Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 102


__ADS_3

Saat ini Amira, Elaine, Lucas dan Vincent sudah berada di atas kapal. Lucas sudah berganti pakaian dengan pakaian santai, ia juga telah meminta si penyedia jasa snorkeling untuk mengantar mereka nanti ke area snorkeling. Saat ini mereka sedang menunggu Tiffany dan Eva yang masih belum selesai berganti pakaian.


"Kamu gak ikutan renang, Sayang?" tanya Amira kepada Vincent yang berada di sampingnya.


"Ikut," jawab Vincent santai. Amira merengut mendengarkan jawaban kekasihnya itu.


Vincent tersenyum kecil melihat bibir manyun kekasihnya itu. Ia mengecup sekilas bibir gadis itu, membuat gadis itu membulatkan matanya.


"Malu, Vin. Ada El dan Kak Lucas," protes Amira dan memukul lengan pria itu kuat. Vincent berpura-pura menahan sakit dari pukulannya dan tertawa.


"Om Ganteng genit!" celetuk El membuat Vincent merangkul leher mungilnya dengan gemas.


"Kamu ini kecil-kecil tapi mulutnya pedas banget ya … panggil aku Kakak!" perintah Vincent kepada El yang tertawa cekikikan di dalam rangkulan Vincent.


"Gak mau! Om genit! Hahaha ...." ledek El lagi.


"Kalau kamu panggil aku Kakak Ganteng, nanti Kakak beliin es krim," bujuk Vincent kepada gadis kecil itu.


"Benarkah? Tapi aku gak bisa berbohong, kata Mama gak boleh bohong, Om. Kan Om mencium Kakak Cantik tanpa ijin. Itu namanya genit, Om," celoteh El lagi yang membuat Vincent memijat pelipisnya.


Vincent mencubit kedua pipi El dengan gemas, "Itu bukan genit, El, tapi tandanya sayang sama Kakak Cantik," ucap Vincent gemas.


"Nggak! Pokoknya Om genit!" ledek El ga mau mengalah.


Amira tertawa lepas mendengarkan Vincent dan El yang beradu mulut, sedangkan Lucas berusaha menahan tawanya.


El menghambur ke pelukan Amira, "Kakak Cantik tolong aku, pipiku sakit dicubit Om genit," adu El sambil merengut.


"Sudahlah, Vin … Mengalah sedikit sama anak kecil," bela Amira.


Vincent menghela nafas pelan dan mendekati El, mengusap puncak kepalanya pelan, "Maafin Om ya, El."


Amira tertawa kecil mendengar ucapan Vincent yang menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Om'.


"Ngomong-ngomong, El. Papamu siapa?" tanya Vincent yang penasaran dengan ayah kandung El, karena ia cukup kaget ketika Amira mengatakan bahwa El adalah putrinya Eva sewaktu di hotel tadi. Ia tidak pernah tau Eva sudah pernah menikah sebelumnya, bahkan minggu lalu saja Ibunya masih menjodohkan dirinya dengan Eva.


Amira juga terdiam menunggu jawaban yang keluar dari bibir gadis kecil itu yang sedang menundukkan wajahnya.


"Aku gak punya Papa," ucap El lirih.


Vincent dan Amira saling berpandangan. Amira memeluk tubuh gadis kecil itu dengan penuh simpati, mencoba menghiburnya dengan pelukan yang ia berikan.


"Kata Mama, Papa pergi jauh. Tapi aku tau Papa pasti tidak mau aku, makanya Papa pergi dari Mama dan aku," lanjut El lagi dengan suara yang mulai sengau. Air matanya jatuh mengenai tangan Amira yang sedang memeluknya saat ini.


"Sudah, El. Mungkin Papamu memang sedang pergi jauh, tapi dia pasti akan segera pulang menemuimu jika dia tahu bahwa dia punya putri semanis dirimu," hibur Amira dan membantu El menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Benarkah?" tanya El dengan mata berkaca-kaca menatap Amira.

__ADS_1


Amira menelan salivanya pelan. Ia merasa bersalah sudah ikut andil dalam berbohong kepada gadis kecil itu, tetapi hal itu ia lakukan agar gadis itu tidak merasa bersedih lagi. Amira berusaha tersenyum dan mengangguk pelan, "Pasti. Dia pasti kembali."


El tersenyum mendengarkan jawaban yang diberikan oleh Amira dan mengusap wajahnya dengan lengannya.


"El kan masih punya Om Ganteng sama Om Kaku ini," hibur Vincent menunjuk dirinya dan Lucas. Gelak tawa pun memenuhi geladak kapal melihat Lucas yang hanya diam dan berdeham pelan tanpa membantah ucapan atasannya itu.


Eva dan Tiffany menghampiri mereka dengan tatapan heran.


"Apa ada yang kami lewatkan?" tanya Tiffany membuat mereka menoleh kepadanya.


