
Amira menatap dirinya di cermin. Dengan perlahan ia mengingat penggalan kejadian ketika di mobil Adrian. Ia teringat kejadian Adrian yang menciumnya waktu itu. Ia menepuk pipinya pelan.
Ia menyentuh bibirnya yang tergores dan sedikit membengkak akibat gigitannya tadi. Masih terasa perih ketika disentuh.
'Kalau sampai Vincent tau, ia pasti bisa marah besar. Sebaiknya aku segera pergi dari sini,' batin Amira merasa takut Vincent mengetahui hal itu.
Amira segera beranjak keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Ia melihat Adrian masih setia menunggunya di depan pintu. Amira berdeham membuat Adrian berbalik dan menatapnya dengan kagum.
Amira dalam balutan gaun berwarna putih di atas lutut terlihat sangat cantik. Adrian tertegun melihat kecantikan wanita itu.
"Apa ada yang aneh?" tanya Amira heran melihat Adrian terus menatapnya tanpa berkedip.
Adrian tersadar dari lamunannya dan menggeleng pelan, "Kamu cantik," ucapnya spontan.
Wajah Amira memerah mendengarkan pujian dari pria yang baru beberapa jam ia kenal, "Ah itu … aku mau pamit sekarang. Takutnya sahabatku dan kekasihku sedang panik mencariku. Ponselku mati jadi aku tidak bisa menghubungi mereka," terang Amira yang bermaksud ingin meminta Adrian mengantarnya pulang.
Adrian paham dengan ucapannya dan segera menjawab, "Oke aku antarkan kamu pulang sekarang."
Adrian segera berjalan menuju pintu keluar dan menyambar kuncinya yang berada di atas rak sepatu. Amira mengikutinya berjalan keluar dan menunggu Adrian mengambil mobilnya di garasi.
Tiba-tiba dari luar pagar ada seberkas cahaya mobil yang menyinari villa tempat Amira berada sekarang. Mobil itu berhenti tepat di depan villa itu. Amira menyipitkan matanya berusaha melihat pemilik mobil yang turun. Ia mengernyitkan dahinya dan menutup mulutnya kaget melihat sosok pria yang ia cintai berada di depannya sekarang.
"Vincent!" seru Amira segera berjalan menuju pagar dan mendorong pagar itu ke samping.
Vincent tersenyum lega melihat sosok gadis yang ia cintai sedang berlari ke arahnya. Gadis itu menghambur ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Vincent mengusap rambut dan punggungnya dengan penuh kasih.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Vincent masih memeluk gadis itu. Amira terdiam sejenak.
"Se-sebenarnya semalam aku dan Tiffany ke klub malam dan ada pria brengsek yang mengejarku, tapi untungnya ada seseorang yang menolongku," ucap Amira tertunduk dan tidak mengatakan keseluruhan cerita sebenarnya. Gadis itu takut Vincent akan memarahinya.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa sekarang!" ucapnya lega membuat Amira tertegun sebentar dan membalas pelukannya.
Tanpa mereka sadari, Adrian menatap sepasang kekasih di depannya dengan tatapan marah dan benci. Ia memegang kemudi setirnya dengan erat.
__ADS_1
'Ternyata kekasih Amira adalah Vincent Zhang?! Sial!' umpat Adrian di dalam hati yang baru mengetahui identitas kekasih Amira saat ini. Ia tidak menyangka gadis yang ia sukai bersama dengan orang yang sangat ia benci.
Adrian menyunggingkan senyumannya dengan sinis. Ia turun dari mobilnya dan sengaja menghampiri mereka berdua.
Vincent yang melihat sesosok pria berjalan mendekati mereka, melepaskan pelukannya dan membalas tatapan pria itu dengan dingin.
Vincent membuka mantelnya dan memakaikannya di atas bahu Amira yang sedikit terbuka karena gaunnya yang hanya berlengan pendek. Amira berbalik dan menatap Adrian yang sudah di depan mereka, "Vin, ini orang yang sudah menolongku tadi. Namanya …"
Amira menggaruk kepalanya karena ia lupa menanyakan nama pria yang sudah menolongnya, tepatnya ia tidak mengingat ucapan Adrian ketika memperkenalkan dirinya di mobil waktu itu.
"Perkenalkan, aku Adrian Song," tutur Adrian mengulurkan tangan kanannya di depan Vincent sambil menarik sedikit ujung bibirnya.
Vincent kaget mendengarkan nama yang keluar dari bibir pria asing di depannya. Ia berusaha tetap tenang dan menjabat tangannya, "Vincent Zhang," balasnya memperkenalkan diri.
