
Sekarang Vincent sudah berdiri si depan pintu Amira. Ia merapikan pakaiannya dan memasang senyum menawannya, kemudian menekan bel pintu apartemen Amira beberapa kali.
Vincent menunggu sang pemilik untuk membuka pintunya, tetapi satu menit berlalu, Amira belum juga membukakan pintunya. Vincent mengernyitkan dahinya heran. Ia mencoba menekan bel lagi.
Saat itu Amira sedang berada di kamar mandi sehingga tidak mendengar bunyi bel apartemennya. Hingga akhirnya ia selesai dan berganti pakaian, ponsel Amira berdering. Nama 'My Bear ❤' tertera di layar ponselnya. Amira mengangkat panggilan masuk itu dengan senyum masam.
"Halo," jawab Amira datar.
Ia masih kesal mengingat percakapannya dengan Vincent semalam. Vincent melarangnya untuk datang ke apartemennya kemarin. Ia membaca pesan balasan Vincent tadi pagi karena ia semalam ketiduran menunggu balasan pesan dari Vincent.
"Halo Sayang. Kamu belum bangun?" tanya Vincent.
"Aku sudah di depan pintu," ucap Vincent.
"Oh," jawab Amira datar. Ia menutup teleponnya dan berjalan dengan malas ke depan pintu.
Amira membuka pintu. Vincent berdiri di depannya dengan wajah tersenyum nakal.
"Morning, Sayang," ucap Vincent seraya memeluk tubuh Amira. Amira hanya pasrah saja dan tidak membalas pelukan Vincent.
Vincent melepaskan pelukannya dan menatap wajah Amira yang memanyunkan bibirnya. Vincent tersenyum dan mengangkat dagu Amira.
"Bibirmu begini minta dicium?" ledek Vincent.
Amira berdecak sebal dan menyilangkan tangannya. Vincent mengecup kening Amira dengan lembut dan dalam. Menghirup aroma rambut Amira yang lembut dan aroma tubuhnya yang terasa ringan dan menenangkan.
Vincent melepaskan kecupannya, "Kamu masih marah masalah semalam?"
Amira tidak menanggapi pertanyaan Vincent, dari raut wajahnya sudah kelihatan kalau ia saat ini sedang kesal. Vincent menghela nafas pelan. "Maaf ya Sayang. Jangan marah lagi, oke?"
"Aku takut kalau terlalu dekat denganmu membuatku tidak bisa mengontrol diriku ...," Vincent mengecup bibir Amira sekilas, "... seperti ini."
Amira memukul lengan Vincent pelan, "Ck, dasar mesum!"
__ADS_1
"Mesum sama calon istri sendiri kan gak pa pa," balas Vincent mencubit hidung Amira.
Amira menepis tangan Vincent dan berusaha menahan senyumnya, "Siapa yang mau jadi calon istrimu?"
Vincent tersenyum dan meraih tangan Amira, "Beneran gak mau?" tanyanya.
"Sudah ah, nanti aku telat ini."
Amira memalingkan wajahnya malu dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas selempangnya. Tidak lupa Amira segera mengikat rambutnya membentuk kuncir kuda dan keluar.
Vincent melihat gaya pakaian Amira saat ini. Amira memakai kemeja katun putih dan celana panjang bahan berwarna hitam. Ia merasa puas, tetapi ia mengernyitkan dahinya melihat kuncir rambut Amira.
Vincent menarik ikat rambut Amira dan membuat rambut Amira tergerai. Amira terkejut dan protes, "Ck, kamu ngapain sih? Rambutku jadi berantakan lagi nih."
"Aku tidak suka," jawab Vincent datar.
"Kamu lebih cantik begini," ucap Vincent sambil merapikan rambut Amira yang sedikit berantakan.
Sebenarnya Vincent tidak ingin leher jenjang Amira dilihat oleh pria lain, tetapi ia enggan mengatakan alasan itu kepada Amira.
"Benarkah?" tanya Amira curiga. Vincent mengangguk dengan pasti.
"Baiklah, tapi kembalikan karet rambutku," ucap Amira lagi. Vincent tidak ingin mengembalikan karet rambut Amira dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Lho kok ...."
