
"Kamu siapa?" tanya Amira kepada Vincent.
Vincent tertegun mendengarnya dan menatap Amira dengan heran, "Kamu tidak kenal aku, Ami?"
"Nggak," jawab Amira datar.
"Kamu benar tidak ingat?" tanya Vincent lagi dan memegang tangan Amira.
"Jangan sentuh aku!" teriak Amira dan menepis tangan Vincent.
Vincent menatap Amira tajam, mencari kebohongan di mata gadis itu. Amira memalingkan wajahnya, dia tidak berani melihat ke mata Vincent.
"Aduh, bagaimana ini? Apa aku ketahuan ya? Kalau ketahuan, ****** deh aku," batin Amira yang sudah ketar-ketir.
Vincent tersenyum, dia tau Amira berbohong padanya, buktinya dia tidak berani menatap matanya saat ini.
" Gadis ini pintar sekali berakting! Baiklah, kalau kamu mau berakting, akan aku ladeni. Akan aku lihat sampai batas mana kemampuanmu membohongiku, huh!" Vincent mendengus pelan dan menyeringai sinis.
"Baiklah, kamu tidak ingat. Tidak apa-apa," jawab Vincent yang mengagetkan lamunan Amira.
"Aku akan pelan-pelan membuatmu ingat siapa aku bagimu," ucap Vincent dengan lembut dan menggoda.
Vincent mendekatkan wajahnya ke wajah Amira, kemudian berbisik di telinganya, "Aku ini suamimu, Ami." Vincent mencium bibir Amira sekilas.
Amira melongo mendengarnya, dan mendorong tubuh Vincent agar menjauh.
"Dasar pembohong mesum!" ucap Amira.
"Oh ya? Jadi menurutmu aku siapa?" pancing Vincent.
"Kamu itu kan..." Amira terdiam, dia sadar kalau dia sudah masuk ke dalam jebakan Vincent.
Dia menggigit bibir bawahnya dan mendengus kasar.
Vincent tersenyum senang melihat tingkah Amira, "Aku siapa?" tanya Vincent lagi yang membuat Amira sebal setengah mati.
"Kamu itu kan Vincent, puas !" ucap Amira kesal sudah dipermainkan Vincent.
"HAHAHAHAHAHA," Vincent tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata.
"Sudah diam, Vincent. Tidak lucu!" ucap Amira kesal.
Vincent mencoba menghentikan tawanya dan mengelap air mata yang keluar karena tidak dapat menahannya.
"Kamu berani membohongiku lagi?" tanya Vincent sambil mendekatkan wajahnya ingin mencium Amira.
__ADS_1
Amira memalingkan wajahnya dan mendorong wajah Vincent sehingga mengenai luka di wajah Vincent.
"Aaah," Vincent meringis. Amira melihat Vincent yang menahan sakit.
"Maaf, wajahmu kenapa? Kenapa jadi begitu?" tanya Amira yang sebenarnya sudah penasaran dari tadi.
"Tidak kenapa-kenapa. Walaupun begini, tapi aku masih tetap tampan kan?" ucap Vincent menyombongkan dirinya.
"Cih! Dasar narsis!" Amira mencibir.
CKLEK!
Pintu ruang rawat Amira terbuka.
Daniel Lin masuk ke dalam ruangan tersebut. "Kakak?" ucap Amira kaget dengan kedatangan kakaknya.
Daniel langsung mendekati Amira dan memeluk adiknya, "Kamu sudah sadar, Ami? Syukurlah, kakak khawatir sekali dari semalam," ucap Daniel lega, kemudian melepaskan pelukannya.
"Kakak kenapa bisa tau aku di sini?" tanya Amira.
"Tiffany yang kasi tau semalam, jadi kakak pagi-pagi kemari," jawab Daniel.
"Lalu kakek dan ibu juga tau?" tanya Amira panik, dia tidak ingin membuat kakek dan ibunya cemas dengan keadaannya.
"Tenang saja. Kakak tidak bilang. Kakak bilang ada urusan bisnis di Amigos," ucap Daniel dan membuat Amira lega.
Vincent mengangguk dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Daniel. Daniel menyambut uluran tangannya.
"Senang bertemu dengan anda, Tuan Lin," ucap Vincent sopan.
"Anda tidak perlu sungkan, panggil saja aku dengan nama, umur kita sama," tanya Daniel.
"Baiklah, Daniel. Kamu boleh memanggilku Vincent," balas Vincent. Daniel mengangguk.
"Mmm... kenapa kamu bisa ada di sini, Vincent? Terus wajahmu kenapa? Apa gara-gara Amira?" tanya Daniel sambil menatap adiknya.
"Iiiih apaan sih kak?! Aku aja baru siuman. Wajahnya bisa babak belur begitu bukan karena aku, enak aja!" protes Amira pada Daniel.
"Hahaha.. ini tidak ada hubungannya dengan Amira. Ada sedikit masalah pribadi kemarin," jawab Vincent tidak ingin menjelaskan alasan wajahnya yang babak belur.
