
Dua bulan sudah berlalu, namun Amira masih dengan setia melakukan mimpi panjangnya. Gadis itu enggan bangun dari tidurnya, membuat semua orang mengkhawatirkannya. Dokter juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menunggu sebuah keajaiban.
Nyonya Merina membantu putrinya mengusap tubuhnya dengan handuk kecil di tangannya. Ia membersihkan tubuh putrinya dengan perlahan. Hatinya terenyuh setiap kali menatap wajah putrinya saat ini. Sesekali air matanya menetes membasahi wajahnya.
"Apakah kamu masih belum mau memaafkan Ibu, Nak?" lirihnya seraya mengusap air mata di pipinya.
Setiap hari Nyonya Merina datang menemani putrinya itu sambil sesekali mengajaknya berbicara. Dokter memberitahu agar jangan pernah lelah mengajak pasien berkomunikasi untuk melakukan terapi kesadarannya.
Selain Nyonya Merina, terkadang Daniel, Tiffany, Kakek Juan, dan Leon pun datang sesekali di sela-sela kesibukan mereka. Begitu juga dengan Vincent, pria itu tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk melihat kekasihnya itu. Ia malah setiap hari bermalam di sana dan pergi ke kantor keesokan paginya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nyonya Merina, ia segera menghapus air matanya. "Masuk," jawabnya.
Nyonya Merina cukup kaget melihat dua sosok yang berdiri di hadapannya saat ini, James dan istrinya. Ia menghela nafas pelan dan tersenyum tipis melihat kedatangan mereka.
James dan Thalia selalu menyempatkan waktu untuk datang melihat kondisi Amira, tetapi tidak pernah sekalipun mereka sempat bertemu dengan Merina. Baru kali ini mereka bertemu enam mata seperti ini tanpa kehadiran orang lain.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Nyonya Thalia membuka pembicaraan yang hening di antara mereka sejak tadi.
"Masih sama seperti sebelumnya, belum ada tanda-tanda ia akan siuman," keluh Nyonya Merina menghela nafas pelan.
"Karena kita sudah bertemu di sini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu Meri," ucap James dengan raut wajah bersalah. Thalia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan suaminya itu. Ia menepuk pundak suaminya dengan pelan, seolah memberikan kekuatan kepada pria itu.
"Aku ingin meminta maaf kepadamu," ucap Tuan James pelan, "dan kepada Ami."
"Akibat perbuatanku dulu membuat semua orang menderita sekarang," sesalnya lagi.
Thalia dan Merina hanya diam menanggapi ucapan pria di hadapan mereka saat ini. Bukan hanya James, kedua wanita itu juga menyesali hal-hal yang telah mereka lakukan terhadap Amira dan Vincent.
James melihat wajah putrinya dengan mata sendu. Hatinya nelangsa melihat putrinya yang masih belum sadar dari komanya. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Tidak pernah sekalipun ia memberikan kasih sayang seorang ayah yang sepatutnya ia berikan kepada putrinya itu. Bahkan kehadirannya di dunia ini pun baru ia ketahui dua bulan terakhir ini.
"Ami, apa kamu mendengarku? Kalau kamu mendengarnya, bangunlah, Nak. Maafkan Papa yang sudah membuatmu menjadi seperti ini. Kamu mau marah dan benci sama Papa, silahkan! Papa terima semuanya, tapi jangan seperti ini kamu menghukum kami semua, Nak," lirih James sambil menggenggam tangan putri kandungnya itu.
Thalia mengusap punggung suaminya pelan. Merina pun terenyuh mendengarkan ucapan pria yang pernah mengisi hatinya, ia mengusap cairan bening di sudut matanya.
"Sudahlah, James. Jangan menyalahkan dirimu terus menerus. Aku tidak ingin terus mengingat masa lalu. Hargai dan sayangilah orang yang berada di dekatmu saat ini," ucap Merina bijak kepada James dan melirik ke arah Thalia yang berada di sampingnya.
"Maafkan aku ya, Thalia. Aku pernah hampir merusak rumah tanggamu. Tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga di dalam kehidupan kalian," lanjut Merina lagi dengan menyesal dan meminta maaf dengan tulus.
Thalia menghela nafas pelan dan tersenyum kepada Merina. Kali ini senyumannya terlihat begitu tulus. Dua bulan terakhir ini, ia sudah mulai mencoba untuk melepaskan rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya selama ini. Perlahan ia mulai belajar membuka hatinya dengan lapang dan menerima kenyataan hidupnya. Kecelakaan yang hampir merengut nyawa putranya dan Amira telah membuka matanya dan hatinya. Membuang segala rasa benci di dalam dirinya.
"Bukankah kamu bilang tidak perlu mengingat masa lalu lagi?" sindir Thalia secara halus namun tidak ada nada kebencian di dalam kalimatnya.
Merina terdiam dan tersenyum malu. Ia menyadari bahwa Thalia sudah memaafkan dirinya dan hal itu membuatnya merasa begitu tenang.
__ADS_1
Begitu juga dengan James, ia pun merasa lega dan bahagia dengan keadaan saat ini. Tidak ada kebencian dan permusuhan di antara kedua wanita itu lagi. Ia berjanji akan menjadi sosok suami yang baik bagi istrinya dan sosok ayah yang baik pula bagi kedua anaknya. Hanya satu yang masih menjadi beban pikirannya, yaitu Amira yang belum kunjung sadar dari tidur panjangnya.
"Ami, maafkan Tante ya sudah pernah berkata kasar kepadamu dulu dan menyakiti hatimu. Sadarlah, Nak. Tante sudah merestui hubunganmu dengan Vincent," ucap Thalia sambil mengusap kening Amira. Jari-jari Amira bergerak kecil seakan memberikan respon atas ucapan Thalia. James dan Merina kaget melihat hal itu. Senyuman mengembang di wajah mereka.
