
Kediaman Keluarga Lin.
"Non, bangun Non." Bibi Lu mencoba membangunkan majikan kecilnya yang masih terlelap.
"Hmmm ... Nyam ... Nyam ...," racau Amira dalam tidurnya. (Mimpi apa ya kira-kira, hihihi).
"Non ...," panggil Bibi Lu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Non, ada tamu di bawah," panggil Bibi Lu lagi.
"Hmm ... Hoaaem ... Pagi, Bi," sapa Amira sambil mengucek-ucek matanya.
"Pagi Non Ami, ada tamu non di bawah," sahut Bibi Lu.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu, Bi?" tanya Amira sambil menguap, kemudian meregangkan tangannya ke atas.
"Seorang kurir Non. Dia mau menyerahkan sesuatu, tapi katanya harus Non sendiri yang terima. Tadi Bibi juga sudah mau terima tapi ditolak sama kurirnya, katanya pengirimnya bilang harus Non Amira yang menerimanya," jelas Bibi Lu panjang lebar.
"Oh ya udah, Bi. Suruh tunggu bentar ya. Aku cuci muka dulu," jawab Amira sambil berlalu ke kamar mandi.
Amira bercermin di kaca, dilihatnya dirinya sendiri di cermin. Rambutnya yang panjang terlihat awut-awutan dan wajahnya pun masih ada bekas ileran di sudut bibirnya, walaupun begitu, tetap tidak mengurangi kecantikannya. Amira bergegas mencuci wajahnya, menggosok gigi, berganti pakaian, kemudian bergegas turun ke lantai bawah.
Gadis itu ingin melihat tampang orang yang sudah mengganggu tidurnya, karena sekarang menunjukkan pukul 6 pagi dan bertamu atau mengirimkan paket atau apapun itu pada jam segini menurutnya benar-benar tidak sopan!
Terlihat di pintu masuk seorang pria berseragam kurir pengirim sedang berdiri. Ia sedang memegang sebuah amplop dan secarik kertas.
"Pak, nyari saya?" tanya Amira yang telah mengganti piyamanya dengan kaos dan hotpant.
Si kurir terpesona dengan penampilan Amira. "Pak? Hei, malah melamun," panggil Amira lagi sambil mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajah si kurir. Si kurir kaget, kemudian menyerahkan sebuah amplop.
"Ini Non, tolong ditandatangani di sini, kemudian cantumkan nomor handphone di sini," ucap si kurir sambil menyerahkan tanda terima, pulpen dan menunjuk letak tanda tangan.
"Dari siapa, Pak?" tanya Amira penasaran.
"Saya juga tidak tau, Non. Soalnya gak ada nama pengirimnya. Saya juga cuma menjalankan tugas," ucap si kurir.
__ADS_1
"Ok, Pak. Terima kasih," ucap Amira kemudian berjalan masuk ke dalam menuju kamarnya kembali.
Amira membaringkan tubuhnya di ranjangnya dan mengangkat amplop di tangannya. Ia membolak-balikkan amplop tersebut, kemudian merobek ujungnya. Dikeluarkan secarik kertas di dalamnya.
"Apa-apaan sih ini!" teriak Amira sewot sambil melihat secarik kertas yang berisi nota tagihan perbaikan mobil yang ditujukan kepada Nona Amira Lin. Pada nota tagihan tersebut tertera nominal yang luar biasa fantastis.
"Ini sih gila! Nominal segini sih bisa buat beli apartemen!" ucap Amira histeris.
"Siapa sih yang iseng pagi-pagi nganterin tagihan beginian! Ganggu tidur cantikku aja, huh!" seru Amira sambil meremas kertas tersebut dan melemparnya ke tong sampah yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang, kemudian gadis itu ingin melanjutkan tidur cantiknya lagi, tetapi ponselnya berdenting. Satu pesan masuk ke dalam kotak pesan di ponselnya.
Amira membaca pesan tersebut yang berasal dari nomor yang tak dikenal.
"Apa Anda sudah menerima surat tagihannya, Nona Lin? Jangan lupa untuk segera membayarnya!" Begitulah isi pesannya.
"Ha? Dasar sinting! Mau menipuku? Benar-benar kurang kerjaan ini orang. Dari mana dia bisa tau nomor ponselku?"
Amira mengumpat kesal setelah membaca pesan tersebut. Dirinya tidak habis pikir siapa yang kurang kerjaan mengganggunya di pagi seperti ini. Ia meremas bantal yang ada di tangannya dan menekan nomor kontal yang tak dikenal itu dan melakukan panggilan keluar.
*****
Sehabis lari pagi, Vincent segera bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Diliriknya jam di atas nakas tempat tidurnya menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
Setiap pagi Vincent mempunyai jadwal rutin lari pagi mengitari kawasan apartemennya sebelum berangkat ke kantor, sehingga wajar saja jika pria itu mempunyai tubuh yang atletis dan dikagumi kaum hawa.