Amira akan melayangkan protesnya tetapi Vincent dengan cepat menggandeng tangan Amira, " Ayo berangkat," ajaknya.
Amira terpaksa mengikuti Vincent keluar apartemen sebelum ia telat ke kantor. Vincent mengendarai mobilnya keluar dari apartemen dan membelah jalanan yang sudah lumayan padat.
"Vin, berhenti di sana saja," ucap Amira menunjuk halte bus yang berada tidak jauh dari Gedung Little Royal.
Vincent mengerutkan keningnya heran. Ia menepikan mobilnya di sisi jalan dan menatap Amira menuntut jawaban.
__ADS_1
Amira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hm ... itu ... aku gak enak aja dilihatin sama para bawahanmu nanti kalau tiba-tiba turun dari mobilmu."
"Kenapa? Kan kamu pacar aku? Tidak ada salahnya kan kalau kamu turun dari mobilku?" balas Vincent tidak suka dengan sikap Amira.
"Iya Vin ..., tapi kamu kan tau aku hanya mahasiswi magang di sana dan lagi ada peraturan kalau gak boleh pacaran sesama karyawan," ucap Amira sedih.
Vincent mengerutkan keningnya, "Ada peraturan begitu?" tanya Vincent.
Vincent tertawa dan menepuk keningnya. Ia ingat bahwa memang ia pernah menyebutkan bahwa tidak boleh ada yang pacaran di lingkungan kantor agar tidak menurunkan kinerja para karyawan. Sekarang ia termakan sendiri dengan peraturan yang ia buat.
"Peraturan itu tidak berlaku untukku, Sayang .... Mereka tidak akan berani memecatmu. Apa kau tidak percaya sama aku?" ujar Vincent seraya merapikan rambut Amira yang tertiup angin.
Amira mengigit bibir bawahnya, tampak kecemasan di matanya, tetapi setelah mendengarkan ucapan kekasihnya itu, ia tersenyum dan mengangguk pelan.
Vincent membalas senyuman Amira dan melajukan kembali mobilnya ke arah jalan menuju Gedung Little Royal.
Mobil Lamborghini gold metalic berhenti di depan lobby Gedung Little Royal. Petugas keamanan yang mengenali mobil Sang Presdir segera bergegas menghampiri pintu pengemudi dan membukanya. Vincent turun dengan gagahnya dan merapikan jasnya. Ia memberikan kunci mobilnya kepada petugas keamanan tersebut.
Semua karyawan baik yang berada di luar ataupun di dalam lobby menatap Vincent dengan tatapan kagum. Ada beberapa karyawan yang mengenali wajah Sang Presdir, mereka sedikit terkejut akan kedatangan Vincent karena mereka tidak mendapat info bahwa Presdìr mereka akan mengunjungi Little Royal hari ini.
Vincent menghampiri pintu mobil penumpang dan membuka pintu mobilnya dengan elegan. Amira masih duduk terpaku di dalam kursi penumpang. Ia sedikit ragu untuk turun karena melihat tatapan orang-orang yang melihat dirinya dari balik kaca mobil.
Vincent menyampingkan wajahnya sedikit menunduk melihat ke dalam mobil. Ia melihat Amira yang masih diam di balik kursi penumpang sambil mencengkram ujung bajunya. Melihat kekasihnya yang gugup, ia tersenyum nakal. Didekatinya wajah Amira dan dikecupnya bibir Amira sekilas.
Amira terkejut dengan kecupan Vincent dan menutup mulutnya. Wajahnya merah merona, ia merasa malu. Amira menatap keluar melalui kaca mobil yang sedikit transparan, melihat orang-orang yang berada di sekitar mobil sedang menatap mereka dengan tatapan kaget dan takjub.
"Sayang, kamu masih mau?" ledek Vincent seraya mendekatkan wajahnya lagi.
Amira mendorong wajah Vincent pelan dan berucap, "Stop Vin. Malu dilihatin orang-orang."
"Biarkan saja. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah dirimu," ucap Vincent dengan manis.
Wajah Amira tambah memerah mendengarkan ucapan Vincent, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Vincent tersenyum menyeringai dan menarik tangan Amira agar turun dari mobil.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....