Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 109


__ADS_3

Vincent menatap wajah kekasihnya yang sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Ia menarik ujung bibirnya dan memaksakan dirinya untuk tersenyum kepadanya. "Sejak kapan kamu di sana, Sayang?" selidiknya.


"Baru aja," jawab Amira dan berjalan masuk ke ruangan itu dan menatap Vincent dengan cemas.


"Kamu sedang ada masalah, Vin?" tanyanya dan mendekati Vincent.


Vincent tersenyum dan menggeleng pelan. Ia menarik Amira hingga gadis itu duduk di pangkuannya. "Kamu belum tidur?" kilahnya berusaha mengalihkan perhatian kekasihnya itu.


"Belum. Aku gak bisa tidur," gumam Amira.


"Kenapa? Menungguku?" goda Vincent di telinga Amira membuat wajah gadis itu merona. Amira segera bangkit dari duduknya, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Vincent. Pria itu memeluknya dan membenamkan wajahnya di bahu Amira.


"Kamu kenapa, Vin?" tanya Amira lagi. Ia dapat merasakan bahwa ada yang sedang dipikirkan oleh pria itu.


Vincent tidak menjawab pertanyaan Amira. Ia semakin membenamkan wajahnya dan mulai menelusuri tulang selangka gadis itu.


"Aku suka aromamu," bisik Vincent, "rasanya aku ingin memilikimu sekarang," lanjutnya lagi yang membuat Amira menjadi salah tingkah.


"Vin …," desahnya lirih.


Vincent menghentikan gerakannya. "Besok aku ada urusan mendesak di Serenity. Apa kamu mau ikut pulang atau lusa aja menyusulku?" tanya Vincent memberikan pilihan kepada gadis itu, walaupun sebenarnya ia sudah memesankan tiket penerbangan besok pagi untuk gadis itu juga.


"Ada hal apa yang begitu mendesak?" tanya Amira penasaran dan berbalik menatap wajah pria itu, terlihat gurat kelelahan di wajahnya tetapi pria itu tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum di hadapannya.


"Aku ikut kamu besok aja," jawab Amira setelah Vincent tidak menjawab pertanyaan yang ia ajukan.


Amira memegang kedua pelipis Vincent dan memijitnya perlahan. "Apa begini lebih enakan?" tanyanya melihat pria itu memejamkan matanya dan menikmati pijatannya.


Vincent tidak menjawab, ia hanya berdeham pelan. Ia begitu menikmati sentuhan jari gadis itu di pelipisnya. Aroma lavender pada tubuh gadis itu begitu membangkitkan gairahnya, apalagi dengan jarak yang begitu dekat.


Amira dapat merasakan 'sesuatu' di bawah pria itu sedang memuncak dan membuatnya menghentikan pijatannya. Gadis itu teringat dengan perkataan Nyonya Thalia tadi siang. Ia melepaskan diri dari pelukan pria itu, kemudian beranjak dari duduknya.


Vincent menyadari Amira yang sedang menghindarinya. Ia tersenyum nakal melihat penolakan dari gadis itu. Ia hanya menghela nafas panjang dan mengikutinya keluar dari ruangan, kemudian masuk ke kamar tidur.


Amira yang mendapati Vincent juga mengikutinya masuk, menjadi gugup. "Ka-kamu mau apa?"

__ADS_1


Masih dengan senyuman nakalnya, Vincent menggendong tubuh Amira. "Mau memakanmu," jawabnya santai, tetapi berhasil membuat gadis itu menjerit kaget.


"Vincent! Turunkan aku!" perintah Amira menggeliat dalam pelukannya.


Vincent menuruti perintah gadis itu menurunkannya di atas tempat tidur. Ia mengusap wajah gadisnya dengan lembut. Matanya terpaku melihat bibir mungil berwarna merah muda di depannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Amira membuat jantung gadis itu berdebar cepat.


Amira memejamkan matanya erat membuat Vincent tersenyum geli melihat tingkahnya. Vincent mendaratkan kecupan di puncak kepala Amira dan berbisik, "Selamat tidur, Sayang."


Amir membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Ia menatap pria di sampingnya yang sudah berbaring dan memejamkan matanya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sedikit kecewa, tetapi ia tidak ingin menjadi seperti yang diucapkan oleh Nyonya Thalia.


'Maafkan aku, Sayang. Bersabarlah … aku akan menjadi milikmu seutuhnya, ketika semua sudah merestui hubungan kita,' batin Amira memandangi wajah kekasihnya yang mulai terlelap.


