
Gedung Little Royal, Ruang Presdir.
Malam itu, Vincent masih berada di ruangannya membaca beberapa dokumen yang dikirimkan Jason kepadanya. Ruangan terasa sunyi, hanya terdengar ketukan tombol keyboard yang beradu dengan jari-jari si pemiliknya.
Vincent melirik jam di pergelangan tangannya. Raut wajahnya menunjukkan dirinya sedang menunggu sesuatu. Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, ia segera mengangkatnya. Vincent mendengarkan ucapan si penelpon sambil mengerutkan keningnya.
Panggilan masuk itu dari Lucas, ia melaporkan keseluruhan kejadian kepada Vincent, kecuali hal mengenai Silver.
"Jadi bagaimana keadaan Steve sekarang?" tanya Vincent sedikit cemas.
"Kata dokter nyawanya masih bisa tertolong, karena tidak mengenai bagian vitalnya. Pelurunya sudah dikeluarkan dan kita bisa mengambilnya sebagai barang bukti," jelas Lucas. Vincent menghela nafas lega.
"Bagaimana dengan adiknya?" tanya Vincent lagi.
"Nona Helen sedang dirawat oleh dokter psikolog, ia mengalami trauma yang cukup hebat akibat penculikan dan penembakan itu," jelas Lucas lagi.
"Baiklah, kamu atur agar mereka jauh dari bahaya, perbanyak orang untuk menjaga di sekitar mereka. Setelah kondisi mereka membaik, kirim mereka ke tempat yang lebih aman," pesan Vincent kepada Lucas.
"Baik, Bos," jawab Lucas.
"Apa semua data sudah kita dapatkan?" tanya Vincent.
"Sudah, Bos. Semua data yang kita dapatkan sudah otomatis dikirimkan ke email Kepala Kepolisian Amigos. Mungkin besok dia akan mendapatkan panggilan pemeriksaan. Ternyata benar saham Royal Group yang dibeli akhir-akhir ini adalah ulah Adrian Song, tampaknya dia bermaksud menjatuhkan Royal Group dan membeli sahamnya dengan harga murah," lapor Lucas.
Vincent memang sudah merencanakan hal itu dari beberapa hari sebelumnya, ia memanfaatkan Adrian yang ingin mengambil rancangannya dengan memasang virus di dalam flashdisk yang diberikan kepada Steve waktu itu. Virus itu bukan hanya merusak jaringan sistem komputer Adrian, tetapi juga mencuri data-data di dalamnya dan sial bagi Adrian data yang hilang itu termasuk hasil proyek curian terhadap beberapa perusahaan yang pernah ia rugikan.
"Baiklah kalau begitu. Laporkan kepadaku kondisi Steve dan adiknya lagi besok," pesan Vincent lagi dan menutup teleponnya.
Vincent meletakkan ponselnya ke atas meja kerjanya. Ia melonggarkan sedikit dasinya dan menghela nafas pelan. Ia sedikit lega mendengarkan laporan Lucas, walaupun terjadi hal di luar rencananya seperti Steve yang tertembak. Untunglah nyawanya masih tertolong. Ia harus berterima kasih kepada Steve, karena berkat kejeniusan Steve memindahkan data yang berisi virus ke dalam flashdisk milik Adrian dan juga karena kecerobohan Adrian, ia bisa mendapatkan bukti dari kejahatan Adrian.
Vincent menatap layar ponselnya yang mengirimkan notifikasi pesan masuk. Ia membacanya dan tersenyum. Dengan cepat, ia mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Tidak lupa ia membawa ponsel dan kunci mobilnya. Pria itu segera menuju tempat hatinya ingin berlabuh sekarang.
°
°
°
°
°
Di Apartemen Riverside.
Amira dan sahabatnya, Tiffany Kim, sedang menonton acara televisi favorit mereka. Tiffany menyelonjorkan kakinya di atas sofa panjang, sedangkan Amira menyilangkan kakinya duduk di sofa kecil di sampingnya sambil sesekali menatap layar ponselnya.
Tiffany melihat senyuman di bibir sahabatnya membaca pesan masuk di ponselnya. Ia hanya bisa menghela nafas pelan, "Ya sudah aku balik aja ke sebelah. Aku sudah tidak diperlukan lagi di sini," ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Mau ke mana? Di sini aja. Siapa suruh kamu pulang?" balas Amira kaget dengan ucapan gadis itu.
"Kan Si Setan Tampan sudah mau pulang, masa aku jadi obat nyamuk di sini?" goda Tiffany.
"Iiih … apaan sih! Dia masih lama kok, emangnya dia punya pintu ajaib? Di sini aja dulu …" balas Amira lagi tidak rela sahabatnya pergi. Ia mendekati sahabatnya itu dan merangkul lengannya.
"Ayolah …" bujuk Amira kepada sahabatnya itu.
"Iya … iya … tapi kalau dia udah pulang, aku langsung pergi ya," jawab Tiffany dan dibalas Amira dengan lingkaran jarinya membentuk tanda oke.
"Ngomong-ngomong, kamu sama Kak Vincent sudah sampai tahap mana?" tanya Tiffany yang penasaran dengan hubungan Amira dan Vincent.
"Maksudnya?" tanya Amira dengan wajah polosnya.
Tiffany memutarkan bola matanya dengan malas, "Ya sudahlah anggap aku gak nanya," jawab Tiffany.
"Ck … ngomong setengah-setengah bikin bete aja …" balas Amira sebal.
