Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 114


__ADS_3

Matahari mulai menapakkan kakinya di cakrawala pagi. Ia menyapa orang-orang masih terlelap dari tidurnya dengan cahaya kemilaunya.


Amira menggeliat kecil dari tidurnya, membukakan matanya perlahan dan ingin beranjak dari tidurnya, tetapi ia tidak mampu karena lengan seorang pria melingkari pinggangnya. Ia menoleh dan mendapati Vincent yang tertidur di sampingnya. Gadis itu tersenyum melihat wajah kekasihnya pagi itu, tetapi tiba-tiba senyumnya memudar. Ia melihat sekelilingnya dan teringat bahwa ia ternyata masih berada di dalam mobil.


"Vin!" teriak Amira membangunkan kekasihnya itu.


"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran di sini!" gumam Amira sambil memukul kepalanya sendiri dengan pelan.


"Vin!" panggilnya lagi, tetapi pria itu hanya menggeliat dan malas membuka matanya.


"Vincent!" Kali ini Amira berteriak di telinga pria itu membuat telinganya berdenging. Vincent menutup telinganya dan segera membuka matanya, mengerutkan keningnya menatap gadis itu.


"Bangunlah! Ini sudah pagi. Aku mau pulang dulu sebelum ketahuan ibu," terang Amira cepat dan bergegas membuka pintu mobil, tetapi belum sempat ia keluar, tangannya di tarik oleh Vincent. Ia berbalik dan mendapatkan sebuah ciuman yang mendarat di bibirnya.


"Morning kiss, Sayang," bisik Vincent pelan dan tersenyum nakal.


Amira mengigit bibirnya dan tersenyum malu. "Dasar mesum!" teriaknya dengan wajah memerah dan segera keluar dari mobil.


"Cepat pulanglah. Aku gak mau nanti ibu memikirkan yang nggak-nggak," pinta Amira sebelum masuk ke dalam rumahnya. Vincent hanya memberikan tanda 'oke' di jarinya.


Amira segera berlari masuk ke halaman rumahnya. Ia berjalan mengendap-ngendap masuk ke dalam rumahnya, hingga suara di belakang mengagetkannya.


"Kamu dari mana?" tanya Nyonya Merina yang baru saja keluar dari kamarnya.


Amira terkesiap mendengar pertanyaan itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menyapa ibunya. "Pagi, Bu. Aku habis jalan-jalan menghirup udara pagi," jawab Amira tersenyum paksa sambil merengangkan kedua tangannya, ia terpaksa berbohong.


Nyonya Merina menatap tajam kepada putrinya itu. Instingnya sebagai seorang ibu merasa putrinya sedang berbohong kepadanya, tetapi ia tidak ingin menghakiminya begitu saja.


Nyonya Merina menghela nafas pelan dan mendekati putrinya, menggenggam erat kedua tangannya dan menariknya untuk duduk di sofa. Tampak kedua kantong mata di bawah pelupuk matanya. Wanita itu tidak bisa tidur semalam karena memikirkan hubungan putrinya dengan putra dari keluarga Zhang.


"Ami, apa kamu masih marah sama Ibu?" tanya Nyonya Merina. Amira menundukkan wajahnya, tidak ingin menjawab pertanyaan itu.


"Ibu tahu kamu pasti marah, tetapi Ibu memintamu berpisah dengannya adalah demi kebaikanmu. Ibu tidak ingin pada akhirnya malah kamu yang terluka dan menderita, Sayang," jelas Nyonya Merina sambil menepuk pelan punggung tangan Amira.


Amira menengadahkan wajahnya, menatap wajah ibunya yang sayu dengan air mata yang menggenang di pelupuknya. "Bu, aku tahu yang Ibu pikirkan semua demiku, tetapi Ibu belum mengenal Vincent. Dia bukanlah orang yang akan menyakitiku, dia tidak sama dengan ayahnya. Ibu jangan menyamakan mereka. Tolong jangan berpikiran buruk dulu, Bu," pinta Amira mencoba membujuk dan mengubah pikiran ibunya.


"Aku mencintainya, Bu. Aku tidak mau berpisah darinya," lanjut Amira lagi.


Nyonya Merina menggeleng pelan. Ia menangis terisak dan beranjak dari duduknya. Rasanya ia tidak sanggup mengatakan kepada putrinya itu, kenyataan yang sebenarnya. Ia takut putrinya akan menjadi gila apabila mengetahui kebenarannya.


Amira terdiam mematung duduk di sofa itu. Ia tidak tahu lagi bagaimana ia membujuk ibunya itu.


Amira melihat kakaknya yang baru saja keluar dari kamar dan telah berpakaian rapi. Ia segera menghampirinya. "Pagi, Kak," sapanya.


"Pagi," balas Daniel sambil mengacak-acak rambut adiknya.


