Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 118


__ADS_3

Kediaman Keluarga Lin.


Nyonya Celine mondar-mandir di depan ruang tengah rumahnya. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel putrinya berkali-kali, namun tidak dijawab.


Kakek Juan yang melihat menantunya berjalan bolak-balik pun ikut pusing. "Bisakah kamu duduk? Aku makin pusing melihatmu berjalan di depanku," pinta Kakek Juan.


"Maafkan aku, Ayah. Aku hanya … hanya khawatir," ucap Nyonya Merina.


"Ami sudah besar, bukan anak kecil lagi. Kamu seharusnya tidak mencampuri urusannya dengan begitu ketat. Cukup perhatikan dan tegur dia jika dia salah melangkah. Kalau kamu seperti ini mengekang kebebasannya, akhirnya kamu lihat sendiri, dia malah kabur dari rumah!" tukas Kakek Juan sedikit kesal dengan menantunya itu.


Nyonya Merina menundukkan wajahnya. Ia menyadari bahwa yang diucapkan Kakek Juan benar.


"Tenanglah. Daniel juga sudah pergi mencarinya," lanjut Kakek Juan lagi.


Nyonya Merina mengangguk, hanya saja hatinya merasa tidak tenang. Belum lagi hari yang sudah mulai gelap.


"Sampai kapan kamu mau menyembunyikannya dari Ami? Sebaiknya kamu mengatakan kepadanya, dia pasti akan menerimanya perlahan. Lihat saja, aku saja bisa menerimanya. Walau awalnya aku sedikit kesal kepadamu," omel Kakek Juan.


Nyonya Merina menghela nafas pelan. Ia memejamkan matanya erat, tidak membantah ucapan mertuanya itu.


"Baiklah, Ayah. Aku akan coba membicarakannya nanti kepada Ami," sahut Nyonya Merina memutuskan untuk memberitahu kebenaran yang terjadi, tetapi ia tidak tahu bahwa Vincent telah menghancurkan hati putrinya saat ini atas saran darinya kemarin.


Cahaya bulan menemani langkah Amira saat ini. Sudah hampir seharian ia berjalan tanpa arah. Pikirannya kosong. Wajahnya kusut, jejak-jejak air mata masih tersisa di pipinya. Rasa lelah yang menderanya saat ini tidak menghentikan langkahnya.


Dirinya saat ini seperti tubuh yang tidak memiliki jiwa. Rasanya separuh jiwanya telah hilang sejak ia keluar dari Gedung Royal Group. Hampa, itulah yang ia rasakan saat ini. Vincent telah membawa jiwanya bersamanya, meninggalkannya seorang diri. Sesekali gadis itu berjalan menabrak orang-orang yang melewatinya, mereka mengumpat kepadanya, tetapi gadis itu tidak menghiraukannya.


Amira menatap langit malam itu. Ia melihat bangunan di depannya, kemudian tertawa miris dan menangisi dirinya sendiri. Sekarang ia berdiri di depan apartemen kekasihnya. Tanpa ia sadari kakinya melangkah ke tempat itu.


'Ami, apa kamu belum puas menerima hinaan darinya? Kenapa kamu masih terus memikirkannya?'


Amira merutuki dirinya sendiri di dalam hatinya. Ia memukul dadanya sendiri berkali-kali. Nama pria itu telah terukir begitu dalam di dalam hatinya. Ingin rasanya ia mengeluarkan jantungnya saat ini dan menorehkan sebilah pisau untuk menghapus nama pria itu.


'Apa pengkhianatannya belum cukup menyiksamu saat ini?'

__ADS_1


Bayangan kekasihnya bersama Anna tadi terus melintasi pikirannya. Sekarang di kepalanya terus terngiang-ngiang deretan kalimat yang pernah diucapkan mantan kekasihnya itu, begitu menyiksa dirinya.


Dasar bodoh! Sejak kapan aku bilang mau meninggalkanmu? Kamu juga dilarang meninggalkan aku tanpa aku minta, mengerti?


Tidak akan ada hari itu! Jangan harap kamu bisa pergi dari sisiku selamanya!


Be my wife, Amira Lin.


Impianku sekarang adalah kamu. Aku ingin setiap aku terbangun dari tidurku, kamu lah orang pertama yang kulihat. Begitupun ketika malam tiba, aku ingin menatapmu sebelum aku terlelap, memelukmu dalam tidurku. Apa kamu mau membantuku mewujudkan impianku ini, Ami?


Segala ucapan dan janji manis Vincent kepadanya seakan seperti sebuah radio rusak yang terus bergema di kepalanya. Semua kasih sayang yang pernah dicurahkan kepadanya seakan hanyalah mimpi belaka.


"Bukankah kamu bilang aku tidak ijinkan untuk meninggalkanmu selamanya? Tapi kenapa? Kenapa sekarang kamu seperti ini, Vincent!" teriak Amira di dalam tangisnya.


Amira melihat gelang pemberian kekasihnya dulu. Ia mencoba membukanya namun tidak berhasil. Berkali-kali ia mencoba menariknya keluar, namun apa daya usahanya sia-sia. Gelang tersebut begitu pas di pergelangannya, tidak ada celah baginya untuk melepaskannya. Gadis itu merasa tersiksa dengan kenangan mereka berdua. Ia ingin membuangnya jauh-jauh saat ini.


Gadis itu terduduk di depan apartemen kekasihnya itu dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia meraung histeris dan menangis tersedu-sedu, tidak menghiraukan sekelilingnya lagi yang telah menatapnya dengan berbagai ekspresi aneh dan iba.


