Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 104


__ADS_3

Amira berlari cepat di koridor hotel. Cairan berwarna bening di pipinya perlahan mengalir, sehingga menghalangi pandangan matanya saat ini, tetapi tidak mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu. Ia menekan tombol lift berkali-kali agar segera terbuka.


Gadis itu segera masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka dan menekan tombol menuju lobby hotel. Ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Langkah kakinya tak berhenti hingga keluar dari lift. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang kepadanya.


Lucas yang sedang berpapasan dengan Amira pun tidak digubris olehnya. Gadis itu terus berjalan menuju pintu luar lobby. Ia masuk ke dalam taksi yang saat ini berdiri di depan hotel.


Lucas mengerutkan keningnya heran dan mengeluarkan ponselnya. Ia menelpon Tiffany yang saat ini sedang berada di restoran hotel menunggunya.


"Halo, Nona Kim. Sepertinya saya barusan melihat Nona Lin sedang menangis," ucap Lucas ketika Tiffany mengangkat teleponnya.


"Apa? Kenapa dia menangis?" tanya Tiffany kaget.


"Saya juga tidak tahu. Tadi saya berpapasan dengannya di lobby dan saya lihat raut wajahnya tidak begitu baik," jawab Lucas.


"Coba kamu susul dia, Kak. Aku pergi menemui Kak Vincent. Rencana kita malam ini tidak boleh gagal. Kita sudah mempersiapkannya dari tadi," tutur Tiffany dan menutup teleponnya.


Lucas mengeluarkan kunci mobilnya dan segera menyusul taksi yang ditumpangi Amira.


Di dalam taksi, Amira terus melamun memikirkan percakapan yang ia dengar beberapa menit yang lalu di depan kamar Vincent.


Flashback


"Apa kamu tidak mau tahu siapa ayah kandung El?" tanya Eva dengan tersenyum miris.


Vincent menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Eva yang sudah menatapnya dengan serius.


"Aku tidak ingin tahu dan itu bukan urusanku," jawab Vincent masih dengan nada dingin.


Eva tertawa miris, "Hahaha … tidak mau tahu? Apa masih bukan urusanmu kalau kamu tahu El adalah putrimu?"


Vincent tertegun mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Eva. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangannya erat. "Apa maksudmu? Apa kamu perlu berbohong hanya untuk menahanku?" sindir Vincent yang tidak mempercayai ucapan Eva.


Eva menghela nafas pelan dan ia berjalan mendekati Vincent, menatap mata Vincent yang telah berbalik menatapnya dengan sinis, "Apa kamu telah lupa apa yang pernah kita lakukan dulu?" tanya Eva yang saat ini telah berdiri di depan Vincent.


"Apa perlu kita melakukannya lagi agar kamu mengingatnya kembali?" tanya Eva lagi sambil mengusap wajah Vincent dengan lembut dan menggoda.


Wajah Vincent menghitam mendengarkan pertanyaan Eva saat ini. Ia mengeratkan giginya dan menatap wanita di depannya dengan tajam dan dingin.


"Kamu tidak perlu menatapku begitu, Vin. Hatimu sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku, bukan?" tukas Eva tersenyum miring dan menyentuh dada bidang Vincent.


Amira yang berada di depan kamar, menutup kedua mulutnya dengan erat. Ia tak percaya dengan semua hal yang ia dengar. Ia segera berlalu dari tempat itu.


Eva melirik ke arah pintu dan melihat Amira yang beranjak dari tempat itu.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu repot-repot menghasutku mengenai El. Aku akan mencari tahu kebenaran ini sendiri," desis Vincent pelan dan mencengkram tangan Eva dengan kuat.


" … dan aku harap mulutmu tidak begitu besarnya sampai mengatakannya kepada Amira, kalau tidak … kamu akan tahu akibatnya nanti!" ancam Vincent dan menghempaskan tubuh Eva ke lantai.


'Tapi sayangnya gadis itu sudah mengetahuinya, Vin,' batin Eva sambil tersenyum menyeringai.


End of flashback.


"Nona, Anda mau ke mana sebenarnya?" tanya supir taksi yang dari tadi hanya berkeliling tanpa arah.


"Ke pantai saja, Pak," ucap Amira lirih.


°


°


°


°


°


Amira melangkahkan kakinya di atas hamparan pasir putih dengan bertelanjang kaki. Ia berjalan tanpa arah, pikirannya terasa rumit. Ia masih tak percaya dengan hal yang tadi didengarnya.


Amira masih teringat ketika ia menghibur El di kapal tadi.


"Sudah, El. Mungkin Papamu memang sedang pergi jauh, tapi dia pasti akan segera pulang menemuimu jika dia tahu bahwa dia punya putri semanis dirimu,"


Amira merasa dirinya sungguh bodoh telah mengatakan hal itu, tetapi bukan itu yang ia takutkan saat ini, yang ia takutkan adalah Vincent kembali ke sisi Eva demi putrinya, demi Elaine.


Amira menghela nafas panjang. Ia melihat sebuah ayunan kecil yang terbuat dari kayu yang diikat dengan dua utas tali ke atas pohon yang berada di dekatnya. Ia menarik tali itu untuk memastikan ayunan itu kokoh, kemudian ia duduk di atasnya dan mendorong sedikit tubuhnya ke belakang sehingga tubuhnya berayun pelan ke depan dan ke belakang bergantian.