Amira masih berdiri di depan Daniel dengan memasang wajah manisnya. Daniel berdecak sebal melihatnya. "Ada apa? Cepat katakan," ujar Daniel yang tahu ada yang diinginkan adiknya itu.


"Kak, apa akhir-akhir ini perusahaan Royal Group sedang dilanda masalah?" tanya Amira penasaran.


Daniel mengerutkan keningnya. "Tumben, kamu peduli dengan bisnis," ledeknya. Amira memanyunkan bibirnya mendengarkan hal itu.


"Iya, aku dengar ada yang berkhianat di dalam perusahaan itu dan menjual sahamnya ke pihak luar. Aku rasa posisi Vincent cukup terancam sekarang," jelas Daniel lagi.


"Kenapa Kakak tidak memberitahuku?" protes Amira kepada kakaknya.


"Aku kasi tahu juga emangnya kamu bisa bantu dia apa?" balas Daniel menantang adiknya itu. Amira mendengus sebal mendengarnya.


"Memangnya siapa yang membeli sahamnya?" tanya Amira masih penasaran.


"Dengar-dengar direktur baru dari perusahaan Tang. Hm … kalau gak salah namanya Adrian Song," jawab Daniel membuat Amira kaget mendengar nama itu.


'Adrian Song?' batin Amira.

__ADS_1


"Hei … Malah melamun," panggil Daniel menggoyangkan kedua tangannya di depan wajah adiknya.


"Ha? Ah … aku ke kamar dulu ya, Kak," sahut Amira yang sadar dan segera masuk ke kamarnya.


Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakuan adiknya itu.


°


°


°


°


°


Di kamar Amira.


Gadis itu mengobrak-abrik pakaian kotornya di dalam keranjang baju. Tiffany yang baru bangun melihat sahabatnya itu dengan aneh.


"Ngapain bongkar-bongkar baju kotor? Ada emas di dalamnya?" ledek Tiffany.


"Bukan, aku lagi cari kartu nama. Ah … ketemu," ucap Amira girang. Ia segera meraih ponselnya dan mengetik pesan kepada Adrian. Mengajaknya bertemu.


°


°


°


°


°


Cafe Montez.


Tidak berapa lama, Adrian menghampirinya. "Maaf, sudah menunggu lama ya?"


Amira berbalik dan menatapnya sambil tersenyum. "Tidak. Aku baru aja sampai. Ayo duduk."


"Kamu mau pesan minum apa? Aku belum pesanin buat kamu, takutnya malah gak cocok," lanjut Amira lagi.


"Tidak apa-apa," balas Adrian dan tersenyum, kemudian ia memanggil pelayan cafe dan memesan minumannya.


"Perasaanmu sedikit lebih baik hari ini," ucap Adrian yang melihat wajah cerah gadis itu.


"Ah, benarkah? Begitu kelihatan ya?" balas Amira dan memegang kedua pipinya dengan malu. Adrian hanya mengangguk.


"Ehm … Adrian, sebenarnya … aku mengajakmu bertemu ingin berbicara mengenai bisnis," sahut Amira ragu.


Adrian mengerutkan keningnya, tetapi ia bisa menebak tujuan gadis itu sekarang. Ia merasa sedikit kecewa.


"Apa kamu ingin aku menyerahkan saham Royal Group?" tebak Adrian.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Amira keceplosan dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Adrian tertawa terbahak-bahak melihat gadis itu.


Wajah Amira memerah, malu karena tujuannya ketahuan oleh Adrian.


"Ah ... maaf … maaf," tutur Adrian berusaha menghentikan tawanya dan mengatur nafasnya.


"Baiklah, kalau kamu sudah tahu. Aku tidak akan malu-malu lagi," ucap Amira dengan wajahnya yang serius.


"Aku tidak meminta saham darimu secara gratis, tetapi aku ingin membelinya. Katakan harganya," lanjut Amira lagi.

__ADS_1


Adrian tersenyum mendengarkan ucapan gadis itu. Ia tak menyangka gadis itu menemuinya hanya demi saham yang ada di tangannya. Ia memandangi wajah gadis itu dengan lembut dan matanya menatapnya dengan penuh kasih.


Amira mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Adrian. Wajahnya menunjukkan kebingungan mendapatkan tatapan dari pria di depannya ini. Tatapan yang sama yang biasa ditujukan Vincent kepadanya. Ia menelan salivanya pelan.


"Ami, aku tidak akan menjualnya kepadamu. Kamu bisa mengambilnya secara gratis," ucap Adrian yang kemudian meraih tangan Amira yang berada di atas meja. Ia menggenggamnya erat.


"A-apa maksudmu?" tanya Amira curiga dan mencoba menarik tangannya, namun genggaman Adrian begitu kuat.


