
Vincent yang sedang melamun terkejut dengan lingkaran tangan di pinggangnya. Ia berbalik dan menatap wajah Amira yang sedang tersenyum kepadanya, ia pun membalas senyuman itu dengan lembut.
Masalah yang terus menghantui pikirannya menghilang di udara melihat wajah kekasihnya itu. Amira menatap wajah Vincent yang terlihat lelah. Ia mengusap wajah Vincent dengan perlahan dan menangkupnya.
"Kamu kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Amira cemas menatap wajah Vincent.
Vincent tidak menjawab pertanyaan Amira, ia memegang tangan Amira yang masih menangkup wajahnya. Ia tersenyum lembut dan memeluk tubuh gadisnya itu.
Amira ingin menarik tubuhnya, tetapi Vincent mengeratkan pelukannya, "Biarkan aku seperti ini sebentar," ucap Vincent memohon.
Vincent meletakkan wajahnya di pundak Amira dan memejamkan matanya. Amira mengangguk dan membalas pelukan kekasihnya itu.
'Sebenarnya ada masalah apa,' batin Amira cemas.
Amira tidak ingin menanyakannya lagi apabila Vincent tidak ingin mengatakannya sendiri. Ia hanya bisa diam dan memberikan sandaran untuk Vincent apabila Vincent membutuhkannya seperti saat ini.
Bagi Vincent, Amira seperti sumber kekuatannya saat ini, selain keluarga dekatnya. Vincent bukanlah pria tanpa perasaan, tetapi ia memang sudah diajarkan sejak kecil untuk menyembunyikan semua emosinya dalam menghadapi berbagai masalah.
Apalagi di dunia bisnis yang memiliki banyak musuh yang tersembunyi, ia harus pandai mengontrol ekspresinya agar musuh tidak dapat menebak langkah yang akan diambil selanjutnya.
Vincent melepaskan pelukannya dan menatap wajah Amira dengan intens. Ia tersenyum lembut dan mengusap kening Amira yang mengerutkan alisnya. Ia tau Amira sedang mencemaskan dirinya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang," ucap Vincent mencoba menenangkan Amira. Ia tidak ingin Amira mencemaskan dirinya.
"Benarkah?" tanya Amira masih tidak percaya.
"Sebenarnya hanya ada satu masalahku," ucap Vincent lagi.
"Apa?" tanya Amira penasaran.
"Masalahku adalah ...."
Vincent menggantungkan kalimatnya dan menatap bibir mungil Amira yang berwarna seperti buah ceri. Amira mengerutkan keningnya dan bertanya, "Apa?"
"... adalah ini," jawab Vincent dan menempelkan bibirnya ke bibir Amira.
Amira membulatkan matanya kaget atas tindakan Vincent yang tiba-tiba menciumnya. Ia ingin mengajukan protes, tetapi Vincent dengan cepat menarik tengkuk Amira dan memperdalam ciumannya. Perlahan Amira memejamkan matanya dan membalas ciuman kekasihnya itu.
__ADS_1
°
°
°
°
°
Sementara itu di suatu pulau terpencil tanpa nama, berdiri sebuah mansion bergaya arsitektur Victorian layaknya sebuah kastil kuno yang megah. Tempat itu diberi nama Shadow Castle oleh pemilik pulau, Hades.
Di sekitar Shadow Castle hanya terhampar padang rumput dan bebatuan dengan bukit-bukit yang curam, serta dikelilingi oleh lautan. Untuk lebih mudah mencapai mansion itu hanya bisa melalui jalur udara, karena letaknya yang berada di puncak tertinggi pulau itu dan bukit-bukit yang curam terlihat seperti sebuah benteng alami yang melindungi mansion itu. Apabila ingin melalui jalur laut, si penempuh harus mempunyai fisik yang kuat untuk menaiki bukit-bukit curam tersebut baru bisa sampai ke Shadow Castle.
Si pemilik pulau dan mansion, Hades, tinggal di tempat itu. Ia sengaja merancang bangunan dan struktur pulau seperti benteng pertahanan yang terisolasi dari dunia luar. Bangunan Shadow Castle terlihat suram dan dingin apabila dilihat dari luar, tetapi tidak di dalamnya.
Di dalam bangunan mansion itu masih bergaya Victorian dengan dinding yang berhias pahatan yang mendekorasi rumah menambah kesan mewah dan klasik.
Seorang pria tua berusia sekitar lima puluhan sedang duduk di ruang tengah mansion itu. Ia duduk di sebuah kursi roda elektrik menghadap sebuah jendela besar di depannya. Ia melihat pemandangan di luar yang saat itu cuaca sedang mendung dan berangin. Pria tua itu adalah Hades. Tidak ada orang yang mengetahui nama aslinya, kecuali dirinya sendiri dan orang kepercayaannya.
Tatapan matanya tajam dan dingin. Tidak ada senyuman di wajahnya. Tampak kerutan dan garis-garis halus di sekitar wajahnya menambah suram wajah yang dingin itu. Walaupun ia duduk di kursi roda, tetapi aura seorang penguasa terlihat dari wajahnya.
"Apa ada kabar mengenai Light?" tanya Hades kepada Silver. Light adalah julukan yang diberikan Hades untuk Vincent.
"Light saat ini sudah mulai bergerak mencari tau tentang anda, Hades," jawab Silver datar.
Hades tersenyum datar, "Apa kau sudah membereskan semuanya?" tanya Hades lagi.
"Anda tenang saja, ada Dark di sisinya. Light tidak akan menemukan lokasi mansion ini," jawab Silver lagi. Dark adalah utusan Hades untuk berada di sisi Vincent dan memberikan informasi kepada Hades melalui Silver.
"Baguslah kalau begitu," ucap Hades sambil menghela nafas lega.
"Apa anda akan terus menyembunyikan semuanya dari Light, Hades?" tanya Silver mencemaskan Hades.
Hades tidak menjawab. Ia hanya diam tak bergeming. Matanya yang tajam terus menerawang ke luar, pikirannya melayang jauh ke depan. Silver hanya pasrah dan mengikuti keinginan majikannya itu.
°
__ADS_1
°
°
°
°
°
Mobil Lamborghini gold metalic membelah jalanan Kota Amigos dengan kecepatan sedang, karena saat itu lalu lintas sedang padat. Bulan sudah menampakkan wajahnya di langit malam saat ini, ditemani beribu-ribu cahaya kelap-kelip dari berbagai bangunan Kota Amigos.
Amira yang duduk di kursi penumpang memalingkan wajahnya ke arah jendela memandangi kelap-kelip cahaya kota. Sebenarnya pikirannya melayang pada kejadian tadi sore di ruang kerja Vincent. Wajahnya masih merona mengingat kejadian itu.
Vincent melirik sekilas ke arah Amira dan kembali fokus mengendarai mobilnya. Ia tersenyum kecil sambil menyentuh bibirnya.
"Sebelum pulang kita pergi makan malam dulu ya, Sayang," ucap Vincent memecah keheningan.
"Tapi aku gak mau seperti tadi siang," balas Amira cepat.
Vincent mengerutkan keningnya tidak mengerti perkataan Amira, "Maksudnya?"
"Maksudku, aku gak mau sepiring berdua!" protes Amira karena tadi siang porsi makannya berkurang gara-gara Vincent yang ingin memamerkan kemesraannya di depan Steve.
Vincent tertawa lepas mendengarkan protes kekasihnya itu. Amira mendengus sebal mendengar tawa Vincent. Ia menyilangkan tangannya di dada.
"Baiklah," ucap Vincent dan mengacak-acak rambut Amira dengan gemas.
°
°
°
°
°
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....