Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 33


__ADS_3

"DASAR BRENGSEK!!" umpatku kesal dan menyilangkan kedua tanganku di dada.


"Huh! Apa yang kamu pikirkan?" sindir Vincent.


"Apa maksudmu dengan membayar dengan tubuhku? Kamu jangan macam-macam, Vincent!" ancamku padanya.


Vincent menyeringai, "Maksudku bukan yang kamu pikirkan. Tapi ... kalau kamu berpikiran seperti itu, aku tidak keberatan."


"Kau!!"


Vincent tertawa keras melihat tingkahku, sungguh menyebalkan!


"Aku ingin kamu menggunakan tubuhmu untuk bekerja di tempat tinggalku," ucap Vincent meluruskan jawabannya.


"Tempat tinggalmu? Bukankah itu di Serenity?" tanyaku tidak paham.


"Nanti juga kamu akan tau," ucap Vincent seraya berdiri dari tempat duduknya.


Aku mengikutinya dari belakang dan keluar dari restoran setelah Vincent melakukan pembayaran.


Vincent melajukan mobilnya, menuju tempat tinggalku. Aku heran kenapa dia bisa tau tempat tinggalku padahal aku belum menyebutkan namanya.


Aku curiga jangan-jangan dia menyuruh orang mengikutiku.


"Baiklah, terima kasih telah mengantarku," ucapku sambil membuka pintu mobil.


Aku berjalan keluar menuju lift apartemen, kulihat Vincent mengikutiku dari belakang.


"Ada apa? Aku tidak mengizinkanmu untuk masuk. Aku tidak menerima tamu mesum," ucapku sinis.


Vincent hanya tersenyum dan ikut masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift. Aku cukup terkejut dia mengetahui lantai tempat tinggalku. Kecurigaanku sepertinya benar kalau dia memang menyuruh orang untuk menyelidikiku.


Aku mendelik kepadanya kesal. Dia hanya tenang seolah tidak bersalah.


Pintu lift terbuka. Aku dengan cepat melangkahkan kakiku untuk segera menuju unitku. Ketika akan membuka pintu, aku melihat Vincent berjalan menuju unit di sebelahku dan membuka pintu itu. Aku membelalakan mataku.


"Astaga! Ternyata orang yang pindah ke sebelah itu kamu?!" ucapku kaget.


"Apa kamu belum puas menggangguku sehingga sengaja pindah ke sini?" tanyaku sedikit kesal mengingat dia yang sering menggangguku. Hidupku terasa berputar di genggaman tangannya.


"Kan aku sudah bilang kamu harus membayar hutangmu dengan tubuhmu. Sekarang aku memberimu kesempatan itu, seharusnya kamu berterima kasih padaku," balasnya.


"Apa?"


"Mulai bekerjalah hari ini, sehingga kamu bisa cepat melunasi hutangmu itu," ucap Vincent sambil melangkah masuk. Aku mendengus kasar dan tidak jadi masuk ke unitku tetapi mengikuti Vincent masuk ke unitnya.


'Baiklah, aku memang lebih baik melunasi semuanya agar bisa segera terbebas darinya.'


Aku kaget setelah memasuki unitnya, "Apa aku berada di dunia lain? Kenapa berbeda sekali dengan tempatku?" gumamku melihat arsitektur ruangannya yang cukup menakjubkan.


Ukuran apartemennya sedikit lebih besar dariku. Yang membuatku takjub dan kagum adalah desain interiornya. Semuanya bergaya oriental, beda sekali dengan unitku. Ternyata ini yang dibuat oleh para pekerja itu siang dan malam tanpa henti.



__ADS_1


"Apa kamu menyukainya?" tanya Vincent padaku. Tanpa sadar aku mengangguk.


"Kalau begitu tinggallah di sini."


Vincent memberi saran padaku. Aku hanya mengangguk tanpa sadar, karena masih sibuk melihat berbagai interiornya.


"Benarkah?" tanya Vincent yang menyadarkan apa yang aku anggukan tadi.


"Ah, aku tidak mau," tukasku setelah menyadari apa yang ditanyakannya. Vincent tersenyum kecil mendengarnya.


"Tetapi kamu tidak bisa menolaknya, karena kamu harus tinggal di sini untuk melunasi hutangmu," ucapnya santai sambil berjalan masuk ke sebuah ruangan.


"Apa? Aku bisa datang ke sini setiap hari, tidak perlu tinggal di sini," ucapku menolak permintaannya yang tidak masuk akal itu sambil mengikutinya dari belakang.


"Terserah. Kamu bisa memilih tinggal di sini untuk bekerja atau tidak sama sekali. Itu berarti hutangmu masih ada," ancamnya padaku.


"Aku harus bekerja berapa lama di sini agar hutangku lunas?", tanyaku padanya.


"Hmm ... Satu tahun," ucapnya santai.


"Apa? Gila! Aku tidak mau selama itu!" bantahku.


"Sembilan bulan?" ucapnya lagi.


"Tidak, tiga bulan kalau kamu mau," ucapku menawarkan kepadanya.


"Enam bulan! Tidak ada tawar-menawar lagi!" perintahnya memutuskannya sendiri.


Setelah dipikir-pikir, akhirnya aku menyanggupinya.


