
**Halo readers ...
Maaf baru up hari ini, karena ada berbagai kerjaan di dunia nyata.
Hari ini rencananya Author akan mengupload 3-4 bab sekaligus. Mohon dukungannya untuk like setiap bab dan vote cerita ini agar Author makin semangat.
Selamat membaca dan tetap membaca sampai akhir ya 🥰
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆**
Kediaman Keluarga Lin.
Vincent melirik jam di pergelangan tangannya, telah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia melihat ke arah rumah di depannya, beberapa lampu sudah padam hanya tersisa lampu teras dan lampu taman saja.
Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada kekasihnya itu. Awalnya ia ingin menghubunginya, tetapi diurungkan niatnya takut membangunkan gadis itu apabila ia telah tertidur.
My Bear ❤
Apa kamu sudah tidur?
Tidak perlu menunggu lama, pesan itu langsung dibalas oleh kekasihnya. Vincent menyunggingkan senyumnya membaca pesannya.
My Chubby ❤
Belum. Kamu sudah di mana, Sayang?
Vincent segera menekan nomor ponsel kekasihnya itu dan melakukan panggilan keluar.
Baru satu nada dering masuk, gadis itu langsung mengangkatnya.
"Halo," jawab Amira di seberang teleponnya.
"Aku sudah di luar gerbang," ucap Vincent cepat.
Amira terkesiap dan segera menjawab, "Baiklah, tunggu aku sebentar." Ia mematikan sambungan teleponnya dan bergegas keluar.
Tidak berapa lama, gadis itu keluar dengan menggunakan piyama dengan dilapisi mantel tebal di luarnya. Ia melihat Vincent yang berdiri di luar gerbang rumahnya dengan menyenderkan tubuhnya ke badan mobil di belakangnya sambil melipat kedua tangannya.
"Aku pikir kamu sudah tidur," ucap Vincent ketika gadis itu sudah berada di depannya.
"Belum. Kamu bilang mau datang, jadi aku menunggumu sambil membuatkan ini," balas Amira sambil menyodorkan sekotak makanan di hadapan Vincent.
"Katanya hari ini kamu gak makan dengan baik. Apa kamu tidak bisa menjaga dirimu? Kalau kamu sakit bagaimana?" omel Amira panjang lebar.
__ADS_1
"Katanya?" Vincent mengerutkan keningnya mendengarkan omelan kekasihnya itu.
Amira segera menutup mulutnya rapat-rapat. Ia keceplosan tadi.
"Oh, sekarang Lucas menjadi mata-mata kamu? Sepertinya besok aku perlu mempertimbangkan posisinya lagi," gumam Vincent manggut-manggut setelah bisa menebak siapa orang yang telah melaporkan kepada kekasihnya itu.
"Jangan! Dia kan peduli sama kamu, Vin. Kamu gak boleh gitu," protes Amira membela Lucas. Ia tidak ingin Lucas mendapatkan masalah gara-gara dirinya.
"Kenapa? Jadi sekarang kamu membelanya? Kalau begitu aku besok mengirimnya ke tempat lain saja," balas Vincent bercanda, tetapi masih dengan raut wajah serius.
Amira memanyunkan bibirnya mendengar rencana kekasihnya itu yang tidak masuk akal. Ia menutup mulutnya rapat-rapat kali ini.
Vincent tersenyum dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat. "Aku bohong kok, Sayang. Gak mungkin aku memindahkannya. Aku hanya tidak suka kamu membicarakan pria lain di hadapanku, apalagi membelanya," bisiknya pelan.
Amira ingin melepaskan pelukan Vincent, tetapi pria itu menahannya dan memeluknya erat. "Biarkan aku seperti ini sebentar saja," bisik Vincent lagi.
Vincent membenamkan wajahnya di pundak kekasihnya. Rasa lelahnya seakan menguap bersama dengan rasa rindunya saat ini. Amira hanya bisa memasrahkan dirinya dipeluk seperti itu.
"Apa kamu sedang ada masalah, Sayang?" tanya Amira yang masih dalam pelukan Vincent.
Vincent hanya diam dan menggeleng pelan. Kali ini ia mengecup kening gadis itu dan menatap matanya dengan lembut. "Tidak ada. Aku hanya kangen sama kamu," ucapnya.
Amira tahu pria itu berbohong padanya. Ia bertekad akan mencari tahu nanti.
"Tidak apa-apa. Aku suka apapun yang kamu masak," balas Vincent dan menarik tangan Amira. Ia membuka pintu mobil belakang dan menyuruh gadis itu masuk ke dalam. "Di luar dingin, lebih baik di dalam aja."
Dalam beberapa menit, Vincent sudah menghabiskan sekotak nasi goreng buatan kekasihnya itu. "Enak," pujinya.
Amira tersenyum lebar. "Tentu saja enak. Siapa dulu dong yang buat," ucap Amira narsis.