Suara deburan ombak menenangkan hatinya yang sedang gundah saat ini. Ternyata benar kata orang-orang, menghabiskan waktu di dekat laut bisa mengusir rasa penat, stress dan membuat diri menjadi tenang dan lega.


Amira menatap ke atas langit yang sudah berwarna kuning kemerahan menjelang gelap. Matahari sudah mulai menyembunyikan dirinya ke dalam lautan lepas di depannya secara perlahan. Cuaca juga semakin dingin dengan angin yang bertiup dari arah daratan ke lautan, tetapi Amira masih tidak beranjak dari tempat duduknya.


Gadis itu hanya memakai dress santai berwarna putih tanpa lengan. Ia tidak memakai mantel atau luaran yang membungkus tubuhnya, karena terburu-buru keluar tadi, tetapi hal itu tidak mengganggu kenyamanannya memandangi matahari terbenam saat ini hingga sebuah mantel besar bertengger di kedua bahu gadis itu.


Amira memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat wajah kekasihnya yang sedang tersenyum lembut kepadanya.


"Kenapa kamu melihat matahari terbenam sendirian dan tidak mengajakku?" protes Vincent dan memeluk tubuh mungil kekasihnya dari belakang.


Amira hanya tersenyum kecil dan merasakan kehangatan yang mengalir dari pelukan pria itu, "Hangat," gumamnya pelan.

__ADS_1


"Kenapa tidak memakai mantel atau jaket sebelum keluar hotel?" tegur Vincent dengan lembut.


"Aku lupa," dalih Amira berbohong.


Vincent mengangkat satu alis matanya, "Lupa? Sampai lupa mengajak kekasihmu juga?" tanyanya sambil memeluk Amira dengan sangat erat dari belakang. Ia menyenderkan dagunya di pundak gadis itu dan mencium tulang selangkanya dengan pelan membuat gadis itu merasa sedikit geli.


Amira sedikit mendesah ketika Vincent menorehkan jejak kepemilikannya di tulang selangka gadis itu. Vincent melepaskan permainan bibirnya dan berbisik pelan di telinga gadis itu, "Ada yang ingin aku bicarakan, Sayang."


Deg!


Jantung Amira seakan berhenti berdetak mendengar bisikan Vincent. Ia tak menyangka Vincent akan mengatakan kepadanya secepat ini kepadanya. Hatinya masih belum sepenuhnya siap menerima kenyataan yang baru saja didengarnya di hotel tadi.


"Cukup, Vin. Hari sudah gelap. Ayo kita pulang saja," ajak Amira sambil berdiri dari ayunan kayu itu. Ia meninggalkan Vincent di belakangnya. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Tubuhnya bergetar menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia tidak ingin kehilangan kehangatan yang baru saja ia dapatkan dari pria itu.


Vincent berlari mengejar langkah Amira yang berjalan dengan cepat dan menarik pergelangan tangannya membuat tubuh gadis itu berbalik menghadapnya, "Buru-buru amat," protesnya kepada Amira .


Vincent mengerutkan keningnya heran menatap wajah Amira, mata gadis itu berkaca-kaca, "Kamu menangis, Sayang?" tanyanya curiga.


"Ng-nggak kok. Di sini anginnya kencang, mataku kemasukan pasir barusan," kilah Amira.


Vincent menatap wajah Amira dengan seksama, matanya mencari kebenaran dari wajah gadis itu. Amira menelan salivanya pelan, mendapatkan tatapan curiga dari kekasihnya itu.


Amira menundukkan wajahnya dan mengucek-ucek matanya pelan, tetapi Vincent segera menarik tangannya dan menangkup wajah Amira dengan kedua tangannya. Ia meniup dengan lembut kedua mata gadis itu.


Amira mengedip-ngedipkan matanya dan menatap wajah Vincent dengan tatapan penuh kasih. Vincent menyadari tatapan Amira dan ia tersenyum, "Apa masih belum puas melihatku setiap hari?" ledeknya.


Amira tidak membalas ledekan Vincent, "Aku takut nanti malah tidak bisa melihatmu seperti ini lagi," gumamnya lirih.


Vincent menjentikkan jarinya ke kening Amira.


"Auw …," ringis Amira mengelus keningnya. Amira melotot kepada Vincent dan memanyunkan bibirnya.


"Sekali lagi kamu mengatakan itu, bukan sentilan yang kamu dapat, Sayang," tukas Vincent tajam. Amira mendengus sebal.


Vincent menurunkan tangan Amira yang sedang mengelus keningnya. Ia mengecup kening kekasihnya itu dengan sepenuh hati, kemudian menarik Amira ke dalam pelukannya, "Jangan pernah berpikir untuk jauh dariku, apa kau mengerti?" bisiknya pelan. Amira hanya diam tak merespon.


Vincent melepaskan pelukannya dan menarik tangan Amira, "Ayo aku punya kejutan untukmu," ucapnya sambil tersenyum penuh misteri.


"Kejutan?" gumam Amira.


"Ayo tutup matamu dulu, Sayang," ucap Vincent sambil kedua tangannya menutup mata Amira.


Amira mengerutkan keningnya heran. Ia hanya pasrah mengikuti instruksi kekasihnya itu.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2