
Nyonya Thalia turun dari lantai dua menghampiri putranya dan Eva, "Wah … wah … Sepertinya Mama hampir melewatkan momen yang seru,"
Vincent kaget dan segera melepaskan pegangannya di pinggang Eva dan membantu Eva berdiri dengan benar. Kedua orangtua Eva yang melihat hal itu tersenyum bahagia melihat adegan itu, begitu juga dengan Nyonya Thalia.
"Mama," sapa Vincent sambil melirik ke belakang Mamanya mencari kekasihnya, Amira. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukan sosok yang ia cari.
Nyonya Thalia tahu maksud pandangan putranya saat ini yang sedang mencari kekasihnya itu, tetapi ia abaikan.
"Ma, Amira ke mana?" tanya Vincent kepada Ibunya, karena tidak melihat batang hidung kekasihnya itu.
"Mama gak tau, tadi masih ada di belakang Mama. Yuk, Eva ikut Tante ke ruang makan. Tuan Mo, Nyonya Mo, silahkan ke dalam," ucap Nyonya Thalia merangkul lengan Eva dan tidak mempedulikan pertanyaan anaknya itu.
Vincent mengerutkan keningnya heran dengan sikap Ibunya yang acuh tak acuh atas pertanyaanya tadi.
'Apa terjadi sesuatu antara Mama dan Ami?' batin Vincent. Ia menghela nafas pelan dan segera menuju ke lantai dua mencari kekasihnya itu.
Nyonya Thalia menjamu tamunya di meja makan. Eva duduk di samping orangtuanya, tetapi Nyonya Thalia menarik Eva untuk duduk di sisi seberangnya dengan kursi kosong di sampingnya.
Eva melihat paperbag di sampingnya dan bertanya kepada Nyonya Thalia, "Tante, ini punya siapa? Tante beli kue tiramisu ya? Harum banget lho," puji Eva yang tidak tahu asal usul kue itu. Aroma kopi dan keju buatan Amira memang begitu menggoda. Eva yang duduk di sampingnya pun bisa mencium aromanya.
"Ah, iya ini Tante beli sudah beberapa hari yang lalu, sudah tidak bisa dimakan. Rencananya tadi mau dibuang, tapi Tante lupa," ucap Nyonya Thalia yang memang berniat untuk membuangnya tadi, tetapi karena tadi ada Vincent ia mengurungkan niatnya itu.
"Tapi sepertinya masih harum lho, Tante. Apa benar sudah tidak bisa dimakan?" tanya Eva lagi merasa aneh dengan ucapan Nyonya Thalia.
Nyonya Thalia hanya tersenyum dan mengambil paperbag itu, membuangnya ke tempat sampah yang terbuka di dekat pintu masuk ruang makan.
°
°
°
°
°
Sementara itu, Amira mengusap air matanya pelan dan berjalan menyusuri lantai dua mencari kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Amira bingung karena tidak mengetahui letak kamar mandi di mansion itu. Ia ingin bertanya, tetapi tidak ada orang yang bisa ia tanya, karena semua sedang sibuk di bawah. Ia berjalan dan melihat sebuah pintu di ujung ruangan, membukanya perlahan dan mengintip ke dalamnya.
Amira menekan saklar lampu yang berada di samping pintu dan memasuki ruangan itu yang tertata rapi. Di tengah ruangan terdapat tempat tidur berukuran king size dan didominasi dengan warna putih dan abu-abu. Di atas dinding samping tempat tidur terpasang potrait seorang pria yang sangat besar. Foto itu adalah foto kekasihnya, Vincent Zhang. Ia mendekati bingkai foto itu dan mengusap pelan wajah kekasihnya di foto itu.
'Ternyata ini kamar tidurnya,' batin Amira dan tersenyum menatap foto itu. Senyuman pria itu terasa hangat.
__ADS_1
Matanya beralih ke bingkai kecil di atas nakas. Ia mengambil bingkai foto itu dan air mata yang sudah mengering mulai menggenang kembali di pelupuk matanya.
Ia melihat foto kekasihnya yang sedang memeluk pinggang seorang wanita dari belakang dengan pose mereka yang begitu intim. Wanita di foto itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang barusan ia lihat beberapa menit yang lalu, yang dipeluk oleh kekasihnya itu.
Amira menangis karena membenarkan ucapan Nyonya Thalia bahwa wanita itu sangat berarti bagi Vincent, bahkan pria itu masih menyimpan foto mereka berdua dan memajangnya di kamar ini.
°
°
°
°
°
Vincent mencari setiap ruangan di lantai dua. Maklum karena mansion yang cukup besar, banyak sekali ruangan di mansion itu. Kalau pertama kali berkunjung ke mansion itu, mungkin saja bisa tersesat. Vincent mengira kekasihnya itu tersesat di sana, hingga akhirnya ia melihat pintu kamarnya yang terletak di ujung bangunan terbuka sedikit dan lampu ruangan itu menyala.
Vincent membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat sosok punggung kekasihnya yang berdiri di depan potrait gambarnya yang terpasang di dinding kamar. Ia tersenyum dengan lembut dan berjalan sambil berjinjit-jinjit menghampirinya. Seperti biasa, ia suka sekali membuat kejutan untuk kekasihnya itu dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dari belakang membuat gadis itu terperanjat hingga bingkai foto kecil di tangannya jatuh ke atas lantai.
