Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 120


__ADS_3

Rumah Sakit Royal.


Beberapa derap langkah berpacu menyusuri koridor rumah sakit. Langkah mereka perlahan terhenti di depan ruang operasi.


Nyonya Merina, Daniel dan Kakek Juan datang dengan tergesa-gesa setelah mendapatkan kabar dari Tiffany bahwa Amira telah mengalami kecelakaan. Tiffany segera pergi ke Rumah Sakit Royal ketika Lucas memberikan informasi kepadanya. Gadis itu tidak lupa menghubungi keluarga Amira karena Lucas tidak memiliki info kontaknya.


"Di mana? Di mana putriku?" teriak Nyonya Merina histeris kepada Tiffany dan Lucas yang sedang menunggu mereka di depan ruang operasi bersama Nyonya Celine yang sedang memejamkan matanya erat sambil memanjatkan doa untuk keselamatan kedua cucunya.


"Ibu tenanglah," bujuk Daniel.


"Bagaimana aku bisa tenang, aku ...." Isak tangis Nyonya Merina menghentikan ucapannya.


Kakek Juan menghela nafas pelan. Ia duduk di samping Nyonya Celine dengan tenang di ruang tunggu itu. "Sudah, sebaiknya kita mendoakan keselamatan mereka berdua saat ini."


Daniel memapah ibunya untuk duduk dan menunggu di depan ruang operasi.


Mereka semua menunggu dengan cemas. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka masing-masing.


Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dari ruang operasi tempat Vincent sedang dirawat. "Apa di sini ada pihak keluarga Tuan Zhang?" tanyanya.


"Ada apa, Sus? Mereka sedang dalam perjalanan kemari," jawab Lucas cepat dan mendekati perawat itu.


"Pasien butuh banyak darah saat ini, namun stok darah yang sama dengan pasien di rumah sakit saat ini tidak tersedia. Kalau ada pihak keluarga yang memiliki golongan darah yang sama bisa mendonorkan darahnya untuk pasien," jelas perawat itu.


"Saya Neneknya. Apa saya bisa mendonorkan darah untuknya?" tanya Nyonya Celine beranjak dari duduknya dan menghampiri perawat itu.


"Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa mendonorkan darah, karena akan beresiko besar mengingat usia Anda sekarang," jelas perawat itu membuat Nyonya Celine kecewa dan sedih.


"Apakah selain pihak keluarga tidak bisa mendonorkan darahnya?" tanya Lucas meminta penjelasan.


"Saya rasa tidak akan cocok, karena—" Belum selesai perawat itu menjelaskan, Nyonya Thalia dan suaminya sudah datang dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.


"Vincent! Di mana putraku?" teriak Nyonya Thalia.


"Nyonya, tenanglah. Apa Anda ibunya Tuan Zhang?" tanya perawat itu.


"I-iya … saya ibunya. Bagaimana keadaan putraku, Sus?" tanya Nyonya Thalia mendesak perawat itu.


"Tenanglah, Nyonya. Sekarang dokter sedang mengusahakan yang terbaik. Saat ini pasien membutuhkan stok darah yang sama dengan pasien saat ini," jawab perawat itu berusaha menenangkan Nyonya Thalia.


"Ambil ... ambillah darahku. Selamatkan anakku, Sus!" pinta Nyonya Merina seraya menyodorkan lengannya.


"Saya juga, Sus. Saya ayahnya. Ambil darah saya juga!" sahut Tuan James yang berada di samping istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, tetapi sebelumnya saya ingin bertanya apa golongan darah Tuan dan Nyonya juga golongan golden blood?" tanya perawat itu untuk memastikan mereka memiliki golongan darah yang sama.


"A-apa maksud Anda? Golongan darah saya A dan istri saya juga A," ucap Tuan James bingung dengan pertanyaan perawat itu, begitu juga dengan semua orang yang berada di sana.


Perawat itu sendiri juga bingung dengan keadaan saat ini, tetapi ia tetap menjelaskan kepada pihak keluarga.


"Golden blood merupakan salah satu darah langka di dunia. Saat ini Tuan Vincent termasuk salah satu dari orang yang memiliki golden blood dan hanya bisa menerima donor darah dari sesama pemilik golden blood juga," jelas perawat itu dengan cepat dan singkat.


"Ba-bagaimana mungkin ...," ucap Nyonya Thalia terperangah. Ekspresi semua orang di sana juga kurang lebih sama dengan Nyonya Thalia, bingung dan kaget mengetahui kebenaran itu.


"Ambil darah saya!"


Suara seorang pria yang berada di ujung koridor ruangan itu mengalihkan perhatian semua orang kepadanya. Pria tua berusia sekitar lima puluhan duduk di atas kursi roda elektriknya menatap tajam kepada semua orang yang berada di ruangan itu. Di belakangnya berdiri seorang pria muda yang menemani majikannya, di tangannya membawa sebuah dokumen. Mereka adalah Hades dan Silver.


Hades mengarahkan kursi roda elektriknya menuju perawat itu disusul Silver.


"Ambil darah saya," pintanya kepada perawat itu yang kebingungan.


"Ma-maaf Anda siapanya pasien? Pihak keluarga kah?" tanya perawat itu.


"Saya juga memiliki golden blood. Saya ayahnya," jawab Hades datar, tetapi mampu membuat seluruh ruangan menjadi gempar dengan pernyataannya.


"A-apa maksud Anda, Tuan!" hardik Nyonya Thalia tidak terima dengan jawaban Hades.


"Sus, tolong selamatkan anak kami," pinta Tuan James penuh harap.


