Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 108


__ADS_3

Suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar bunyi detik jam yang berjalan. Vincent yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat kekasihnya sedang duduk diam di sofa kamar tidur. Ia menghela nafas pelan dan keluar sebentar, kemudian masuk kembali dengan sekantong es batu di tangannya. Vincent menghampirinya.


Wajah gadis itu tidak terlihat begitu baik. Pipi bekas tamparan ibunya masih memerah. Hati Vincent terasa perih melihatnya.


"Sayang …,"panggil Vincent dan duduk di samping kekasihnya itu.


Amira mengangkat sedikit wajahnya dan menunduk kembali. Ia tidak menjawab panggilannya.


Vincent menghela nafas lagi dan mengangkat dagu gadis itu. Ia menempelkan kantong yang berisi balok es itu di pipi gadis itu yang memerah.


Amira meringis dan menarik wajahnya menjauh.


"Sakit? Tahan sebentar, kalau dibiarkan saja besok bisa lebih parah lagi," ucap Vincent masih menempelkan kantong es itu di pipi Amira dan menahan wajah Amira agar tidak menjauh. Kali ini gadis itu diam dan menurutinya.


"Maaf," ucap Vincent pelan.


Amira menatap kekasihnya dan menggeleng pelan. Ia memegang punggung tangan pria itu yang berada di pipinya.


"Bukan salahmu," balas Amira lirih.


Cairan bening di matanya mengalir kembali di pipinya. Ia masih merasakan sakit dan perih di dalam hatinya, walaupun ia tahu mungkin perkataan yang diucapkan Nyonya Thalia sebagian besar itu benar.


"Ssttt … Maafkan mama ya, Sayang. Aku juga tidak menyangka mama akan memakai kekerasan seperti ini."


Amira terdiam sejenak dan menggeleng lagi. "Aku juga salah karena terlalu emosional tadi, makanya ibumu ikutan terpancing emosi dan …."


"Sudah jangan bergerak terus," protes Vincent menahan wajah gadis itu agar tidak bergerak.


"Sejak kapan kamu tahu masalah ibuku dengan ayahmu?" selidik Amira.


Vincent membeku mendengarkan pertanyaan gadis itu. Ia menelan salivanya pelan dan menatap matanya yang teduh.


"Sejak beberapa hari yang lalu," jawab Vincent datar.


"Kenapa …." Amira ingin mengajukan pertanyaannya lagi, tetapi Vincent memotongnya dengan cepat.


"Aku tidak ingin kamu khawatir, karena aku pikir ingin menyelesaikannya sendiri secara diam-diam, tapi ternyata masalahnya malah menjadi seperti ini. Maaf …," terang Vincent cepat seolah tau apa yang ingin ditanyakan oleh kekasihnya itu.


Amira memejamkan matanya dan mencoba mengontrol perasaannya yang sekarang bercampur aduk antara sedih, marah dan kecewa.


Vincent meletakkan kantong es di tangannya dan memeluk tubuh gadis itu. Ia merengkuhnya dan mendekapnya erat, mencoba menenangkannya.


"Kita pasti bisa melaluinya, Sayang. Cepat atau lambat mereka pasti akan menerima dan merestui kita. Percayalah," hibur Vincent walau sebenarnya ia juga tidak tahu pasti apakah ia bisa membujuk ibunya kali ini, setelah kejadian hari ini.


Amira membalas pelukan kekasihnya dan mengangguk pelan. Dirinya merasa tersentuh dan dilindungi dengan sepenuh hati oleh Vincent.


"Maaf, Vin. Aku juga salah. Tidak seharusnya aku … aku berkata lancang seperti itu kepada ibumu …."


"Ssstt … sudah gak usah dibahas lagi. Ayo kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar kan?" ajak Vincent dan menarik tangan Amira ke arah dapur.


"Aku belum masak lho," gumam Amira. Ia sampai lupa untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Vincent tersenyum kecil dan mengacak rambut Amira pelan, "Ya udah kita makan di luar aja."


Amira menggeleng pelan, "Gak usah, order online aja gimana? Aku malu keluar dengan wajahku yg begini."

