
Seminggu pun berlalu ....
Hampir setiap hari Amira berusaha membujuk ibunya dan mencoba membuat ibunya menyukai Vincent. Berbagai hal baik yang Vincent lakukan kepadanya, ia ceritakan kepada ibunya, berharap agar ibunya menerima kekasihnya itu. Akan tetapi ibunya masih tetap kukuh dengan pendiriannya.
Nyonya Merina menghela nafas pelan dan berjalan meninggalkan meja makan ketika putrinya itu mulai berusaha membujuknya. "Ibu sudah kenyang, mau ke kantor dulu," ucap Nyonya Merina kepada putrinya yang sedang cemberut kepadanya sebelum beranjak dari duduknya.
Nyonya Merina keluar dari rumah diantar oleh supir pribadinya. Pikirannya akhir-akhir ini semakin tidak tenang melihat kondisi putrinya itu.
"Pak, kita gak usah ke kantor deh," ucap Nyonya Merina kepada supirnya.
"Jadi mau ke mana, Bu?" tanya supirnya itu.
"Antar saya ke Gedung Royal Group saja," perintah Nyonya Merina yang langsung disanggupi oleh supirnya itu.
°
°
°
°
°
Hari ini di Gedung Royal Group sedang diadakan rapat pemegang saham tahunan, yang memberikan penentuan posisi sebagai CEO atau Direktur Utama perusahaan itu. Suasana cukup tegang ketika diadakan voting pemilihan jabatan CEO itu dengan masing-masing suara dari para pemegang saham perusahaan.
Setiap pemegang saham berhak memberikan suaranya dan memilih siapa yang akan mereka dukung dan percaya untuk menjalankan perusahaan itu.
Detik-detik terakhir ketika akan dibacakan keputusan rapat itu membuat keringat dingin siapa saja yang duduk di dalam ruangan itu, tetapi tidak untuk dua orang pria yang saling duduk berhadapan di sana, Vincent dan Adrian. Mereka saling melayangkan tatapan tajam bagaikan kedua pedang yang saling beradu.
Sekretaris Komisaris membaca hasil dari pemungutan suara saat ini dengan suara terbata-bata. "Ber-berdasarkan keputusan terakhir dari rapat kali ini … maka jabatan untuk Direktur Utama akan dipegang oleh ...," ucapnya terhenti sambil mengusap peluh di dahinya, "… oleh Tuan Adrian Song," lanjutnya mengakhiri kalimatnya.
Nyonya Celine, selaku komisaris cukup terhenyak mendengar keputusan itu, termasuk Vincent yang terdiam menatap Adrian yang tersenyum penuh kemenangan kepadanya. Padahal Vincent sudah merencanakan dengan matang hari ini, tetapi kenapa rencananya bisa gagal. Ia menatap setiap pemegang saham yang berada di ruangan itu dengan tajam dan dingin. Tidak ada yang berani menatap matanya saat ini, semua menundukkan wajahnya.
Nyonya Celine mengambil kertas yang berada di tangan sekretarisnya itu dan menelitinya sekali lagi. "Perbedaannya hanya satu suara," gumamnya kecewa.
Vincent memejamkan matanya erat mendengarkan gumaman neneknya itu.
"Tuan Zhang, apa kamu tidak mau memberikan selamat untukku?" tanya Adrian dengan sombongnya mendekati Vincent.
"Sudah saatnya kamu beristirahat. Bukankah keputusan ini terdengar lebih baik untukmu?" sindir Adrian lagi. Vincent mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat.
"Cara licik apa lagi yang kamu pakai kali ini?" desis Vincent. Adrian tidak menjawab dan tersenyum meremehkan. Ia begitu puas melihat raut wajah Vincent saat ini.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan rapat terbuka lebar, seorang pria berdiri di depan pintunya, "Aku memberikan suaraku kepada Vincent Zhang!" teriaknya dengan lantang.
Jason memasuki ruangan dengan wajah sedikit babak belur serta nafas tersengal-sengal. "Aku memberikan suaraku kepada Vincent Zhang," ucapnya lagi sebelum dirinya ambruk.
"Jason!"
Vincent segera menghampiri Jason dan memapahnya berdiri. Ia menepuk pipi pria itu, tetapi Jason sudah tidak sadarkan diri.
Vincent meminta karyawannya untuk segera membawa Jason ke rumah sakit. Ia tahu Jason seminggu ini disekap di rumahnya oleh ayahnya sendiri. Jack Zhang tidak ingin Jason ikut campur dalam rapat itu, sehingga mengurungnya di rumah dengan penjagaan ketat.
"Kalau begitu bagaimana dengan rapat hari ini? Apa musti dipungut suara ulang? Karena hasil suara sama," tanya salah satu pemegang saham di sana. Seketika ruangan menjadi riuh rendah dengan berbagai komentar.
"Tidak perlu!" teriak seorang pria bermata perak masuk ke dalam ruangan itu. Semua melihat dirinya dan bertanya-tanya identitas pria itu, kecuali Lucas.
Pria itu adalah Silver, bawahan Hades. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan santai dan memberikan dokumen di tangannya kepada Nyonya Celine.
"Maaf, Anda siapa, Tuan?" tanya Nyonya Celine dengan ramah.
