Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 55


__ADS_3

Di Gedung Royal Group, Serenity


"Tuan Lee sudah menunggu anda di ruang meeting, Bos." Lucas memberikan informasi kepada Vincent dan berjalan mengikuti dari belakang. Vincent hanya mengangguk tanpa bersuara.


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang meeting. Di dalam ruangan, Jason sudah datang lebih dulu menemani Calvin Lee.


"Halo, Tuan Lee. Apa kabar?" sapa Vincent kepada Calvin. Vincent menyodorkan tangannya dan mereka berjabat tangan.


"Silahkan duduk," ucap Vincent mempersilahkan Calvin duduk.


"Baiklah, saya tidak akan berbasa-basi lagi," Calvin berbicara sambil menatap ke arah Vincent. Raut wajahnya tampak tidak senang.


"Tuan Zhang, dari pembicaraan kita sebelumnya, anda sudah mengatakan bahwa semua desain interior termasuk juga di dalam proyek Lee Construction. Kenapa sekarang hanya building construction saja?" Calvin mengajukan rasa tidak senangnya.


"Tuan Lee, bukankah perusahaan anda bergerak di bidang building construction? Untuk desain interior, Royal Group sudah punya calon partner sendiri. Saya rasa anda tidak bisa ikut campur dalam masalah internal kami", jawab Vincent santai.


"Tuan Zhang, pembicaraan waktu itu, anda sendiri yang mengatakan akan memberikan seluruh proyek kepada Lee Construction," ucap Calvin masih ngotot.


Vincent tersenyum mendengarkan protes dari calon partnernya itu, "Tuan Lee, saya rasa anda terlalu berlebihan. Saya hanya mengatakan akan menyetujui kerja sama dengan perusahaan anda, tapi tidak menyebutkan detail proyek kerja sama kita pada pertemuan sebelumnya. Anda hanya menyimpulkan sendiri saja."


"Tuan Zhang!" Suara Calvin mulai meninggi, ia tidak suka dengan jawaban yang diucapkan Vincent. Jason menelan salivanya berada di ruangan yang terasa begitu dingin.


"Tuan Lee, keputusan ada di tangan anda. Apa tetap mau melanjutkan kerja sama dengan Royal Group atau tidak. Kami tidak akan memaksa Lee Construction," jawab Vincent dengan santai.


Calvin menatap Vincent tajam, dia mengepalkan tangannya. Ia awalnya ingin bersikeras untuk mengambil semua proyek Green Resort, tetapi sekarang ia sadar bahwa dirinya bukanlah lawan Vincent ataupun Royal Group. Ia mengira Vincent akan berubah pikiran mengingat hubungan dirinya dengan adiknya dulu, Anna Lee. Tetapi tampaknya Vincent sudah tidak peduli lagi dengan hal itu.


Calvin tertawa keras memecahkan keheningan di ruangan itu. Jason melongo melihatnya, tetapi Vincent hanya menanggapinya dengan santai.


"Ternyata seperti rumor yang dikatakan orang-orang bahwa Royal Group bisa berkembang sepesat ini karena anda bertangan dingin dalam menghadapi setiap masalah. Sekarang aku melihatnya secara langsung. Hahahaha," ucap Calvin tertawa garing.


Vincent berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, Tuan Lee. Kalau begitu, selanjutnya anda bisa mendiskusikannya dengan Jason. Keputusan ada di tangan anda. Saya permisi dulu," ucap Vincent santai dan berjalan keluar ruangan.


Calvin mengepalkan tangannya erat. Ia tidak punya pilihan lain selain tetap mengambil proyek yang ditawarkan Royal Group, daripada tidak ada sama sekali. Royal Group sebagai grup perusahaan yang memiliki dana miliaran dolar memang menjadi incaran semua perusahaan.


Kalau ia tidak mengambil kesempatan ini, maka masih banyak perusahaan yang mengantri di belakang untuk bekerja sama dengan Royal Group.


"Bagaimana Tuan Lee?" tanya Jason meminta keputusan dari Calvin.


Calvin tersenyum kikuk dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, "Baiklah. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar," ucapnya dan tangannya disambut oleh Jason.


Setelah menandatangani kerja sama dengan Calvin, Jason segera bergegas menuju ruangan Vincent. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jason memasuki ruangan Vincent.

__ADS_1


Vincent sedang duduk di kursi kebesarannya, dengan setumpuk dokumen yang menggunung di atas mejanya. Ia sedang membuka salah satu dokumen dan dengan serius membacanya.


"Brooo...," sahut Jason membuyarkan konsentrasi Vincent membaca dokumennya. Ia melirik sekilas ke arah Jason dan lanjut membaca lagi.


"Kau benar-benar hebat, Bro. Hanya dengan beberapa kalimat saja langsung menundukkan Si Licik Lee itu," ucap Jason dengan senyuman mengembang.


"Dia benar-benar licik. Ingin mencoba mengadu nasib, dia pikir Royal Group tempat apa, huh!" lanjut Jason sombong. Vincent masih membaca dokumennya tanpa melirik Jason.


"Aish, Kamu benar-benar gak asik!" Jason menarik dokumen di tangan Vincent dan menutupnya.


Vincent menatap Jason tajam, meminta dokumennya kembali.


"Kamu ini pulang-pulang langsung berkencan dengan dokumen. Benar-benar gak asik!" Jason menjelaskan maksudnya.


Vincent menatapnya tajam, lebih tajam dari tadi, "Kau pikir ini karena siapa, ha? Bukankah kau bilang akan membantuku bukan?" tanya Vincent dingin.


