
Setelah menyelesaikan kue buatannya, Amira bergegas mandi dan berganti pakaian. Ia sibuk mengobrak-abrik lemarinya mencari pakaian yang cocok untuk acara nanti malam. Padahal acaranya masih beberapa jam lagi, tetapi entah kenapa dirinya begitu gugup dan tegang.
Gadis itu ingin memberikan kesan pertama yang baik di depan kedua orang tua Vincent. Ia sedikit meragukan dirinya sendiri. Walau Amira berasal dari keluarga berada, tetapi jika dibandingkan dengan keluarga Vincent, terasa jauh sekali perbedaannya.
"Aduh, apa pakai yang ini aja ya?" gumam Amira sambil memegang gaun mini berwarna merah di tangannya.
"Ah tidak … tidak ... ini terlalu pendek, Vincent pasti juga protes," gumam Amira lagi dan melempar gaun itu di atas tempat tidurnya. Entah sudah keberapa kalinya gadis itu melempar gaun yang ia ambil dari lemari pakaiannya, hingga menumpuk di atas tempat tidur dan lantai di dekatnya.
Vincent yang sedari tadi sedang duduk di ruang tengah melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu gadis pujaannya itu menyelesaikan ritualnya, tetapi sama sekali tidak tampak tanda-tanda gadis itu keluar dari kamarnya.
Vincent segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar tidurnya. Ia membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Pria itu berdiri di ambang pintu dan tertegun melihat keadaan di dalam kamar tidur yang sudah seperti kapal pecah. Bukan hanya itu saja, pandangannya beralih ke sosok gadis yang sedang mengobrak-abrik lemarinya dan hanya mengenakan handuk melilit tubuhnya yang putih dan mulus bagaikan hamparan kain sutra yang mahal.
Manik mata Vincent menelusuri setiap lekuk tubuh gadis di depannya itu, bagaikan seekor singa yang sedang mengintai mangsanya secara diam-diam. Ia menelan salivanya dengan pelan, "Astaga cobaan apa lagi ini?" gumamnya pelan.
Amira yang baru menyadari kehadiran seseorang di belakangnya berbalik menatap kekasihnya yang hanya berdiri mematung di ambang pintu.
"Vin, bantu aku pilihin gaun donk, bagusnya pakai yang mana?" tanya Amira yang tidak sadar kalau dirinya masih menggunakan handuk di tubuhnya.
"Bagusnya … gak pakai apa-apa …" jawab Vincent masih menatap 'pemandangan indah' di depannya itu dan tersenyum miring. Amira mengerutkan keningnya heran.
"Ah maksudku pakai style santai aja, kan cuma makan malam keluarga," ralat Vincent cepat, tetapi masih memperhatikan Amira tanpa berkedip.
Amira terdiam mendengarkan ucapan kekasihnya itu dan menunduk menatap dirinya sendiri yang rasanya sudah habis ditelanjangi pria itu, "KYAAAAAAAAA … DASAR MESUM!" jerit Amira segera berbalik dan segera berlari ke kamar mandi, tetapi naas kakinya tersandung gaun yang ia lempar di lantai tadi dan … tubuhnya mendarat dengan mulus di atas lantai.
"Aduh ..." erang Amira karena dadanya terasa sakit membentur lantai yang keras.
Vincent segera menghampiri Amira dan membantunya berdiri, tetapi sial bagi Amira dan untung bagi Vincent, handuk yang melilit tubuh Amira tergeletak di lantai ketika gadis itu berdiri. Manik mata Vincent dengan cepat menangkap 'pemandangan luar biasa indah' di depan matanya saat ini dan berkedip-kedip, baru kali ini ia melihatnya secara langsung.
"KYAAAAAAA … MESUM! DASAR MESUM!" jerit Amira segera mengambil handuknya dan menutup sebagian tubuhnya. Ia menatap Vincent dengan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup, wajahnya memerah karena marah dan malu.
"Kan gak sengaja," protes Vincent cepat.
Amira menatap kekasihnya dengan sebal, tetapi Vincent hanya tersenyum dan menaikkan satu alis matanya. Ia mengangkat kedua tangannya dan berjalan keluar.
