
Tok ... tok ... tok ....
Amira terkejut dari lamunannya. Nyonya Merina, Ibu Amira, sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Ibu," sapa Amira.
Amira beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Nyonya Merina masuk dan duduk di samping Amira. Jika dipikir-pikir semenjak obrolan tadi pagi di meja makan, Ibunya sudah bersikap aneh.
Terlihat wajah Ibunya yang sedikit muram, Amira melihat mata Ibunya yang juga agak sembab.
"Ibu habis menangis?" tanya Amira cemas dan memegang wajah Ibunya dengan telapak tangannya. Nyonya Merina memegang telapak tangan anaknya dan menurunkannya di atas telapak tangannya yang satunya dan menggenggamnya.
Nyonya Merina tersenyum lesu. "Nggak kok," jawabnya pelan.
"Ibu bohong! Mata ibu bengkak begini. Ada masalah Buu? Ibu bisa cerita sama Ami."
"Benar kok. Ibu tidak apa-apa. Hanya sedikit merindukan Almarhum Ayahmu," ucap Nyonya Merina menenangkan Amira.
"Ibu gak bohong kan?" tanya Amira masih tidak percaya.
"Kakek, bagaimana? Apa kata dokter?" tanya Nyonya Merina mengalihkan pembicaraan.
"Kakek sudah membaik. Kata dokter, nanti seminggu lagi Kakek musti ke rumah sakit untuk check up rutin dan musti banyak istirahat. Sementara jangan memikirkan masalah pekerjaan dulu."
Amira menjelaskan kondisi kakek dan nasihat dari dokter kepada Ibunya.
Nyonya Merina mengangguk, kemudian ia seolah ingin menanyakan sesuatu, tetapi sedikit ragu. Amira melihat sikap Ibunya tersebut, "Ibu ada hal yang ingin ditanyakan kepadaku?"
"Hmm ... Ibu mau tanya, apa hubunganmu dengan CEO Royal Group itu benar? Kamu benar sama dia ...." Nyonya Merina mencoba menanyakan gosip yang dia baca di sosial media beberapa menit yang lalu.
Belum selesai Nyonya Merina bertanya, Amira dengan cepat menangkap maksud Ibunya dan memotongnya, "Ibu, itu semua tidak benar! Ibu jangan percaya! Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa."
__ADS_1
"Benarkah??!"
Sekilas raut wajah Ibunya berubah cerah dan menggenggam tangan Amira erat.
Amira mengernyitkan dahinya, heran dengan perubahan drastis sikap Ibunya itu. "Ah, sebenarnya bukannya tidak ada hubungan sama sekali sih ...," ucap Amira pelan hampir terdengar seperti gumaman tetapi masih bisa terdengar oleh Nyonya Merina.
"Apa maksudmu, Ami? Jadi kamu dan dia benaran pacaran, begitu?!" tanya Nyonya Merina cepat dan sedikit meninggikan suaranya.
Genggaman tangan Ibunya semakin erat dirasakan Amira di tangannya, "Bukan Ibu, bukan begitu ... maksudku bukan hubungan seperti itu ...," jawab Amira sedikit meringis karena genggaman Ibunya.
Nyonya Merina segera menyadari itu dan melepaskan sedikit genggamannya, "Maafkan ibu."
"Jadi maksud kamu apa, Ami? Tolong jelaskan," tanya Nyonya Merina sekali lagi dengan sedikit merendahkan suaranya.
"Aku dan dia bukan pasangan kekasih yang seperti ibu pikirkan, aku hanya berhutang padanya," ucap Amira menjelaskan.
Amira mulai menceritakan permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Vincent, hingga timbul gosip seperti ini. Amira juga menceritakan kepada Ibunya mengenai masalah di rumah sakit tadi pagi, Nyonya Celine Wang, nenek Vincent, yang ingin menjodohkan dirinya dan Vincent.
"Nggak, Bu. Aku tidak ada perasaan apapun kepadanya," ucap Amira datar.
"Untuk seterusnya juga begitu kan, Ami?" tanya Ibunya yang membuat Amira heran.
Amira terdiam, Nyonya Merina menggenggam tangannya erat, dan sedikit menghentakkan tangannya, "Ami?"
"I ... iya, Bu. Sudah ada orang yang kusukai dan orang itu pastinya bukan dia ...," ucap Amira pelan.
Nyonya Merina mengangguk-angguk puas dengan jawaban anaknya, "Bagus lah kalau begitu", tetapi tiba-tiba terlintas lagi keraguan di matanya.
"Apa kau bisa berjanji kepada Ibu? Kalau kau tidak akan pernah jatuh hati kepadanya." Tampak keseriusan dalam ucapan ibunya itu.
Amira merasakan sedikit keraguan di hatinya, Apa yang sedang kau ragukan, Ami?, diurungkannya keraguan itu dan dia mengangguk pelan.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Ibu merasa tenang sekarang," ucap Nyonya Merina merasa lega. Amira benar-benar dibuat bingung oleh Ibunya.
"Ibu akan berbicara dengan Kakekmu. Kamu tenang saja. Kakekmu juga sayang padamu. Jika dia tau kau sudah mempunyai orang yang kau sukai, dia tidak akan memaksamu." Nyonya Merina menarik Amira ke dalam pelukannnya sebentar dan melepaskannya.
"Bisa kau ceritakan sedikit pada ibu, siapa orang yang kau sukai?" tanya Nyonya Merina dengan sikapnya yang normal seperti biasa. Amira tersipu malu, "ltu ...."
Akhirnya sore itu, kedua ibu dan anak itu mengobrol dan bersenda gurau cukup lama, tetapi menyisakan sebuah pertanyaan yang cukup besar di hati Amira.
Ada apa sebenarnya antara Ibunya dengan Vincent? Tepatnya mungkin dengan Royal Group?
Tetapi saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk menanyakan atau mencari tahu pada Ibunya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan dirinya dan Ibunya saat ini.
"Oh iya, Bu. Aku mungkin besok mau balik ke kota Amigos, soalnya mau ngumpulin tugas akhir dan katanya ada tugas lapangan juga buat nambah nilai." Amira meminta izin pada ibunya.
Nyonya Merina tertegun sebentar mendengar ucapan Amira.
"Baiklah, jangan khawatirkan Kakekmu dan Ibu. Selesaikan kuliahmu dengan tenang, ya," ucap Nyonya Merina.
"Terima kasih, Bu." Amira tersenyum dan memeluk Ibunya.
"Besok pesawat jam berapa? Nanti Ibu antar ke bandara."
"Belum tau, Bu. Nanti Ami mau cek dulu jadwal penerbangan untuk besok. Ami baru izin dulu sama Ibu. Gak pa pa kok, nanti Ami naik taksi aja."
"Baiklah kalau begitu." Nyonya Merina berdiri dan berjalan keluar dari kamar Amira, menutup pintu kamar itu dan menyenderkan punggungnya di pintu.
Mungkin lebih baik aku tidak mengatakannya kepada Amira dulu , batin Nyonya Merina.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1