Kini Eva dan Tiffany sudah berganti dengan pakaian renang. Tiffany memakai baju renang dengan model tanktop dan celana pendek menampilkan bentuk tubuhnya yang memang sedikit montok di bagian tertentu, sedangkan Eva memakai baju renang dengan model one piece, atasan tanpa lengan yang menyatu dengan bawahan celana dalam segitiga, menampilkan kakinya yang jenjang dan kulitnya yang putih mulus.


Amira melirik Vincent sekilas yang melihat kedua wanita yang berpakaian terbuka di depannya dengan sikap acuh tak acuh. Walaupun begitu, ia mendengus sebal, pasalnya dirinya dilarang memakai pakaian seperti itu di depan umum sedangkan kekasihnya itu bebas melihat wanita lain.


"Kenapa? Kok malah diam?" tanya Tiffany lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari mereka.


"Mama." El menghampiri Eva dan memeluk pinggangnya erat.


"Tadi Om Ganteng dan Om Kaku mau jadi papa El katanya," ucap El dengan wajah polosnya. Eva hanya tersenyum mendengarkan ucapan putrinya itu.


"Kalau sudah pada siap, ayo kita berangkat," ajak Vincent.


Mereka berenam dibawa pergi sedikit ke tengah laut yang berjarak sekitar 300 sampai 400 meter dari bibir pantai.


Kapal yang mereka tumpangi memiliki bagian bawah kapal yang terbuat dari kaca tembus pandang (glass bottom boat). Permukaan laut tampak tenang dan air laut pun begitu jernih, sehingga dari atas kapal pun mereka bisa melihat keindahan bawah laut.



Petugas snorkeling memberikan petunjuk dan tata cara melakukan snorkeling, kemudian membagikan perlengkapan snorkel kepada mereka yang ingin menyelam. Tiffany dan Eva turun terlebih dulu, sedangkan Vincent membuka atasannya dan celana pendek yang ia pakai, ternyata dia sudah mempersiapkan celana renang di dalamnya.


Amira melihat Vincent tanpa berkedip dan wajahnya sedikit ditekuk. Vincent tersenyum dan mengelus puncak kepala Amira, "Aku sebentar aja kok, Sayang. Kamu mau tunggu di sini atau mau ikut turun?"


"Nggak deh … aku di sini aja. Kasihan El," jawab Amira.


"Baiklah," ucap Vincent dan mengusap kepala kekasihnya itu, kemudian ia memakai perlengkapan snorkeling dan turun ke permukaan laut.


Amira, Lucas dan El menunggu mereka dari atas kapal. El begitu riang melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang di dekat kapal mereka. Terumbu karang yang cantik pun kelihatan dari bagian bawah kapal.


Eva berdiri di tengah permukaan laut yang tidak begitu tinggi. Ia melambai ke arah Vincent dan Tiffany, mereka segera menyusulnya.


Ketika akan menyelam ke dalam air, kaki Eva menginjak bebatuan kecil di dasar laut sehingga tubuhnya terjatuh tepat di depan dada Vincent yang sudah berada di dekatnya. Refleks Vincent menahan tubuh wanita itu.


Tiffany mengerutkan keningnya heran melihat sikap Eva terhadap Vincent yang menatap pria itu dengan tatapan menggoda. Vincent pun merasakan hal yang sama, ia merasa risih dan melepaskan pegangannya dari pinggang Eva. Ia menyelam duluan ke dasar laut disusul Eva dan Tiffany. Mereka pun menyelam ke kedalaman laut, menikmati pemandangan indah di dasar laut. Berbagai biota laut seperti terumbu karang, ikan kecil berwarna-warni dan bebatuan yang tersusun rapi menambah keindahannya, seperti sebuah surga indah di dasar laut.


Amira melihat kejadian ketika Vincent menahan tubuh Eva dari tempat ia duduk, rasa cemburu mulai membakar dirinya.


'Seharusnya tadi aku ikut aja,' batin Amira menyesal.

__ADS_1


Amira sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga ia tidak begitu memperhatikan El yang saat itu sedang berdiri dari tempat duduknya dekat pinggiran kapal. Gadis kecil itu mendongak ke bawah, tetapi karena kakinya yang tidak seimbang, membuat gadis kecil itu terjatuh ke bawah air ketika kapal sedikit bergoyang akibat ombak laut.


"Nona El!" teriak Lucas yang saat itu mendengar suara orang terjatuh ke air. Ia juga tidak menyadari gadis kecil itu berdiri dari tempat duduknya, karena Lucas sedang melihat ke dasar kapal dan menoleh setelah mendengar suara cipratan air dan mendapati gadis kecil itu sudah terjatuh.


Amira menoleh dan melihat tubuh El yang sudah di bawah air. Tanpa pikir panjang, Amira malah ikut terjun ke bawah.


"Nona Lin!" Lucas pun terjun ke bawah air tanpa membuka pakaiannya.


