Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 71


__ADS_3

"Ami dirawat?" tanya Leon kaget setelah menanyakan perihal keberadaan Vincent di rumah sakit itu.


"Iya. Alergi makanan," jawab Vincent datar.


"Kamu gak tau kalau dia alergi seafood?" tanya Leon marah.


"Tiffany pernah mengatakannya, tapi aku yang kurang teliti tadi," ucap Vincent merasa menyesal.


"Tadi kamu bilang tidak akan menyakitinya, tapi kenyataannya kamu sudah menyakitinya secara tidak langsung, Vin," balas Leon kesal dengan kecerobohan Vincent.


Leon mengeratkan giginya dan berusaha mengontrol emosinya melihat Vincent yang terlihat menyesal, "Aku ke dalam dulu mau lihat Ami," ucap Leon meninggalkan Vincent di luar.


°


°


°


Leon mendekati Amira yang sedang tertidur saat itu. Ia menatap wajah Amira dengan lembut. Ia mengusap rambut Amira dengan pelan. Rasa rindu yang teramat dalam terpancar dari kedua bola matanya.


"Ami, semoga kamu bahagia bersama Vincent," ucap Leon tulus dan menatap wajah Amira yang polos. Ia termenung mengingat hari-hari ketika Amira bersamanya dulu.


Tidak berapa lama, Vincent masuk ke dalam ruangan dan mendekati Leon. Leon tersadar dari lamunannya dan berbalik menatap Vincent dengan tajam.


"Sebaiknya kamu menjaga dan merawatnya dengan baik, kalau tidak ..."


"Aku tau, tidak perlu kamu ingatkan berulang-ulang," potong Vincent cepat karena ia kesal dengan ucapan Leon sebelumnya.


Leon memalingkan wajahnya ke arah Amira, "Dilihat dari kondisinya sepertinya sudah mulai membaik. Ruam di wajahnya perlahan juga akan mulai memudar," jelas Leon.


Vincent hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Leon. Leon berbalik kembali menatap Vincent, berdasarkan analisa seorang dokter, ia tau Vincent terlihat kurang sehat, "Kamu kelihatan lelah, Vin. Sebaiknya kamu beristirahat dulu, biar aku yang menjaga Ami di sini," ucap Leon tulus.


Vincent tidak menggubris ucapan Leon tadi. "Kamu jangan keras kepala, Vin! Kalau kamu juga sakit, siapa yang akan menjaga Ami?" bujuk Leon dengan suara sedikit meninggi.


"Aku akan memberikan beberapa vitamin untukmu. Kamu harus minum, setelah itu pergilah beristirahat!" perintah Leon menatap Vincent tajam, ia tidak ingin Vincent membantahnya atau bersikap acuh tak acuh atas ucapannya.


Vincent menatap mata Leon datar, ia menelaah dan membenarkan ucapan Leon. Ia tidak boleh jatuh sakit. Jika tidak, ia tidak akan bisa menyelesaikan semua pernasalahannya. Malah akan memperparah keadaan saat ini.


"Baiklah," jawab Vincent pelan. Kali ini Vincent terpaksa mengalah dan menuruti Leon.


"Baguslah kalau kamu paham. Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil beberapa vitamin untukmu," pesan Leon dan berjalan keluar ruangan.


°

__ADS_1


°


°


°


°


Cahaya matahari yang mengintip dari balik jendela kamar tempat Amira dirawat, memaksa Amira untuk membuka matanya. Amira menghalangi sinar matahari yang masuk dengan salah satu telapak tangannya.


Amira mengucek-ucek matanya dan menelusuri keadaan sekitar. Di lihatnya ke samping tempat tidurnya ada seorang pria tertidur dengan lengan melipat di atas tempat tidur dan wajah diletakkan di atas kedua lengannya.


'Kak Leon? Kenapa ia bisa di sini?'


Amira heran melihat Leon yang berada di sampingnya dan bukan Vincent yang ia lihat ketika bangun pagi ini.


'Vincent ke mana?'


Amira berusaha bangun dan mendudukkan tubuhnya untuk melihat keberadaan Vincent di ruangan itu, tetapi gerakan kecilnya membangunkan Leon yang sedang tertidur.


Leon membuka matanya dan mengangkat wajahnya sambil mengucek-ucek matanya pelan. Ia melihat Amira yang sudah duduk di atas tempat tidur.


