
Vincent tertegun sejenak setelah mendengarkan hasil rekaman yang diberikan Lucas di email-nya.
"Apa sudah diselidiki siapa pria itu?" tanya Vincent kepada Lucas yang masih menunggu di seberang telepon.
"Belum, Bos. Pria itu menggunakan nomor yang tidak bisa dilacak dan suaranya juga disamarkan," jelas Lucas lagi.
"Terus ikuti Steve! Aku rasa yang diinginkan pria itu sekarang adalah hasil rancangan Green Resort dan kalau tebakanku benar, berarti pria itu adalah Adrian Song," tukas Vincent dingin.
"Minta orang-orang kita untuk mengikuti Adrian juga dan segera lapor apabila ada sesuatu yang mencurigakan!" perintah Vincent tajam dan menutup teleponnya.
Vincent menggenggam ponselnya erat, "Adrian Song!" gumamnya tajam dan memejamkan matanya erat.
Vincent membuka matanya dan mengangkat telepon di ruangannya dan menghubungi sekretarisnya di luar, "Olivia, hubungi Steve sekarang! Katakan padanya kalau saya sudah berada di ruangan. Minta dia ke ruanganku!" perintahnya tanpa menunggu jawaban dari sekretarisnya itu.
Tidak berapa lama ada pesan masuk di ponsel Vincent. Ia membukanya dan menyunggingkan senyumannya membaca pesan itu.
My Chubby ❤
Sayang, nanti aku pulang bareng Tiffany ya. Mungkin agak malaman, soalnya ada acara ultah teman kampus.
Vincent segera membalas pesan dari kekasihnya itu.
My Bear ❤
Ya udah, jangan pulang terlalu malam. Nanti aku jemput kamu aja. Share loc ke aku tempat acaranya nanti.
Tanpa menunggu lama, Amira membalas pesannya itu disertai emoji kiss.
My Chubby ❤
Siap, Bos! Muaaccchhh 😘😘
__ADS_1
Terukir senyuman di bibir Vincent ketika membaca pesan itu, ia memegang bibirnya dengan ibu jarinya. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, memecahkan lamunannya. Ia segera meletakkan ponselnya dan memperbaiki raut wajahnya menjadi datar.
"Masuk!" perintahnya kepada seseorang yang tidak lain adalah Steve.
Steve melangkah masuk ke dalam ruangan dengan gugup. Ia berjalan perlahan mendekati meja tempat Vincent sekarang duduk.
"Pak," sapa Steve berusaha mengatur nafasnya perlahan, karena ia cukup tergesa-gesa tadi setelah menerima telepon dari Olivia.
Vincent tersenyum menyeringai melihat Steve saat ini di depannya yang terlihat gugup, "Ada apa tadi mencari saya?" tanya Vincent datar.
"Ah, ini Pak Vincent. Saya mau menyerahkan hasil rancangan proyek Green Resort dan meminta persetujuan dari Anda," jelas Steve berusaha bersikap tenang dan meletakkan dokumen itu di atas meja Vincent.
Vincent melirik dokumen itu sekilas dan berbalik menatap Steve, "Cepat sekali hasil kerjamu. Penghargaan apa yang ingin kamu dapatkan?" tanya Vincent yang bermaksud ingin menyindir Steve, tetapi Steve tidak mengetahuinya.
"Ah, tidak perlu Pak. Ini sudah pekerjaan saya," jawab Steve sambil memegang tengkuk lehernya.
"Baiklah, akan aku pikirkan setelah melihat hasil kerjamu ini," balas Vincent sambil membuka dokumen yang diberikan.
Sepuluh menit berlalu, tetapi tidak ada suara ataupun tanggapan dari Vincent yang masih membaca dokumen itu. Ruangan itu hening sekali bahkan seekor cicak pun tidak berani mengeluarkan suaranya. Hanya terdengar suara hembusan air conditioner yang mengeluarkan hawa dinginnya menusuk ke dalam kulit Steve yang sudah membeku karena gugup dan tegang menunggu jawaban Vincent.
"Hmm ...." Hanya itu yang terdengar dari bibir Vincent.
Vincent menatap Steve tajam. Ia akui kalau kerja keras Steve membuat rancangan itu sungguh bagus dan hampir sempurna menurutnya. Sungguh disayangkan apabila ia kehilangan seseorang yang berbakat seperti Steve. Ia tau Steve sebenarnya sedang dalam tekanan seseorang, tetapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Steve, aku sudah membacanya semua ...," tukas Vincent sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat ekspresi Steve yang saat ini sangat berharap rancangannya diterima.
"... tetapi ada sedikit kekurangan ..." lanjut Vincent terputus karena Steve memotong ucapannya.
"Kekurangan di mana, Pak? Akan saya ubah juga sekarang!" jawab Steve cepat membuat Vincent semakin yakin bahwa kecurigaannya benar bahwa pria misterius itu menginginkan rancangan yang ia pegang saat ini.
"Steve," sahut Vincent sambil menutup dokumen di tangannya dan menatap Steve tajam. Steve membalas tatapan Vincent dengan gugup dan bersusah payah menelan salivanya.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Vincent dingin menusuk hingga ke jantung Steve yang sedang berpacu dengan cepat.
'Apa Pak Vincent sudah mencurigaiku?'
Steve mengusap peluhnya di dahi. Suaranya tercekat mendengar pertanyaan yang diajukan kepadanya. Beribu pisau seolah sedang mengarah di hadapannya menunggu jawaban kebenaran dari bibirnya yang sedang bergetar.
Vincent tetap sabar dan diam menunggu jawaban yang akan diucapkan oleh pria di depannya yang sedang bertarung dengan pikirannya saat ini.
'Apa sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya?' batin Steve.
'Tapi kalau Pak Vincent tidak mempercayaiku dan malah memecatku, Helen bagaimana?'
Berbagai keraguan dan pertanyaan muncul di dalam pikiran Steve saat ini. Vincent menyadari bahwa Steve masih terlihat ragu untuk berkata jujur padanya.
"Kamu adalah orang yang berbakat, Steve. Aku tidak akan mengabaikan karyawan sepertimu. Kalau kamu mau menceritakan masalahmu, mungkin aku bisa membantumu menyelesaikannya," tutur Vincent mencoba menyakinkan Steve.
Setelah mendengar ucapan Vincent, tatapan Steve yang awalnya terlihat ragu terhadap Vincent berubah menjadi tajam. Terbersit setitik kepercayaan di manik mata Steve saat ini.
"Pak Vincent ... sebenarnya ..." Steve menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya dan menatap Vincent penuh keyakinan.
"Sebenarnya ada seseorang yang mengancam saya. Ia menculik adik saya dan meminta saya untuk mengambil hasil rancangan proyek Green Resort yang sudah disetujui oleh Anda," ucap Steve mencoba menjelaskan situasinya yang sedang terjepit saat ini.
Vincent menautkan jari-jarinya dengan kedua siku tangan di atas meja. Mendengarkan Steve dengan seksama. Tatapan penuh kecurigaannya berubah menjadi tatapan kagum. Ia dapat merasakan bahwa ia tidak salah menilai seseorang seperti Steve.
"Terima kasih karena kamu mau bersikap jujur dan tetap loyal kepada Royal Group. Baiklah, sesuai janjiku, aku akan membantumu menyelamatkan adikmu, tetapi aku memerlukan kerja samamu," tutur Vincent.
"Aku akan melakukannya demi Anda dan adikku!" balas Steve dengan tegas.
Akhirnya mereka berdua berdiskusi cukup lama di dalam ruangan dan mengatur strategi melawan Adrian Song dan menyelamatkan Helen.
To be continue ....
__ADS_1