Aku melihat desain kamar tidur Vincent, tetapi sedikit heran kenapa berbeda sekali dengan interior di luar. Kamar tidur Vincent memiliki desain yang minimalis tetapi terkesan mewah, dengan didominasi warna hitam dan abu-abu.



"Kenapa kamu tidak memilih gaya interior yang sama?" tanyaku padanya.


"Aku lebih suka ruangan tidurku berwarna hitam atau abu-abu, lebih terasa nyaman saat tidur," jawabnya.


Aku hanya mengangguk sambil menyusuri ruangan itu.


"Ngomong-ngomong apa kamu akan terus di sini untuk melihat tubuhku," ucap Vincent yang membuatku tanpa sadar berbalik padanya.


"AAAAAAAAAA ... Kenapa ... kenapa kaMu telanjang?"


Aku terkejut melihat Vincent yang sudah bertelanjang dada, dan menutup mataku dengan telapak tanganku.


"Aku ... aku keluar dulu," ucapku berjalan masih sambil menutup mataku. Belum sampai ke pintu keluar, kakiku tersandung dan Vincent dengan cepat menarik tubuhku, sehingga otomatis sekarang aku berada di pelukannya. Aku juga membuka mataku kaget.


Wajahku memerah, melihat tubuh Vincent yang terbilang sangat sempurna itu. Tubuh yang sangat atletis dengan kotak-kotak di dada dan perutnya menjadi idaman para wanita ataupun pria yang melihatnya. Belum lagi tubuh kami yang sangat terlihat intim membuatku malu.


"Bukankah kamu sudah melihatnya sebelumnya? Masih belum puas? Aku bisa membuatmu menikmatinya," bisik Vincent menggoda di telingaku. Aku menelan ludahku perlahan.


'Astaga! ini benar-benar suatu cobaan!'


Vincent tersenyum mesum dan menelusuri leherku serta menciumnya dengan lembut. Aku merasa tubuhku tak berdaya. Ia memberikan gigitan kecil di leherku dan tanpa kusadari terbentuk kiss mark di situ. Aku meringis dan mencoba menyadarkan diriku untuk segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"A ... aku masih ada urusan. Aku mau pulang dulu," ucapku mendorongnya dengan kuat.


"Oh ya? Baiklah, pulanglah," jawabnya yang membuatku sedikit kaget. Tidak seperti Vincent biasanya yang selalu menahanku. Aku tidak menghiraukannya dan berjalan hingga di depan pintu.


"Ah, aku teringat. Tadi pagi ada selembar kertas gambar desain yang cukup menarik di mobilku," ucapnya yang membuat langkahku terhenti.


"Tugasku?" gumamku teringat akan lembaran tugasku yang hilang.


Aku segera berbalik dan mendekatinya, "Apa kertas tugasku ada padamu? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi?" tanyaku yang mulai kesal.


"Mana kertas itu?"


"Aku akan memberikannya padamu, kalau kamu menciumku di sini," ucapnya sambil menunjuk bibirnya.


"Apa?"


"Dasar mesum! Kalau kamu tidak mau mengembalikannya, tidak apa-apa, lagipula percuma aku juga sudah tidak bisa mengumpulkannya, ini semua gara-gara kamu!"


Aku merasa ingin menangis karena kesal dengan tindakan Vincent yang seenaknya, seharusnya dia mengembalikannya padaku sejak awal bertemu di kampus, mungkin aku masih memiliki kesempatan.


Air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku. "Aku harus mengulangnya lagi, tugas yang susah payah kukerjakan."


Vincent mendekatiku dan mengusap air mataku, "Maaf," ucapnya pelan dan lembut.


"Aku akan membantumu untuk membujuk dosen pembimbingmu untuk memberikanmu kesempatan, kalau kamu mau," ujar Vincent yang membuatku menghentikan tangisku.


"Benarkah?"


Vincent mengangguk, "Tapi aku butuh imbalan," ucapnya sambil menunjuk ke pipinya.


Aku mendelik tajam padanya.


"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa," jawabnya atas tatapanku.


'Baiklah, Ami. Hanya sekedar cium di pipi. Tidak masalah.'


Aku mendekatkan wajahku kepada pipi Vincent, tetapi ketika bibirku akan menyentuh pipinya, Vincent dengan cepat memalingkan wajahnya ke arahku, sehingga bibirku mendarat di bibir Vincent, bukan di pipinya. Dengan cepat aku menarik wajahku dan menutup bibirku dengan tangan.


"KAMU ...!"


Aku mendelik marah padanya, tetapi dia hanya tertawa penuh kemenangan.


"DASAR PENIPU MESUM!!!"


Aku mengejar Vincent dan memukulnya, tetapi dia menghindar dengan cepat. Aku tidak puas kalau tidak dapat memukulnya dan ingin melampiaskan kekesalanku yang sudah dibohongi. Aku mengejarnya dan mengambil bantal yang ada di kamarnya dan memukulnya.


"HAHAHAHAHAHAHAHA."


Vincent tertawa senang melihatku tidak dapat memukulnya. Aku kesal melihat dia yang penuh kemenangan. Setelah dia terpojok di sudut tempat tidur, aku dengan cepat berlari dan memukulnya. Tetapi sialnya, kakiku tersandung dan mendorong Vincent jatuh ke atas tempat tidur dengan posisiku berada di atasnya.


"Ternyata kamu tidak sabaran ya," ucap Vincent menyeringai kepadaku.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2