"Saya sebagai penerima kuasa dari Tuan Anderson Xiao memberikan suara kepada Tuan Vincent. Tuan Anderson juga telah mengalihkan saham miliknya yang ada di Royal Group sebesar lima persen kepada Tuan Vincent. Saya rasa keputusan rapat tadi bisa segera diubah, Nyonya Celine," terang Silver santai.
Nyonya Celine tersenyum sumringah mendengarkan penjelasan pria muda di depannya itu, walaupun ia sendiri tidak tahu siapa itu Tuan Anderson.
"Baiklah, jika dihitung dari persentase kali ini, Vincent menjadi pemegang saham terbesar di Royal Group dan jumlah suara yang diberikan juga melebihi persentase, maka jabatan Direktur Utama tetap dipegang oleh Vincent," papar Nyonya Celine.
Setelah mendengarkan keputusan itu, Adrian mendengus kasar dan meninggalkan ruang rapat itu dengan wajah kesal.
Vincent berdiri menatap pria bermata perak di depannya saat ini. Tatapannya begitu datar. Vincent bisa merasakan aura dingin dari pria itu, tetapi ia tidak merasa takut berhadapan dengannya, malah ia merasa tertarik untuk menjadikannya sebagai tangan kanan di perusahaannya.
"Apa aku boleh tahu siapa itu Tuan Anderson Xiao? Kenapa ia membantuku?" tanya Vincent penasaran.
Silver tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menarik ujung bibirnya sedikit. "Pesan yang ingin disampaikan oleh Tuan Anderson telah saya sampaikan. Saya permisi dulu," pamitnya dan berjalan meninggalkan ruangan rapat.
"Tunggu!" panggil Vincent membuat Silver berbalik dan menghentikan langkahnya.
"Siapa namamu?" tanya Vincent.
"Aku tak punya nama, tetapi mereka memanggilku Silver," jawab Silver datar, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.
"Nama yang aneh dan unik," gumam Vincent mengerutkan dahinya.
Vincent kembali ke ruangan kerjanya dan mencoba mencari tahu nama Anderson Xiao di profil para pengusaha, tetapi tidak ia temukan.
"Sungguh aneh," gumamnya sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1
Ponsel Vincent berdering, ia segera mengangkatnya ketika melihat nama di layar ponselnya.
"Halo," jawab Vincent cepat.
Si penelpon itu menyunggingkan senyumnya dan tertawa kecil. "Aku tak menyangka kamu akan mengangkat teleponku dengan begitu cepat. Apa kamu merindukanku?" ledeknya.
"Tidak usah basa-basi. Cepat katakan, apa kamu sudah mendapatkan informasinya, Leon?"
Leon mendengus pelan mendengar suara Vincent yang dingin, "Begitukah caramu meminta tolong kepada seseorang?" sindir Leon lagi.
"Jadi bagaimana maunya?" balas Vincent acuh tak acuh.
"Panggil aku Kakak," ucap Leon kepada Vincent.
Vincent terdiam mendengarkan ucapan Leon itu. Sudah lama ia tidak memanggilnya dengan sebutan itu semenjak mereka berselisih. Walaupun sekarang mereka sudah berbaikan, tetapi Vincent merasa risih memanggilnya seperti itu.
"Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak jadi memberikan hasil laporan DNA Elaine kepadamu," ancam Leon secara halus.
'Dasar sial!' batin Vincent geram mendengarkan ancaman Leon kepadanya.
Vincent mendengus kasar. "Bisa kamu beritahu kepadaku sekarang, Kak?" tanya Vincent dengan wajah kesal.
Leon tertawa kecil mendengarkan pertanyaan Vincent. "Baiklah, hasilnya akan aku kirimkan ke email-mu. Kamu bisa melihatnya sendiri. Oke, bye."
"Dasar! Dia menelponku cuma ingin mengolokku!" gerutu Vincent kesal sudah dipermainkan Leon.
Tidak berapa lama, satu pesan masuk ke dalam email Vincent. Ia segera membukanya dan tersenyum membaca hasil laporan dari Leon.
Vincent menghela nafas lega. 'Ternyata dia bisa diandalkan juga, walau sedikit mengesalkan,' batin Vincent memuji Leon yang telah membantunya kali ini.
Hasil laporan DNA itu menunjukkan bahwa Elaine bukanlah putri kandungnya. Sebelumnya Vincent sudah meninggalkan beberapa helai rambutnya kepada Leon untuk diidentifikasi DNA miliknya dengan Elaine. Entah bagaimana cara Leon bisa mendapatkan sampel milik Elaine, tetapi kali ini ia benar-benar berterima kasih kepada sahabatnya itu. Dengan adanya bukti laporan itu, Eva tidak akan bisa memaksanya untuk mengakui Elaine sebagai putrinya.
Telepon di meja kantor Vincent berbunyi, ia pun segera menjawabnya. Resepsionis perusahaannya melaporkan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya, namun tamu itu tidak memiliki janji sebelumnya.
"Siapa?" tanya Vincent datar.
"Beliau bilang kalau beliau adalah ibunya Nona Amira Lin," jawab resepsionis itu dengan cara bicaranya yang profesional.
Vincent terkejut, ia tak menyangka calon ibu mertuanya langsung datang menemuinya. Dengan segera Vincent meminta karyawannya itu untuk mengantar Nyonya Merina ke ruangannya dan ia pun menutup teleponnya.
Vincent segera merapikan penampilannya. Ia sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ibu dari kekasihnya itu.
To be continue ....
__ADS_1