Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 121


__ADS_3

Sebuah mobil sedan berwarna hitam membelah jalanan dengan tidak beraturan. Pengemudi mobil itu mengalami rasa takut yang begitu mendalam karena ia baru saja melakukan percobaan pembunuhan beberapa jam yang lalu. Mobil itu masuk ke dalam perumahan Blue Lake Residence dan berhenti di salah satu rumah di dalam komplek itu.


Seorang wanita cantik turun dengan wajah pucat. Tubuhnya gemetar menahan rasa takut di dalam dirinya. Ia berjalan perlahan dan membuka pintu rumahnya.


"Kamu habis dari mana?" tanya Adrian kepada istrinya yang saat itu baru pulang. Tidak biasanya istrinya tengah malam begini baru kembali. Walaupun ia tidak peduli dengan aktivitas istrinya itu, tetapi ia masih memiliki hak untuk mengaturnya.


"A-aku … aku dari bar," jawab Emmy gugup.


Adrian menatap wajah istrinya yang pucat pasi dan menemukan kebohongan di dalam matanya.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Adrian tajam.


"Bukan urusanmu!" sentak Emmy dan beranjak pergi ke kamarnya.


Adrian menarik tangan istrinya dan menahannya untuk tidak segera pergi. "Tunggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Adrian.


"Aku tidak mau mendengarnya!" teriak Emmy histeris.


Adrian mengernyitkan keningnya. "Kenapa? Apa kamu sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan?" tebak Adrian curiga dengan sikap aneh istrinya itu.


"Iya aku sudah tahu semua. Kamu mau menceraikanku bukan? Kamu mau bersama wanita simpananmu itu bukan?" tuduh Emmy.


Alis mata Adrian bertaut, ia bingung dengan ucapan istrinya itu. "Apa maksudmu? Wanita simpanan apa?"


"Kamu gak usah berpura-pura. Foto wanita di ponselmu itu wanita simpananmu, kan? Tapi sayangnya mungkin kamu tidak akan bertemu dengannya lagi!" desis Emmy tajam.


"Apa maksudmu?" tanya Adrian bingung, kemudian bergumam, "Ami …?"


Emmy tersenyum menyeringai tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Apa yang kamu lakukan padanya? Katakan! Katakan, Emmy!" bentak Adrian sambil mencengkram lengan istrinya. Emmy meringis menahan sakit di lengannya.


Wanita itu memejamkan matanya sejenak, kemudian menyeringai kembali dan tertawa miris. Menertawakan dirinya yang begitu bodoh. Bodoh mencintai pria di hadapannya ini, yang tidak akan pernah membalas cintanya.

__ADS_1


Adrian merasa semakin frustasi mendengarkan tawa istrinya itu. Ia melepaskan cengkramannya dan mengambil lembaran kertas yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia melemparkan lembaran surat cerai di hadapan istrinya. "Pokoknya hari ini kamu tanda tangani surat ini! Besok aku akan mengambilnya kembali!"


Adrian berjalan keluar dari rumahnya meninggalkan istrinya yang mulai menangis histeris. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan wanita itu. Pikirannya saat ini adalah menemukan Amira!


Adrian sudah memutuskan untuk menceraikan istrinya sejak dua minggu yang lalu. Ia tidak ingin hidupnya terkekang di dalam pernikahan yang tidak ia inginkan. Awalnya dirinya ingin menutup sebelah matanya terhadap sikap posesif istrinya, namun lama kelamaan ia merasa risih dan sudah tidak dapat menahan dirinya lagi.


Walaupun Adrian mendapatkan posisi yang tinggi di dalam perusahaan Tang, namun dirinya tidak merasakan kebebasan. Segala hal diatur oleh ayah mertuanya. Adrian sebenarnya hanya memanfaatkan perusahaan Tang untuk menjatuhkan Vincent, namun ternyata rencananya satu pun tidak ada yang berhasil. Ia merasa sia-sia saja jika dirinya terus bertahan di perusahaan dan pernikahan itu, ia bisa gila karena kehidupannya yang terkekang.


Emmy mengetahui rencana suaminya yang ingin menceraikannya ketika tadi pagi tanpa sengaja ia memeriksa tas kerja suaminya. Ia mendapati surat permohonan cerai di dalamnya. Dirinya menjadi kalut dan mengira penyebab suaminya ingin menceraikannya adalah karena Amira, foto wanita yang menghiasi ponsel suaminya itu. Oleh karena itu, Emmy mencari tahu identitas Amira dan mencari tahu keberadaannya. Ia pun mendapatkan Amira yang sedang berada di depan apartemen Vincent saat itu. Rasa cemburu membakar dirinya, membuatnya tidak dapat berpikir jernih dan melakukan aksi tabrak lari itu.


