
"Ini dia, Pak orangnya," ucap salah satu perawat yang mengelilinginya saat ini.
"Iya, Pak. Ini orang aneh itu," timpal perawat yang lain.
Amira kaget mendengarnya, "Apa?? Orang aneh?"
"Maaf, Nona. Bisa anda buka masker dan kacamatanya?" ucap petugas keamanan rumah sakit itu.
Amira mengerutkan keningnya berusaha memahami situasinya saat ini, dan berkata, "Maaf, Pak. Sepertinya kalian salah orang. Saya bukan orang aneh."
"Saya ke sini hanya ingin bertemu dengan Dokter Leon", ucap Amira menjelaskan. Dia tidak ingin membuka masker dan kacamatanya, karena takut terjadi hal yang seperti di Bandara Serenity.
"Kalau anda ingin bertemu dengan Dokter Leon, sebaiknya anda membuat janji dulu di bagian pendaftaran," ucap salah satu perawat.
"Tolong lepaskan masker dan kacamata anda, Nona," ucap petugas keamanan itu lagi.
Amira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "Jangan, Pak," ucap Amira menolak.
"Nona, karena anda tidak bisa diajak kerja sama, sebaiknya anda menjelaskannya di kantor polisi saja," ucap petugas keamanan itu merasa gerak-gerik Amira mencurigakan.
Petugas keamanan itu menarik pergelangan tangan Amira, tetapi Amira menyentakkan tangannya, "Lepaskan! Apa yang anda lakukan, ha? Kalau kalian seperti ini, aku akan berteriak," ancam Amira pada petugas itu.
Petugas keamanan itu mencoba memperingati Amira, "Nona, harap jaga sikap anda. Sebaiknya anda tidak melakukan hal yang merugikan anda sendiri."
"Lebih baik ikut saya ke kantor polisi dan anda bisa menjelaskannya di sana," ucap petugas itu lagi dan kali ini lebih kuat menarik tangan Amira.
"Tolong! Ada penganiayaan!" teriak Amira sambil berusaha melepaskan diri. "TOLOOOOONG!"
Petugas keamanan dan para perawat merasa tingkah laku Amira sudah keterlaluan.
CKLEK!
Tiba-tiba pintu ruangan Dokter Leon terbuka. Seorang dokter pria muda tampan berkulit putih keluar dari ruangan itu, dokter itu adalah Leon Kim.
Para perawat wanita yang berdiri di sana hanya terdiam kagum seperti terhipnotis dengan ketampanannya. Leon termasuk salah satu dokter muda yang paling tampan yang ada di rumah sakit mereka. Apalagi dalam balutan jas berwarna putih dan kacamata yang bertengger di hidungnya, menambahkan poin plus ketampanannya.
__ADS_1
Selain tampan, Leon juga baik dan jenius. Dalam usia tiga puluh tahun saja, ia sudah mendapat gelar profesor, tetapi ia tidak ingin dipanggil profesor, karena ia merasa masih perlu banyak belajar lagi. Karena kepintaran yang dimilikinya, maka banyak pasien yang ingin ditangani olehnya. Sehingga tidak heran, terkadang Leon terpaksa lembur untuk menjalankan beberapa operasi dan membimbing beberapa dokter muda di bawahnya.
Tetapi ketampanan yang dimilikinya bukanlah sepenuhnya hal yang baik, karena terkadang ada beberapa pasien wanita muda yang tidak mempunyai keluhan apapun datang berbondong-bondong mencarinya dengan berbagai jenis alasan yang tidak masuk di akal, sehingga menghambat pekerjaannya di rumah sakit. Hal itulah yang menjadi pemicu kenapa Amira dicurigai saat ini.
"Ada apa ini? tanya Leon melihat begitu banyak orang berdiri di depan ruangannya dan melakukan keributan.
"Maaf, Dok. Ini ada wanita aneh yang berkeliaran di depan ruangan anda," sahut petugas keamanan yang ingin menyeret Amira ke kantor polisi.
"Wanita aneh apanya? Lepaskan! Ini penganiayaan?!" teriak Amira menyentakkan tangannya yang dicengkram petugas itu.
Suara ini ...? batin Leon yang merasa mengenal suara wanita yang dibilang aneh itu.