Daniel tersenyum dan mengacak rambut Amira. Amira memanyunkan bibirnya.
"Mmm.. karena kakakmu sudah di sini, aku pulang dulu ya, Ami. Nanti siangan aku datang lagi, kamu mau dibawakan apa?" ucap Vincent.
"Tidak perlu. Kamu tidak usah datang, istirahat saja di rumah," ucap Amira, bukan maksud mengusir Vincent, tetapi dia tau Vincent juga butuh istirahat yang cukup, karena sudah menjaganya semalaman.
__ADS_1
Vincent hanya tersenyum kecut mendengarnya dan berjalan menuju pintu. Ketika Vincent sudah di depan pintu, Daniel menghampirinya, "Ah, Vincent. Maaf aku bisa berdiskusi denganmu nanti setelah kamu ada waktu?" tanya Daniel.
Vincent mengangguk, "Bisa, kamu bisa menghubungiku, Amira punya nomor ponselku."
"Baiklah, terima kasih," balas Daniel tersenyum.
Setelah kepergian Vincent, Daniel menghampiri Amira yang menatapnya, "Kakak mau diskusiin apaan sama si mesum itu?", ucap Amira keceplosan memanggil Vincent dengan julukan 'kesayangannya' itu.
"Si mesum? Maksud kamu Vincent?" tanya Daniel sambil tertawa kecil. Amira mengangguk malu.
"Sebenarnya kamu dan Vincent ada hubungan apa? Jangan-jangan berita itu benar ya? Kamu dengan dia berpacaran?" cecar Daniel.
"Siapa juga yang berpacaran dengan si mesum itu, kakak jangan ikut ngegosip deh," balas Amira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.. Ternyata adikku sudah besar ya, sudah bisa nikah," Daniel tertawa sambil mengacak-acak rambut Amira.
Amira menepis tangan kakaknya sebal, "Kak, kepalaku masih luka nih. Suka banget mengacak-acak rambutku, aku sudah bukan anak kecil," ucap Amira sewot.
"Terus pacaran aja belum, sudah bilang nikah-nikah aja, nyebelin," ucap Amira lagi.
"Serius dong. Aku tadi tanya belum dijawab", Amira menyilangkan kedua tangannya di dada, dan memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya, adikku yang cantik," ucap Daniel tersenyum.
"Kakak mau meminta Vincent untuk membantu perusahaan kita, Ami. Kamu tau kan proyek Green Resort yang waktu itu pernah kakak ceritain?" ucap Daniel. Amira mengangguk.
"Kakak ingin meminta Vincent untuk menyetujui kerja sama untuk desain interior proyek itu. Dulu kakak pernah ajuin proposalnya, tetapi ditolak," Daniel menghela nafasnya pelan, terdengar nada kecewa dalam pembicaraannya.
"Mungkin dengan bertatap muka langsung, Vincent bisa mengubah keputusannya," ucap Daniel penuh harap.
"Memangnya perusahaan kita sudah separah apa kak, sampai kakak harus meminta bantuan dengan si mesum itu?" tanya Amira.
"Sejujurnya saham perusahaan kita semakin lama semakin turun, belum lagi hutang kita kepada bank yang susah ditutupi, ini semua karena pengkhianat yang telah menjual informasi proyek kita kepada perusahaan saingan Lin Corp!" ucap Daniel geram.
"Proyek yang sebelumnya kita tangani, satu per satu dibatalkan secara sepihak oleh klien kita karena takut terjadi hal yang sama, banyak informasi yang bocor ke pihak luar," Daniel menjelaskan kepada Amira dengan raut wajah sedikit frustasi.
"Walaupun kita sudah menemukan pelakunya dan memberikannya hukuman yang setimpal, tetapi kepercayaan yang telah kita tanam sejak dulu, tidak dapat kembali lagi. Mereka banyak yang meminta kompensasi atas bocornya informasi, Lin Corp sudah berusaha membayarnya dengan mengajukan pinjaman kepada bank," lanjut Daniel. Amira baru paham ternyata Lin Corp sudah jatuh sejauh ini.
"Banyak tender proyek yang kita ajukan juga ditolak. Oleh karena itulah, kakak sangat berharap dapat mendapatkan tender proyek Green Resort itu, sehingga dapat mengembalikan kepercayaan dan citra perusahaan kita, Ami," jelas Daniel penuh harap.
"Apakah kakek dan ibu tau?" tanya Amira.
Daniel menggeleng pelan, "Kakek dan ibu tidak tau, aku tidak ingin mereka khawatir lagi. Aku tidak menceritakan kalau tender proyek yang diajukan Lin Corp banyak ditolak dan membayar kompensasi yang cukup besar kepada perusahaan yang informasinya bocor. Kamu juga berjanjilah untuk tidak mengatakannya. Jangan buat mereka cemas, Ok?"
Amira tidak dapat mengatakan apapun untuk menghibur kakaknya itu. Amira hanya mengangguk menyanggupi permintaan kakaknya untuk tidak memberitahu kepada kakek dan ibunya. Dia baru tau ternyata beban di pundak kakaknya begitu berat.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue...