Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 38


__ADS_3

Sementara itu di ruangan rawat 305, Amira masih belum siuman. Tiffany menunggu di ruangan itu dengan cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan kakaknya, apalagi tadi melihat Vincent yang begitu emosi melihat kakaknya. Tiffany ingin mencari mereka, tetapi di satu sisi, dia juga khawatir dengan Amira yang belum sadar, dia tidak bisa meninggalkannya seorang diri.


Tiffany duduk di samping tempat tidur Amira, hanya bisa berdoa semoga kakaknya tidak kenapa-kenapa.


Tiffany menunduk dan menggunakan kedua tangannya untuk menyangga kepalanya.


Tiffany terkejut melihat jari telunjuk Amira bereaksi pelan. Dia melihat ke wajah Amira, matanya masih terpejam.


"Ami.. Ami...," panggil Tiffany pelan.


CKLEK!


Pintu ruangan dibuka, Vincent dan Leon masuk ke dalam ruangan.


"Ami..," panggil Tiffany lagi tidak menyadari kedatangan Vincent dan Leon.


"Ami kenapa, Tif?" [Leon]


"Ami sudah sadar?" [Vincent]


ucap mereka berbarengan dan menghampiri Tiffany dan Amira


Tiffany membalikkan badannya dan kaget, "Kyaaaa..."


Tiffany menutup mulutnya dan melihat Leon dan Vincent berbarengan. Wajah mereka sekarang benar-benar sudah tidak berbentuk, luka di area sekitar mata, dahi, hidung dan mulut.


"Astaga!! Kenapa.. kenapa jadi begini?" ucap Tiffany dan mendekati kakaknya.


Wajah Leon yang sedikit lebih parah dibandingkan Vincent. Walau begitu, luka Vincent juga tidak termasuk ringan, dia berjalan sedikit terseok-seok, kakinya tadi sempat terkilir waktu bergumul dengan Leon.


"Kalian kenapa jadi berantem sampai begini sih? Memangnya kalian masih anak kecil?" tanya Tiffany yang sudah sebal melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakan.


"Memangnya tidak bisa dibicarakan baik-baik? Harus ya main tonjok-tonjokkan begini?" Tiffany menggelengkan kepalanya dan bingung melihat dua orang pria dewasa di depannya.


"Sudahlah, Tif. Kamu tidak usah ikut campur masalah pria. Kamu tidak akan paham," ucap Kak Leon pada Tiffany. Sedangkan Vincent hanya diam menatap wajah Amira, dia mendekati Amira dengan terseok-seok dan mengelus wajah Amira yang belum siuman.


"Bagaiman dengan kondisi Ami, apa dia masih belum sadar dari tadi?" tanya Leon pada adiknya.


"Belum, kak. Tadi aku sempat melihat sekilas jari Ami bergerak kak, tapi hanya sebentar, apakah Ami akan baik-baik saja, kak?" tanya Tiffany.


"Seharusnya sih baik-baik saja. Tetapi kalau sampai besok dia masih belum sadar, kita harus melakukan CT Scan di kepalanya," jelas Leon.


"Apa kamu sudah menghubungi keluarga Ami?" tanya Leon pada Tiffany.


"Sudah, kak. Aku tadi menghubungi Kak Daniel, katanya besok dia akan ikut penerbangan pagi ke sini. Dia minta agar jangan memberitahu dulu kepada ibu dan kakek Ami," jawab Tiffany.


"Ami," panggil Vincent pelan dan lembut. Wajahnya terlihat sedih dan sakit melihat Amira yang terbaring di atas tempat tidur itu.

__ADS_1


"Bangun, Ami. Lihat aku. Kalau kamu masih marah padaku, bangunlah dan marahlah padaku," ucap Vincent lagi.


Vincent memegang tangan Amira dan menggenggamnya erat. Leon melihat hal itu, dia merasa tidak suka dengan Vincent yang seenaknya memegang tangan Amira, tetapi dia menepis pikirannya itu. Dia ingin melihat respon dari Amira. Berdasarkan pengalamannya di dunia medis, walaupun seorang pasien dalam keadaan tidak sadar atau koma, tetapi dia masih dapat mendengar suara-suara dari orang di sekitarnya. Leon berharap Amira dapat segera siuman.


"Ami, kalau kamu tidak bangun, aku akan menciummu sekarang," ancam Vincent pada Amira.


Leon kaget dengan ucapan Vincent, dia berjalan mendekati Vincent dan menarik kerah bajunya.


Jari Amira bereaksi terhadap ucapan Vincent, tetapi tidak ada yang memperhatikannya, termasuk Tiffany yang sedang melihat pertengkaran dua orang pria di depannya.


"Kamu jangan macam-macam! Bukankah aku sudah memperingatimu tadi!" ancam Leon pada Vincent.


Vincent tersenyum sinis, "Kenapa? Sekarang kamu bersikap seolah-olah Ami adalah pacarmu? Kamu hanya bermimpi!" Vincent menunjuk dada Leon.


Leon menggenggam erat kerah baju Vincent dan akan memukulnya, tetapi Tiffany segera melerai mereka, "Sudah cukup!!"


"Lebih baik kalian berdua keluar saja kalau masih belum puas babak belurnya!" teriak Tiffany dan menunjuk ke arah pintu keluar.