Vincent mencubit kedua pipi gadis itu dan dengan cepat mencium bibir gadis itu sebelum ia diprotes. Ciuman itu perlahan dan lembut, namun tidak menuntut.
Amira merangkulkan lengannya pada leher pria itu dan membalas ciumannya, hingga mereka kehabisan nafas dan saling melepaskan diri, mencari udara di sekitarnya.
Vincent menatap gadis itu dengan lembut, rasanya ingin ia menerkamnya saat itu juga, tetapi ia sadar gadis itu pasti tidak akan menyukainya. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke depan, tidak ingin berlama-lama menatap kekasihnya itu agar hasratnya tidak muncul kembali.
"Katanya kamu kabur dari rumah tadi siang?" tanya Vincent mencoba mencari pembicaraan untuk mengalihkan pikirannya.
Amira mengangguk pelan dan mendesah kasar.
Vincent berbalik melihat wajah kusut pada gadis itu. "Kenapa? Kamu bertengkar dengan ibumu? Ibumu sudah tahu hubungan kita?" tebak Vincent yang mendapati anggukan dari gadis itu.
"Aku sungguh tak mengerti, Vin. Kenapa mereka semua selalu menyuruhku untuk berpisah denganmu? Aku tidak mau dan tidak ingin!" teriak Amira frustasi.
__ADS_1
Vincent menarik kembali tubuh gadis itu dan memeluknya. Mengusap punggung gadis itu, mencoba untuk menghiburnya.
"Sabar ya, Sayang. Aku akan mencari waktu untuk menemui ibumu. Biar aku yang berbicara padanya," hibur Vincent.
Amira mengangguk dan membenamkan wajahnya di pelukan pria itu, hingga dirinya terlelap bersamanya.
°
°
°
°
°
Sementara itu di tempat lain, Blue Lake Residence.
Adrian baru saja pulang dari kantor. Ia memasuki pekarangan rumah yang baru ia tempati beberapa hari ini dan memarkirkan mobilnya di garasi.
Senyum sumringahnya terus tercetak di bibirnya, hingga ia masuk ke dalam kamarnya. Seorang wanita sedang duduk di atas tempat tidurnya, menyenderkan punggungnya dan melipat kedua tangannya. Wajahnya tidak terlihat senang, pasalnya sedari tadi ia menunggu suaminya pulang dan telah menelponnya berpuluh-puluh kali, namun tidak dijawab.
Senyum Adrian memudar melihat wajah masam wanita yang sekarang berstatus istrinya itu. Wanita itu menatapnya sejak tadi dan mengerutkan keningnya heran melihat senyuman sekilas di wajah suaminya itu yang sudah lama tidak ia lihat.
Baru satu bulan lebih mereka menikah, namun pernikahan bahagia yang menjadi idamannya selama ini hancur berkeping-keping. Sebelum menikah, Adrian sudah pernah mengatakan bahwa ia tidak mencintai Emmy, namun wanita itu bersikeras ingin pria itu menikahinya. Emmy berpikir bahwa Adrian perlahan-lahan akan mencintainya, namun ia salah. Pria yang berstatus sebagai suaminya saat ini sama sekali tidak pernah meliriknya, bahkan untuk menjamah tubuhnya pun ia enggan.
Emmy tahu Adrian menikahinya hanya demi kekuasaan dan harta keluarganya, tetapi rasa cintanya telah membutakan dirinya. Ia rela membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh pria itu.
"Kamu dari mana?" tanya Emmy datar. Walaupun ia tahu Adrian tidak akan menjawab pertanyaannya, tetapi ia penasaran kali ini, karena suaminya pulang dengan wajah yang berbeda dari biasanya.
Emmy berjalan mendekati suaminya itu, membantunya membuka dasinya dan kemejanya.
"Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?" tanya Emmy lagi.
"Baterainya mati," jawab Adrian malas dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Emmy menghela nafas panjang dan meletakkan pakaian suaminya ke dalam keranjang tumpukan baju kotor. Ia berpikir untuk kembali tidur, namun suara deringan ponsel dari tas kerja suaminya mengurungkan niatnya.
'Katanya baterainya mati. Dasar pembohong!' batin Emmy kesal.
Emmy pun mengambil tas kerja suaminya dan mengeluarkan ponselnya. Satu pesan masuk ke dalam nomor itu, namun ia mengabaikannya, mengembalikannya ke layar depan. Matanya membulat menatap layar ponsel itu dan memincing tajam. Ia meremas ponsel tersebut dengan erat dan mengeratkan giginya. Amarahnya saat ini bukan tertuju kepada orang yang telah mengirim pesan kepada suaminya itu, tetapi lebih kepada gambar yang terpasang di layar depan ponsel suaminya saat ini. Gambar seorang gadis cantik yang mengenakan gaun pengantin dan tersenyum ke arahnya.
'Siapa dia? Apa gadis ini yang membuatnya tersenyum hari ini?' batin Emmy yang sudah memendam amarah di dalam dadanya.
__ADS_1
To be continue ....