Tangan petugas keamanan itu terlepas akibat sentakan Amira yang kuat, sehingga Amira yang kaget tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, kakinya sedikit goyah dan tubuhnya jatuh ke belakang.
"AAAAAAAA," teriak Amira sambil menutup matanya dan berpikir dirinya akan jatuh ke atas lantai dengan sangat memalukan. Tetapi sebuah tangan yang besar berhasil menangkap tubuhnya dan melingkar di pinggangnya, dan tubuh orang itu menopang tubuh Amira dari belakang.
Lho? Kok tidak sakit?!
Amira membuka matanya dan melihat tangan yang melingkar di pinggangnya dan menengadahkan wajahnya ke atas. Dia begitu terkejut melihatnya dan wajahnya merona antara malu dan senang.
"Kak Leon?" panggil Amira kepada orang yang menyelamatkannya.
Ingin rasanya bertukaran tempat saja!!!! Aaaaaa ... sebal !! begitu pemikiran mereka.
Leon mengernyitkan dahinya melihat wanita itu memanggilnya Kak Leon. Diperhatikannya penampilan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
"A ... Ami?" ucap Leon sedikit meragukan ucapannya sendiri.
Amira tersenyum dan membuka kacamata hitamnya, "Iya, Kak Leon. Ini aku, Amira!"
"Astaga! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?" tanya Leon yang kaget, tak percaya dengan penglihatannya.
Leon melepaskan pelukannya di pinggang Amira dan membantu Amira berdiri dengan benar.
Amira hanya menyunggingkan senyumannya di balik masker wajahnya dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Kemudian dia membuka masker di wajahnya.
__ADS_1
"Dokter, kenal dengan wanita ini?" tanya petugas keamanan yang sempat terdiam beberapa saat.
"Ah, iya, Pak. Ini adik saya," jawab Leon.
"Adik?" Amira menghela nafasnya pelan.
"Oh, baiklah kalau begitu. Maaf saya permisi dulu, Dok. Tolong diingatkan ke adiknya agar tidak berpenampilan aneh lagi lain kali. Jadi tidak terjadi kesalahpahaman, Dok," ucap petugas keamanan itu berlalu meninggalkan mereka dan membubarkan para perawat yang masih berdiri mematung di sana.
Amira memanyunkan bibirnya mendengarkan perkataan petugas keamanan itu, "Aneh apanya? Kalau gak terpaksa, aku juga gak bakal berpenampilan seperti ini," gumam Amira.
"Bisa kamu ceritakan apa yang membuatmu terpaksa seperti ini?" tanya Leon menyelidik dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hehehe." Amira mengembangkan senyumannya yang paling manis, "Aku sebenarnya hanya ingin membuat surprise, tapi jadinya malah begini," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Surpise kamu berhasil, Ami dan aku benar-benar terkejut tadi," sindir Leon tadi sambil menahan senyumnya.
Amira mendengus kesal. Leon tersenyum melihat tingkah Amira yang menurutnya sangat menggemaskan, kemudian dia melirik tentengan yang ada di tangan Amira, "Apa itu?" tanya Leon sambil melirik ke barang yang dibawa Amira.
"Ah, aku jadi lupa deh. Ini surprise yang aku bilang tadi. Taraaaaaa." Amira mengangkat tentengan itu di depan wajah Leon.
Tercium aroma makanan dari dalamnya, "Pizza?" tanya Leon.
"Tepat sekali!" Amira mengacungkan jempolnya.
"Aku rasa itu bukan surprise, aku lebih suprise yang tadi," sindir Leon lagi.
"Huh! Baiklah kalau begitu, aku pulang saja!" ucap Amira merajuk.
"Hahaha, jangan marah," ucap Leon yang masih tertawa, Amira menatapnya kesal, "Maaf, maaf ... Yuk masuk, aku jadi lapar cium aromanya," ucap Leon kemudian mengajak Amira masuk ke ruangannya.
"Ah!"
Ketika ingin melangkahkan kakinya, Amira merasakan sakit di pergelangan kakinya. Leon menyadari hal itu, kemudian tanpa diminta ia langsung menggendong Amira ke dalam ruangannya.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi mengikuti Amira dan mengambil adegan tersebut dengan kameranya.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....