"Maksudku kamu sama Si Setan Tampan itu sudah melakukan ... hal 'itu' belum?" jelas Tiffany malas dan melirik sahabatnya yang wajahnya sudah merah merona mendengarkan pertanyaannya.
"Jadi kalian udah?" tanya Tiffany heboh karena menyimpulkannya sendiri.
"Apa sih? Orang belum kok," jawab Amira cepat dengan wajah merona.
"Ck, kamu ngagetin aja. Terus kenapa sampe malu-malu begitu," balas Tiffany kesal karena sudah salah paham dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Kan aku penasaran, soalnya tinggal berdua dalam satu atap biasanya ada setan yang menggoda," balas Tiffany tidak mau kalah.
"Iya setannya kamu!" tukas Amira sebal yang hanya dibalas decakan sebal dari sahabatnya itu.
"Terus Kak Vincent sudah ngenalin kamu sama keluarganya?" tanya Tiffany lagi.
Amira tertegun dengan pertanyaan yang diajukan sahabatnya itu, "Belum," jawabnya datar.
"Kalau dipikir-pikir Vincent memang gak pernah cerita tentang keluarganya ataupun orangtuanya. Aku cuma pernah ketemu sama neneknya aja," gumam Amira pelan, namun masih terdengar oleh Tiffany.
"Udah gak usah dipikirin, mungkin dia sibuk jadi belum sempat kenalin kamu sama orangtuanya," hibur Tiffany melihat perubahan di wajah sahabatnya itu. Amira hanya diam dan termenung.
Tiffany kembali fokus menonton acara di televisi. Tidak berapa lama, acara berubah menjadi berita tentang selebritas. Terpampang wajah Anna Lee di layar televisi.
"Ami … itu Anna kan?" tanya Tiffany mengagetkan Amira yang menatap ponselnya dan mengalihkan pandangannya ke layar televisi.
"Astaga demi popularitasnya dia sampai melakukan hal seperti itu?" ucap Amira kaget mendengar host di televisi itu yang membawakan berita mengenai Anna Lee menjual tubuhnya kepada produser film demi mendapatkan peran di beberapa film papan atas.
"Dunia hiburan memang kejam. Hal begini mungkin bukan hanya Anna Lee seorang yang mengalaminya," sahut Tiffany yang sudah biasa mendengarkan hal itu dari beberapa karyawan di perusahaan ayahnya.
"Tapi kasihan dia, dengan berita begini bagaimana dia bisa berbaur di dalam lingkungannya nanti," guman Amira merasa iba.
__ADS_1
"Ami ... plis deh … kamu gak perlu kasihan dengan orang seperti itu. Dia sudah jahat sama kamu dulu, apa kamu lupa? Palingan dia keluar dari dunia hiburan dan berita begini paling bertahan satu bulan. Setelah semuanya lupa tentang berita ini, dia sudah bisa menjalani hidup layaknya orang biasa," tutur Tiffany sebal melihat sahabatnya itu yang masih merasa iba dengan musuhnya sendiri. Amira hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan dari sahabatnya itu.
Lima belas menit kemudian, Vincent sudah sampai di apartemen. Sesuai janjinya, Tiffany pulang ke apartemen milik Amira. Ia tidak ingin menjadi 'obat nyamuk' di sana.
Vincent masuk ke dalam kamarnya, membuka jas dan mantelnya. Amira mengikuti Vincent dari belakang dan memeluk pinggang kekasihnya itu.
"Kenapa? Kangen?" goda Vincent melirik kekasihnya. Amira hanya mengangguk pelan.
Vincent berbalik dan membalas pelukan kekasihnya. Ia mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih. "Aku juga kangen sama kamu," ucap Vincent dan melepaskan pelukannya.
Amira membantu Vincent melepaskan dasi yang melilit lehernya. Seakan waktu berhenti mengalir, mereka saling menatap satu sama lain dalam diam dan penuh kasih. Tiba-tiba gadis itu teringat akan pertanyaan sahabatnya tadi dan membuat wajahnya merona. Amira menundukkan wajahnya, ia tidak ingin pria itu mengetahui pikiran mesumnya itu.
'Hari ini dia aneh sekali. Sebenarnya ada apa?' batin Vincent.
"Aku mandi dulu, tar baru peluk-pelukan ya, Sayang," goda Vincent sambil mencubit hidung Amira.
"Dasar beruang mesum," gumam Amira masih menundukkan wajahnya. Vincent tertawa renyah mendengarkan gumaman kekasihnya itu dan berjalan ke kamar mandi.
°
°
°
°
°
Di Mansion Adrian.
"Sial! Vincent Zhang!!" teriak Adrian menggebrak mejanya kuat. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga terlihat buku-buku tangannya.
Adrian mendapatkan laporan dari Peter bahwa dua orang suruhannya yang mengejar Steve dan adiknya telah ditangkap dan dimasukkan ke sel, sedangkan dua orang yang lain hanya tersisa wujud yang tak dikenal dan serpihan ledakan mobilnya saja.
Kemarahan Adrian bukan hanya itu saja, tetapi data proyek yang susah payah ia dapatkan hilang begitu saja. Ia tidak menyangka Vincent memiliki dukungan yang begitu kuat di belakangnya. Usahanya membangun Majesty Group beberapa tahun ini akan hancur dalam hitungan jam. Ia berpikir cepat untuk mencari jalan keluarnya.
Satu-satunya jalan hanyalah meminta bantuan Keluarga Tang. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya, Emmy Tang, meminta bantuan dari keluarganya. Sekali lagi ia harus menundukkan kepalanya kepada keluarga kekasihnya itu.
°
°
°
°
To be continue ….
__ADS_1