
Apartemen Riverside
"Hoaeeeemm ...."
Amira baru bangun dari tidurnya dan menguap, sebenarnya matanya terasa berat untuk dibuka.
Kemarin seharian dia berkutat di meja belajarnya mengerjakan tugas akhirnya yang belum selesai dan tidak keluar apartemen sama sekali. Makan saja dia pesan delivery dari luar. Akhirnya dia menyelesaikan tugasnya itu dengan mengorbankan waktu tidurnya yang berharga, karena hari ini adalah batas akhir pengumpulan tugas.
Selama di kota Serenity, dia sudah mengerjakan tugas itu hampir selesai setengahnya. Tetapi karena berbagai hal, tugasnya terbengkalai.
"SELAMAT PAGI DUNIAAAAA ...!!" teriak Amira berdiri di balkon kamarnya.
"SEMOGA HARI KALIAN SEMUA MENYENANGKAAAAANN ...!!" teriak Amira lagi sambil merentangkan tangannya.
Amira mendengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. Amira berjalan masuk dari balkon dan membuka pintu. Tiffany berdiri di depan pintu kamarnya sambil berkacak pinggang dengan masih memakai piyama.
"Berisiiiikk tauuuu!" teriak Tiffany.
"Hehehe ..."
Amira hanya menyengir, "Kapan kamu pulang? Kok aku nggak tau?"
"Semalam. Jam satu, hoaeeemm ...," jawab Tiffany singkat sambil menguap. Amira hanya mengangguk.
"Jangan berisik, aku mau tidur!" ucap Tiffany sambil berlalu ke kamarnya di sebelah. Amira menjulurkan lidahnya.
"DOREMIFASOLASIDOOOOO ..." Amira sengaja mengganggu tidur Tiffany.
"AMIRAAAAAAAA ...!!!!" teriak Tiffany kesal dari kamarnya. Amira cekikikan dan bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Amira bergegas keluar dan mengambil tas ranselnya. Sambil berjalan, dia mengangkat rambutnya ke atas dan dibentuk gaya rambut hair bun membentuk donat di atasnya.
Amira menuju meja makan dan mengambil satu roti tawar yang diolesi selai kacang cokelat dan memasukkannya ke mulutnya. Tidak lupa dia membawa map yang berisi tugas akhir yang akan dikumpulkannya.
Amira membuka pintu apartemennya dan keluar. Ketika akan berjalan menuju lift, dilihatnya unit apartemen sebelahnya, masih banyak pekerja yang melakukan pindahan dan renovasi di sana. Amira sebenarnya penasaran siapa yang pindah ke sebelah apartemennya, tetapi karena waktu yang sudah mepet, dia bergegas pergi.
"Ah, semoga keburu ...," gumam Amira.
__ADS_1
Amira berlari-lari kecil di trotoar, kakinya yang keseleo sudah sembuh berkat obat salep dari Leon. Dia akan mengucapkan terima kasih padanya nanti.
Ketika Amira akan menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini gold metalic dengan atap terbuka hampir menyerempetnya, sehingga membuat Amira kaget dan map yang dipegangnya jatuh di jalan dan kertas-kertas berhamburan serta beberapa ada yang tertiup angin cukup jauh.
Pengemudinya itu bukannya turun untuk meminta maaf, tetapi langsung melajukan mobilnya. Amira mengumpat kepadanya, tetapi percuma mobil itu sudah menjauh. Amira tidak melihat wajah pengemudi itu, dia hanya melihat sisi belakangnya, pengemudi itu seorang pria.
"Huh! Dasar sial!" umpat Amira kesal. Dia dengan segera memungut kertas-kertas yang berhamburan dan mengumpulkannya. Dia menghitung lembaran kertas tersebut, dan mengerutkan dahinya. Kertasnya hilang satu lembar, dicarinya ke kanan dan ke kiri, tetapi dia tidak menemukannya.
"Aaaaaaaa ... Bagaimana ini?"
Amira panik dan tidak tau harus berbuat apa. Amira duduk di pinggir trotoar meratap nasibnya. Lembaran yang hilang itu adalah desain utama untuk tugas akhirnya dan untuk membuatnya lagi, setidaknya memerlukan waktu satu hari. Diliriknya jam di pergelangan tangannya, sudah hampir jam sepuluh. "Tinggal dua puluh menit lagi," gumamnya.
Amira pasrah, dia sudah mencari kemana-mana sampai ke semak-semak di trotoar, tetapi tidak ditemukan. "Aaaa ... Bodoh amat! Semangat Amira!!" ucap Amira menyemangati dirinya sendiri.
