
Mentari pagi bersembunyi di balik awan. Ia enggan untuk menampilkan wajahnya. Angin yang berhembus pagi itu terasa menyejukkan membuat orang-orang malas untuk bangun dari tidurnya, termasuk Amira dan Vincent saat ini.
Perlahan manik mata gadis itu bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, ia membuka kelopak matanya yang terasa berat. Posisi Amira yang tidur menyamping menghadap jendela menatap langit yang masih gelap karena cuaca yang mendung pagi itu.
Gadis itu hendak menutup matanya lagi, tetapi ia heran dengan tubuhnya yang terasa berat karena tertindih sesuatu. Ia melihat lengan yang besar dan kuat melingkari pinggangnya.
Amira terkejut dan beranjak bangun dari tidurnya. Ia menatap wajah pria kesayangannya sedang tertidur lelap di sampingnya. Ia menutup mulutnya ketika hendak berteriak karena kaget, tetapi ia urungkan niatnya itu.
Amira membaringkan tubuhnya lagi menghadap wajah kekasihnya. Ia tersenyum lembut melihat wajahnya. Matanya menelusuri setiap sudut wajah kekasihnya.
"Vin, I love you," ucapnya pelan. Ia merasa sangat beruntung bertemu dan mengenal pria di depannya ini, yang begitu pengertian dan mencintainya. Pria ini bahkan tidak peduli apakah dirinya masih suci ataupun tidak. "Kenapa kamu begitu bodoh?" gumam Amira pelan yang bahkan masih meragukan dirinya sendiri. Pikirannya melayang kepada kejadian semalam, ia menghela nafas pelan.
'Apa yang kamu pikirkan, Ami? Vincent saja tidak meragukanmu, kenapa kamu masih meragukan diri sendiri? Bukankah Adrian juga mengatakan tidak ada hal yang terjadi, kecuali ciuman itu ...' batin Amira berteriak mengingatkan dirinya.
Jari Amira perlahan mengusap kening pria itu yang berkerut. Vincent bahkan tidak merasa terganggu dengan gerakan jari Amira di wajahnya. Terlintas ide jahil di pikiran Amira, ia tersenyum nakal.
Amira berjalan perlahan mengambil spidol eyeliner-nya di atas meja riasnya dan kembali ke atas tempat tidur membaringkan tubuhnya menghadap Vincent.
Ia membuka penutup eyeliner-nya dan memulai ide nakalnya itu. Spidol itu bergerak di sekitar wajah Vincent, membentuk lingkaran di area matanya dan membentuk garis-garis panjang di pipinya. Amira juga mencoret hidung mancung pria itu sambil menahan tawanya. Ia mengigit bibirnya yang sedikit bengkak dan tersenyum nakal.
Vincent yang masih memejamkan matanya sebenarnya merasa terganggu dengan gerakan-gerakan kecil di wajahnya, tetapi karena rasa lelah yang menderanya, ia malas untuk membuka matanya hingga ia mendengar suara kekehan kecil di sampingnya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat kekasihnya sedang tertawa kecil sambil memegang spidol di tangannya.
Vincent mengerutkan keningnya heran melihat sikap kekasihnya itu. Ia menyipitkan matanya dan menatapnya sambil tersenyum simpul. Dirinya masih belum mengetahui hal yang menimpa wajah tampannya sekarang.
Amira yang kaget melihat Vincent terbangun dari tidurnya segera menghentikan tawanya dan beranjak dari tempat tidur, tetapi ia kalah cepat dari tangan Vincent yang menarik pinggangnya hingga ia terjatuh dan terbaring di atas tempat tidur.
Amira membelalakan matanya dengan posisinya berada di bawah Vincent. Ia memaksakan senyumannya di depan pria itu dan memalingkan wajahnya berusaha menahan tawanya melihat wajah kekasihnya yang telah ia kreasikan sendiri.
"Pagi, Sayang …" ucap Vincent tersenyum nakal. Amira mengigit bibirnya ke dalam menahan tawanya.
Vincent mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya menatap gadis itu, "Kenapa? Apa wajahku terlalu tampan hingga membuatmu begitu malu melihatku?" tanya Vincent dengan begitu polosnya.
"PFFTT … HAHAHAHAHAHA …" Amira sudah tidak bisa menahan tawanya dan tertawa lepas.
"Iya … hahahaha … wajahmu sangat tampan sekali, Sayang … hahaha," jawab Amira membuat Vincent semakin curiga dengan kekasihnya itu. Vincent mengambil ponsel Amira yang berada di atas nakas dan melihat wajahnya di layar ponsel itu. Wajahnya menggelap, auranya seketika berubah menjadi dingin. Amira melihat perubahan wajah kekasihnya itu dan menelan salivanya pelan.
Vincent meniup rambut depannya yang jatuh ke depan. Ia menatap kekasihnya yang sudah memasang tampang polosnya dengan tersenyum nakal. Dengan cepat, ia mengambil spidol eyeliner di tangan kekasihnya itu.
