
Dua hari di rumah tanpa melakukan apapun terasa sangat membosankan bagi Amira. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk bekerja hari ini karena kondisi kesehatannya yang memang sudah membaik dari kemarin, ruam-ruam di kulitnya juga sudah hilang hari ini.
Amira membicarakan keputusannya itu kepada Vincent, tetapi bukan dukungan yang ia dapat malah kekasihnya itu melarang Amira untuk masuk ke kantor, dengan alasan tidak ada hal yang bisa ia kerjakan walaupun ia masuk bekerja. Amira kesal mendengar alasan yang terlalu dibuat-buat itu, tetapi ia tau Vincent pasti tidak akan mengubah keputusannya.
Bukan tanpa sebab Vincent melarangnya, tetapi ia sedang menyelidiki Steve saat ini walaupun sebenarnya kecurigaannya belum sepenuhnya benar. Ia tidak ingin Amira terlibat di dalamnya.
"Kamu baik-baik aja di rumah ya, Sayang," pesan Vincent sambil mengecup puncak kepala Amira dan mengusapnya pelan. Amira hanya menjawabnya dengan anggukan. Wajahnya terlihat masam saat ini, tetapi Vincent tidak peduli.
Setelah Vincent keluar dari apartemen, akhirnya Amira memutuskan pergi diam-diam ke kantor tanpa mempedulikan larangan dari kekasihnya itu. Amira bergegas berbenah diri dan keluar mencari taksi menuju Little Royal.
Saat ini Amira sudah berdiri di depan pintu Gedung Little Royal. Ia melirik jam di ponselnya, masih ada sisa waktu lima menit baginya untuk melakukan absen. Ia segera berlari masuk dan menempelkan kartu karyawannya di mesin absen.
Amira bernafas lega dan mengelus dadanya, "Untung aja masih keburu," gumamnya. Ia segera menuju lift dan berdiri di depan pintu lift menunggu antrian.
Tidak berapa lama, pintu lift khusus direksi terbuka. Vincent yang saat ini berdiri di dalam lift terkejut melihat kekasihnya yang berada di depannya. Ia menatap tajam ke arah Amira yang mematung karena terkejut melihat dirinya juga. Ia perlahan berjalan keluar ingin menghampiri gadis itu di antara kerumunan karyawan yang mengantri lift di samping.
'Aduh ketahuan deh! Pasti dia marah sekarang!' batin Amira gugup melihat tatapan tajam milik Vincent yang tidak berkedip menatapnya.
Amira menelan salivanya dengan bersusah payah dan menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangannya, segera berbaur dengan kerumunan orang di tengah. Pintu lift di sampingnya terbuka, Amira segera berlari masuk ke dalam sebelum Vincent menangkapnya dan menceramahinya.
Vincent mengeratkan giginya kesal melihat tingkah Amira dan menggenggam tangannya erat.
"Pak, mobilnya sudah disiapkan," panggil Olivia, sekretaris Vincent, menyadarkan Vincent dari lamunannya. Vincent hanya mengangguk dan berjalan menuju mobilnya bersama Olivia yang memang rencananya mereka ingin bertemu dengan klien pagi ini.
Vincent terpaksa mengabaikan urusan pribadinya saat ini dan akan membereskannya setelah ia pulang dari pertemuannya.
Setelah sampai di ruangan kantornya, Amira baru bisa bernafas lega karena Vincent tidak mengejarnya. Ia segera menuju ke kubikelnya dan duduk di kursi kerjanya.
Amira mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari tadi. Tiffany yang baru datang melihat Amira dan menepuk pundaknya membuat Amira menoleh kaget.
"Hahaha kamu kenapa? Habis ketemu setan?" tanya Tiffany tertawa melihat ekspresi Amira.
"Oh kamu, ngagetin aja!" tukas Amira lega.
"Aku tanya kamu kenapa? Ketakutan begitu, habis ketemu setan?" tanya Tiffany lagi karena belum mendapatkan jawaban.
"Iya abis ketemu setan. Setan tampan. Kamu mau?" balas Amira kesal karena diledek.
__ADS_1
Tiffany tertawa lagi mendengarkan jawaban Amira, "Hahahaha ... Ngaco, pagi-pagi begini ketemu setan di mana? Tampan lagi ... hahaha."
"Ada ... Tuh di lantai 22 kalau mau ketemu," sahut Amira ketus.
Tiffany terdiam dan menelan salivanya pelan mendengarkan jawaban Amira. Ia mengerucutkan bibirnya, "Huh, cowok sendiri dibilang setan ... tapi iya sih, kalau marah emang nyeremin."
Amira menyunggingkan senyuman kudanya, memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Kamu gimana? Sudah mendingan?" tanya Tiffany menanyakan keadaan Amira yang disambut anggukan darinya.
"Maaf ya kemarin aku ga bisa jenguk, soalnya beberapa hari ini lembur terus. Kak Steve lagi bad mood akhir-akhir ini," jelas Tiffany.