Amira menoleh dan melihat Vincent yang berdiri di belakangnya. Vincent meletakkan dagunya di bahu kanan gadis itu.
"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Vincent yang tidak melihat mata Amira yang sembab. Amira memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin kekasihnya melihatnya menangis, dengan cepat ia mengusap sisa air mata di pipinya.
"Kok diam aja?" tanya Vincent lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari kekasihnya itu.
Vincent mengerutkan keningnya dan membalikkan tubuh kekasihnya itu menghadapnya. Amira menundukkan wajahnya, tetapi Vincent mengangkat dagu Amira dan melihat wajah kekasihnya itu dengan seksama. Terlihat matanya yang bengkak dan merah seperti habis menangis.
"Kamu habis menangis, Sayang?" tanya Vincent cemas.
Amira menggeleng kepalanya pelan dan berusaha menyunggingkan senyumnya, "Ng-nggak kok … Tadi mataku habis kemasukkan debu, jadi sedikit perih," ucap Amira berbohong.
Vincent menatap kedua manik mata gadis itu. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh kekasihnya dan menatapnya tajam, "Benarkah?" tanyanya datar.
Amira mengangguk dan memalingkan wajahnya sedikit tidak berani menatap mata Vincent yang masih menyelidikinya. Gadis itu memundurkan sedikit tubuhnya dan kakinya menyenggol bingkai foto yang tadi ia jatuhkan.
Vincent mengalihkan pandangannya ke bawah dan melihat bingkai foto itu. Ia menundukkan tubuhnya dan mengambilnya. Ia sedikit menarik ujung bibirnya ke atas, sekarang ia tahu penyebab kekasihnya itu menangis.
"Kamu habis lihat ini?" tanyanya kepada Amira sambil menunjukkan bingkai foto itu.
Amira melirik bingkai foto itu sekilas dan berjalan meninggalkan Vincent, "Sebaiknya kita turun, Mamamu pasti sudah nungguin di bawah," kilah Amira berusaha menghindar.
Vincent dengan cepat menarik tangan Amira dan membuat tubuh gadis itu berbalik dan memeluknya erat, tetapi gadis itu mendorongnya pelan dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, dengarin penjelasanku dulu, oke?" pinta Vincent kepada kekasihnya. Amira hanya diam dan memalingkan wajahnya.
Vincent menarik tangan Amira dan mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur. Ia menghela nafas pelan.
"Sayang …" panggil Vincent pelan dan menggenggam tangan kekasihnya itu. Amira masih menundukkan wajahnya tidak ingin menatap dirinya.
"Aku dan Eva sudah tidak ada hubungan apapun, Sayang," terang Vincent membuka pembicaraan.
'Jadi wanita itu Eva? Evangeline Mo yang pernah diceritakan Tiffany? Cinta pertamanya?' batin Amira.
"Kamar ini memang kamarku, tapi aku sudah lama tidak memakainya, jadi aku pun tidak ingat kalau masih menyimpan foto ini," terang Vincent lagi.
Amira memperhatikan sekeliling ruangannya yang memang seperti sudah lama tak tersentuh oleh pemiliknya.
"Kamu cemburu ya, Sayang?" tanya Vincent lagi. Gadis itu tidak merespon pertanyaannya, pikirannya sedang kacau saat ini.
Vincent mengira Amira hanya sekedar cemburu melihat foto itu. "Aku senang kamu cemburu," tutur Vincent tersenyum.
Amira menoleh dan menatap kekasihnya itu, ia mengerutkan dahinya, "Kenapa malah senang?" tanya Amira dengan wajah polosnya.
"Aku senang karena itu tandanya kamu cinta sama aku, sayang sama aku." Vincent mencubit kedua pipi Amira dengan gemas.
Amira memanyunkan bibirnya dan menurunkan tangan Vincent dari kedua pipinya, "Siapa juga yang cemburu, huh!"
"Kalau gak cemburu, terus kenapa kamu nangis tadi?" ledek Vincent.
"Kan aku sudah bilang kalau mataku kemasukan debu," kilah Amira sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi di kamar itu. Amira enggan mengatakan percakapan dirinya dengan Nyonya Thalia tadi, ia tidak ingin merusak hubungan ibu dan anak karena dirinya.
"Dasar keras kepala! Ngaku aja kenapa sih?" ledek Vincent lagi, ia mengikuti Amira ke kamar mandi.
Amira membasuh wajahnya dengan air, mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. Ia menatap wajahnya di cermin berbentuk oval di depannya. Ia masih memikirkan perkataan yang diucapkan Nyonya Thalia.
'Ami, kamu harus percaya sama dirimu sendiri. Yang Vincent suka adalah kamu, bukan wanita itu,' batin Amira berusaha menguatkan dirinya.
"Mau berapa kali pun kamu ngaca, kamu tetap cantik kok di mataku," puji Vincent melihat Amira yang masih menatap cermin di depannya.
Amira menoleh dan tersenyum mendengarnya. Ia berjalan dan memeluk Vincent erat, membuat pria itu kaget dengan sikap Amira yang begitu agresif, karena perlahan Amira menarik tengkuk Vincent membuat pria itu menundukkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut.
To be continue ....
**Halo readers!
Minta sarannya dong, sebaiknya Author up cerita ini setiap hari atau 2-3 hari sekali dengan up beberapa bab sekaligus?
__ADS_1
Tolong tinggalkan di kolom komentarnya ya.
Thank you 🙏🙏🙏**