Mereka berdua terdiam. Leon melepaskan cengkramannya di kerah baju Vincent.


Tiffany memijat keningnya, dia merasa sangat lelah. Tubuhnya sedikit limbung. Leon segera memegang pundak Tiffany, "Kamu kenapa?"


Leon memapah tubuh Tiffany dan membantunya duduk di sofa.


"Tidak pa-pa, kak. Sedikit pusing saja," ucap Tiffany memegang kepalanya.


"Belum, kak," ucap Tiffany. "Baiklah, kalau begitu aku beliin kamu makanan dulu, kamu di sini saja, bantu kakak jaga Ami," ucap Leon.


"Jangan biarkan dia macam-macam dengan Ami!" pesan Leon pada adiknya. Vincent hanya berdecak mendengarnya.


Setelah kepergian Leon, suasana di dalam ruangan itu hening. Tiffany melihat ke arah Vincent yang sedang memandangi Amira.


"Apakah kamu serius menyukai Ami?" tanya Tiffany penasaran.


"Apakah kamu selama ini pernah melihatku bermain-main dengan wanita?" tanya Vincent balik kepada Tiffany.


Tiffany menggelengkan kepalanya. Benar, selama ini yang dia ketahui Vincent termasuk seorang yang sangat setia dan hanya Anna satu-satunya wanita yang dulu pernah dekat dengan Vincent. Dan sekarang melihat sikap Vincent kepada Amira, dia akhirnya mengerti Vincent benar-benar serius terhadap Amira.


Tiffany menghela nafas pelan, merasa kagum terhadap Amira. Sekarang di dekatnya, ada dua orang yang sangat menyukai Ami. Dia sedang berpikir kapan dia akan bertemu dengan orang yang akan menyukainya seperti Vincent dan kakaknya.


Setelah itu hening, tidak ada percakapan di antara mereka, hingga dering ponsel Vincent memecahkan keheningan mereka.


"Halo," jawab Vincent kepada Lucas yang meneleponnya.


"Bos, kami sudah menemukan orang yang melukai Nona Lin," lapor Lucas.


"Siapa?" tanya Vincent dingin.

__ADS_1


"Pelakunya ada tiga orang, salah satunya adalah putri dari pemilik Wei Corp yang ada kerja sama dengan kita. Dua orang yang lain hanya dari kalangan biasa," lapor Lucas.


"Putuskan kerja sama kita dengan Wei Corp, kalau mereka meminta kompensasi, bayarkan saja, tetapi atur agar tidak ada lagi yang mau menerima mereka, kalau ada yang menerima proyek apapun dari mereka, berarti perusahaan itu menentang Royal Group," ucap Vincent dingin.


"Dua orang yang lainnya, minta mereka buat surat pernyataan minta maaf yang tulus di sosmed dan media cetak," ucap Vincent lagi.


"Baik, bos, Terus...," Lucas sedikit ragu untuk melanjutkan laporannya.


"Terus kenapa?" tanya Vincent.


"Terus Nona Lee bagaimana? Kejadian ini ada hubungannya dengan Nona Anna Lee, mereka bertiga membantu Nona Lee karena Nona Lee mengatakan kalau Nona Lin mendorong dan memukulnya, dan sekarang di sosmed sudah tersebar berita anda dan Nona Lee pernah menjalin hubungan, mereka semua menyudutkan Nona Lin dan banyak komentar negatif yang bermunculan," lapor Lucas.


Vincent terdiam dan mengeratkan giginya, dia berpikir sepertinya ucapan Leon tadi benar kalau Anna adalah seorang wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang dia inginkan. Dan sekarang yang Anna inginkan adalah dirinya, Vincent!


"Hapus semua berita dan komentar negatif tentang Amira Lin yang bermunculan, aku tidak ingin Ami membacanya nanti," ucap Vincent.


"Untuk Anna, biarkan saja dulu. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia akan bermain," ucap Vincent dingin.


"Baik, bos," jawab Lucas dan menutup teleponnya.


Vincent meletakkan ponselnya di atas nakas, matanya tak pernah lepas dari wajah Amira.


Tiffany yang dari tadi mendengar pembicaraan Vincent memberanikan diri untuk bertanya, "Kau sudah menemukan pelakunya?"


Vincent hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari Amira.


"Aku dengar tadi Anna itu Anna Lee mantanmu dulu, yang sekarang artis di bawah naungan Kim Entertainment itu?" tanya Tiffany tidak percaya dengan pendengarannya tadi.


Vincent berbalik dan menatap Tiffany, "Apa kau tidak percaya Anna adalah orang seperti itu?"


Tiffany menatap mata Vincent, dan tidak ada kebohongan yang terlihat, "Tidak juga. Aku akan menyelidikinya sendiri. Kalau memang benar dia orangnya, aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuknya," ucap Tiffany geram.


Vincent menyeringai mendengar perkataan Tiffany, "Baiklah, aku akan melihat pelajaran apa yang akan kau berikan untuknya."


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue...


*Halo readers!


Apa kabar?


Apa masih terus membaca sampai bab ini?


Jangan lupa like dan vote ya.


Dan tinggalkan komentar kalian juga, agar author tau kalau kalian sudah membaca MFIY ini.

__ADS_1


Thank you!!! 🥰🥰🥰*


__ADS_2