__ADS_1


Vincent tersenyum lagi dan mencubit pipi kekasihnya di bagian yang tidak sakit itu dengan gemas.


"Vin, nanti malah dua-duanya jadi bengkak," protes Amira memanyunkan bibirnya.


"Biar imbang," ledek Vincent tertawa lepas dan segera beranjak dari samping kekasihnya.


"Vincent!" teriak Amira kesal.


°


°


°


°


°


Setelah selesai makan, Amira masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Vincent masuk ke ruang kerjanya. Sebenarnya pekerjaan Vincent masih belum selesai ia kerjakan. Sewaktu ia berada di kantor, ia mendapat pesan dari ibunya bahwa ibunya akan datang ke apartemen.


Vincent segera meninggalkan rapat yang saat itu berjalan kepada Lucas dan pulang ke apartemennya. Ia khawatir dengan sikap ibunya yang emosional jika mengungkit masa lalunya dan benar saja kekhawatirannya terjadi ketika ia pulang tadi.


Vincent duduk di kursi kerjanya dan menyenderkan punggungnya. Ia memijat pelipisnya pelan. Memejamkan matanya erat untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak.


Tidak beberapa lama, ponsel Vincent berdering. Ia sedikit terkejut karena hampir ketiduran. Ia mengambil ponselnya dan menatap nama penelepon si pemanggil.


"Halo," jawabnya datar.


"Bos," balas si penelepon itu, Lucas.


"Ternyata Tuan Jack yang menjual sahamnya kepada Tang Corp," lapor Lucas. Vincent membuka matanya dan menautkan kedua alisnya. Wajahnya berubah menjadi dingin. Tuan Jack yang disebut Lucas adalah paman kandung Vincent sendiri, ayah dari Jason. Jack sendiri adalah pemegang saham tertinggi ketiga setelah Vincent dan Nyonya Celine.


Tadi pagi Vincent mendapatkan informasi bahwa nama Tang Corp tiba-tiba masuk ke dalam daftar nama pemegang saham Royal Group. Padahal sebelumnya Tang Corp tidak pernah terdengar akan mengambil alih atau membeli saham Royal Group.


"Alasannya?" tanya Vincent lagi, tetapi kali ini nadanya begitu dingin, membuat Lucas sedikit tertekan merasakan hawa membunuh dari suara majikannya itu.


'Perasaan ini seperti aku sedang berhadapan dengan Hades saja,' batin Lucas membeku.


"Berdasarkan informasi, ia mendapatkan penawaran dan posisi yang menarik di Tang Corp. Selain itu dia menjual sahamnya dengan harga yang cukup tinggi. Saya sudah menghubungi para petinggi Royal Group untuk mengadakan rapat pemegang saham, untuk waktu dan tempatnya belum saya informasikan karena menunggu perintah Anda, Bos," jelas Lucas dan menunggu jawaban dari atasannya itu.


"Apa ini ulah Adrian lagi?" terka Vincent, karena ia tahu sekarang Adrian yang membantu Marcus Tang menjalani perusahaan keluarga Tang. Apalagi sekarang Adrian sudah berstatus resmi sebagai menantunya.


"Iya, Bos. Adrian yang membeli saham Tuan Jack," jawab Lucas.


Vincent mengepalkan tangannya erat. Ia tahu Adrian tidak mungkin melepaskan dirinya begitu saja dan sekarang mulai merencanakan menjatuhkan posisi Vincent sebagai CEO Royal Group.


"Baiklah, atur ulang jadwalku untuk pulang ke Serenity besok pagi dan informasikan kepada petinggi yang lain untuk menghadiri rapat di siang harinya," ujar Vincent.


"Bagaimana dengan Nona Lin?" tanya Lucas lagi.


Vincent tertegun sejenak. Ia belum memberitahukan kepada kekasihnya itu mengenai kepulangannya besok.


"Sekalian saja kamu pesankan tiket keberangkatannya besok sama denganku," pinta Vincent dan Lucas menyanggupi permintaannya, kemudian mengakhiri panggilan itu.


Vincent menyenderkan kepalanya ke belakang kursi dan memejamkan matanya. Begitu banyak masalah yang harus ia selesaikan saat ini. Belum masalah putri Eva yang belum sempat ia selidiki, ia mengambil ponselnya kembali dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Halo, ini aku Vincent," ucap Vincent datar.