Vincent memang sudah meminta Jason untuk membantunya mengurus hal-hal di perusahaan selama ia di Amigos dan Jason sudah menyanggupinya. Tetapi nyatanya, baru satu minggu ia meninggalkan kantornya, sudah segunung dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani.


Jason menyunggingkan senyuman kudanya. Vincent memutarkan bola matanya malas.


"Maaf Bro. Kau kan tau kalau aku pusing kalau lihat dokumen segunung begini, tapi aku sudah meminta Lucas untuk memeriksanya, seharusnya semuanya sudah oke. Kau tinggal tanda tangan saja," ucap Jason asal.


Vincent mengambil dokumen di tangannya dan memukul kepala Jason dengan dokumen itu. Jason meringis memegang kepalanya.


"Bukan aku tidak percaya sama Lucas, tetapi tidak ada salahnya kamu memeriksanya sekali lagi, untuk meminimalisir kesalahan dan resiko yang akan terjadi di kemudian hari. Mengerti?" lanjut Vincent. Jason mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau sudah paham, ini kamu bantu aku periksa sebagian," perintah Vincent sambil menyerahkan sebagian dokumen ke tangan Jason yang sedang membulatkan matanya melihat dokumen-dokumen itu.


Vincent menghela nafas panjang melihat Jason yang berjalan keluar ruangan sambil membawa setumpuk dokumen di tangannya.


Vincent kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya, kemudian ia mengeluarkan ponselnya menatap foto Amira di wallpaper ponselnya. Ia tersenyum lembut. Rasa lelahnya seakan menghilang setelah melihat wajah Amira di ponselnya.


Vincent segera melanjutkan pekerjaannya, ia ingin cepat menyelesaikan semuanya agar bisa kembali ke Amigos dan menemui Amira.


Beberapa jam kemudian...


Jason masuk ke dalam ruangan Vincent dengan setumpuk dokumen berada di tangannya. Matanya terasa lelah. Ia meletakkan dokumen yang dibawanya di atas meja kecil di ruang tengah. Ia menyenderkan punggungnya di atas sofa.


"Bro, ini sudah kuselesaikan semua. Kamu tinggal tanda tangan saja," ucap Jason dengan lemas. Tidak ada keceriaan di dalam suaranya.


Vincent melirik Jason, ia menghela nafas melihat saudaranya itu. Ia menandatangani dokumen terakhir yang ada di mejanya, kemudian menghampiri Jason dan duduk di depannya.

__ADS_1


"Lelah?" tanya Vincent melihat raut wajah Jason yang kusut.


Jason melirik ke arah Vincent yang tersenyum melihatnya sekarang. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke samping Vincent dan duduk di sampingnya.


Jason meletakkan tangannya di kening Vincent, tetapi Vincent menepis tangannya dan menatapnya tajam.


Jason menepuk pundak Vincent, "Tenang Bro. Aku hanya mengecek apa kau sakit apa nggak? Soalnya aku merasa kau sedikit aneh," ucap Jason.


"Aneh?" dengus Vincent tersenyum mendengarnya.


"Nah ini nih.. tiba-tiba senyum sendiri. Tidak biasanya. Ada sesuatu di Amigos bukan? Katakan ada hal menarik apa?" cecar Jason.


Jason melirik ke tangan Vincent yang diperban, "Kau habis berkelahi? Menyelamatkan seorang gadis cantik?" tanya Jason yang mendapat tatapan tajam dari Vincent.


Vincent berdecak dan berdiri dari tempat duduknya. Ia kembali ke kursi kebesarannya. Jason mengikutinya dari belakang dan berdiri di depan meja Vincent.


"Amira Lin. Gadis itu benar-benar hebat. Aku salut ia bisa meruntuhkan gunung es yang ada di depanku saat ini," ucap Jason dengan gaya noraknya. "Benar kan tebakanku?"


Vincent melirik tajam ke arah Jason, "Baiklah. Aku akan melihat gadis mana yang bisa mengobati sikap playboy dan norakmu itu nanti," balas Vincent. Jason berdecak.


"Sudah. Aku masih mau mengerjakan sisa dokumen. Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, lebih baik kamu keluar saja," ucap Vincent datar. "Besok aku akan kembali ke Amigos. Bantu aku untuk memantau di sini, tetapi aku gak mau kau melalaikan tanggung jawabmu lagi," lanjut Vincent.


"Baiklah aku akan berusaha. Bye.. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat bekerja. Dasar workaholic !" Jason meninggalkan ruangan Vincent.


Vincent menghela nafas pelan, ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan masuk di ponselnya, tetapi tidak ada pesan masuk dari Amira.


Ia menelepon ke Martin, Manager Hotel Martinez untuk mengecek keberadaan Amira. Martin memberitahukan bahwa Amira sudah keluar dari hotel setengah jam yang lalu.


Vincent tau bahwa Amira tidak membawa ponselnya, maka dari itu ia meninggalkan secarik kertas berbentuk hati dan meminta petugas service room menyerahkannya kepada Amira.


Vincent merindukan gadis itu sekarang, ia ingin mencoba menelpon Amira. Ia berpikir bisa jadi Amira sudah mengambil ponselnya di rumah Tiffany atau Tiffany sudah mengembalikannya kepada Amira.


Vincent menekan panggilan keluar di nomor kontak Amira.


Tut.. tut.. tut..


Setelah dering keempat ia tidak mendapat jawaban dari ponsel Amira, ia berpikir mungkin Amira belum mengambil ponselnya. Tetapi ketika ia ingin menutup teleponnya, terdengar jawaban di ponsel Amira.


"Halo," ucap suara seorang pria yang menjawab ponsel Amira. Vincent terdiam mendengarkan suara pria itu.


"Leon?" tanya Vincent dingin dan tajam.

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue...


__ADS_2