°


°


°


°


°


Manik mata pria itu terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri. Perlahan ia membukanya sedikit dan mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar. Setelah kesadarannya mulai kembali seluruhnya, matanya membulat dan ia pun segera beranjak dari tidurnya. Namun apa daya, kepalanya dan tubuhnya terasa sakit. Tidak memungkinkan baginya untuk beranjak dari tempat itu. Ia membaringkan tubuhnya kembali dengan pasrah. Ia melihat seseorang yang sedang tidur di sofa ruangan itu.


"Lu … Lucas …," panggilnya dengan suara parau dan terbata-bata.


Lucas yang sedang tertidur hanya menggeliat kecil di sofa itu, membuat Vincent yang memanggilnya sedikit kesal. Ia mendengus kasar dan mencoba memanggil asistennya itu lagi.


"Lucas!" panggilnya kali ini dengan kuat dan tegas, membuat Lucas segera terbangun dari tidurnya.


Lucas mengusap-usap wajahnya dengan kasar dan segera beranjak dari sofa, menghampiri atasannya itu.


"Bos, Anda sudah sadar? Bagaimana? Apa kepalanya masih terasa sakit?" tanya Lucas sambil menuang segelas air putih dan memberikannya kepada Vincent.


Vincent segera meminumnya dan tenggorokannya terasa lega.

__ADS_1


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Vincent sambil memejamkan matanya erat karena rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.


"Dua hari, Bos." Lucas mengambil gelas di tangan Vincent dan meletakkannya kembali ke atas nakas.


"Di mana Ami sekarang?" tanya Vincent cemas.


"Nona Lin ada di ruangan lain."


"Bawa aku ke sana. Aku mau menemuinya," pinta Vincent seraya beranjak dari tempat tidurnya dan mencabut selang infus di tangannya dengan kasar, tetapi kepalanya masih terasa sakit.


Lucas segera membantu Vincent untuk duduk. "Bos, istirahatlah dulu. Anda baru saja siuman. Saat ini keadaan Nona Lin baik-baik saja, hanya saja—"


"Hanya saja kenapa?" sela Vincent.


"Hanya belum pulih kesadarannya, Bos. Lebih baik Anda beristirahat dulu. Kondisi Anda sendiri belum membaik," bujuk Lucas, tetapi ia malah mendapatkan tatapan tajam dari atasannya itu.


"Bawa aku ke sana! Sekarang!" perintah Vincent dengan tegas. Ia tidak mau dibantah lagi.


Lucas menghela nafas pelan. "Baiklah."


Lucas segera keluar untuk mengambil kursi roda dan membantu Vincent untuk duduk di kursi itu. Ia pun membawa pria itu ke ruang rawat kekasihnya.


Lucas pun meninggalkan Vincent di ruangan itu sendiri. Ia tahu atasannya itu pasti ingin sendiri saja di dalam ruangan itu. Ia pun dengan setia menunggu di depan ruangan itu.


Vincent menatap gadisnya yang sedang terbaring di ranjang pasien. Matanya menatap gadis itu dengan lembut. Tangannya mengusap kening gadisnya di mana perban menutupi bagian kepalanya, kemudian turun mengelus pelan wajahnya yang terlihat putih pucat.


"Sayang …," lirihnya. Hatinya begitu perih melihat luka yang dialami gadis itu.


"Buka matamu …," pintanya lirih. Ia mengambil tangan gadis itu yang terpasang selang infus dan mengecupnya dengan pelan. "Buka matamu, Sayang," pintanya lagi.


Vincent menundukkan wajahnya sambil menggenggam tangan gadisnya. Kesedihan mulai menyeruak kembali ke dalam hatinya. Ia masih belum mengetahui kebenaran mengenai hubungan mereka. Pria itu masih menyesali perbuatannya yang telah menyakiti perasaan gadis itu.


"Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu. Bukan karena aku menyesal, tetapi karena aku tidak sanggup melihatmu seperti ini," lirih Vincent sambil mengecup tangan gadis itu berkali-kali. Air mata di sudut matanya jatuh mengenai jari gadis itu.

__ADS_1


Tanpa Vincent sadari, buliran bening menggantung di salah satu sudut mata gadisnya. Manik mata gadis itu masih terpejam, namun tampaknya ia dapat merasakan dan mendengar suara Vincent. Gadis itu seolah-olah masih enggan untuk sadar dan menghadapi kenyataan yang begitu pahit seperti sebelumnya.


To be continue ….


__ADS_2