Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 119


__ADS_3

Air mata menetes dari pelupuk mata gadis itu. Ia tak ingin percaya dengan ucapan pria yang telah mengkhianatinya. Ia memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Hatinya masih saja tersentuh ketika pria itu mengucapkan kata cinta kepadanya.


'Dasar bodoh! Bodoh kamu, Ami! Jangan goyah! Lupakanlah dia!' batin Amira menjerit.


Vincent bergerak perlahan mendekatinya.


"Ami, aku gila karena mencintaimu. Aku gila karena tidak bisa melupakanmu. Aku gila karena—"


"Cukup! Hentikan!" Amira menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia memejamkan matanya erat. Ia tidak ingin mendengarkan ucapan manis dari pria itu lagi.


Vincent memeluknya dari belakang dan berbisik di telinganya. "Aku gila karena ingin memilikimu, Ami."


"Sudah … cukup! Hentikan!" jerit Amira masih histeris. Ia menggeleng kepalanya kuat. Air matanya terus mengalir, menetes di lengan Vincent yang sedang memeluknya saat ini.


"Pembohong! Aku benci! Aku membencimu, Vincent …," ucap Amira lirih. Walau bibirnya mengatakan benci, namun tidak dengan hatinya. Amira memegang dadanya yang berdenyut perih. Sakit ketika ia mengatakan hal itu.


Vincent membalik tubuh gadis itu. "Katakan kamu mencintaiku! Katakan!" perintah Vincent kepadanya. Hatinya sakit, benar-benar sakit mendengar kata benci yang keluar dari bibir gadis itu. Padahal seharusnya ia senang tujuannya tercapai, gadis itu mulai membencinya. Namun rasa ego di dalam dirinya menyeruak, ia tidak peduli lagi dengan dosa yang akan ia tanggung nanti.


Amira menatap Vincent tajam, walau air mata masih mengalir. Tatapannya begitu dingin kepada pria itu.


"Katakan!" ucap Vincent lagi sambil menggoyangkan pundak gadis itu.


"Benci! Aku memben …."


Dengan cepat, Vincent membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengar gadis itu mengatakan kata 'benci' lagi. Amira memukul dada Vincent dengan kuat, tetapi pria itu menangkap kedua tangan Amira dengan satu tangannya dan satu tangan lagi menahan kepala Amira yang terus bergerak-gerak ingin melepaskan dirinya.


Vincent mencium bibir gadis itu dengan sedikit kasar. Ia tidak peduli gadis itu yang terus meronta-ronta. Ia menggigit bibir bawah gadis itu memaksanya membuka mulutnya. Tanpa melepaskan kesempatan, lidahnya masuk menelusuri rongga mulut gadis itu. Mengabsen setiap sudutnya. Perlahan gadis itu pun mulai mengikuti alur permainan lidahnya. Nafas keduanya begitu memburu. Vincent tersenyum menyeringai mengetahui gadisnya mulai sedikit tenang dan ciumannya menjadi lebih lembut.


Melihat senyuman Vincent membuat Amira tersadar dan mendorong tubuh pria itu dengan kedua tangannya yang telah dibebaskan Vincent beberapa saat lalu. Amira mengusap bibirnya dengan kasar. Ia menatap Vincent tajam.


"Aku membencimu!" teriak Amira dengan lantang.


"Tidak … kamu tidak akan bisa membenciku. Ciumanmu telah membuktikannya," ucap Vincent dengan percaya diri.


"Cukup, Vin! Kita tidak mungkin bersama!" teriak Amira lagi kali ini dengan sedikit lirih.


Vincent mengernyitkan keningnya mendengarkan pernyataan gadis itu. Ia menatapnya meminta penjelasan atas ucapannya.


"Kita itu saudara, Vin … saudara …," ucap Amira lirih.


Vincent kaget dengan ucapan gadis itu. "Dari mana kamu mengetahuinya?"

__ADS_1


Wajah Amira terkesiap dan tersenyum miris mendengarkan pertanyaan Vincent. "Ja-jadi kamu juga sudah tahu? Ha-hanya aku sendiri yang seperti orang bodoh, begitu?"


Flashback dua puluh menit yang lalu.


Amira menangis di depan apartemen Vincent. Gadis itu duduk di pinggiran air mancur depan apartemen itu.


Dirinya sudah lelah dan ingin beristirahat sebentar di sana. Ponsel gadis itu terus berdering. Ia menatap layar ponselnya, kali ini sahabatnya yang menghubunginya. Entah sudah berapa banyak panggilan tidak terjawab di daftar teleponnya. Ia malas mengangkatnya dan tidak ingin menjawabnya.


Beberapa detik kemudian, Tiffany mengirimkan pesan masuk ke ponselnya. Gadis itu membukanya dan membacanya. Matanya membulat membaca pesan itu. Segera ia menghubungi sahabatnya itu.


"Halo, Ami. Kamu di mana?" jawab Tiffany cepat ketika Amira menghubunginya saat itu.


"Apa maksud pesanmu tadi?" tanya Amira lirih.


"Maaf, Ami. Bukannya aku ingin membohongimu, Tante memintaku untuk merahasiakannya. Aku tahu tidak seharusnya menutupinya darimu terus …."


"Tif! Jelaskan intinya!" hardik Amira kesal karena sahabatnya itu masih berbasa-basi dengannya.


