
**Hai Readerss...
Jangan lupa klik tombol like di bawah ya 😘
Bantu vote cerita ini dan share ke teman-teman kalian juga ya.
Thank you 🙏
Selamat membaca!!
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆•☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆**
Amira menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur setelah selesai membersihkan dirinya. Ia merasa kekenyangan karena makan malam tadi.
Ponsel Amira bergetar di atas nakas. Amira mengambil dan menatap layar ponselnya. 'Kak Daniel' nama yang tertera di layar ponsel. Ia segera mengangkatnya dan membaringkan tubuhnya lagi.
"Halo Kak," sapa Amira sambil menggaruk wajahnya yang gatal.
"Halo adikku yang cantik. Kamu lagi ngapain?" tanya Kak Daniel di seberang telepon.
"Habis pulang magang, Kak," jawab Amira sambil memegang wajahnya yang gatal, ia menggaruknya pelan.
"Kamu sekarang magang di Little Royal ya, Ami?" tanya Kak Daniel lagi.
"Iya, Kak. Kok Kakak tau?" tanya Amira heran, karena ia tidak pernah menceritakannya kepada keluarganya tempat ia magang.
"Tau dong ... Kan kakak ada punya mata-mata."
"Serius Kak? Siapa? Tiffany ya?" tebak Amira masih dalam posisi menggaruk wajah dan mulai turun ke lehernya.
"Hahahaha ... polos banget kamu. Kakak cuma bercanda aja."
"Terus Kakak tau dari mana?" desak Amira lagi penasaran.
"Kamu sama Vincent sudah jadian?" tanya Daniel tanpa menjawab pertanyaan Amira tadi.
Wajah Amira seketika memerah, ia terdiam dan heran dari mana Kakaknya tau masalah itu.
"Halo, Ami?" panggil Daniel karena Amira tidak menjawab pertanyaannya.
"Kakak tau dari mana sih? Serius deh Kak. Jangan buat aku penasaran!" protes Amira. Amira tidak menyadari wajahnya timbul ruam kemerahan di area yang ia garuk.
Daniel tertawa lepas mendengarkan protes adiknya. Amira semakin sebal mendengar tawa Kakaknya, "Malah ketawa. Jawab dong, Kak!"
"Oke ... Oke ..." Daniel mencoba mengatur nafasnya karena tertawa.
"Begini ... Tadi pagi Vincent menghubungi Kakak ..." Daniel baru mau menjelaskan, tetapi Amira segera memotongnya, "Vincent bilang apa, Kak?"
"Ini baru Kakak mau jelasin, kamu main potong aja!" protes Daniel.
"Hehehehe, maaf. Lanjutkan Kak," ucap Amira menyunggingkan senyumannya.
'Ih, kok makin gatal ya?' batin Amira masih menggaruk lehernya dan menggosoknya pelan, ia masih mencoba mendengarkan obrolan Kakaknya.
"Vincent nelpon Kakak, katanya ia ingin kerja sama dengan Lin Corp untuk proyek Green Resort dan meminta kita untuk membuat rancangan desain interiornya setelah keluar struktur rancangan bangunan dari mereka," jelas Kak Daniel.
"Ah, baguslah Kak kalau begitu. Lin Corp terbantu dong Kak," ucap Amira lega.
"Jadi Kakak tau aku kerja di Little Royal dari Vincent?" tanya Amira curiga sambil menggaruk lehernya lagi.
'Kenapa gatalnya jadi ke mana-mana ya?' batin Amira lagi karena merasa area tubuhnya yang lain juga tidak nyaman.
"Iya," jawab Daniel santai.
"Terus dia juga yang bilang aku sama dia jadian?" tanya Amira lagi berusaha menahan gatal di tubuhnya dan segera beranjak dari tidurnya. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menggosok-gosok wajahnya.
__ADS_1
"Bingo!" jawab Daniel lagi.
"Vincent pria yang baik, kamu sungguh beruntung, Ami," puji Daniel.
Amira mengerutkan keningnya heran mendengarkan ucapan Kakaknya, "Maksudnya Kak?"
"Vincent secara diam-diam membeli saham-saham Lin Corp di pasaran dengan mengatasnamakan namamu Ami."
"Mmm ... kenapa dia melakukan itu semua Kak?"
"Sepertinya dia tidak ingin kamu khawatir masalah perusahaan dan ingin membantu kita secara diam-diam, Ami. Kakak baru tau setelah meminta orang untuk menyelidikinya dan berdasarkan hasil laporan mereka nama pembeli tersebut bermarga Zhang dan anehnya ia mengatasnamakan namamu semua."
"Karena itu Kakak tebak Vincent lah orangnya, kemudian Kakak menghubungi Vincent dan menanyakan hal itu. Dia mengakui semuanya dan ingin Kakak merahasiakannya darimu, tapi Kakak rasa kamu perlu tahu tentang ini," lanjut Daniel lagi.
Amira tertegun mendengarkan cerita kakaknya tentang Vincent, ia tak menyangka Vincent berbuat sejauh itu untuk dia dan perusahaan keluarganya.
"Ami?" panggil Daniel karena Ami hanya diam dan mulai menggaruk punggungnya.
"Iya Kak."
"Kenapa? Kamu merasa sangat berharga kan baginya, hehehe," sindir Daniel.
Wajah Amira merona bahagia, "Kak Daniel udah ah ...."
"Ya udah tar Kakak mau infokan kabar bahagia ini sama Ibu dan Kakek," ucap Daniel lagi.