Vincent, Eva dan Tiffany yang sudah berada di permukaan air dan berada tidak jauh dari mereka mendengarkan teriakan Lucas. Vincent segera berenang menyusul Lucas, disusul Tiffany dan Eva.


Walaupun air di sekitar mereka tidak begitu dalam, tetapi jika tidak bisa berenang dan tidak memakai perlengkapan snorkeling tetap saja berbahaya bagi orang awam.


Lucas menyelam dan mendapati tubuh Amira dan El. Amira masih berusaha menggapai tangannya ke atas dengan satu tangan memeluk El yang sudah tidak sadarkan diri. Lucas meraih kedua tubuh gadis itu, tetapi seorang diri membawa dua orang di tangannya cukup sulit untuk naik ke permukaan air.


Tidak berapa lama petugas snorkeling datang dan membantunya. Lucas menyerahkan El kepada petugas itu dan ia sendiri membawa Amira ke atas kapal, tetapi tenyata kaki Amira tersangkut dengan tumbuhan laut yang melilitnya. Lucas segera menyelam ke bawah dan membuka lilitan di kakinya terlebih dahulu.


Petugas snorkeling membaringkan tubuh El di atas geladak kapal. Petugas itu menekan tengah dada El dengan telapak tangannya untuk mengeluarkan air laut yang terminum oleh gadis kecil itu, tidak berapa lama air pun keluar dari mulut kecilnya. El mulai bisa bernafas dengan baik, ia pun menangis ketakutan.


Beberapa saat kemudian, Lucas berhasil naik ke atas kapal dengan membawa tubuh Amira yang sudah tidak sadarkan diri. Ia membaringkan tubuh gadis itu dan menatapnya. Ia sedikit ragu untuk menekan bagian tengah dada gadis itu, tetapi ia tidak punya pilihan lain demi menyelamatkan Amira.


'Menyelamatkan orang lebih penting, Lucas!' batin kecil Lucas mengingatkan dirinya.


Vincent, Eva disusul Tiffany berhasil mencapai geladak kapal. Eva segera memeluk putri kesayangannya yang sedang menangis ketakutan, sedangkan Vincent segera menghampiri Lucas dan menggeser tubuh Lucas, ia menggantikan Lucas menolong kekasihnya.


Vincent menekan bagian tengah dada Amira beberapa kali, tetapi hanya sedikit air yang keluar dari mulut Amira, gadis itu masih tidak bernafas. Vincent segera melakukan pernafasan buatan. Ia menengadahkan kepala Amira dengan hati-hati dan mengangkat dagunya. Ia memencet hidung gadis itu dan meniup udara ke arah mulutnya beberapa kali.


'Ami, sadarlah!" batin Vincent memohon. Raut wajahnya berkerut mengukirkan rasa cemas yang ia rasakan saat ini.


Vincent mencoba menekan kembali dada bagian tengah gadis itu dengan kedua telapak tangannya hingga akhirnya air laut yang terminum olehnya keluar dari mulutnya cukup banyak. Gadis itu mulai bisa bernafas dan menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.


Vincent memeluk tubuh Amira dengan erat. Tubuh gadis itu masih lemas dan ia masih belum sepenuhnya fokus.


"El … El!" teriak Amira setelah pikirannya sadar dan ia segera melepaskan pelukan Vincent. Ia melihat El yang sudah berada di pelukan Ibunya. Gadis kecil itu sudah tenang dan tidak menangis lagi.


Amira menghela nafas lega, "Syukurlah …," ucapnya pelan.


"Dasar bodoh! Apa kamu tidak tahu kalau kamu juga hampir mati tenggelam, hah?!" teriak Vincent dengan wajah marah bercampur cemas.


Amira hanya diam mendengarkan amarah yang ditujukan kepadanya, "Maaf … maafkan aku …" lirihnya.


"Seharusnya … seharusnya aku menjaga El dengan baik. Maaf …" ucapnya lagi dengan lirih dan menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah, karena tidak memperhatikan gadis kecil itu dengan baik.


Vincent menarik tubuh kekasihnya itu dan memeluknya erat. Tubuh gadis itu gemetar menahan tangis dan takut, "Sudah … Bukan salahmu, bukan salah siapapun. Maafkan aku, tadi aku hanya ... hanya takut kalau aku akan kehilangan kamu, Sayang. Maafkan aku," ucap Vincent yang juga merasa bersalah membuat kekasihnya takut dengan amarahnya.


Eva memeluk putri kecilnya dengan erat. Ia juga merasa bersalah, seharusnya ia yang menjaga putrinya sendiri. Hampir saja ia kehilangan gadis kecilnya itu. Hatinya merasa sakit dan perih bercampur dengan rasa cemburu melihat sepasang kekasih yang saling berpelukan di depan matanya saat ini. Ia menatap Amira dengan sinis dan Amira melihat tatapannya itu.


To be continue ….

__ADS_1


__ADS_2