Vincent menuju ke walk in closet di kamarnya dan mencari pakaian kerjanya. Kamar yang didominasi dengan warna abu-abu dan putih itu mempunyai kamar mandi sendiri dan walk in closet yang berisi pakaian-pakaian branded, jam tangan, dasi, dan beragam jenis parfum branded. Vincent terkenal sebagai orang yang sangat memperhatikan kerapian dan kebersihan.
Ponsel Vincent berdenting. Satu pesan masuk ke ponselnya, ia pun membuka pesan itu dan tersenyum menyeringai.
Lucas : Surat tagihannya sudah diterima oleh Nona Lin, Bos. Nomor Hp Nona Lin 08XXXXXXXXXXXXX.
Jari-jari Vincent dengan cepat mengetik pesan masuk dan mengirimnya ke nomor Amira.
Vincent : Apa anda sudah menerima surat tagihannya, Nona Lin? Jangan lupa untuk segera membayarnya!
Setelah memakai dasi, Vincent melirik ponselnya. Pesannya telah terkirim dan sudah dibaca, tetapi tidak ada balasan. Tidak berapa lama, panggilan masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
Vincent melihat nomor panggilan masuk itu dan tersenyum. Ia pun menggeser tombol hijau di ponselnya. Belum sempat menjawab panggilan itu, suara di seberang sana sudah berteriak kepadanya, "HEI TUKANG TIPU! KAMU KIRA SAYA BISA TERMAKAN TIPUAN MURAHAN SEPERTI INI? HAH!"
Vicent mengerutkan alisnya mendengar suara itu sambil menjauhkan telinganya dari ponsel karena suara Amira yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya saat ini.
"Apa kamu kurang kerjaan? Kamu tidak takut kalau saya laporkan ke polisi?" teriak Amira lagi tetapi tidak senyaring tadi.
Vincent menyeringai dan menjawab dengan dingin, "Silahkan saja lapor. Saya ingin melihat apakah saya atau Anda nanti yang akan berhadapan dengan polisi, Nona Amira Lin?"
"A-Apa maksudmu?" tanya Amira gugup dan heran.
"Apa kepala Anda terbentur, Nona? Anda sudah lupa dengan perbuatan yang Anda lakukan di parkiran Rumah Sakit Royal?" tanya Vincent dengan pelan namun dingin.
'Astaga! Apa dia si pemilik mobil itu? Kenapa? Kenapa dia bisa tau aku pelakunya?' Amira teringat dengan perbuatan isengnya kemarin.
'*A*pa dia mengecek CCTV di tempat parkir? Aduh! Bodoh, bodoh kamu Ami! Kenapa tidak berpikir dulu sebelum berbuat?' batin Amira sambil memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa? Sudah ingat sekarang?" ucap Vincent lagi memecahkan lamunan Amira.
"A-Apa maksudmu? Saya tidak mengerti," ucap Amira terbata-bata berusaha mengelak.
"Hemm ... Tidak apa-apa kalau Anda tidak mau mengakui perbuatan Anda, Nona. Nanti saya akan mengirimkan surat pengacara ke tempat Anda beserta bukti-bukti yang ada," ancam Vincent masih dengan nada dinginnya.
"Tunggu! Tunggu sebentar, Tuan! Ok saya minta maaf. Saya akan ganti biaya perbaikannya, tetapi apa tagihan ini tidak salah, Tuan? Dengan biaya segini bisa untuk beli apartemen!" timpal Amira panik mencoba mencari jalan keluar.
"Ini namanya pemerasan. Walaupun saya salah, tetapi anda juga salah, Tuan karena mengambil kesempatan dalam kesempitan," lanjut Amira berusaha membela diri.
"Oh ya?" jawab Vincent datar. "Sepertinya sebelum bertindak, Nona Lin tidak berpikir dulu. Menurutmu berapa harga mobil M*ybachku?" tantang Vincent.
"Sa-Saya mana tau," ucap Amira terbata-bata sambil menggigit bibir bawahnya.
"Nona Lin, maaf Anda sudah menghabiskan waktu saya. Silahkan Anda bayar tagihan perbaikan atau langsung bicara di pengadilan dengan pengacara saya." Vincent dengan dinginnya mematikan telepon secara sepihak.
Amira yang berada di kamarnya melongo mendengar sambungan telepon yang dimatikan. "Hah! Dasar sombong! Memangnya ada banyak uang kenapa? Kalau punya banyak uang, bisa seenaknya merendahkan orang lain, hah? Arrghh!" teriak Amira kesal dan marah. Ia memukul-mukul bantal yang sedari tadi digenggamnya.
To be continue ....
__ADS_1