Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 58


__ADS_3

**Hai Readers....


Mohon bantuannya untuk like n vote ya


Jangan lupa rate ⭐5 bagi yang belum klik ratenya.


Jangan lupa juga klik Favorit ❤ ya, supaya tau update episode terbarunya.


Mohon bantuan dan dukungannya ya


Thank you 🥰🥰


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆**


Jam istirahat makan siang.


Amira dan Tiffany sedang berada di Kantin Little Royal. Perusahaan itu memiliki kantin sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan siang karyawan mereka. Oleh karena itu, para karyawan lebih hemat waktu untuk mencari makan siang dan juga terjamin kebersihannya.


Amira memesan paket ayam goreng, berupa satu potong ayam goreng, nasi, kentang goreng dan minuman jus lemon. Sedangkan Tiffany memesan mie goreng seafood plus jus stroberi.


Mereka duduk berdua di meja kantin yang berada dekat jendela.


Ketika ingin memakan ayam gorengnya, Tiffany menyenggol Amira, "Apa sih?" tanya Amira kesal melihat sahabatnya yang satu itu


"Kamu sama Kak Leon kenapa sih? Aku lihat Kak Leon dua hari ini gak bersemangat banget. Wajahnya tiap hari ditekuk, bikin bete lihatnya," ucap Tiffany mengambil kentang goreng di piring Amira dan mengunyahnya.


Amira diam mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Akhirnya ia menceritakan kejadian di malam pesta ulang tahun Tiffany waktu itu. Tiffany melongo tak percaya, Amira menolak kakaknya. Amira memberitahukan alasannya kepada Tiffany dan meminta maaf kepada temannya itu.


"Gak usah minta maaf Ami. Aku tau cinta itu gak bisa dipaksa. Nasibnya Kak Leon gak bisa dapetin hati kamu. Tenang saja, bukankah aku selalu bilang kalau aku selalu mendukung keputusanmu. Kita kan sahabat," ucap Tiffany sambil merangkul pundak Amira.


"Terima kasih, Tif. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Amira terharu.


"Kamu tau gak, Ami. Malam itu, Kak Leon gak pulang ke rumah. Dia pulang pas tengah hari, terus bau alkohol lagi. Baru kali itu aku melihat dia depresi seperti itu." Tiffany menceritakan kejadian malam setelah pesta ulang tahunnya.


Rasa bersalah menghantui Amira. Tiffany melihat raut wajah Amira dan menepuk pundaknya, "Kamu tenang saja. Kak Leon pasti bisa melaluinya dengan baik. Dia sekarang lagi cuti kerja, mungkin mau membenahi hatinya," ucap Tiffany menenangkan Amira.


Selesai makan siang, Amira dan Tiffany kembali ke ruangannya. Amira dan Tiffany hanya diminta untuk membantu hal-hal kecil saja sembari mengenal lingkungan kerja.


°


°

__ADS_1


°


°


°


°


°


°


Setelah menitipkan beberapa pesan kepada Jason dan Lucas, Vincent segera berangkat ke Bandara Serenity. Ia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya itu.


Dua hari baginya di Kota Serenity terasa sebulan baginya. Ia sangat merindukan Amira, belum lagi pikirannya tertuju kepada Leon yang mengangkat ponsel Amira. Ia berusaha menghalaukan pikiran jeleknya itu.


Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor kontak Amira. Ia mengernyitkan alisnya, mendengarkan nada tunggu dari panggilan tersebut. Gadis itu tidak mengangkat teleponnya, dan dari kemarin Amira juga tidak menghubunginya.


Vincent mencengkram telepon genggamnya kuat dan mendengus kasar.


Beberapa jam kemudian, Vincent tiba di Amigos. Ia bergegas mencari taksi dan menuju Apartemen Riverside.


Sesampainya di depan Apartemen Riverside. Ia bergegas masuk ke dalam unit apartemennya, dicarinya sosok Amira di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Ia menepuk keningnya, ia ingat bahwa Amira seharusnya ada di Little Royal sekarang.


Vincent melirik jam tangannya, sekarang sudah pukul 16.30, sebentar lagi jam pulang kantor. Ia bergegas keluar dan mengambil mobilnya di parkiran apartemen, kemudian melajukan mobilnya ke Little Royal.


Tepat pukul lima sore, Vincent sampai di depan Gedung Little Royal. Vincent menunggu Amira di depan Gedung Little Royal. Vincent berdiri di depan mobil Lamborghini gold metalic-nya. Ia berdiri dengan gagahnya sambil melipat kedua tangannya di dada, menyenderkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia memakai kacamata hitam dengan stelan santai, kaos putih celana jins biru dipadukan dengan jaket kulit hitam.


Mobil yang dikendarai Vincent menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, bukan hanya mobil tetapi Vincent juga menarik perhatian para wanita. Mereka semua berbisik siapa gerangan yang ditunggu oleh pria itu.