Tanpa persiapan sebelumnya, spidol eyeliner itu telah berpindah ke tangan Vincent. Amira yang ingin segera beranjak dari tempatnya sudah tidak bisa menghindar, karena tubuhnya dijepit dengan kedua kaki Vincent yang berada di pinggangnya.
__ADS_1
"Gambarmu bagus sekali, Sayang … tapi masih kurang bagus dibandingkan punyaku," tutur Vincent nakal. Ia menggambar wajah Amira dengan spidol itu.
"Kyaaaaa … Hahaha … udah … hahaha … ampun, Vin … hahaha …" Amira tertawa geli dengan gerakan spidol di wajahnya.
"Sudah! Beres!" sahut Vincent puas dengan hasil karyanya di wajah kekasihnya.
"Mana coba aku lihat!" protes Amira mencoba meraih ponselnya di atas nakas dengan posisinya masih terjepit.
"Ya ampun … wajahku …," ucap Amira sedih melihat wajahnya yang penuh coretan dengan gambaran kumis di atas bibir dan titik besar seperti tompel di pipi kanan dan lingkaran di kedua matanya.
Amira memanyunkan bibirnya dan meletakkan ponselnya di atas tempat tidur di sampingnya.
"Bagus kan?" tanya Vincent lagi sambil tertawa kecil, senang melihat wajah cemberut kekasihnya itu.
"Bagus apanya? Masih bagus yang aku gambar di mukamu," ucap Amira sambil memegang wajah Vincent dengan kedua tangannya. Ia menggambar wajah beruang yang imut di wajah kekasihnya itu.
"Bagaimanapun wajahmu, kamu tetap cantik, Sayang." Vincent menundukkan kepalanya dan mengecup bibir mungil kekasihnya sekilas. Ia menatap wajah Amira yang mulai mengembangkan senyum manisnya.
Vincent melepaskan kukungannya dari tubuh Amira dan berbaring di samping kekasihnya itu. Ia tidak ingin kelepasan jika meneruskan posisinya seperti tadi.
Amira yang tidak tahu hal itu hanya menghela nafas pelan dan menyenderkan kepalanya di pundak Vincent.
Vincent membulatkan matanya mendapatkan Amira yang berinisiatif menciumnya lebih dulu tanpa ia minta.
"Sayang ... kamu membangunkan harimau tidur," ucap Vincent pelan dan berhasil membuat Amira kaget mendengarnya. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Vincent menciumnya dengan lembut dan mereka melewati pagi hari yang manis.
°
°
°
°
°
Amira terbangun dari tidurnya ketika matahari memunculkan cahayanya dan berada tepat di tengah. Ia menyampingkan tubuhnya dan tidak menemukan Vincent di samping tempat tidurnya. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur dan menepuk pipinya pelan. Wajahnya memerah mengingat kejadian tadi pagi.
Flashback.
__ADS_1
Vincent melepaskan ciumannya dan melihat wajah Amira yang merah merona. Ia tersenyum nakal dan menyentil dahi gadis itu, "Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"
Amira menggosok dahinya yang memerah dan mengerucutkan bibirnya melihat kekasihnya mulai menggodanya lagi.
"Aku ngantuk. Ayo tidur lagi," ajak Vincent dan berbaring di samping Amira memeluk pinggang gadis itu sambil memejamkan matanya.
"Kamu gak kerja hari ini?" tanya Amira heran karena mereka berdua sudah kesiangan untuk berangkat kerja hari ini.
"Hari ini kamu di rumah aja. Nanti aku siangan baru ke kantor, aku masih ngantuk," jawab Vincent tanpa membuka matanya. Amira hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Tidak perlu waktu lama untuk mereka terlelap, karena cuaca yang dingin membuat siapapun malas untuk beranjak dari tempat tidur dan membuka matanya pagi itu.
End of flashback.
Amira menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum mengingat dirinya yang nakal memiliki pikiran seperti itu. Amira segera beranjak dari tempat tidur dan mencuci wajahnya yang masih penuh coretan.
°
°
°
°
°
Sementara itu di Little Royal.
Steve sedang berada di Ruangan Presdir, ia berdiri di depan meja Vincent dengan wajahnya yang begitu serius.
"Jadi pria itu sudah menghubungimu?" tanya Vincent yang saat ini duduk di kursi kebesarannya.
"Iya, Pak. Ia memintaku untuk bertemu dengannya di gudang 19 di dekat Pelabuhan Marson jam 9 malam ini," jawab Steve.
"Baiklah. Kamu serahkan ini padanya untuk menukarnya dengan adikmu dan lakukan seperti rencana kita sebelumnya!" perintah Vincent seraya menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam di atas mejanya.
"Baik, Pak," jawab Steve mengambil flashdisk itu dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Dan jam tangan ini kamu pakailah. Di dalamnya terdapat chip GPS dan alat penyadap suara. Kalau kamu dalam bahaya, segera beritahu. Ada orang-orangku yang akan membantumu kalau kalian dalam bahaya," ucap Vincent mencoba menenangkan Steve yang terlihat tegang.
"Terima kasih, Pak," balas Steve mengambil jam tangan itu dan pamit keluar dari ruangan.
__ADS_1
To be continue ….