. Sesuai perintah Anda, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal minggu depan setelah rapat itu, Bos," jawab Lucas yang tidak kalah dinginnya.
Sesuai perintah Vincent, Lucas memeriksa beberapa para pemegang saham yang telah menjual sahamnya itu pernah melakukan penggelapan uang perusahaan di bawah naungan Royal Group. Selama ini Vincent selalu menutup sebelah matanya dan hanya menegur mereka dengan meminta mereka mengembalikan sebagian dana yang mereka ambil, tetapi ternyata kali ini mereka telah membuat batas kesabaran Vincent habis. Lucas telah mengumpulkan semua bukti penggelapan dana perusahaan itu dan memberikannya kepada pihak berwajib setelah rapat pemegang saham minggu depan.
"Bagaimana dengan Jason?" tanya Vincent kepada Lucas, karena sejak tadi pagi ia belum bertemu dengan saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Saya sudah meminta orang mencari tahu. Katanya ia disekap oleh Tuan Jack di rumah," lapor Lucas.
Vincent menghela nafas pelan. Ia tak menyangka paman kandungnya sendiri mengkhianatinya dan mengurung putranya sendiri di dalam rumah. Ia tahu pamannya itu tidak ingin Jason membantu Vincent dalam rapat pemegang saham minggu depan, karena Jason juga memiliki saham Royal Group walau hanya sedikit, namun satu suaranya di dalam rapat begjtu berarti bagi Vincent.
"Bos, sebaiknya Anda beristirahat. Sudah seharian ini Anda belum makan dengan benar, apa mau saya pesankan makanan untuk Anda?" tanya Lucas yang mencemaskan Vincent karena sejak seharian ini atasannya itu hanya makan beberapa suap dari makanan yang ia sediakan tadi.
Vincent berbalik dan menatap Lucas, tersenyum tipis. "Tidak perlu. Aku sudah mau pulang. Kamu juga pulanglah dan beristirahat," ujar Vincent dan mendekati Lucas, menepuk bahunya pelan. Ia berjalan melewati Lucas dan keluar dari ruangannya.
Lucas menghela nafas pelan. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, kemudian mengetik pesan kepada seseorang yang bisa membujuk atasannya untuk makan. Orang itu adalah Amira Lin.
°
°
°
°
°
Vincent keluar dari Gedung Royal Group dan mengambil mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby. Ia masuk ke dalam mobilnya dan akan menyalakan mesin mobilnya, tetapi diurungkan niatnya itu ketika mendengar bunyi nada masuk di ponselnya.
Vincent mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya dan membaca satu pesan yang masuk ke ponselnya.
My Chubby
I miss u, my bear ❤
Senyuman terukir di wajah Vincent ketika membaca pesan itu. Dengan cepat, ia membalas pesannya dan menyalakan mesin mobilnya, melajukannya ke jalanan menuju hatinya berlabuh.
To be continue ….
__ADS_1