"Baiklah, Tuan ini silahkan ikut saya untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu," ucap perawat itu.


"Tidak perlu. Saya memiliki bukti otentik dan laporan hasil golongan darah saya dengan pasien," sela Hades cepat.


Silver memberikan dokumen di tangannya kepada perawat itu. Perawat itu segera membaca dan mengangguk pelan.


"Baiklah, Tuan …." Perawat itu membaca nama di dokumen itu. "Tuan Anderson, silahkan ikut saya ke dalam," ucap perawat itu membantu Hades ke dalam ruang operasi.


"Ba-bagaimana mungkin … Vin-Vincent adalah anakku denganmu James. Bagaimana mungkin anak pria itu?" gumam Nyonya Thalia pelan. Ia pun pingsan karena terguncang, tidak mampu menerima kenyataan itu. Tuan James segera membawa istrinya ke ruang UGD dibantu Lucas.


Nyonya Merina pun terperanjat mendengarkan informasi yang baru saja dia dapatkan. Ia merasa menyesal dan bersalah telah memisahkan putrinya dengan Vincent.


"Ibu, kamu kenapa?" tanya Daniel mencoba menenangkan ibunya yang menangis lagi.


"Se-seandainya … aku memberitahu semuanya kepada Amira lebih awal, mungkin … mereka berdua tidak akan seperti ini," ucap Nyonya Merina terbata-bata.


"Apa maksudmu?" tanya Kakek Juan tidak mengerti ucapan menantunya itu.

__ADS_1


"A-aku … meminta Vincent untuk berpisah dengan Ami, memintanya agar tidak berhubungan dengannya lagi. Aku pikir mereka adalah saudara kandung, tapi ternyata …," ucap Nyonya Merina kalut.


Daniel terkesiap mendengarkan cerita ibunya. Ia satu-satunya yang baru mengetahui masalah hubungan darah Amira dengan Vincent, walaupun itu hanya salah paham. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Amira sudah tahu semuanya, Tante," timpal Tiffany yang duduk tidak jauh dari sana.


Mereka menatap ke arah Tiffany yang menundukkan wajahnya. Tiffany menjelaskan beberapa jam yang lalu, ketika dirinya menghubungi Amira.


"Maaf … maafkan aku, Ami. Seharusnya aku memberitahumu lebih dulu," gumam Tiffany turut merasa bersalah.


"Sudah! Sudahlah … Kalian semua bersalah, aku juga bersalah. Kita semua bersalah kepada mereka berdua!" tutur Kakek Juan kesal. Kesal kepada semua dan kepada dirinya sendiri.


Nyonya Celine yang sedari tadi hanya diam, mulai membuka suaranya. "Juan, bukan salah siapapun. Mungkin ini adalah takdir yang harus mereka jalani berdua. Kita hanya bisa mendoakan mereka agar tetap hidup dan memberikan berita bahagia ini kepada mereka nanti," ucap Nyonya Celine dengan bijak.


Semua mendengarkan perkataan Nyonya Celine dalam diam dan memberikan doa mereka saat ini, termasuk Silver saat ini yang masih berwajah datar sejak tadi.


Setengah jam kemudian, lampu di depan ruang operasi tempat Amira dirawat dipadamkan. Dokter pun keluar dari ruangan itu. Nyonya Merina dan yang lainnya menghampiri dokter itu, kecuali Silver.


"Dok, bagaimana keadaan putriku?"


"Kondisi Nona Lin sudah lebih baik. Ada beberapa luka jahitan di kepalanya dan tangannya mengalami patah tulang, namun kita sudah melakukan yang terbaik. Kita hanya bisa menunggu pasien untuk segera siuman agar kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa," jelas dokter itu dan segera undur pamit.


"Syukurlah … syukurlah …," gumam Nyonya Merina dan tubuhnya pun lunglai. Daniel segera memapahnya duduk di kursi tunggu sementara Amira dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka masih menunggu kabar mengenai kondisi Vincent.


Tuan James dan Lucas pun kembali menemani Nyonya Celine setelah mengantarkan istrinya ke ruang UGD.


"Bagaimana, Bu?" tanya Tuan James kepada ibunya.


Nyonya Celine menggeleng pelan. Ia tidak menjawab, namun mulutnya tetap berkomat-kamit pelan mengucapkan doa untuk cucunya saat ini.


Tuan James melirik ke arah Silver yang diam dan memejamkan matanya. Pria itu terlihat begitu tenang. Wajahnya begitu datar, hampir tak ada ekspresi yang terlihat.


Tuan James mencoba mendekati Silver dan berdeham. "Tuan, apa saya bisa mengganggu waktu Anda sebentar?" tanya Tuan James.


Silver membuka matanya dan menatap Tuan James datar. "Saya rasa saya tidak berhak untuk menjawab pertanyaan Anda. Anda bisa menanyakannya kepada tuan saya nanti," ucapnya dingin. Tuan James hanya bisa menelan salivanya pelan mendapatkan jawaban itu.


"Baiklah," jawab Tuan James dan segera kembali ke tempat duduknya.


Beberapa saat kemudian, lampu ruang operasi padam. Vincent dan Hades diantar keluar dari ruangan dan juga dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Tenang saja. Kondisi mereka berdua cukup stabil. Kita tunggu pemeriksaan lebih lanjut setelah kesadaran pasien mulai pulih," jelas dokter kepada pihak keluarga Vincent.


Tuan James dan yang lain bernafas lega mendengarkan penjelasan dokter. Mereka pun beriringan mengikuti perawat yang mengantar kedua pasien menuju ruang rawat inap.

__ADS_1


To be continue ….


__ADS_2