"Ada apa? Tumben kamu menghubungi lebih dulu," sindir suara seorang pria di seberang.


Vincent berdecak sebal mendengar sindiran sahabat lamanya itu, Leon Kim, "Sebenarnya aku malas menghubungimu, tapi terpaksa," balas Vincent sewot.


Leon terkekeh-kekeh mendengar balasan Vincent, "Baiklah, hal apa yang membuatmu terpaksa menghubungiku? Aku jadi penasaran."


Vincent menarik ujung bibirnya sekilas dan menjawabnya malas, "Ini mengenai Eva."


Leon terdiam sejenak dan mengernyitkan dahinya.


"Tepatnya putri Eva, Elaine," lanjut Vincent memperjelas maksudnya.


"Oh gadis kecil itu. Kenapa dengannya?" tanya Leon yang tidak terkejut ketika Vincent menyebutkan mengenai keberadaan gadis kecil itu.


"Kau sudah tahu Eva memiliki seorang putri?" tanya Vincent yang kaget dengan respon Leon.


"Yah … aku sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu, kurang lebih begitulah," jawab Leon. Ia mengetahui hal itu ketika ia menginap di rumah Eva, saat ia mabuk dan bertemu Eva di pub dan Eva membawanya ke rumahnya.


"Jadi kamu sudah tahu siapa ayah kandung El?" tanya Vincent lagi.


"Hm … kalau itu aku tidak tahu, karena aku tidak bertanya dan Eva tidak menceritakannya. Kenapa? Apa kamu tahu?" Leon malah bertanya kembali ke Vincent.


Vincent kecewa dan mendesah kasar. Ia mengira Leon mengetahui kebenarannya, "Tidak, tapi …."


"Tapi apa?" tanya Leon penasaran.


"Eva bilang El adalah putriku," desis Vincent lirih.


"Apa?" Leon terkejut mendengarkan pernyataan yang keluar dari mulut Vincent.


"Bagaimana mungkin? But … wait … kalau dihitung-hitung umur El dengan saat kalian berpisah waktu itu masih ada kemungkinan dia adalah putrimu, tapi tergantung apa kalian pernah melakukannya atau tidak," papar Leon dan menyelidiki Vincent.


Vincent menghela nafas kasar, "Aku menelponmu bukan ingin kamu berbalik menginterogasiku, Bro," protes Vincent kesal.


Leon tertawa lepas. "Hahaha … apa kamu sudah lupa melakukannya atau tidak?" ejek Leon.


Vincent berdecak kesal dan menyesal telah menghubungi Leon, "Kalau kamu tidak mau membantuku ya sudah!" desis Vincent kesal.


"Ouw … tunggu, Vin. Jangan begitu, aku akan membantumu. Tunggulah kabar dariku," sela Leon cepat, "tetapi apa Amira juga mengetahui hal ini?" tanya Leon penasaran.


"Dia tidak tahu, tapi aku harap kamu tidak memberitahunya, jika tidak aku akan menghabisimu," ancam Vincent.


Leon tidak merasa terintimidasi dengan ucapan Vincent, malah dengan santainya dia menjawab, "Baiklah, tapi itu tergantung dengan hasil yang akan aku dapatkan nanti," balas Leon dan tersenyum menyeringai.


"Apa yang akan kamu lakukan jika El adalah putrimu? Apa kamu akan menutupinya selamanya dari Amira?" tanya Leon penasaran.


"Aku punya rencanaku sendiri," jelas Vincent yang tidak ingin mengatakannya.


"Baiklah, apapun rencanamu itu, aku hanya berharap kamu tidak menyakiti perasaan Amira," desis Leon tajam dan mengakhiri panggilan itu.


Vincent meletakkan ponselnya, menyangga kedua siku lengannya di atas meja dan menyilangkan jari-jarinya. Ia menundukkan wajahnya sejenak dan menghela nafas panjang, hingga suara gadisnya mengagetkannya.


"Sayang …." panggil Amira.

__ADS_1


To be continue ….


__ADS_2