Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 78


__ADS_3

Vincent duduk di sofa ruang kerjanya sambil melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya. Raut wajahnya bagaikan bola api yang siap membakar siapapun yang menyapanya saat ini. Kemarahannya bukan tanpa alasan. Ia sudah menunggu kekasihnya selama 15 menit sejak ia menutup teleponnya. Tetapi yang ditunggu tidak kelihatan batang hidungnya sampai saat ini.


Di atas meja tamu ruangan itu tersedia beberapa kotak berisi makanan yang sudah dipesan khusus untuk Amira. Vincent sengaja meminta sekretarisnya untuk memesan makanan di restoran terdekat dan berharap Amira akan menyukainya.


'Gadis itu sengaja mengabaikanku?'


Vincent memijat keningnya dan mendengus kasar. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan menuju ke lantai 18, tempat Amira sekarang berada.


°


°


°


°


"Aaahh ... akhirnya selesai juga," ucap Amira sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.


Amira mengambil lembaran kertas hasil kerjanya dan membawanya menuju ruangan Steve yang saat itu juga masih berada di ruangan. Ia mengetuk pintu ruangan Steve pelan, hingga terdengar suara dari dalam dan mempersilahkannya masuk.


"Ini Kak, notulen rapat hari ini," ucap Amira sambil menyerahkan lembaran kertas tersebut di depan Steve.


Steve yang sedang berkutat di depan komputernya menoleh, "Oh kamu Ami, aku pikir siapa."


Steve mengambil lembaran kertas dari tangan Amira, "Terima kasih, Ami," ucap Steve tersenyum tulus.


Steve mengerutkan keningnya melihat jam di mejanya, sudah menunjukkan pukul 12.30, "Kamu gak istirahat siang?" tanyanya heran karena Amira masih berada di ruangan di saat jam makan siang.


"Iya, Kak. Habis ini saya mau nyusul Tiffany ke kantin. Aku permisi dulu, Kak," ucap Amira sambil berjalan keluar dari ruangan.


"Tunggu, Ami. Kita barengan aja," ajak Steve.


Amira mengangguk dan menunggu Steve mematikan layar komputernya. Mereka berjalan beriringan menuju lift dan berdiri berdampingan sambil menunggu pintu lift terbuka.


Tiba-tiba pintu lift khusus direksi terbuka dan Vincent keluar. Ia memergoki Amira dan Steve yang sedang mengobrol di depannya. Amira terkejut dengan kedatangan Vincent yang tiba-tiba.


'Habislah aku kali ini!' batin Amira ketika melihat tatapan tajam kekasihnya itu. Ia tidak bisa menghindar darinya seperti tadi pagi.


"Pak Vincent. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Steve heran melihat kedatangan Vincent saat ini.

__ADS_1


Mata Vincent menyala marah dan rahangnya mengeras.Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, ia hanya menatap Steve dengan sinis.


'Jangan-jangan dia cemburu lagi ...," batin Amira merasa aneh dengan tatapan Vincent terhadap Steve.


Amira mencoba memberanikan dirinya untuk menyapa Vincent duluan, walaupun sebenarnya ia masih kesal dengan sikap Vincent tadi.


"Vin ...," panggil Amira mendekati Vincent. Ia memegang pergelangan tangan Vincent membuat kekasihnya itu menoleh kepadanya.


"Kami mau ke kantin, kamu mau ikut?" tawar Amira padanya.


Vincent berbalik menatap Steve tajam dan mendengus kasar. Ia menarik paksa tangan Amira dan masuk ke dalam lift khusus direksi meninggalkan Steve yang terheran-heran sendirian.


Di dalam lift, Vincent tetap memegang tangan Amira dengan erat membuat pergelangan tangan Amira kesakitan.


"Lepaskan, Vin!" teriak Amira karena tangannya mulai memerah dicengkram oleh Vincent. Tetapi Vincent tidak mempedulikan ucapan Amira, ia tetap menarik Amira mengikutinya berjalan keluar dari lift setelah pintu lift terbuka.


Amira memberontak dan tidak ingin mengikuti perintahnya. Vincent langsung membopong tubuh Amira di pundaknya karena Amira terus memberontak.


"TURUNKAN AKU! VIN!" teriak Amira yang merasa kepalanya pusing, karena aliran darahnya berputar terbalik dengan kepalanya berada di bawah.


Sialnya saat itu adalah istirahat makan siang, dan tidak ada orang di lantai 22 termasuk Olivia, sekretaris Vincent. Tidak ada yang menolong Amira, walaupun ada orang di sana, siapa yang berani menentang Vincent!