Di Apartemen Jade Elite.


Vincent merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengahnya. Ia memejamkan matanya erat. Rasa lelah selama beberapa hari ini begitu menderanya, namun dirinya tidak dapat tertidur lelap. Sosok Amira terus menari di dalam pikirannya. Ia tidak dapat melupakan wajah sedih dan tangis gadis itu saat melihat dirinya bersama Anna.


Vincent berjalan ke mini bar dan mengambil sebotol anggur merah, kemudian meneguknya langsung dari botol itu. Dua hari ini anggur merah itulah yang telah setia menemani tidurnya setiap malam.


Dering ponsel di atas meja ruangan itu tidak dihiraukan olehnya. Ia terus meneguk setiap tetes anggur merah itu. Pria itu berharap dirinya mabuk dan dapat melupakan hari ini. Namun hingga tetesan terakhir dari anggur merah itu pun sama sekali tidak membuatnya mabuk. Malah membuatnya semakin sadar. Sadar akan perbuatannya yang telah melukai gadis yang ia cintai. Sadar bahwa ia masih sangat mencintai gadis itu. Ia tidak rela melepaskannya begitu saja, walau gadis itu mungkin sangat membencinya sekarang.


Ponsel Vincent masih setia berdering. Vincent melirik sekilas nama layar di ponsel itu. Daniel menghubunginya. Dengan cepat ia mengangkatnya dan mendengarkan suara Daniel yang begitu panik.


"Aku akan mencarinya," jawab Vincent cepat setelah mendengarkan permohonan Daniel yang sudah frustasi mencari adiknya itu. Pasalnya hari sudah menjelang tengah malam dan gadis itu masih belum pulang.


Vincent mematikan teleponnya. Ia segera berdiri, namun kepalanya terasa pusing akibat alkohol yang diminumnya. Ia berjalan menuju kamar mandi, membuka keran shower-nya, membasahi kepalanya agar pikirannya lebih segar, kemudian mencari aspirin di dalam kotak obat dan segera meminumnya untuk menghilangkan sakit kepala yang dideranya.


Vincent segera mengambil ponselnya. Ia membuka GPS miliknya untuk mencari lokasi keberadaan gadis itu yang dilacak dari gelang pemberiannya. Ia mengerutkan keningnya heran ketika melihat posisi titik dari alat pelacak itu. Gadis itu berada tidak jauh dari apartemennya.

__ADS_1


Vincent segera berlari keluar dari apartemennya. Menekan tombol liftnya berkali-kali dengan tidak sabar, kemudian masuk ke dalam menuju lobby apartemen. Secepat kilat ia keluar dari lift setelah lift mencapai lobby. Ia pun berlari keluar dari apartemen.


Lucas yang saat itu menunggu Vincent di lobby apartemen kaget melihat atasannya yang tiba-tiba berlari keluar. Ia segera mengikutinya dari belakang. Lucas sengaja menunggunya di sana atas perintah Nyonya Celine yang takut cucunya berbuat nekat. Awalnya ia ingin menemani Vincent di dalam apartemennya, namun pria itu mengusirnya keluar.


Vincent menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari posisi gadis itu. Alat pelacaknya terus berbunyi dan berhenti ketika keberadaan gadis itu sudah di dekatnya.


Ia melihat sesosok gadis yang duduk membelakanginya di pinggiran air mancur depan apartemen itu. Tubuh gadis itu bergetar, Vincent tahu gadis itu sedang menangis sekarang. Ia berjalan perlahan mendekati gadis itu dan memanggilnya dengan lembut.


"Ami .…"


Amira mematung mendengar suara panggilan Vincent di belakangnya.


'Tidak, ini pasti hanya khayalanku saja. Bagaimana mungkin dia tahu aku berada di sini? Ini pasti hanya ilusi,' batin Amira tidak mempercayai pendengarannya.


Gadis itu menutup matanya erat, namun suara itu semakin terdengar nyata di telinganya.


"Ami!" panggil Vincent kali ini dengan lebih kuat.


Amira membuka matanya dan menoleh. Matanya membulat melihat sosok Vincent berdiri di belakangnya dengan tatapan nanar kepadanya. Ia segera beranjak dari duduknya dan berlari.


Vincent dengan cepat mengejarnya hingga mereka berada di pinggir jalan raya dan menarik tangan Amira, kemudian membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Lepaskan! Lepaskan aku, Vincent!" teriak Amira histeris dan memukul punggung pria itu dengan sekuat tenaga.


Vincent tidak mempedulikan pukulan gadis itu yang melimpahkan segala kebenciannya. Ia tetap pada posisinya memeluknya erat, hingga gadis itu mendorongnya menjauh dengan segala kekuatannya yang dimilikinya saat ini. Satu tamparan dari tangan gadis itu melayang ke wajahnya yang begitu menyedihkan.


Amira menatap pria di depannya dengan tajam. Ia menanti balasan darinya. Namun bukan kemarahan yang didapatkan Amira, Vincent tertawa. Pria itu menertawakan dirinya sendiri yang begitu mengenaskan saat ini.


"Kamu sudah gila!" teriak Amira menatap Vincent dengan dingin. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari pria itu.


"Iya, aku sudah gila …," gumam Vincent pelan, "Aku sudah gila karena begitu mencintaimu!" teriak Vincent lantang membuat Amira menghentikan langkahnya.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2