Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 107


__ADS_3

Sebelum mulai membaca, jangan lupa like dan vote cerita ini ya, readers! 🥰🥰


Thank you 🙏


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, Amira dan yang lainnya kembali ke Kota Amigos pagi-pagi sekali. Jadwal kepulangan mereka terpaksa berubah karena Vincent mendapatkan pekerjaan mendadak yang harus ia urus.


"Sebenarnya kamu gak usah ikut pulang aja, Sayang. Nanti aku jemput lagi," sahut Vincent sambil mengelus pelan rambut kekasihnya itu ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gak apa-apa aku ikut pulang aja, Vin. Sekalian mau berbenah. Lagian kasihan kamu bolak-balik cuma buat jemput aku aja," tolak Amira sambil menyenderkan kepalanya di bahu Vincent.


"Yang kasihan Kak Lucas kali, Ami. Kan dia yang nyetir," timpal Tiffany yang duduk di kursi depan.


"Cieeee ... sekarang yang belaiin pacarnya," ledek Amira membuat wajah Lucas dan Tiffany memerah.


Vincent mengernyitkan dahinya heran. "Sejak kapan mereka jadian?" tanyanya penasaran.


"Sejak semalam," balas Amira santai mendapatkan lirikan tajam dari sahabatnya saat ini.


Vincent tertawa kecil mendengarkan berita yang menggemparkan di pagi ini. Ia tak menyangka asistennya itu bisa menjalin hubungan dengan perempuan juga.


"Jangan ketawa, Kak!" protes Tiffany kepada Vincent, sedangkan Lucas hanya berdeham tanpa mengatakan apapun.


"Siapa yang mulai menembak duluan?" tanya Vincent setelah berhasil meredakan tawanya.


"Ya aku dong, Kak. Mana mungkin dia," ucap Tiffany dengan wajah masam.


"Sudah kuduga," timpal Vincent manggut-manggut. Amira tertawa geli mendengarkan percakapan itu, sedangkan Lucas hanya diam sambil memfokuskan pandangannya ke jalanan.


°


°


°


°


°


Sesampainya di apartemen, Amira membereskan perlengkapan yang ia bawa ke tempat asalnya dan memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci. Sedangkan Vincent dan Lucas langsung menuju ke kantor setelah mengantar Amira ke apartemen dan Tiffany ke rumahnya.

__ADS_1


Amira membersihkan seluruh ruangan apartemen Vincent. Setelah selesai, ia segera membersihkan dirinya juga, kemudian membenahi kopernya kembali dengan mengisinya dengan barang-barang yang akan ia bawa pulang ke Kota Serenity. Rencananya dua hari lagi, ia akan pulang ke kota asalnya bersama Vincent. Ia ingin memberitahukan kepada ibunya mengenai berita bahagia dirinya saat ini, walaupun ia pun tak yakin ibunya akan bahagia mendengarnya.


Bel pintu apartemen Vincent berbunyi ketika Amira sedang sibuk membenahi kopernya. Gadis itu mengerutkan keningnya heran, "Apa Vincent kelupaan sesuatu? Ah tapi kalau Vincent, dia bisa masuk sendiri," gumamnya dan meletakkan pakaian yang dipegangnya ke dalam koper dengan asal.


Amira segera beranjak dari duduknya karena tamu yang tak diundang itu menekan bel pintu dengan tidak sabaran.


"Iya, sebentar!" teriak Amira yang sebal karena bel pintu yang berbunyi tanpa henti.


"Siapa sih! Gak sabaran a … mat …," protes Amira dengan suara yang mulai mengecil setelah membuka pintu untuk tamu yang tak diundang itu. Suaranya seakan tercekat setelah melihat sosok yang sekarang berdiri di depannya dengan wajah yang tak kalah garangnya dengan Amira tadi.


"Kenapa kamu yang membuka pintu? Di mana putraku?" selidik tamu itu yang tidak lain adalah ibunya Vincent.