Wajah Amira merona dan ia menghela nafas dalam. Ia memejamkan matanya erat, "Aduh malu-maluin banget sih. Aku … aaarggghh!" gumam Amira dan mengacak-acak rambutnya kasar.
Vincent berdiri di depan pintu kamarnya dan melirik ke 'junior' di bawahnya. "Sabar ya belum waktunya," gumam Vincent kepada 'junior'nya.
Vincent menghela nafas pelan dan mengusap wajahnya kasar. Pria itu hanya memberikan respon seperti itu terhadap Amira, padahal di sekitarnya banyak wanita lebih cantik dan lebih seksi dibandingkan kekasihnya, tetapi tidak pernah sekalipun ia tergoda. Hanya Amira-lah yang bisa mengobrak-abrik hatinya dan memancing hasratnya itu.
Untuk menenangkan dirinya, ia berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral yang dingin, meneguknya hingga tak tersisa. Ia tersenyum memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Amira keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian santai. Ia mengikat rambutnya menjadi dua bagian dan memakai kaos berwarna putih dilengkapi blazer berwarna kuning kombinasi putih dengan model kancing shanghai dipadukan dengan celana pensil berwarna hitam.
Sedangkan Vincent juga memakai stelan santai berupa kaos putih dipadukan dengan jaket jeans berwarna bluewash dan celana jeans berwarna hitam.
"Apa gak pa-pa pakai begini ketemu orangtuamu?" tanya Amira sedikit ragu dengan penampilannya.
"Manis," puji Vincent melihat penampilan kekasihnya itu. "Mereka pasti suka, kamu tenang saja," lanjutnya lagi. Amira hanya mengangguk dan menggedikkan bahunya menuruti kekasihnya itu.
Mereka bergegas keluar dari apartemen dan pergi ke restoran terdekat untuk makan siang. Setelah itu Amira menemani Vincent mencari hadiah untuk kedua orang tuanya, ia berencana membeli champagne keluaran tahun 1988 sesuai dengan tahun pernikahan orangtuanya.
Sebenarnya Vincent sudah memesannya jauh-jauh hari melalui salah satu klub mewah, Lotus, tempat perkumpulan anggota-anggota elit di Kota Amigos. Ia sudah lama menjadi anggota klub, tetapi jarang menampakkan dirinya mengikuti acara-acara pertemuan yang diadakan oleh Lotus. Minggu lalu ada pelelangan untuk beberapa champagne edisi terbatas dan Vincent telah meminta Olivia, sekretarisnya untuk membelinya. Hari ini ia tinggal mengambil pesanannya itu di sana. Amira menunggu Vincent di dalam mobil sementara kekasihnya itu mengambil pesanannya.
Tidak berapa lama, Vincent pun keluar dan kembali ke mobil. Ia melihat Amira tidak berada di dalam mobil.
"Ke mana gadis nakal itu?" gumam Vincent cemas, padahal ia sudah memberi pesan kepadanya untuk menunggunya di mobil tadi.
Vincent mencarinya di sekitar parkiran dan melihat gadis itu duduk di kursi taman tidak berapa jauh dari parkiran mobil. Gadis itu tidak sendiri, ia bersama seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahunan.
Vincent menghampiri mereka, "Sayang …"
Vincent mengangguk dan duduk di samping anak perempuan yang sedang menangis. "Dia kenapa?" tanya Vincent kepada Amira.
"Aku tadi melihatnya menangis di pinggir jalan, jadi aku mengajaknya duduk di sini. Sepertinya dia tersesat dan tidak tahu jalan pulang," terang Amira.
"Gadis kecil, rumahmu di mana?" tanya Vincent datar tanpa senyuman kepada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menoleh dan menatap wajah Vincent, kemudian ia menangis lebih keras melihat wajah Vincent. Amira menahan tawanya dan memeluk gadis kecil itu.
"Senyum, Sayang. Kamu malah nakutin dia," tutur Amira sambil menepuk punggung anak itu pelan. "Namanya Elaine Mo," tutur Amira lagi. Vincent mengangkat kedua bahunya.
"El … dia orang baik kok. Dia teman Kakak. Kita antar kamu pulang, tapi kamu ingat gak jalannya?" tanya Amira dengan lembut.
Elaine menghentikan tangisnya dan menatap pria di sampingnya dengan gugup. Ia seolah menyelidiki Vincent.