"Lho, kenapa? Emangnya ada apa dengan Kak Steve?"
Tiffany menggedikkan bahunya, "Tau tuh ...."
Amira mengerutkan keningnya heran mendengar informasi dari Tiffany.
'Sebenarnya apa yang terjadi selama dua hari ini?' gumam Amira di dalam hati.
Tidak beberapa lama, Steve keluar dari ruangannya dan mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan rapat lagi. Semua bergegas menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan, kecuali Amira yang tidak tahu apa-apa saat ini.
"Baiklah rapat hari ini sampai di sini saja," ujar Steve mengakhiri rapat siang itu.
"Terima kasih atas partisipasi dan kerja sama kalian beberapa hari ini. Maaf kalau beberapa hari ini saya sedikit emosional," ujar Steve kepada para rekan satu timnya. Ia merasa bersalah kepada mereka karena keegoisannya ingin segera menyelesaikan rancangan proyek Green Resort.
"Tidak apa-apa, Kak. Kami tau kalau kamu juga ditekan dari atasan kan?" ucap Linda, salah satu anggota timnya yang disambut anggukan anggota tim yang lain.
Steve menanggapinya dengan senyuman dan merasa semakin bersalah, "Terima kasih," ucapnya tulus.
"Ami, jangan lupa hasil laporan rapatnya nanti letakkan di meja saya," pesan Steve kepada Amira yang dijawab anggukan oleh Amira.
Semua orang bergegas keluar dari ruang rapat. Mereka butuh mengistirahatkan pikiran mereka karena beberapa hari ini otak mereka habis terkuras demi menyelesaikan hasil rancangan Green Resort.
Steve masih berada di dalam ruang rapat, ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan mengusap wajahnya kasar. Raut wajahnya terlihat lelah karena selama beberapa hari ini ia kurang istirahat demi menyelesaikan rancangan itu. Akhirnya hari ini semuanya selesai, ia tinggal meminta persetujuan dari Vincent dan dapat segera menyelamatkan adiknya, Helen.
Sebenarnya Steve merasa bersalah kepada rekan-rekan kerjanya yang telah mengorbankan waktu dan pikirannya untuk menyelesaikan rancangan itu dan ia malah akan membocorkan rancangan itu demi kepentingannya sendiri. Tetapi ia tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
"Aku duluan ya, Ami," ucap Tiffany sebelum pergi ke kantin.
Amira hanya melingkarkan jari telunjuknya dan jempolnya menandakan 'oke' kepada Tiffany.
"Kamu beneran gak mau dibeliin apa-apa?" tanya Tiffany lagi karena Amira tidak menitipkan makanan untuk makan siangnya.
"Nggak. Sudah sana, nanti aku nyusul. Ini sebentar lagi selesai kok, lagi nanggung nih," jawab Amira menatap layar komputernya dan dengan sepuluh jarinya sibuk menekan tombol keyboard di depannya.
"Baiklah," sahut Tiffany sambil berlalu meninggalkan Amira.
Amira sedang sibuk membuat hasil laporan rapat di depan komputernya. Ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya itu. Tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Tanpa memalingkan wajah dari komputernya, Amira mengangkat gagang telepon itu dan menempelkannya di antara telinga dan pundaknya, karena saat ini kedua tangannya sedang sibuk mengetik.
"Halo," sapa Amira kepada si penelepon.
"Sibuk sekali sepertinya," jawab suara seorang pria yang terdengar dingin di telinga Amira. Dengusan pria itu terdengar di telepon.
Jari-jari Amira yang tadi sibuk tanpa henti di atas keyboard, tiba-tiba berhenti mendengarkan suara pria itu, yang tidak lain adalah Vincent. Mulut Amira menganga dan menggigit bibir bawahnya.
"He-he-he ... Ada yang bisa saya bantu, Tuan Zhang?" tanya Amira sambil tersenyum kikuk berusaha menutupi keterkejutannya.
"Ke ruanganku sekarang!" perintah Vincent kesal mendengarkan panggilan Amira terhadapnya saat ini.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi!" potong Vincent terhadap penolakan yang akan diajukan Amira. Vincent langsung menutup teleponnya sepihak. Amira membulatkan matanya lebar mendengar suara bantingan telepon di seberang.
"Huh! Seenaknya aja main perintah. Aku gak mau ke sana!" teriak Amira di depan gagang telepon itu sambil menjulurkan lidahnya, kemudian meletakkan gagang teleponnya dengan kasar juga.
Amira tidak peduli Vincent marah padanya nanti. Dari tadi pagi, ia sudah kesal dengannya karena tidak diperbolehkan masuk ke kantor dan sekarang seenaknya menyuruhnya.
Amira berusaha meredakan emosinya dan menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia kembali berkutat di depan layar komputer melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sedangkan saat ini Vincent dengan wajah kesal masih menunggu Amira datang ke ruangannnya, tanpa ia ketahui bahwa gadis itu sengaja tidak menghiraukan perintahnya tadi.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1