°


°


°


°


°


Berbagai kendaraan lalu lalang di depan bandara. Suasana bandara begitu ramai dengan orang-orang dari berbagai macam ras, dengan berbagai tujuan mereka datang dan pergi dari kota itu.


Amira baru saja tiba di kota asalnya bersama kekasihnya, Vincent. Mereka tidak hanya berdua saja, tetapi Lucas sebagai asisten Vincent pun mengikuti mereka dari belakang. Tiffany pun tidak ketinggalan, gadis itu tentu saja mengikuti kekasih barunya itu walaupun sebenarnya Lucas tidak mengajaknya. Ia mendapat informasi itu dari Amira semalam dan ia pun segera memesan tiket untuk penerbangan yang sama. Tanpa malu, Tiffany menggandeng lengan Lucas yang berada di sampingnya.


Perlahan Lucas melepaskan genggaman gadis itu di lengannya dan menghentikan langkahnya, "Nona Kim, maaf sekarang saya sedang bekerja. Bisakah Anda melepaskan diriku sebentar?" tolaknya dengan sopan.


Tiffany mendengus sebal dan melipat tangannya di dada, "Panggil aku 'Sayang' baru aku akan melepaskanmu, kalau tidak aku akan mengikutimu ke mana saja! Toh aku punya banyak waktu luang," ancam Tiffany.


Lucas menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tahu bahwa gadis itu serius dengan ucapannya dan hanya bisa pasrah. "Baiklah … Sa … Sayang!" ucap Lucas pelan dan cepat, hampir tak terdengar apa yang ia sebutkan barusan. Ia berlalu dari Tiffany dan menyusul atasannya yang sudah berjalan jauh di depan. Gadis itu tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya yang begitu malu-malu dan gugup.


Mobil Limousine berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka berempat. Mereka dijemput oleh Pak David, supir pribadi Nyonya Celine. Pak David segera turun dan membantu membawa barang-barang mereka ke bagasi mobil, sedangkan Lucas membukakan pintu untuk Vincent, Amira dan juga kekasihnya. Mereka bertiga duduk di kursi belakang.


"Kamu duduk di sini aja, Honey," ucap Tiffany menepuk kursi di sampingnya ketika melihat Lucas tidak ikut masuk bersamanya.

__ADS_1


Lucas hanya tersenyum dan menjawab, "Saya di depan saja bersama Pak David, Nona Kim." Lucas menutup pintu mobil dan bergegas duduk di kursi depan bersama Pak David.


Mobil Limousine itu memiliki empat kursi penumpang di belakang yang saling berhadapan satu sama lain. Amira duduk di sebelah Vincent dan Tiffany di depan mereka dengan kursi kosong di sampingnya. Amira tertawa kecil melihat wajah sahabatnya yang sedang kesal saat ini.


"Sudah Tif. Kak Lucas mungkin gak enak kali kalau mesra-mesraan di depan kita," hibur Amira kepada sahabatnya itu.


Vincent hanya diam dan tersenyum sambil memainkan rambut panjang Amira di sampingnya, kemudian menciumnya dengan dalam.


"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Amira heran melihat tingkah Vincent.


"Mungkin hari ini aku gak bisa temani kamu, jadi aku pasti bakal kangen sama kamu, Sayang," ujar Vincent santai.


Amira mengusap lembut wajah Vincent. "Aku juga pasti akan kangen sama kamu. Selesaikanlah urusanmu dulu, tetapi jangan lupa untuk istirahat dan makan," pesan Amira. Vincent menarik telapak tangan Amira yang memegang wajahnya dan mengecupnya dengan lembut.


Tiffany melihat kemesraan mereka berdua di depannya dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya dengan sebal. "Kalian berdua dilarang bermesraan di depanku!" teriaknya kesal.


Lucas yang berada di kursi depan menoleh. "Ada apa?" tanyanya ketika mendengarkan teriakan Tiffany, tetapi gadis itu malah mendengus kasar ke arahnya dan menutup pembatas di antara kursi depan dengan kursi belakang, sehingga Lucas tidak bisa melihat mereka.


Lucas hanya bisa diam dan menghela nafas pelan. Pak David yang berada di sampingnya hanya tersenyum tipis. "Gadis itu pacar barumu?" tanya Pak David yang kepo. Lucas hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


°


°


°


°


°


To be continue ....


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komenmu. Berikan dukungan untuk Author ya.


Thank you... 🙏

__ADS_1


__ADS_2