"Vincent sedang keluar, Tante," jawab Amira pelan. Nyonya Thalia melengos masuk ke dalam apartemen itu sebelum Amira mempersilahkannya masuk dan melepaskan sepatunya, menggantinya dengan sandal rumah milik putranya.


"Tante kemari ada keperluan apa ya? Vincent sedang ada urusan di kantor, nanti saya sampaikan kepada Vincent ketika ia pulang nanti," tanya Amira dengan hati-hati.


"Apa saya tidak boleh datang ke apartemen anak saya sendiri? Seharusnya saya yang bertanya sama kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" balas Nyonya Thalia dengan dingin.


Amira menundukkan wajahnya dan menghela nafas pelan, "Bukan begitu, Tante. Maaf kalau sudah membuat Anda tersinggung."


Nyonya Thalia duduk di ruang tengah dan menyilangkan kedua kakinya, kemudian melipat kedua tangannya di dada, menatap gadis di depannya seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangkanya.


"Apa kamu juga tinggal di sini?"


Amira menelan salivanya dengan pelan dan menatap Nyonya Thalia dengan perasaan sedikit tertekan, "Iya, Tante," jawab Amira yang malah mendapatkan senyuman meremehkan dari wanita itu.


"Aku pikir kamu wanita baik-baik, tapi ternyata …," dengus Nyonya Thalia dengan sinis.


Amira membulatkan matanya mendengarkan tuduhan yang diberikan kepadanya, ia meremas jarinya dengan erat dan menatap tajam ke arah Nyonya Thalia.


"Tante, saya harap Anda tidak berpikiran negatif. Saya dengan Vincent tidak melakukan hal yang seperti Anda pikirkan saat ini."


Nyonya Thalia berdecih dan tertawa dengan sinis. "Apakah saya ada mengatakan kalau kalian melakukan hal itu? Kenapa kamu perlu takut kalau memang tidak melakukannya? Siapapun yang berada di posisi saya saat ini mungkin akan berpikiran seperti itu, bukan?"


Amira mengigit bibirnya bawahnya. Ia tidak dapat membalas perkataan ibunya Vincent. Semua yang dikatakan olehnya benar, jika ia berada di posisinya mungkin ia juga akan berpikiran seperti itu. Amira hanya bisa menelan bulat-bulat perkataan itu.


Nyonya Thalia melirik cincin yang melingkar di jemari Amira. "Huh, putraku yang bodoh itu sudah melamarmu?"


Nyonya Thalia sudah mengetahui rencana putranya yang akan melamar gadis di depannya ini dari mulut suaminya, James. Sebenarnya tujuannya kemari hari ini adalah menemui Vincent dan meminta putranya untuk tidak bertindak gegabah melamar Amira. Namun ternyata ia telat selangkah, putranya sudah melamar gadis itu dan saat ini pun ia baru tahu ternyata mereka sudah tinggal bersama.


Amira meremas jemarinya lagi dan memutar-mutarkan cincin itu di jarinya. Ia tidak menjawabnya, tetapi malah mengajukan pertanyaan yang mengganjal hatinya sejak pertama kali ia bertemu dengan ibunya Vincent.

__ADS_1


"Tante, maaf kalau saya lancang.Saya hanya bingung kenapa Anda selalu bersikap dingin kepadaku? Bisakah jelaskan kesalahan apa yang telah saya perbuat sampai Anda begitu membenciku padahal Anda pun belum mengenalku lebih jauh?"


Nyonya Thalia menyunggingkan senyuman seringainya mendengarkan pertanyaan itu. Ia memincingkan matanya. "Kesalahan? Hahaha …," tawanya menggema di ruangan itu, tawa mengejek dan menghina yang Amira rasakan saat ini.


"Ya, kamu sudah salah. Salah memilih wanita itu menjadi ibumu. Salahmu adalah kamu lahir dari rahim wanita itu," desisnya dengan sinis dan tajam.


