
Hari ini pagi-pagi sekali Amira dan Tiffany datang ke kampus mereka. Mereka datang untuk melihat pengumuman tempat mereka magang, untuk menambah nilai tugas akhir mereka.
Amira bergegas ke ruangan Dosen Huang terlebih dahulu untuk mengambil lembar persetujuan tugas akhir, sekaligus memastikan kebenaran ucapan Vincent.
Dan benar saja, Vincent telah menyerahkan lembar tugas akhirnya kepada Dosen Huang. "Lain kali hati-hati sedikit, jangan ceroboh," pesan Dosen Huang dan Amira mengangguk.
"Kalau orang yang mengembalikannya bukan orang penting di kampus ini, saya tidak akan memberikanmu lembar persetujuan ini," ucap Dosen Huang.
"Orang penting? Memangnya jabatan dia apa di sini?" tanya Amira.
"Yang sopan sedikit! Tuan Zhang itu pemegang saham terbesar kampus kita. Kamu dan Tuan Zhang ada hubungan istimewa? Saya ada baca berita kalian," ucap Dosen Huang malah ingin mengorek informasi dari Amira.
"Ah, bapak percaya saja dengan gosip itu. Saya dan dia tidak ada apa-apa, pak. Saya permisi dulu pak," ucap Amira langsung kabur dari ruangan Dosen Huang.
"Fiuuuh.. untung saja cepat keluar. Bisa-bisanya dia menggosip," Amira menghela nafas lega. "Yang terpenting, aku tidak perlu ulang lagi.Yes!" ucap Amira senang melihat lembar persetujuan di tangannya.
"Eh, kamu ngapain? Senang amat," panggil Tiffany dari belakang menepuk pundak Amira.
"Senang dong, lihat ini," Amira menunjukkan lembar persetujuannya sambil nyengir.
"Ooo," jawab Tiffany datar.
Amira mengernyitkan keningnya, "Kenapa sih? Kok lemes amat."
"Gimana? Kamu sudah lihat pengumumannya? Kita magang di mana?" tanya Amira tidak sabaran.
"Di Royal Group," jawab Tiffany datar.
"Haaa???Kamu gak salah lihat?" tanya Amira tidak percaya.
Tiffany menggeleng, "Aku sudah lihat dua kali, eh nggak, tiga kali malah."
"Magang di perusahaan Royal Group? Berarti kita balik ke kota Serenity?" tanya Amira.
Tiffany menggeleng lagi, "Nggak, di kantor cabangnya saja. Di Amigos ini kan juga ada kantor cabangnya. Hari senin kita disuruh langsung melapor ke bagian humasnya."
"Huh! Ini pasti ulah si Vincent!" gumam Amira sambil memanyunkan bibirnya.
"Sekarang sudah panggil nama? Gak panggil si mesum, si brengsek, si apa gitu?" sindir Tiffany.
Amira menyenggol lengan Tiffany, wajahnya memerah diledek Tiffany, "Apaan sih?! Sebel!"
"Ayo cerita! Kamu dan Kak Vincent ada kejadian apa selama aku tinggal seharian?" tanya Tiffany penasaran.
__ADS_1
"Iiih.. gak ada apa-apa. Jangan asal tebak," balas Amira berusaha menghindar.
"Masa? Habisnya kamu suka senyum-senyum sendiri tau," ledek Tiffany lagi.
Amira memegang wajahnya yang sudah semerah tomat, dia segera cepat berlari meninggalkan Tiffany, sahabatnya.
"Mau kabur? Tunggu, Amiiii!!" teriak Tiffany berlari mengejar langkah Amira.
BUGGGH!!
Amira berlari tanpa melihat ke depan dan menabrak seseorang di depannya. Dengan sigap, orang tersebut menarik tangan Amira agar tidak terjatuh, sehingga Amira jatuh di pelukan orang tersebut.
"Kak Leon?" ucap Amira memanggil orang itu.
Leon menampilkan senyumnya yang menawan, wajah Amira menjadi makin merah dengan posisi mereka. Amira segera berdiri dan menjauh. Tidak jauh dari mereka, di dalam mobil Lamborghini gold metalic, Vincent melihat kejadian itu.
"Kak Leon, kenapa ke sini?" tanya Amira setelah bisa mengontrol nafasnya sehabis berlari.
Tiffany menepuk pundak Amira, "Kamu sudah gak bisa lari lagi kan?" tanya Tiffany dengan nafas ngos-ngosan.