"Ami!"
"Ami, bangunlah!"
Mereka terus meneriakkan nama gadis itu dan mencoba membuat gadis itu bangun dari tidurnya. Namun gadis itu tidak memberikan respon apapun lagi. Kembali meneruskan tidur panjangnya.
°
°
°
°
°
Vincent memasuki ruangan Amira. Ia meletakkan sebuket bunga tulip berwarna putih segar di tangannya, memasukkannya ke dalam vas bunga yang berada tidak jauh dari tempat tidur gadis itu.
Vincent selalu mengganti bunga tulip itu dengan yang baru setiap hari. Ia ingin gadis itu melihat bunga itu ketika ia sadar nanti. Bunga tulip melambangkan permintaan maafnya kepada gadis itu. Maaf karena telah menyakiti hatinya. Maaf karena telah membohonginya, membuat cintanya merasa telah dikhianati.
"Apa kamu tahu kalau Lucas dan Tiffany sudah bertunangan saat ini? Apa kamu tidak mau melihat sahabatmu menikah, Ami?" tanya Vincent kepada kekasihnya, seolah-olah sedang berkomunikasi berdua dengannya.
"Hari ini Eva menghubungiku dan mengirim salam untukmu, agar kamu segera bangun dan memberikan ucapan selamat untuknya. Ia juga memberikan kabar bahagianya untukku dan untukmu," tutur Vincent sambil mengusap wajah gadis itu.
"Iya, betul dia juga akan menikah. Apa kamu tahu siapa pasangannya? Kamu pasti akan kaget jika tahu siapa pasangannya nanti," lanjut Vincent lagi.
Vincent menghela nafas pelan dan mencubit pangkal hidungnya. Gadis itu sama sekali tidak merespon ucapannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian berbalik dan menengadahkan wajahnya ke atas agar cairan bening di sudut matanya tidak terjatuh. Ia tidak ingin gadis itu melihat dirinya yang lemah saat ini. Ia pun menghapus cairan bening itu dan kembali menatap gadisnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bersedia membuka matamu, Ami?" lirihnya.
°
°
°
°
°
__ADS_1
Saat ini Amira masih berkelana di dalam mimpinya. Gadis itu duduk di sebuah batu besar dengan aliran sungai di sampingnya. Ia memainkan kedua kakinya dan mengayunkannya di atas air sungai itu, sehingga cipratan air itu mengenai seorang pria tua di sampingnya.
"Ami, sudah waktunya kamu kembali. Ibumu pasti mengkawatirkanmu," ucap pria itu.
"Nggak, aku mau di sini bersama Ayah saja! Aku rindu sama Ayah." Amira menolak dan memeluk lengan pria yang disebut ayah olehnya.
"Aku bukan ayahmu, Ami!" Ucapan pria itu membuat Amira terperanjat.
"Bohong!" Amira berteriak dan menutup kedua telinganya.
"Walau kamu bukan putri kandungku, tetapi ayah akan tetap menyayangimu dan akan terus menjagamu, Nak. Pulanglah ... Jangan buat ibumu khawatir lagi," bujuk pria itu dan ia pun berjalan menjauh, kemudian perlahan menghilang.
"Ayah!" teriak Amira, tetapi sosok pria yang dipanggilnya sudah menghilang. Ia pun merenungi ucapan ayahnya itu.
"*A*mi," panggil seseorang yang membuyarkan lamunannya.
Amira menoleh dan mencari sumber suara seorang pria yang memanggilnya. Ia tidak menemukan siapapun. Namun ia mengenali suara itu. Suara seseorang yang begitu ia rindukan. Suara itu sudah berkali-kali memanggil namanya, namun ia abaikan.
Gadis itu segera berlari menjauh dari sumber suara yang memanggilnya saat ini.
"*J*angan tinggalkan aku, Ami. Please …."
Suara itu begitu menyayat hati gadis itu saat ini. Ia pun menghentikan langkahnya. Cairan bening mengalir dari pelupuk matanya.
"Vincent …," lirihnya.
"Kembalilah, Sayang. Aku akan melakukan apapun untukmu. Apapun yang kamu inginkan, bahkan nyawaku pun akan aku berikan untukmu asal kamu segera kembali!"
Keraguan merayapi relung hatinya. Ucapan ayahnya melintasi pikirannya, namun kilasan peristiwa kekasihnya bersama wanita lain membuat hatinya sakit, pengkhianatan itu membuatnya tidak ingin menemui pria itu.
"Apa kamu ingin aku mengambil nyawaku sendiri baru bisa menemuimu?" ancam pria itu kepada Amira, membuat gadis itu terperangah.
Suara pria itu pun semakin menjauh. Amira segera menghapus air matanya dan menggeleng kuat.
"Tidak! Vincent!"
"Vincent!"
Gadis itu pun terbangun dari mimpinya yang panjang. Perlahan ia pun membuka matanya yang sudah lama tidak melihat cahaya semesta di hadapannya saat ini.
"Vin-Vincent …." lirihnya dan mengerjapkan matanya yang terasa begitu berat.
Vincent yang saat itu sedang menundukkan wajahnya dan menggenggam tangan kekasihnya segera mengangkat wajahnya. Senyuman mengembang di bibirnya. Cairan bening kembali menghias wajahnya, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang ia rasakan. Pria itu segera memeluk tubuh kekasihnya dengan penuh kasih. Berbagai ucapan puji syukur ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa saat ini.
__ADS_1
To be continue ….