Amira teringat akan perkataan Ibunya waktu itu untuk tidak berhubungan dengan Royal Group dan juga Vincent dan ia juga sudah berjanji dengan Ibunya, dengan cepat Amira memotong ucapan Kakaknya.
"Kak! Tunggu ... tunggu dulu!"
Daniel kaget dengan seruan Amira, "Ada apa, Ami?"
"Ah ... itu ..." Amira sedikit ragu untuk mengatakannya kepada Daniel. Ia bingung apa perlu mengatakan kepada Kakaknya atau tidak.
"Sebenarnya ada apa? Ada yang kamu sembunyiin dari Kakak?" tanya Daniel penasaran.
°
°
°
Amira menceritakan kepada Kakaknya mengenai perkataan Ibunya waktu itu. Daniel cukup terkejut dan heran, "Kenapa Ibu begitu menentang, Ami?"
"Aku juga tidak tau, Kak."
"Aku sebenarnya mau tanya waktu itu, tapi waktunya belum tepat," jawab Amira.
"Baiklah, Kak Daniel akan coba cari tau," balas Daniel.
"Mmm ... baiklah Kak. Masalah hubungan aku dan Vincent, biar nanti aku saja yang kabarin ke Kakek dan Ibu. Aku gak mau Ibu cemas," ujar Amira.
Amira kaget melihat lengan yang ia garuk timbul ruam kemerahan, 'Kenapa jadi memerah begini? Jangan-jangan ....'
"Baiklah, Ami. Kamu di sana baik-baik ya, kalau ada apa-apa kabarin Kakak ya."
Amira tidak membalas ucapan Daniel. Ia memegang kepalanya yang mulai terasa pusing, ia berusaha mengontrol kesadarannya.
"Ami ...."
"Halo, Ami!"
"Kamu kenapa?" tanya Daniel mulai panik karena tidak mendengar suara adiknya.
"Kak ...," ucap Amira lirih, nafasnya sudah mulai tidak beraturan karena menahan sakit. Pandangan Amira memudar dan ia kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"AMI!" teriak Daniel semakin panik.
Daniel menatap layar ponselnya dan mencoba mendengar jawaban dari Amira tetapi hening.
'Semoga kamu gak kenapa-kenapa, Ami,' gumam Daniel di dalam hati dan menutup sambungan teleponnya dengan Amira.
Daniel segera menekan nomor kontak Vincent dan melakukan panggilan keluar.
"Ayo angkatlah, Vincent," gumam Daniel karena Vincent belum mengangkat panggilannya.
°
°
°
°
°
Sementara itu di apartemen Vincent.
Vincent sedang duduk di ruang kerjanya. Ia membaca hasil laporan-laporan yang dikirimkan ke email di laptopnya. Vincent membalas beberapa email yang meminta persetujuan darinya.
Ding!
Ada pesan masuk ke ponsel Vincent, ia membukanya dan membacanya.
Lucas
Bos, saya sudah meminta orang melacaknya tetapi lokasi IP Address itu hanya settingan saja. Kita tidak dapat menemukannya.
Vincent membaca pesan masuk dari Lucas dan menghela nafas panjang. Ia memijat pelipisnya.
Vincent menekan panggilan keluar ke nomor Lucas. Dalam hitungan detik, Lucas menjawab panggilan itu, "Halo Bos."
"Untuk masalah saham bagaimana? Apa kamu sudah mencari tau siapa dalang di belakangnya?"
"Itu masih saya selidiki, Bos. Beberapa minggu ini ada orang yang membeli saham kita, ia menggunakan nama samaran. Saya masih menyelidikinya," jawab Lucas.
"Baiklah. Segera kabari aku kalau sudah ada informasi!" perintah Vincent.
Vincent menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Ia menundukkan kepalanya dan menopang keningnya dengan kedua tangannya. Dari raut wajahnya terlihat ia sungguh kelelahan.
Ponsel Vincent bergetar. Vincent melirik nama yang tertera di layar ponselnya. Vincent mengernyitkan keningnya heran melihat nama 'Daniel' di layar ponselnya.
'Ada apa Daniel telepon malam-malam begini?'
Vincent segera mengangkat panggilan itu, belum sempat ia menjawab, Daniel langsung berucap dengan panik.
"Vincent! Tolong kamu lihat keadaan Ami! Tolong Vin!" teriak Daniel yang panik membuat Vincent segera berdiri dari duduknya.
Tanpa menanyakan penyebabnya, ia menutup telepon Daniel. Vincent segera berlari keluar ruang kerjanya dan bergegas menuju pintu keluar.
Ia berjalan ke arah apartemen Amira dan menekan bel pintu tanpa henti. Ia menggedor-gedor pintu apartemen Amira dengan kuat, tetapi Amira tidak membuka pintunya.
"AMI! BUKA PINTUNYA AMI!" teriak Vincent masih menggedor pintu itu.
'Sial! Aku lupa menanyakan kode sandi apartemennya!' umpat Vincent kesal.
Vincent segera menelpon Daniel kembali dan diangkat oleh Daniel, "Bagaimana Vin?" tanya Daniel cemas.
"Aku tidak tau kode sandi apartemennya," ucap Vincent menjelaskan.
"Ah kode sandinya adalah ..." Daniel memberitahukan kode sandinya kepada Vincent dan dengan segera Vincent menekan kode sandinya hingga akhirnya pintu terbuka.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....