"Ma-maaf ... su-sudah ... ba-bangunin," ucap Amira dengan pelan dan terputus-putus.


Amira mengangguk kuat dan menunjuk ke mulutnya, "Su-suara ..."


"Iya sudah, tenang nanti juga perlahan-lahan baik sendiri," bujuk Leon berusaha menghibur Amira. Amira mengangguk pertanda ia mengerti.


Kemudian perhatian Amira beralih ke sekitar ruangan di tempat itu, ia berusaha mencari sosok Vincent di sana, tetapi nihil. Ia menundukkan wajahnya dan menghela nafas kecewa.


"Aku yang suruh Vincent pulang," ucap Leon yang mengerti arti helaan nafas Amira.


Amira mengangkat wajahnya dan menatap Leon sambil mengerjap-ngerjapkan matanya meminta Leon untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ketika ia tidur, karena Amira bingung dengan kehadiran Leon yang tiba-tiba di sini.


Leon tertawa kecil melihat wajah Amira yang manis di matanya. Amira memanyunkan bibirnya sebal karena Leon menertawakannya.


"Maaf." Leon berdeham dan berusaha mengontrol dirinya untuk tidak tertawa karena Amira melotot ke arahnya.


"Semalam aku bertemu Vincent di luar dan dia mengatakan kamu dirawat. Aku melihat raut wajah Vincent kurang sehat, jadi aku suruh dia pulang beristirahat saja supaya ia punya stamina untuk menjagamu hari ini. Pagi ini katanya ia akan kemari," jelas Leon.


Amira mendengarkan ucapan Leon dengan seksama dan mengangguk pelan. Ia menyunggingkan senyuman dan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara untuk mengatakan 'Terima kasih'.


Leon tertawa dan mengacak-acak rambut Amira dengan gemas.

__ADS_1


"Ehem."


Suara dehaman di belakang Leon menghentikan gerakan tangan Leon yang berada di atas kepala Amira.


Amira menatap Vincent yang sedang berdiri di depan pintu ruangan. Tatapan matanya tajam membuat Amira berusaha menelan salivanya pelan.


Leon berbalik dan menatap Vincent dengan senyuman, "Kamu sudah datang?"


"Kalau aku tidak datang, aku rasa kamu akan berbuat lebih dari ini," sindir Vincent sambil berjalan mendekati mereka dan menurunkan tangan Leon dari kepala Amira.


Tidak ada nada kemarahan di dalam ucapannya, hanya sedikit tidak senang, seperti seorang anak kecil yang tidak ingin mainan kesayangannya disentuh orang lain.


Raut wajah Vincent pagi ini lebih terlihat segar dibandingkan semalam, karena Leon sudah memberikannya vitamin dan memaksanya untuk pulang beristirahat di apartemen kemarin.


Vincent duduk di samping Amira dan merangkul bahunya, "Terima kasih sudah menjaga kekasihku," ucap Vincent sambil memamerkan kemesraannya di depan Leon.


Leon hanya menggedikkan bahunya dan beranjak dari duduknya, "Baiklah aku pulang dulu ya, Ami," pamit Leon dan mengacak rambut Amira lagi, tetapi tangannya ditepis oleh Vincent. Leon tidak tersinggung, malah ia menertawakan sikap bermusuhan Vincent terhadap dirinya.


Amira tersenyum kikuk sambil mengangguk pelan dan melambaikan tangannya kepada Leon hingga Leon berbalik dan keluar dari ruangan itu.


Amira memiringkan wajahnya ke samping dan menatap Vincent dengan tatapan marah akan kelakuan Vincent yang seakan-akan mengusir Leon dari ruangan itu.


Vincent pura-pura tidak melihat tatapan marah kekasihnya itu. Ia mencoba mengalihkan perhatian Amira, "Kamu mau makan apa pagi ini? Aku akan belikan."


Amira memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di dada. Vincent tersenyum dan mengangkat dagu Amira ke arahnya.


"Jangan marah, Sayang."


Cup!


Vincent mengecup bibir Amira sekilas, "Kalau kamu marah lagi, aku akan menghabiskan bibirmu," ancam Vincent sambil tersenyum nakal.


Amira melotot mendengarkan ucapan Vincent dan menarik wajahnya dari tangan Vincent. Ia memukul dada dan lengan Vincent pelan. Vincent tertawa menanggapi kekesalan kekasihnya itu yang membuat Amira makin kesal.


°


°


°


°


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2