Tidak berapa lama, Vincent melihat Amira keluar dari Gedung Little Royal bersama seorang pria. Alis matanya mengernyit. "Baru dua hari aku tinggalkan, sudah ada pria baru di sampingnya?" gumam Vincent cemburu.


Amira tidak menyadari kehadiran Vincent, ia masih asyik mengobrol dengan pria itu. Pria itu Steven Liu. Ia berusaha menarik perhatian Amira. Sebenarnya bukan hanya mereka berdua, tetapi ada Tiffany juga yang berada di samping mereka. Hanya saja Tiffany sibuk dengan ponselnya, sehingga tidak ikut nimbrung dengan percakapan mereka berdua.Tanpa Steve sadari, sepasang mata melihatnya dengan tatapan membunuh.


Vincent mengernyitkan alis matanya melihat gaya pakaian yang dipakai Amira, kemeja putih dan rok mini hitam. Ia mendengus kasar. Kemudian ia berjalan ke arah Amira, dan menarik pergelangan tangan Amira.


Amira kaget pergelangan tangannya yang ditarik Vincent, ia dipaksa berjalan oleh Vincent.


"Vin?"


"Kamu sudah pulang?" tanya Amira gembira.

__ADS_1


"Ah Kak Steve, aku duluan ya," ucap Amira melambaikan tangannya. "Bye Tif," ucap Amira juga kepada Tiffany dan disambut lambaian dari Tiffany dan Steve.


"Kak?" Vincent mendengus kasar mendengar Amira memanggil pria itu dengan sebutan 'Kak'.


"Itu pacar Amira?" tanya Steve kepada Tiffany.


"Sepertinya aku pernah lihat," ucap Steve lagi menatap punggung Vincent. Tiffany hanya menggedikkan bahu dan menepuk pundak Steve.


"Udah Kak Steve gak usah sedih, kan ada aku," ucap Tiffany bercanda menghibur Steve yang ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Steve.


Vincent masih menarik Amira hingga masuk ke dalam mobil. Amira meringis memegang pergelangan tangannya yang sakit.


"Dia kenapa lagi sih? Wajahnya horor banget," batin Amira melihat wajah Vincent yang masam dari tadi bertemu.


Amira berdeham dan memulai pembicaraan, " Kamu sudah nungguin dari tadi?"


"Kamu kok gak kasi tau kalau mau jemput?" tanya Amira lagi. Vincent tidak menjawab Amira dan mulai melajukan mobilnya.


"Kenapa lagi sih ini?" batin Amira tidak tenang. Ia berpikir keras apa yang membuat Vincent marah kali ini. Suasana hatinya sangat buruk sekali.


"Ah apa jangan-jangan dia cemburu sama Kak Steve tadi. Ck ada-ada aja sih," batin Amira lagi.


"Vin, kamu lagi marah sama aku?" tanya Amira. Tidak mendapat jawaban dari Vincent, Amira hanya bisa diam di tempat duduknya dan menatap ke jalan.


Amira heran Vincent tidak membawanya kembali ke apartemen, tetapi ia diam saja hingga mobil Vincent berhenti di atas bukit. Dari sana mereka bisa melihat hampir seluruh pemandangan Kota Amigos.


Amira menatap Vincent dengan heran, tetapi diurungkan niatnya untuk memulai pembicaraan.


Vincent menghela nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya. Kemudian ia menatap Amira dalam, "Kamu kenapa gak menunggu di apartemenku?" tanya Vincent dengan datar.


Amira mengerjap-ngerjapkan matanya, dan mengembungkan pipinya. "Maaf, aku sepertinya lupa tanggal kita bertemu," ucap Amira dengan wajah imutnya.


Vincent tersenyum melihat Amira yang menggemaskan, amarahnya yang berusaha ditahannya seakan menguap di udara melihat wajah Amira saat ini.


"Kamu ini. Beneran gak ingat?" tanya Vincent sambil menusuk pipi Amira yang mengembang dengan telunjuknya. Amira memanyunkan bibirnya dan mengangguk.


"Kamu ingat gak kamu duduk di pesawat sama siapa waktu kamu pulang ke Serenity tiga minggu yang lalu?" tanya Vincent mencoba mengingatkan Amira.


"Mmm... waktu itu aku duduk dengan... dengan seorang pria, tapi aku lupa wajahnya," ucap Amira mencoba mengingat wajah pria itu.


"Beneran kamu gak ingat?" tanya Vincent tidak percaya bahwa ada wanita yang benar-benar tidak mengenali wajahnya yang termasuk kategori kriteria idola para wanita. Vincent menaikkan satu alis matanya, Amira menatap Vincent dengan heran sambil mengernyitkan dahinya, "Pria itu.. kamu?"

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue...


__ADS_2