"Kata mama gak boleh sembarangan percaya sama anak cowok. Anak cowok itu nakal!" jawab Elaine dengan lantang. Vincent membelalakan matanya mendengar pernyataan yang dikeluarkan dari bibir gadis kecil itu. Ia ingin meralatnya, tetapi Amira memukul lengan Vincent dan menggeleng pelan.
"El, yuk tunjukkin rumahmu. Kakak antarin," bujuk Amira lagi. Elaine mengangguk pelan, "Tapi aku mau es krim," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, Kakak yang tampan ini akan membelikannya untukmu, kamu kasi tau dulu rumahmu," bujuk Amira sekali lagi. Vincent mengangkat kedua alis matanya dan menunjuk dirinya sendiri, Amira mengedipkan sebelah matanya dan mengangguk.
"Paradise Residence," jawab Elaine memberitahukan nama perumahan yang ia tinggali.
"Oke, ayo kita pergi makan es krim, habis itu kamu pulang ya kalau nggak nanti mamamu khawatir," ucap Amira dan disambut anggukan kecil oleh Elaine.
"Terima kasih, Kakak Cantik. Terima kasih, Om Ganteng," ucap Elaine meyunggingkan senyumannya.
Amira tersenyum mendapatkan panggilan 'Kakak Cantik' dari Elaine, tetapi tidak dengan Vincent.
"Kenapa aku dipanggil Om? Apa aku setua itu?" protes Vincent. Amira dan Elaine tertawa renyah mendengarkan protes dari Vincent. Mereka meninggalkan Vincent di belakang dan masuk ke dalam mobil.
Vincent dan Amira mengajak gadis kecil itu makan es krim di restoran terdekat. Amira sangat akrab dengan Elaine dan sesekali mengajaknya bercanda dan bermain. Vincent tersenyum simpul melihat kekasihnya yang begitu sabar dan penyayang menghadapi anak kecil. Mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis di mata para pengunjung restoran.
Setelah makan es krim, mereka mengajak Elaine pulang, ia tertidur di mobil. Untungnya satpam perumahan itu mengenal Elaine dan menunjukkan posisi rumahnya kepada Vincent dan Amira.
Amira menggendong gadis kecil itu di kedua tangannya, tetapi karena tubuh Elaine yang sedikit berat, ia hampir saja jatuh. Untung Vincent dengan sigap menangkap tubuh Amira dan mengambil alih tubuh Elaine ke tangannya, " Sini aku yang gendong, Sayang. Kamu coba ketuk pintu rumahnya," ucap Vincent.
Amira mengetuk pintu rumah yang berwarna putih di depannya. Tidak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya berpakaian seperti seorang pengasuh. Ia melihat tubuh Elaine di pelukan Vincent, "Nona Elaine!" serunya lega. Ternyata wanita itu sudah panik kehilangan majikan kecilnya itu. Ia menceritakan kepada Amira seluruh kejadian sebenarnya kepada Amira dan Vincent.
Ternyata Elaine kabur dari rumah. Ibunya sudah berjanji akan mengajaknya makan es krim hari ini, tetapi karena ada keperluan mendesak ia terpaksa mengingkari janjinya. Elaine diam-diam keluar tanpa sepengetahuan pengasuhnya dan akhirnya ia tersesat di jalan.
"Terima kasih, Nona Lin. Terima kasih, Tuan," ucap Bibi pengasuh itu dan membawa Elaine masuk ke kamarnya.
"Kalian tunggu sebentar ya. Mama Elaine sebentar lagi pulang," ucap Bibi pengasuh itu lagi sebelum masuk ke kamar.
"Gak usah, Bi. Kami ada keperluan, permisi dulu ya, Bi," ucap Amira pamit dan mengajak Vincent meninggalkan rumah itu. Mereka bergegas kembali ke apartemen dan mengambil kue tiramisu buatan Amira dan pergi ke mansion milik orangtua Vincent.
To be continue ....
Halo readers!!
Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote ya 🙏
Thank you ...
Oh iya, Author ada beberapa cerita rekomendasi untuk kalian sambil menunggu update cerita ini 😊
Menapak Senja (karya Author Hayati Nawawi)
__ADS_1
Married with My Enemy (karya Kertia)