Amira hanya menyunggingkan senyum kudanya.
"Kak Leon, kamu sudah datang?" ucap Tiffany melihat keberadaan kakaknya.
"Aku ke sini menjemput kalian berdua. Sekalian bawa adik tersayangku ini untuk mencari gaun pesta untuk besok," ucap Leon menjelaskan kedatangannya.
"Ooo," Amira mengangguk. "Ayo, Ami. Kamu juga ikut, bantu aku cari gaun pestaku, sekalian cari untukmu juga," ajak Tiffany.
"Aku gak ikut aja deh. Gaun pestaku masih banyak di lemari, jarang dipakai," ucap Amira berusaha menolak ajakan sahabatnya itu. Dia tidak ingin menghamburkan uang yang tidak perlu, mengingat kondisi keuangan keluarganya sekarang.
"Iiih.. kamu payah deh, gak asik banget!" ucap Tiffany merajuk.
"Sudah, Tif. Kalau Amira gak bisa ikut, kakak yang temanin saja. Ayo Ami, aku antar dulu kamu pulang," ucap Kak Leon.
"Mmm.. ya udah aku ikut aja, kak. Tapi aku cuma nemenin kamu belanja aja ya," ucap Amira membujuk sahabatnya yang lagi merajuk.
"Nah, gitu dong," ucap Tiffany tersenyum senang.
Amira dan Leon hanya bisa menghela nafas pelan dan menuruti keinginan Tiffany.
Mereka bertiga berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil Leon.
Vincent melihat Amira yang tersenyum dan tertawa gembira dengan Leon, dia merasa cemburu. Vincent mengepalkan tangannya di atas kemudi dengan erat dan mengikuti mobil Leon dari belakang.
__ADS_1
Mobil Leon berhenti di sebuah butik dan Vincent memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Leon. Leon, Amira dan Tiffany masuk ke dalam butik tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya pelayan butik kepada Leon.
"Tolong carikan gaun pesta yang cocok untuk adik saya dan temannya," pinta Leon kepada pelayan butik. Pelayan tersebut mengangguk dan mencari beberapa gaun di etalase.
"Ah, Kak Leon. Aku kan sudah bilang cuma nemenin saja," ucap Amira mengingatkan.
"Tidak apa-apa, Ami. Kamu sudah sampai sini juga. Tenang aja, nanti Kak Leon yang bayar semua, iya kan kak?" Tiffany mengerlingkan matanya kepada Leon.
Leon tersenyum melihat tingkah adiknya itu, "Iya, tenang saja," ucap Leon.
"Ah, tapi kak.." Amira ingin menolak, tetapi tangannya ditarik Tiffany untuk mencari gaun di etalase.
Vincent masuk ke dalam butik, "Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan butik yang lain.
Vincent tidak menggubris pelayan itu, dia berjalan mencari Amira dan melewati Leon. Dilihatnya Amira di sudut kanan etalase, dia langsung menarik tangan Amira. Amira kaget dan menarik tangannya.
"Vincent?" Amira melongo melihat kehadiran Vincent di butik itu.
Leon segera menghampiri mereka, dan menjauhkan Vincent dari Amira. "Kamu mau apa, Vin?" tanya Leon.
"Bukan urusanmu!" jawab Vincent dingin.
"Ayo, ikut aku," Vincent menarik tangan Amira erat, memaksanya untuk berjalan keluar, "Vincent, lepaskan!" teriak Amira kesakitan.
Leon menahan tangan Amira satu lagi, Amira melihat ke arah Leon yang menarik tangannya juga. Amira berada di tengah-tengah dua orang pria yang saling memberikan tatapan penuh cemburu.
"Vincent, lepaskan, Ami!" perintah Leon.
"Kamu yang harus lepaskan dia!" balas Vincent tidak mau kalah.
Tiffany yang melihat kejadian itu hanya terpaku kagum.
Amira menghela nafas panjang, "Kalian berdua sebenarnya kenapa?" ucap Amira menatap tajam kepada Leon dan Vincent bergantian.
Leon dan Vincent akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka di pergelangan Amira. "Maaf," ucap Leon dan Vincent bersamaan, kemudian saling menatap tajam.
"Ah sudah Ami. Kamu temanin aku cari gaun aja, gak usah peduliin mereka," ucap Tiffany seraya menarik tangan Amira.
Amira bergidik ngeri melihat mereka yang saling menatap tajam.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue...