Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 76


__ADS_3

Malam ini bulan bersembunyi di balik awan menambah suasana yang hening menjadi semakin mencekam. Ranting-ranting pepohonan yang bergemerisik ditiup angin memberikan alunan musik di malam itu.


Dalam suatu ruangan dengan cahaya yang minim, meringkuk seorang gadis bertubuh mungil di sudut ruangan itu. Gadis itu adalah Helen Liu. Ia menundukkan wajahnya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Terdengar suara derap langkah di luar yang semakin mendekati ruangan itu.


Bunyi suara anak kunci yang berputar dan pintu yang berderit menandakan orang tersebut memasuki ruangan tempat Helen berada. Helen semakin memeluk tubuhnya erat mendengar derap langkah kaki yang mendekatinya. Ia semakin ketakutan, ingin rasanya ia berteriak tetapi tenggorokannya kering karena keseringan menangis. Sejak ia diculik beberapa minggu yang lalu, hampir setiap hari ia menangis. Walau ia tidak diperlakukan buruk, tetapi rasa takut dan tidak nyaman selalu menghantui pikirannya.


"Kenapa? Apa kamu masih tidak mau makan?" tanya seseorang pria yang masuk ke ruangan itu. Ia melihat piring yang berisi makanan yang masih utuh tak tersentuh.


Helen memberanikan diri melihat wajah pria itu. Sama seperti biasa, pria itu selalu memakai topeng wajah yang menyeramkan untuk menutupi wajah aslinya. Awalnya Helen takut untuk menatap pria bertopeng itu, tetapi setelah beberapa hari ia diculik ia sudah terbiasa melihat wajah bertopeng itu.


"Le-lepaskan ... aku, Tuan," ucap Helen lirih memohon kepada pria itu.


Pria bertopeng itu tersenyum menyeringai dan mendekati Helen sambil berjongkok di depannya. Ia menarik wajah Helen dengan salah satu tangannya, "Apa kamu kira dengan mogok makan bisa membujukku untuk melepaskanmu, gadis kecil?"


Suara pria itu terdengar sinis saat mengucapkannya. Tubuh Helen bergetar menahan tangis. Pria itu mendengus dan melepaskan wajah Helen dari tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Aku peringatkan kepadamu. Kalau kamu mau mogok makan, silahkan! Aku tidak keberatan untuk membuang mayatmu di tengah hutan agar tidak dapat bertemu dengan kakakmu yang baik itu," ancam pria bertopeng itu.


Helen membulatkan matanya mendengarkan ancaman pria itu. Air matanya tumpah, suaranya tercekat. Pria itu berdecih dan berdiri sambil berkacak pinggang.


"Aku akan melepaskanmu setelah kakakmu memberikan apa yang aku inginkan. Tetapi kalau kamu masih bersikeras untuk mogok makan. Itu bukan urusanku!"


Helen menghapus air matanya dan mencoba mengeluarkan suaranya dengan bersusah payah, "A-aku ... aku akan ... ma-makan ...."


Pria itu menyeringai mendengar ucapan Helen, kemudian meninggalkan ruangan itu. Tidak lupa ia mengunci pintu tersebut sebelum beranjak pergi. Setelah mengunci pintu, pria itu masih berdiri di depan pintu dan melepaskan topeng yang menutupi wajahnya.


Kulit yang putih tanpa cacat mengukir wajah pria itu. Dengan alis mata yang tebal dan rahang yang tegas menambah ketampanan wajahnya. Pria itu adalah Adrian Song, 26 tahun, pemilik Majesty Group.


"Kamu minta bagian dapur untuk membuatkan makanan yang baru lagi dan antarkan ke ruangan gadis itu!" perintah Adrian sebelum berlalu meninggalkan Albert.


Adrian masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi putarnya yang besar. Menengadahkan wajahnya dan menyenderkan kepalanya di kursi itu. Ia memejamkan matanya erat.

__ADS_1


Adrian tidak ingin menyakiti Helen. Ia hanya memanfaatkan gadis kecil itu untuk mengancam Steve agar dapat mengambil rancangan proyek Green Resort milik Royal Group. Adrian ingin menjatuhkan Royal Group karena CEO Royal Group, Vincent Zhang, telah menghancurkan kehidupan kakeknya dan keluarganya.


Lima tahun yang lalu, kakeknya dijebloskan ke dalam penjara dengan masa tahanan seumur hidup atas tekanan dan dukungan yang diberikan oleh Royal Group. Tanpa ampun, Royal Group juga meminta pengadilan untuk menyita aset keluarganya. Kala itu Adrian masih berumur 21 tahun dan sedang menjalani pendidikan di luar negeri.


Setelah seluruh kekayaan keluarganya disita, Adrian tidak mempunyai apapun dan siapapun yang bisa mendukung finansialnya, karena kakeknya adalah keluarga ia satu-satunya yang ia miliki. Ia terpaksa harus menjalani hidup dalam kekurangan dan kelaparan. Pernah ia tinggal dan tidur selama satu minggu di stasiun kereta api bawah tanah dan tidur beralaskan koran. Tetapi untungnya ia memiliki otak yang jenius, ia masih bisa melanjutkan pendidikannya dengan mengandalkan beasiswa yang ia dapatkan dan lulus dengan peringkat terbaik.


Adrian memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja paruh waktu di berbagai tempat hingga ia menyelesaikan pendidikannya. Setelah lulus, Adrian melamar ke salah satu perusahaan besar, Tang Corp dan diterima. Dalam waktu singkat Adrian mencapai puncak karirnya dan putri pengusaha tempat ia bekerja, Emmy Tang, menyukai Adrian karena memiliki wajah yang tampan dan kecerdasan yang dimiliki Adrian.


Adrian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memanfaatkan Emmy dan keluarganya untuk membuat perusahaannya sendiri. Emmy dan Tang Corp mempercayakan Adrian menjalani perusahaan baru itu. Perusahaan itu adalah Majesty Group yang sekarang ia jalani. Tidak butuh waktu lama, Adrian memakai berbagai cara untuk membesarkan nama Majesty Group bahkan cara licik pun ia gunakan agar Majesty Group dapat segera menyamai Royal Group dan ia berhasil. Targetnya kali ini adalah kehancuran Royal Group dan Vincent Zhang.


Adrian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah papan dart yang tertempel di dinding ruangan itu. Di tengah papan dart itu terpampang foto Vincent yang sudah banyak lubang terkena lemparan anak panah. Adrian mengambil salah satu anak panah dan melemparnya hingga tepat di tengah foto wajah Vincent. Matanya memincing dan penuh dengan kebencian menatap foto di tengah papan dart itu.


'Vincent Zhang, sebentar lagi kamu akan berakhir!'


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komentarmu ya. Thank you 🙏🙏🙏


__ADS_2