
"Kak Leon, kakak tidak apa-apa?" tanya Tiffany yang sudah menghampiri Leon di lantai dan membantunya berdiri.
Bibir Leon mengeluarkan darah segar, sepertinya Vincent benar-benar menggunakan seluruh tenaganya dan melampiaskan semua kekesalan dan amarahnya yang menumpuk dari tadi kepada Leon atau mungkin pelampiasannya terhadap Leon atas kejadian lima tahun yang lalu. Hanya Vincent sendiri yang tau.
Leon berdiri dan mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah dengan ibu jarinya.
"Kak Vincent, Jangan keterlaluan! Apa salah Kak Leon sampai dipukul begini?" teriak Tiffany kepada Vincent yang berusaha membela kakaknya. Tiffany tidak terima kakaknya dipukul begitu saja tanpa alasan.
"Tif, kamu gak usah ikut campur. Masalah ini biarkan Kakak yang menyelesaikannya. Cepat atau lambat Kakak memang harus menghadapinya," ucap Leon kepada Tiffany. Leon menatap Vincent tajam, tetapi tidak ada rasa permusuhan di matanya.
"Kamu di sini saja, Tif. Jaga Ami!" perintah Leon pada adiknya, kemudian berjalan mendekati Vincent.
"Kita bicara di luar saja, biarkan Ami beristirahat, kamu tidak mau kan kalau Ami melihat kita berantem di sini," ucap Leon dan menepuk pundak Vincent. Vincent menepis tangan Leon di pundaknya, kemudian berjalan keluar. Leon menghela nafas pelan.
Vincent berjalan ke arah lift dan diikuti Leon dari belakang. Mereka sekarang berada di lantai paling atas, atap rumah sakit yang luas. Pemandangan yang terlihat dari atas sungguh menakjubkan. Hening sekali.
Angin bertiup cukup kencang di sana, membelai wajah kedua pria yang berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan suara mereka masing-masing.
Vincent memalingkan wajahnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan sedikit ke depan. Leon hanya memandangi Vincent dari belakang.
"Ehem ... Ternyata sudah lima tahun kita tidak berbicara seperti ini," ucap Leon membuka pembicaraan.
"Tidak aku sangka, kita bertemu dengan cara seperti ini," sahutnya lagi.
Vincent tetap memandang ke depan dan tidak menjawab apapun.
"Apa kamu masih marah padaku?" tanya Leon.
"Kejadian lima tahun yang lalu, tidak seperti yang kamu pikirkan, Vin," tukas Leon mencoba menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Sebenarnya saat itu aku dijebak ...."
Leon mencoba menjelaskan lagi. Vincent berbalik dan menatapnya tajam.
"Dijebak?" ucap Vincent tersenyum sinis dan meremehkan.
__ADS_1
"Kamu mau menipu siapa, ha? JELAS-JELAS AKU MELIHAT DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI, KALAU KAMU DAN ANNA MELAKUKAN HAL 'GILA' ITU DI DEPAN MATAKU, LEON KIM!!!" teriak Vincent dengan suara yang makin meninggi.
"Vin, kamu dengarkan penjelasan aku dulu! Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu tidak mau mendengarkan penjelasan dari orang lain!! Kamu hanya melihat dari sisimu saja!" teriak Leon yang juga tidak mau kalah, tetapi dia masih dapat menahan emosinya.
Leon menghela nafas dan memijat keningnya, dia merasa percuma saja menjelaskannya kepada Vincent yang tidak bisa merendamkan emosi dan egonya.
"Aku hanya bisa mengatakan, kalau aku waktu itu dijebak oleh Anna. Dia memberikanku obat perangsang ke dalam minumanku. Terserah kamu mau percaya atau tidak!" jelas Leon sudah pasrah menghadapi Vincent yang berkepala batu.
"Untuk apa dia menjebakmu? Dia tidak punya alasan untuk menjebakmu!" balas Vincent sinis, masih tidak sepenuhnya percaya akan perkataan Leon. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya sudah tidak mempedulikan masalah itu.
"Yang dia inginkan adalah popularitas, Vin! Kamu sudah tau kan kalau Anna saat itu dia hanya seorang artis pendatang yang bukan siapa-siapa. Dia menjebakku agar tidur dengannya, sehingga dia bisa mengancamku agar aku dapat membantunya di Kim Entertainment. Dia adalah seorang wanita yang penuh ambisi! Menghalalkan segala cara untuk merangkak naik!" jelas Leon kepada Vincent.
Vincent hanya diam dan mencoba mencerna perkataan Leon. Vincent tau Leon Kim adalah anak dari pemilik Kim Entertainment, perusahaan yang bergerak di bidang industri hiburan yang sangat terkenal akan artis-artisnya yang selalu mendapatkan peringkat atau nominasi di bidangnya. Leon Kim tidak ingin menjalankan usaha ayahnya itu, karena dia tidak tertarik sama sekali untuk menjalankan bisnis.
