Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 81


__ADS_3

Halo readers!


Jangan lupa untuk terus membaca ceritaku ya...


Tolong like dan vote cerita ini 👍


Bantu author dong share cerita ini kepada teman2 kalian...


Satu dukungan kalian sangat berharga buatku!


Terima kasih sudah membaca cerita ini 🙏🙏🙏


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Cahaya kelap-kelip di dalam ruangan dengan minim pencahayaan terpancar di setiap sudut. Dentuman musik yang mengalun dengan irama yang bergejolak dengan seorang DJ yang memainkan cakram di tangannya dan headphone di telinganya, memabukkan semua telinga yang mendengarkan musik itu. Di atas lantai dansa terdapat beberapa wanita dengan pakaian yang vulgar sedang menari dengan gila sambil memamerkan lekuk tubuhnya di depan mata para pria hidung belang yang sedang mengelilinginya.


Aroma minuman keras begitu menusuk tajam memenuhi ruangan itu. Beberapa pelayan wanita bar dengan pakaian seksi dan minim bahan berkeliaran di setiap sudut sambil menawarkan minuman keras kepada pengunjung bar, berharap minuman mereka dibeli dan mereka mendapatkan penghasilan tambahan malam ini.


"TIF!" teriak Amira karena suara dentuman musik menelan suaranya saat ini. Tiffany menoleh.


"APA KAMU GAK SALAH TEMPAT?"


"BENAR DI SINI TEMPATNYA?"


Saat ini mereka berdua berada di Devil Kiss, salah satu klub malam di Kota Amigos.


Amira memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan takjub dan risih. Ini pertama kalinya Amira memasuki klub malam, berbeda dengan Tiffany yang sudah beberapa kali menginjakkan kaki di tempat itu.


Beberapa pria hidung belang memperhatikan mereka berdua dengan penuh nafsu seakan-akan ingin menerkam mangsanya. Amira memeluk kedua tangannya dengan erat, merasa dirinya ditelanjangi saat ini.


Sebelum ke tempat ini, Amira dan Tiffany pulang ke apartemen dan berganti pakaian. Amira mengenakan gaun berlengan pendek berwarna pink muda dengan panjang di atas lutut, sedangkan Tiffany mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam di atas lutut dan mengekspos bahunya yang mulus.

__ADS_1


"TIF!" teriak Amira lagi karena sahabatnya itu masih celingak-celinguk mencari sosok seseorang. Suara musik menenggelamkan suara Amira, sehingga mengharuskan dirinya untuk berteriak agar sahabatnya itu mendengarkan panggilannya.


"APA?" balas Tiffany dengan teriakan juga.


"BENAR DI SINI ED NGADAIN ACARANYA?" cecar Amira meminta penjelasan dari sahabatnya itu. Amira memegang hidungnya karena tidak suka dengan aroma minuman keras yang begitu menyengat. Ia sudah tidak betah berlama-lama di tempat itu.


"IYA!" jawab Tiffany datar masih sibuk mencari si tuan rumah yang mengadakan acara.


"KOK KAMU GAK BILANG KALAU DI SINI TEMPATNYA?! TAU GINI AKU GAK IKUT!" tukas Amira sebal dengan sahabatnya itu. Tiffany tidak mendengarkan ucapan Amira.


"AH, ITU DIA DI SANA!" sahut Tiffany sambil menarik tangan sahabatnya yang masih berdiri diam di tempat.


Tiffany menghampiri seorang pria bertubuh tinggi atletis dengan rambut pirang dan senyuman yang menawan sedang duduk di kursi depan bartender.


"HAI ED!" sapa Tiffany berteriak membuat Edward menoleh kepadanya.


"OH HALO, TIF! AKHIRNYA KAMU DATANG JUGA HAHAHA … SEMUA ADA DI DALAM," balas Edward, ia mengajak Tiffany ke dalam sebuah ruangan VIP.


"Ini …?" Edward menatap Amira yang berdiri di belakang Tiffany. Ia baru menyadari kedatangan Amira karena Amira berjalan cukup jauh dari mereka tadi.


"Ah perkenalkan Ed. Ini Amira, sahabatku," terang Tiffany memperkenalkan Amira kepada Edward dan mereka berdua berjabat tangan.


"Halo … Perkenalkan aku Edward. Sepertinya aku pernah melihatmu," ucap Edward pada Amira.