Mereka saling berjabat tangan dan menekan tangan lawan masing-masing dengan erat. Terasa sekali aura permusuhan di antara mereka.
Tatapan Vincent beralih ke arah tulang selangka pria di depannya, ia mengerutkan dahinya dan menatapnya tajam. Sementara itu, Adrian tau tatapan Vincent sekarang tertuju pada bercak di tulang selangkanya, ia mengangkat satu alis matanya dan tersenyum sinis.
Sambil bersusah payah menelan salivanya, Amira berusaha mencairkan situasi yang menegangkan saat itu, "Mmm … Tuan Song, terima kasih sudah menolongku. Anda tidak perlu repot-repot mengantarku sekarang. Kekasihku sudah datang menjemputku," sahut Amira sambil menarik lengan Vincent di sampingnya.
Vincent juga tersenyum sinis kepada Adrian dan melepaskan jabatan tangannya. Begitu juga Adrian, ia merasa kalah mendengarkan ucapan Amira tadi, tetapi ia berusaha tetap tenang di depan mereka berdua.
Vincent merangkul pundak Amira dengan erat dan menatap pria di depannya yang melihat mereka dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Terima kasih, Tuan Song. Kami pamit dulu," ucap Vincent sambil membawa Amira masuk ke dalam mobil.
°
°
°
°
__ADS_1
Keheningan begitu terasa di dalam mobil yang sedang melaju menuju ke pusat Kota Amigos. Cahaya rembulan pun bersembunyi di balik langit malam, menambah kelamnya malam itu.
Amira melirik ke kursi pengemudi di sampingnya. Kekasihnya itu sedang memikirkan sesuatu hal yang tidak ia ketahui terlihat dari keningnya yang berkerut dan wajahnya yang begitu datar.
Amira menghembuskan nafasnya pelan, tetapi membuat Vincent tersadar bahwa dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri sehingga mengabaikan gadis di sampingnya.
Masih dalam posisi menyetir dan menatap ke depan, Vincent membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Kenapa? Apa kamu lelah? Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu ketika kita sampai," ucap Vincent sambil mengusap kepala Amira dengan lembut.
"Nggak kok. Hanya saja dari tadi kamu diam saja. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Amira mencoba mencari tahu.
"Bukan apa-apa. Hanya pekerjaan kantor," tutur Vincent sambil memaksakan senyumannya.
Amira tidak membalas ucapannya, gadis itu hanya mengangguk pelan.
"Apakah benar Adrian Song yang menyelamatkanmu tadi?" tanya Vincent mencoba menyelidiki Amira. Ia masih penasaran dengan bercak merah di tulang selangka Adrian.
Amira mengangguk pelan, "Iya, aku hampir dicelakai pria tak di kenal. Ia memasukkan obat ke dalam mulutku dan mengejarku. Kebetulan waktu itu mobil Adrian hampir menabrakku di depan klub malam dan aku masuk ke dalam mobilnya untuk bersembunyi dari kejaran pria brengsek itu ..." Ucapan Amira terputus karena Vincent menghentikan mobilnya mendadak, sehingga terdengar decitan rem mobil yang begitu nyaring.
Amira menutup telinganya dan mengerutkan keningnya heran. Ia bertanya-tanya di dalam hati apa ia telah salah mengucapkan sesuatu.
"Obat?" tanya Vincent menatap Amira tajam.
Amira menggigit bibirnya pelan. Ia baru menyadari bahwa seharusnya ia tidak mengatakan masalah obat yang diberikan pria brengsek itu. Amira memejamkan matanya erat dan menghela nafasnya. Ia membuka matanya dan menatap Vincent yang masih menunggu penjelasannya.
"I-iya, aku diberikan obat perangsang oleh pria yang mengejarku, tetapi untungnya Adrian lewat dan menyelamatkanku," jelas Amira sambil bersusah payah menelan salivanya. Ia menunggu ucapan dari pria di sampingnya yang sedang menatapnya tajam.
"Ada apa?" tanya Amira lagi karena Vincent hanya diam menatapnya dengan dingin. Tepatnya Vincent sekarang melihat ke arah bibir gadis itu yang tergores dan sedikit membengkak. Sejak tadi hal itu terus mengganggu pikirannya.
"Apa kalian telah melakukannya?" tanya Vincent menatap Amira tajam, membuat gadis itu membelalakan matanya tak percaya dengan pendengarannya saat ini.
To be continue ….
__ADS_1