"Intinya, kamu dengan Kak Vincent itu saudara kandung satu ayah, Ami. Kamu dengannya memiliki ayah yang sama. Ayah kandungmu adalah ayah Vincent!" papar Tiffany.


Amira tersenyum miris mendengarkan kenyataan yang diungkap dari sahabatnya itu.


"Hahahaha …."


"Halo, Ami. Kamu mendengarkanku? Ami, kamu di mana? Jawab aku! Ami!" teriak Tiffany yang panik mendengarkan suara tawa dan tangis Amira sekaligus dari balik teleponnya.


Amira tidak menjawabnya. Ia menutup teleponnya itu dan membuangnya ke dalam air mancur di dekatnya.


End of flashback.


'Kenapa? Kenapa semua membohongiku?' batin Amira sedih dan tubuhnya bergetar hebat karena menahan tangisnya itu. Ia memukul-mukul dadanya sendiri. Rasanya begitu sesak dan sakit.


"Ami …." Vincent mendekati Amira dan mengusap wajah gadis itu.


"Mungkin memang lebih baik kita seperti ini, Vin. Berpisah dan … dan biarkan aku melupakanmu … selamanya," ucap Amira terbata-bata dan berbalik menuju jalan raya. Ia berlari menyeberangi jalan yang memang lenggang malam itu. Namun langkahnya terhenti ketika seberkas cahaya dari mobil sedan menerangi matanya, ia mengangkat lengannya untuk menghalangi cahaya yang masuk ke matanya. Kakinya kaku menapak di jalanan aspal panas itu.


"Amira!" teriak Vincent yang melihat mobil itu terus menambah kecepatannya menuju ke tubuh gadis itu.


Vincent sudah lebih dulu berlari menghambur menuju ke jalan dan memeluk gadis itu. Amira berusaha melepaskan pelukan pria itu, namun tidak bisa. Mereka berdua sudah tidak bisa menghindari dari kecelakaan maut itu. Tubuh keduanya terpental cukup jauh dari kendaraan itu.


Vincent masih memiliki setitik kesadaran di dalam dirinya dan memandangi tubuh kekasihnya yang berada tidak jauh darinya. Ia berusaha menggapai tangan gadis itu. Perlahan ia menarik tubuhnya mendekati tubuh gadis itu yang sudah tak bergeming. Cairan berwarna merah pekat itu membasahi kepala dan bagian tubuh gadis itu, tidak terkecuali Vincent yang bernasib hampir sama. Namun kesadaran pria itu masih begitu besar, ia berhasil menggapai tangan kekasihnya itu.

__ADS_1


'Tuhan, berikanlah aku kesempatan untuk bisa memberikan cintaku kepadanya. Jangan pisahkan kami dengan cara seperti ini,' pinta Vincent di dalam hatinya. Ia menyesal telah menyakiti gadis itu sebelumnya.


'Jika kita memang tidak ditakdirkan bersama di kehidupan ini, aku harap kita bisa bertemu dan bersama di kehidupan berikutnya, Ami,' batin Vincent terakhir kalinya sebelum ia kehilangan kesadarannya.


Lucas yang sedari tadi berdiri di depan lobby apartemen, karena tidak ingin mengganggu momen Vincent dan Amira, segera berlari menghampiri mereka ketika mendengar suara benturan dan decitan rem mobil, namun sudah terlambat.


"Bos!" panggil Lucas seraya mengangkat tubuh majikannya itu.


Pengemudi mobil sedan itu tidak turun melihat kondisi korban yang ditabraknya. Ia segera memundurkan mobilnya dan kabur dari tempat kejadian dengan perasaan takut dan tubuh gemetar. Namun masih tersungging senyuman sinis di wajahnya.


To be continue ....


Sekilas percakapan author dan readers.


R : Thor, kok akhir2 ini ceritanya nyesek sih 🤧


A : Iya, soalnya di rumah lagi kelebihan bawang 😅


R : Jahat banget kamu, Thor ... Hatiku teriris2 nih ... mata perih baca ceritamu 😭


A : Sabar ya, Vincent dan Amira sedang mengalami cobaan yang harus mereka lewati ... karena cerita ini lagi berada di puncak konfliknya. Aku aja sedih nulisnya, sambil nulis sambil nangis 🤧 Gak ada yg hibur aku 😭


R : Sini aku hibur, Thor. Mau pake apa?


A : Pake apa aja ... mau joget atau nyanyi buat aku sudah seneng aku, apalagi tetap lanjut baca, like semua part, share cerita ini juga ke teman-teman terus dikasi vote dan tips 🤣


R : Jiah ... banyak maunya nih author 😓


A : 🤣🤣 namanya juga usaha ...


R : Iya, iya ... asal jangan naruh bawang lagi, Thor nanti aku kasih pasti. Mulung dulu ya Thor. 🤧


A : 😅 Malah jadi tawar-menawar kayak di pasar 🙈


R : Kan aku juga usaha ...


A : 😂😂😂 iyain aja deh ... Author cuma bisa pasrah, gak dikasi jg gpp ... Kalau dikasi, alhamdullilah .... Yang penting dibaca sampe akhir 🥰


End of Dialog.


Terima kasih yang masih terus membaca cerita ini dan terus memberikan dukungannya untukku. Love You All ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2