"Iya kita satu fakultas, Ed," tutur Amira datar. Edward hanya tersenyum mengangguk dan mempersilahkan Amira duduk. Amira mencari tempat duduk di sudut sofa sedangkan Tiffany duduk di antara Amira dan Edward.


"Ini hadiah ulang tahunmu, Ed. Happy Birthday," ucap Tiffany sambil mengeluarkan kotak hadiah dari dalam tasnya.


"Terima kasih. Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot membawa hadiah," balas Edward.


Tidak berapa lama, seorang pelayan wanita berpakaian seksi datang membawakan minuman keras ke dalam ruangan mereka dan menuangkannya ke dalam beberapa gelas wine. Setelah melakukan tugasnya dan mendapatkan tips dari Edward, pelayan wanita itu keluar.

__ADS_1


"Ayo mari diminum jangan sungkan," sahut Edward mempersilahkan teman-temannya. Tiffany mengangkat satu gelas wine, tetapi Amira tidak mengambilnya. Ia hanya diam memperhatikan mereka bersulang.


"Ah, Amira. Kamu gak minum?" tanya Edward heran melihat satu gelas di atas meja yang masih terisi tidak disentuh.


"Ed, Ami gak bisa minum beginian," bela Tiffany yang mengetahui Amira sedang kesal dengannya.


"Sedikit saja. Coba saja sedikit. Ini aku sengaja pesan yang alkoholnya yang rendah," bujuk Edward kepada Amira. Amira hanya menanggapi Edward dengan senyuman tipis yang dipaksakan.


"Baiklah," ucap Edward tidak mau memaksa dan mengobrol dengan teman wanita di sampingnya. Beberapa orang lain sedang sibuk menyanyikan lagu yang mereka pesan.


"Aku ke toilet dulu," ucap Amira pamit kepada Tiffany dan segera berlalu meninggalkan ruangan.


Tiffany meletakkan gelas wine-nya dan menyusul Amira dari belakang.


"Ami?" panggil Tiffany menarik lengan Amira. Amira menoleh dengan wajah masam.


"Maaf aku gak tau kalau dia ngadain acaranya di sini. Habis dia cuma share lokasi aja tadi. Kan aku gak enak kalau sudah janji mau datang, tapi tiba-tiba batal," terang Tiffany.


"Kalau gitu kita pulang aja yuk!" ajak Amira yang sudah tidak betah di tempat itu sedetikpun. Dirinya juga takut kalau Vincent sampai tau ia sedang di tempat seperti ini.


"Baiklah. Aku pamit dulu sama Ed," sahut Tiffany. Amira mengangguk, "Aku ke toilet dulu ya," ucap Amira.


"Ok nanti kamu ke dalam sebentar sekalian pamit sama Ed. Kan gak enak kalau pergi gitu aja," tutur Tiffany. Amira hanya mengangguk.


Tanpa Amira dan Tiffany sadari, sepasang mata tajam sedang memperhatikan mereka. Tatapan kebencian dari sepasang mata cantik dipancarkan dari seorang wanita yang menatapnya dari kejauhan. Anna Lee saat ini sedang duduk di depan meja bartender sambil menggoyangkan gelas wine-nya pelan dan tersenyum menyeringai.


"Dasar wanita sialan! Kamu sudah tidak bisa menghindar lagi kali ini!" gumamnya sambil meneguk habis minuman di dalam gelas wine yang ia pegang.


Sejak insiden Amira terjatuh di kolam renang waktu itu, Anna Lee semakin membenci Amira. Pasalnya tanpa sepengetahuan Amira, Vincent secara terang-terangan menggunakan kuasanya untuk menghancurkan karir Anna di dunia hiburan sampai ia harus memulainya dari nol dan memohon kepada beberapa agensi untuk menerimanya, karena Kim Entertainment telah mendepaknya dari perusahaan.


"Hari ini adalah hari kehancuranmu!" seru Anna meremas gelas yang sudah kosong di tangannya itu.

__ADS_1


Anna melihat seorang pria tua berbadan besar yang sedang duduk tidak berapa jauh dari tempatnya berada. Ia melemparkan senyuman genit kepadanya dan berjalan mendekati pria itu, kemudian berbisik di telinganya. Anna menyerahkan sebuah pil kecil ke tangan pria itu. Pria itu mengangguk dan tersenyum licik.


To be continue ....


__ADS_2