
"Ternyata kamu tidak sabaran ya," ucap Vincent menyeringai kepadaku.
Aku terdiam sesaat melihat posisi kami saat ini.
'Astaga, Ami! Kamu memberikan ikan asin kepada kucing ini namanya.'
Vincent memegang ujung rambutku yang sekarang sudah terurai panjang karena terlepas dari ikatan hair bun-ku. Dia mencium ujung rambutku dalam sambil memejamkan matanya.
"Aromamu sungguh menggoda, aku suka," ucapnya dengan suaranya yang terdengar seksi di telingaku.
Entah kenapa jantungku berdebar kencang saat Vincent mengatakan itu. Aku tidak tau apakah dia dapat mendengarkan detak jantungku yang berpacu cepat saat ini, tetapi aku dapat merasakan itu.
Dengan cepat aku berdiri dari posisi yang canggung ini dan duduk di atas tempat tidur. Vincent mengikuti gerakanku dan duduk di sampingku.
"Kertas itu sudah aku berikan kepada Dosen Huang," ucap Vincent yang membuatku menatapnya kaget.
"Apa?"
"Besok kamu datang saja menemuinya dan meminta tanda tangan persetujuan tugas akhir darinya."
"Kamu ... Kamu sudah tau dari awal kalau tugas akhirku tidak akan ditolak dan kertas itu juga sudah kamu kumpulkan, tetapi kamu sengaja tidak memberitahuku?"
Aku mendengus kesal. Aku menarik nafasku dalam dan menghembuskannya dengan cepat.
Vincent hanya menggedikkan bahunya, "Aku sudah membantumu, bukan? Jadi wajar saja kalau aku meminta imbalanku," ucapnya santai.
Dia benar-benar mempermainkanku!!
Aku benar-benar sudah muak!
Aku berdiri dan melangkahkan kakiku berjalan keluar.
"Mau ke mana?" tanya Vincent.
"Mau pulang!!" jawabku kesal.
"Baiklah! Jangan lupa untuk datang memasak makan malamku dan ingat membawa perlengkapanmu untuk tinggal di sini."
Aku menatapnya kesal dan berjalan keluar sambil menghentak-hentakkan kakiku.
Aku mengambil tas ranselku dan jaketku yang aku letakkan di sofa ruang tamu ketika datang tadi, kemudian berjalan ke unitku sendiri.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam dan membuka sepatuku, dan menggantinya dengan sandal rumah. Ketika masuk, aku tidak melihat ada orang lain yang sedang duduk di ruang tamu saat ini. Aku berjalan menuju kamar tidurku.
"Kamu baru pulang, Ami?" tanya seseorang padaku yang menghentikan langkah kakiku.
Aku kaget mendengar suara itu dan berbalik menghadapnya, "Kak Leon?"
"Kenapa Kak Leon datang kemari? Ah maksudku, kapan Kak Leon datang?" tanyaku yang masih kaget.
"Aku baru saja sampai. Tadi Tiffany memintaku untuk membawa beberapa pakaiannya yang tertinggal di rumah," ucap Kak Leon menjelaskan kedatangannya.
"Ooh." Hanya itu yang diucapkan olehku. Entah kenapa aku merasa sangat tidak bersemangat, rasanya tenagaku terkuras menghadapi Vincent tadi.
"Kamu tidak enak badan?" tanya Kak Leon mendekatiku dan meletakkan tangannya di keningku. Refleks aku memundurkan tubuhku darinya. Aku merasa heran sendiri dengan sikapku.
'Kenapa aku malah menghindar?'
Aku jadi merasa tidak enak hati dengan Kak Leon, "Ah Maaf, Kak Leon. A ... aku sedikit kaget tadi. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kecapean saja," ucapku.
"Baguslah kalau tidak apa-apa," ucap Kak Leon lega. Aku mengangguk.
"Tiffany mana kak? Kok Kak Leon sendirian di sini?" tanyaku karena tidak melihat batang hidung gadis itu. Biasanya dia sudah berisik sekali.