Vincent teringat kembali kejadian lima tahun lalu,
*****
Flashback.
Tanpa menghubungi Anna terlebih dahulu, Vincent melajukan mobilnya langsung menuju ke apartemen Anna. Tidak lupa dia membawa seikat bunga kesukaannya, untuk memberikannya sedikit kejutan. Tetapi apa yang dilihatnya setelah sampai di apartemen kekasihnya, benar-benar merobek hatinya.
Bukan dia yang memberikan kejutan, tetapi dialah yang diberikan kejutan! Dia melihat sahabat yang paling dipercayanya, yang dianggapnya seperti kakak kandung sendiri bermain 'gila' dengan kekasihnya saat itu. Hatinya benar-benar hancur!
Saat itu Vincent merasa bukan saja dikhianati oleh kekasihnya, tetapi sahabatnya juga membohonginya dan merebut kekasihnya!
*****
Vincent menggeleng kepalanya kuat, dia memijat keningnya. Dia bingung siapa yang harus dipercayainya. Waktu itu Anna mengatakan kepadanya bahwa Leon yang menggoda dirinya.
Setelah dia mendengarkan penjelasan Leon, tampaknya yang dijelaskan oleh Leon masuk akal. Dia tau Anna memang seorang yang penuh ambisi seperti yang diucapkan Leon, tetapi dia tidak menyangka Anna sampai menyerahkan dirinya sendiri demi mencapai keinginannya itu.
"Aku hanya bisa mengatakan padamu, kalau aku sama sekali tidak mencintai Anna. Dan aku pun tidak ada niat sama sekali untuk merebutnya darimu," jelas Leon lagi.
"Kalau kamu masih tidak percaya, aku rasa dengan kemampuanmu saat ini, kamu bisa menyuruh seseorang untuk mencari tahu kebenarannya."
__ADS_1
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan Anna," ucap Vincent dingin. Benar, hatinya saat ini sudah bukan untuk Anna lagi, dia hanyalah kenangan pahit yang ingin ia lupakan selamanya!
"Baiklah, aku rasa penjelasanku sudah cukup. Walaupun kita tidak bisa berteman seperti dulu lagi, setidaknya aku berharap kamu tidak begitu membenciku lagi dan memanfaatkan Ami untuk membalas dendammu padaku, Vincent! Ami adalah seorang gadis yang baik dan polos, kamu jangan menyentuhnya!" ancam Leon penuh amarah.
Vincent terdiam mendengarnya, kemudian menyeringai sinis.
"Ternyata kamu juga menyukai Ami?" tanya Vincent sinis.
"HAHAHAHAHAHAHA."
Vincent tertawa lepas dengan miris. Dirinya tidak menyangka kalau ia dan Leon bisa menyukai seorang gadis yang sama.
"Kenapa kamu tertawa? Apa tebakanku benar, Vincent?" tanya Leon penasaran. Vincent hanya memberikan senyuman sinisnya.
"Jawab aku, Vincent!"
Leon sudah tidak dapat menahan emosinya. Dia geram melihat Vincent yang tidak mau menjawabnya.
"Kenapa kalau aku menyentuhnya? Itu bukan urusanmu!" balas Vincent sinis sambil menunjuk ke dada Leon.
"KAMU JANGAN MACAM-MACAM VINCENT!!!"
Leon menarik kerah baju Vincent dengan penuh emosi, tetapi Vincent menatap Leon tanpa merasa bersalah sedikit pun, malah memberikan tatapan meremehkan.
"Hahahaha ... kenapa? Mau memukulku? Seorang Leon Kim yang tidak pernah berkelahi, sekarang ingin menujukkan taringnya?" ejek Vincent.
Tanpa aba-aba, Leon langsung melayangkan tinjunya ke wajah Vincent, membuatnya jatuh tersungkur. Vincent mengusap bibirnya dan tersenyum mengejek, "Hanya segini kekuatanmu? Dasar lemah!"
Leon mendekatinya lagi dan melayangkan tinjunya lagi, tetapi kali ini Vincent tidak membiarkan dirinya dipukul. Dia menahan pukulannya dan menyerang balik. Begitulah seterusnya, Leon membalas serangannya dan Vincent yang tidak mau terima pukulannya membalas balik.
Pergumulan itu berlangsung beberapa menit hingga mereka berdua tidak dapat berdiri lagi dan membalas serangan masing-masing. Tubuh mereka tergeletak begitu saja di lantai atap rumah sakit dan mencoba menenangkan pikiran mereka masing-masing. Mungkin dengan seperti ini, mereka dapat melepaskan beban di hati mereka selama lima tahun ini.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1