Vincent berjalan dengan langkah lebar menuju ruangannya dan membuka pintu dengan salah satu tangannya. Setelah berada di dalam ruang kerjanya, ia menurunkan tubuh Amira ke atas sofa dengan perlahan dan duduk di samping Amira.


"Kenapa? Mau marah?" tantang Vincent tersenyum menyeringai.


Amira memanyunkan bibirnya dan membuang mukanya kesal, karena tindakan Vincent yang semena-mena kepadanya.


Vincent memperhatikan kekesalan yang ditumpahkan Amira dan sadar kekasihnya itu saat ini sedang merajuk padanya. Ia menghela nafas panjang.


"Baiklah. Aku tau kamu marah sama aku, karena aku tidak mengijinkanmu masuk ke kantor, tapi kamu seharusnya memberitahuku dulu. Apa aku sejahat itu di matamu?" tanya Vincent kecewa. Amira berbalik menatap kekasihnya itu, ia merasa perkataan Vincent ada benarnya.


"Oke aku gak mau mempermasalahkannya lagi. Tapi tadi aku memintamu kemari, kenapa kamu malah bersama dengan Si Cupu itu?" cecar Vincent meminta penjelasan.


Amira berusaha menahan senyumnya mendengar julukan yang diberikan Vincent kepada Steve dan memutuskan untuk meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.


"Vin, kamu salah paham. Aku dan Kak Steve tidak ada apa-apa! Oke, aku minta maaf karena tidak memberitahumu tadi pagi, aku takut kamu marah," jelas Amira.


"Terus? Kenapa kamu gak langsung kemari tadi waktu aku telepon?" cecar Vincent lagi.

__ADS_1


"Habisnya aku kesal karena kamu main tutup telepon begitu aja padahal masih ada kerjaan yang harus aku urus!" jawab Amira sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Vincent menghela nafas panjang dan memijat keningnya. Ia memejamkan matanya sebentar memikirkan penjelasan Amira padanya. Ia merasa dirinya memang sedikit berlebihan dan terlalu mengekang Amira.


"Maaf," ujar Vincent membuka matanya dan mengenggam tangan kekasihnya itu.


"Tanganmu masih sakit?" tanya Vincent membolak-balik pergelangan tangan Amira yang tadi ditariknya.


"Sedikit," jawab Amira cemberut. Vincent mengangkat tangan Amira dan mengecupnya pelan, "Kalau begini, masih sakit?" goda Vincent. Amira tertawa geli dengan tingkah Vincent yang terus mengecup tangannya.


"Sudah ah. Udah gak sakit lagi," ucap Amira menghentikan Vincent.


"Ini makanan buatku?" tanya Amira mengalihkan pandangannya ke atas meja yang penuh dengan kotak berisi makanan.


"Cobalah tapi mungkin sudah tidak enak. Aku sudah memesannya dari tadi, sepertinya sudah dingin."


"Jadi kamu meminta aku segera datang karena mau makan siang bareng?" tanya Amira akhirnya paham maksud Vincent meneleponnya tadi. Vincent hanya menanggapinya dengan senyum terpaksa.


"Seharusnya kamu bilang aja mau makan bareng. Aku pikir kamu mau marahin aku tadi," ucap Amira.


"Oke lain kali, aku janji gak akan gitu lagi," balas Vincent sambil mengusap-usap kepala Amira.


"Tapi kamu juga gak boleh seperti tadi pagi, pergi gak bilang-bilang," ucap Vincent mengingatkan.


"Siap, Bos!" sahut Amira sambil memberi hormat ala-ala tentara. Vincent tersenyum kecil dan mengambil makanan di salah satu kotak yang berisi dimsum tofu skin roll yang terbuat dari kulit tahu yang diisi dengan sayuran dan daging ayam.


"Ini ... Chubby kesayanganku. Biar makin tembem," ledek Vincent sambil memasukkan dimsum tersebut ke dalam mulut Amira.


Amira memukul lengan Vincent pelan sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Ia tidak dapat membalas perkataannya karena mulutnya penuh dengan makanan. Amira melotot kepada kekasihnya itu dan mengambil kotak makanan yang lain berisi omelet rice dan menyuapi Vincent. Ia membalas Vincent dengan memasukkan satu sendok penuh ke dalam mulut kekasihnya itu. Alhasil mulut mereka berdua mengembung karena berisi makanan dan saling menatap wajah mereka masing-masing dan menahan tawanya.


°


°


°


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komentarmu ya ...!


Thank you 😘😘


__ADS_2