"Tadi waktu aku sampai, dia masih ada, tetapi dia tiba-tiba bilang ada acara. Barusan saja dia keluar, katanya pergi dengan temannya," jelas Kak Leon.
Aku memikirkan alasan Tiffany yang tidak masuk di akal itu.
"Oh iya, Sabtu ini apa kamu ada acara?" tanya Kak Leon padaku.
"Hmmm ... sepertinya gak ada, kenapa Kak?"
"Sabtu ini kan ulang tahun Tiffany. Mamaku ingin membuat acara ulang tahun untuknya. Hanya acara kecil-kecilan saja, yang datang juga teman-teman dekat saja," terang Kak Leon.
"Oh iya, hampir saja aku lupa."
Aku menepuk keningku, bisa-bisanya aku melupakan hal yang penting.
"Thank you Kak sudah dingatkan, aku pasti datang kok."
Kak Leon mengangguk pelan dan berdeham, "Kamu hari ini ada waktu?" tanyanya sedikit ragu.
"Temani aku beli kado Tiffany, yuk," ajaknya padaku.
__ADS_1
"Ah baik kak, aku ...."
Ketika aku ingin menyanggupi ajakan Kak Leon, aku teringat kalau harus membuat makan malam untuk Vincent.
'Aduh, gimana ya? Ah biarin aja deh si mesum itu, siapa suruh dia mengerjaiku tadi, biar dia rasain gimana rasanya dikerjain juga!'
"Kenapa Ami?" tanya kak Leon menyadarkan lamunanku.
"Ah tidak, baiklah. Aku juga ingin mencari kado untuk Tiffany. Tunggu sebentar ya Kak, aku mandi dulu."
Ketika aku akan berbalik, Kak Leon menarik tanganku dan menyentuh leherku. Aku terkejut dengan tindakannya.
"Kenapa, Kak?" tanyaku sambil memegang leherku.
"Ah, tidak ... tidak apa-apa," ucapnya sedikit gugup dan melepaskan tangannya, tetapi masih menatap ke arah leherku yang disentuhnya tadi.
Aku mengerutkan keningku, kemudian masuk ke kamarku dan segera mandi serta berganti pakaian.
Aku memilih dress tanpa lengan berwarna biru. Ketika akan berpakaian, aku melihat diriku sendiri di cermin.
"Astaga! Kenapa ada bekas merah di leherku?" ucapku kaget.
Aku teringat akan kejadian beberapa saat lalu di tempat tinggal Vincent.
"Aish, si mesum itu pasti sengaja melakukannya."
"Pasti Kak Leon sudah tau, bagaimana ini?"
Aku sedikit panik karena tadi Kak Leon menyentuh leherku tadi, berarti dia sudah melihatnya.
"Ah sudahlah, Kak Leon juga tidak bertanya Lebih baik aku juga pura-pura tidak tau saja," gumamku dan mengigit bibirku.
Aku tidak jadi memakai dress itu dan mencari pakaian yang dapat menutup bekas kiss mark di leherku itu. Akhirnya aku memutuskan memakai kaos putih dan jaket maroon yang berkerah tinggi serta dipadukan dengan hot pant hitam. Tidak lupa aku memakai foundation dan concealer untuk menutupi bekas kiss mark itu.
Aku berdiri di cermin melihat penampilanku dan tersenyum, sebenarnya aku sedikit kecewa, tidak dapat memakai dress itu. Padahal Kak Leon jarang mengajakku pergi berduaan, ini seperti ajakan kencan, seharusnya aku bisa berdandan lebih maksimal. Tetapi gara-gara kiss mark sialan ini, aku terpaksa deh berpenampilan begini, aku menghela nafasku panjang.
Aku bergegas keluar kamar dan mengajak Kak Leon segera pergi. Aku tidak ingin nanti Vincent tiba-tiba keluar dan memergokiku. Ponselku sengaja aku tinggalkan di kamar. Aku ingin memberinya pelajaran untuknya, siapa suruh dia mengganggu seorang Amira Lin!
End of Amira POV.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....