Amira berniat untuk meminta maaf kepada dosen pembimbingnya, Dosen Huang dan meminta perpanjangan waktu. Hanya itulah jalan satu-satunya. Kalaupun ditolak, dia hanya bisa menerima nasibnya untuk mengulang satu tahun lagi.
Sementara itu di parkiran Imperial College.
Ketika Vincent turun dari mobilnya, dia melihat ada selembar kertas yang terselip di belakang jok kursi mobilnya. Vincent mengambil kertas itu dan menyeringai, kemudian berjalan masuk ke kampus.
Sementara itu Amira baru saja sampai di kampus, orang-orang di sekitarnya menatapnya dan berbisik-bisik. Amira tau apa yang sedang dibicarakan mereka, pasti tentang berita Vincent dan dia. Tetapi bukan itu yang harus dia pikirkan, tugas akhirnya lebih penting sekarang.
Amira segera masuk ke ruangan Dosen Huang. Tidak sampai lima belas menit, Amira keluar dari ruangan Dosen Huang. Wajahnya murung, langkahnya gontai. Rasanya arwahnya menghilang. Dirinya sudah tidak memiliki harapan lagi, dan sepertinya harus mengulang satu tahun lagi.
Dosen Huang memang terkenal kejam dalam melakukan bimbingan, semua mahasiswa terpaksa mengikuti semua permintaan revisi tugas yang terkadang sedikit kelewatan menurut mereka. Apalagi kesalahan Amira saat ini sangatlah fatal, kehilangan lembaran tugas akhirnya
Amira sudah memohon untuk diberikan waktu setidaknya satu hari untuk membuat ulang desainnya. Tetapi Dosen Huang hanya memberinya waktu satu jam untuk dikumpulkan padanya.
"Aaaaaa ... Bagaimana mungkin aku membuatnya dalam waktu satu jam? Kalaupun aku punya empat tangan saja rasanya mustahil ...," keluh Amira pada dirinya sendiri.
Amira berjalan keluar kampus dengan gontai, ketika melewati parkiran mobil, dia melirik mobil Lamborghini gold metalic yang terparkir di sana. Mobil itu memang terlihat mencolok, apalagi dengan warnanya yang emas menyilaukan mata terkena sinar matahari.
"Ha! Akhirnya aku menemukanmu!" teriak Amira sambil menunjuk mobil Lamborghini itu.
Amira melihat mobil itu dan dia ingin membalas perbuatan si pengemudi mobil, tetapi dia teringat kejadian dulu dirinya yang mencoret mobil Vincent, sehingga membuatnya mempunyai hutang yang begitu banyak, maka segera diurungkan niatnya itu.
__ADS_1
"Ah, tidak! Kamu tidak boleh ceroboh lagi Amira!" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya kuat.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu ingin mencoretnya lagi?" tanya suara pria yang berdiri di belakang Amira.
Amira menoleh dan terkejut menatap Vincent yang berdiri di belakangnya.
"Ka-Kamu ...," ucap Amira menunjuk ke arah Vincent.
Vincent mengangkat satu alis matanya, "Apa? Baru beberapa hari tidak bertemu, kamu sudah jadi gadis gagap?" sindir Vincent sambil berjalan ke arah mobilnya.
Amira masih mematung di tempatnya berdiri dan melihat Vincent menekan sensor kunci mobil Lamborghini itu.
"Ini ... ini mobilmu?" tanya Amira yang sudah bisa mengerti situasi saat itu.
"Menurutmu?" tanya Vincent datar dan masuk ke dalam mobilnya.
"Astaga?!"
Amira menutup mulutnya tak percaya, "Untung saja aku tidak merusak mobilnya, kalau tidak ...," gumam Amira merasa lega tidak berbuat bodoh.
Melihat Vincent yang sudah menstarter mobilnya, Amira segera menghampiri mobil itu dan membuka pintu mobil penumpang.
Amira langsung duduk di kursi penumpang tanpa seizin pemiliknya, Vincent menatap Amira tajam.
"Turun!" perintah Vincent.
"Nggak mau!" bantah Amira.
"Aku bilang turun sekarang juga, apa kamu tidak dengar?" perintah Vincent lagi.
Amira tidak menghiraukan perintah Vincent, tetapi langsung memakai seatbelt. Vincent mendengus dan menyeringai, " Baiklah, kalau kamu tidak mau turun. Jangan menyesal!" ucapnya dingin.
Amira menelan salivanya perlahan, nasi sudah menjadi bubur, dia hanya bisa berdoa di dalam hati.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1