"Jadilah wanitaku … aku akan menyerahkan semuanya kepadamu, asal kamu bersedia bersamaku," jelas Adrian dengan perlahan namun membuat Amira syok mendengarnya.


Bibir Amira bergetar. Ia mulai merasa takut dengan pria yang berada di depannya saat ini.


"Bagaimana? Apakah kamu bersedia, Ami?" tanya Adrian sekali lagi dengan penuh harap gadis itu menjawab 'iya'. Jika gadis itu menyetujuinya, dirinya rela untuk melepaskan segala kekuasaan dan materi yang ia dapat dari perusahaan Tang, serta juga melepaskan dendamnya terhadap Vincent.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah mengintai mereka dari kejauhan. Emmy mengikuti Adrian sejak pria itu keluar rumah. Ia ingin segera menghampiri mereka, namun langkahnya terhenti ketika seorang pria telah mendekati meja mereka terlebih dahulu.


"Dia tidak bersedia!" jawab seseorang dari belakang tempat duduk mereka yang memang disekat pembatas antar tempat duduk satu dengan yang lain.


Vincent berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka dengan wajah murkanya. Sejak awal Vincent sudah mendengarkan pembicaraan mereka. Pria itu sudah berada di sana membahas pekerjaan dengan kliennya jauh sebelum Amira sampai di tempat itu.


Awalnya Vincent ingin menghampiri gadisnya, namun ia juga penasaran dengan yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu. Ia hanya diam mendengarkan seluruh pembicaraan mereka sejak tadi, hingga ia tidak dapat menahan dirinya lagi.


"Vi-Vincent!" teriak Amira segera menarik tangannya dari Adrian dan berdiri.


Adrian melihat wajah Vincent yang telah menatapnya dengan dingin. Ia tersenyum menyeringai dan ikut berdiri menyambut kedatangan Vincent.


"Halo, Tuan Zhang. Tidak kusangka kita bertemu lebih dulu di sini," sapa Adrian sambil mengulurkan tangannya yang diabaikan oleh Vincent.


"Aku tak menyangka Tuan Song yang sudah beristri masih bisa menggoda kekasih orang di luar rumah," cibir Vincent dengan sinis. Amira begitu kaget dengan informasi itu. Ia tidak tahu dan tidak menyangka Adrian sudah menikah. Yang terpenting ia sekarang begitu takut dengan amarah Vincent yang ditujukan kepada Adrian dan dirinya saat ini.


Adrian hanya tersenyum tipis dan menatap Amira sekilas. Ia tahu gadis itu merasa takut sekarang. "Baiklah, aku akui aku memang menggodanya, karena aku menyukainya. Aku harap kamu tidak melepaskannya dari pandanganmu atau … aku akan merebutnya darimu," ancam Adrian sambil menepuk pundak Vincent dan berlalu dari tempat itu.


Setelah kepergian Adrian, Vincent dan Amira masih berdiri diam dalam posisinya.


"Vin …," panggil Amira mendekati Vincent dengan perlahan.


Vincent memejamkan matanya sebentar dan berbalik. Ia menatap Amira dengan tajam, menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kuat agar mengikuti langkahnya keluar dari cafe itu.


"Vincent, lepaskan!"


Vincent memaksa Amira masuk ke dalam mobil miliknya. Ia tidak peduli apabila gadis itu berteriak kepadanya. Dilajukan mobilnya ke jalanan dengan kecepatan tinggi.


Selama perjalanan di dalam mobil, Amira hanya bisa diam dan pasrah dengan kondisinya saat ini. Ia tahu kekasihnya sedang marah besar kepadanya.


Vincent menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan apartemennya. Ia menatap gadis di sampingnya yang masih terdiam sejak tadi.


"Ami, aku tidak ingin kamu sampai mengorbankan dirimu hanya untuk saham sampah itu. Kamu dengar itu!" teriak Vincent membuka pembicaraan. Ia menatap kekasihnya dengan tajam, perlahan pandangannya melembut melihat rasa takut gadis itu kepadanya.


Vincent menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Berusaha meredakan emosinya agar tidak melampiaskannya kepada gadis di sampingnya saat ini. Ia meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat.


"Maafkan aku … maaf …," ucap Vincent lirih dan mengecup kening gadis itu berkali-kali.


"Nggak, Vin … aku yang minta maaf … Maaf sudah membuatmu terus mengkhawatirkanku. Aku … aku tadi terlalu naif, aku pikir Adrian akan menjual saham itu jika aku menawarkan untuk membelinya, tetapi ternyata …," papar Amira dengan lirih.


"Sst … Sudah, sudahlah. Tidak usah dibicarakan lagi. Biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri, Sayang," ucap Vincent menenangkan gadis itu. Amira menggangguk pelan.


°


°


°


°

__ADS_1


°


To be continue ....


__ADS_2