Mendengarkan jawaban itu, wajah Amira menjadi gelap. Ia tak menyangka hal itu berkaitan dengan ibunya, ia menggertakkan giginya dan menatap Nyonya Thalia dengan tajam, "Tante, saya harap Anda bisa menjaga ucapan Anda. Jangan menghina ibuku!"


"Saya tidak menghinanya, tapi itu adalah kenyataannya. Ibumu adalah wanita j*lang! Wanita yang sudah merusak rumah tanggaku, apa kamu tahu itu!" teriak Nyonya Thalia yang sudah naik pitam. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Amira yang tercengang dengan perkataan yang baru saja ia keluarkan.


"Ibu dan anak sama saja! Kerjaannya hanya bisa menggoda pria kaya," cibir Nyonya Thalia lagi sebelum beranjak dari apartemen itu dan mengucapkannya tepat di wajah Amira.


Amira mengepalkan tangannya kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. Ia ingin membalas ucapan ibunya Vincent, tetapi bibirnya bergetar menahan amarah di dadanya.


Ia tidak terima ibunya dihina begitu saja, "Tante, tolong jaga ucapan Anda! Ibuku bukanlah orang seperti itu!" teriak Amira ketika ia sudah tidak dapat membendung amarahnya.


Langkah Nyonya Thalia terhenti dan berbalik, memandangi Amira dengan sinis, "Kamu tidak terima, ha?"


"Minta maaf …," desis Amira.


"Apa?" Nyonya Thalia membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan Amira saat ini. Gadis itu mulai berani menentangnya dan menunjukkan taring di hadapannya.


"Kamu memintaku untuk minta maaf? Hahaha … Seharusnya kamu bersyukur aku tidak menamparmu sekarang. Yang seharusnya jaga ucapan adalah kamu. Ibumu memang wanita j*lang! Kamu seharusnya terbiasa dengan julukan ini," balas Nyonya Thalia tidak kalah tajamnya.


"Tante, minta maaflah atas ucapan yang telah Anda ucapkan barusan mengenai ibuku!" teriak Amira lagi masih tidak menerima hinaan Nyonya Thalia lagi.


Wajah Nyonya Thalia menghitam mendengarkan ucapan Amira. Kali ini bukan bibir Nyonya Thalia yang bergerak, tetapi telapak tangannya lah yang bergerak melayang di atas udara dan kecepatannya bagaikan kilat yang menyambar pipi Amira saat ini. Suara tamparan yang begitu keras menggema di ruangan yang sekarang hening. Tubuh gadis itu terduduk di lantai dan terkulai lemas. Ia memegang pipinya yang sekarang sudah memerah dan sudah berjejak telapak tangan.


Di saat yang bersamaan, Vincent masuk ke dalam apartemen dan melihat kejadian itu, tepat ketika ibunya menampar kekasihnya. Vincent segera menghambur ke arah Amira dan membantu Amira berdiri.


"Ami …," panggil Vincent dan melihat wajah kekasihnya itu, kemudian berbalik menatap ibunya meminta penjelasan.


"Ke-kenapa? Kamu mau membela gadis ini, hah?" tanya Nyonya Thalia gugup. Ia memegang telapak tangannya yang juga memanas dan kesakitan karena memukul Amira dengan begitu kuat. Ia tak menyangka putranya datang tiba-tiba dan melihat kejadian itu.


"Ma!" tegur Vincent, "bukan begitu, apa tidak bisa bicara baik-baik? Haruskah memakai kekerasan seperti ini?"


Nyonya Thalia mendengus kesal, "Mama tidak mau berdebat denganmu. Percuma saja, toh kamu juga tetap akan membelanya!"


"Ma …," lirih Vincent.


Nyonya Thalia berbalik dan melangkah pergi dari apartemen putranya itu, tanpa mempedulikan panggilan putranya itu.

__ADS_1


To be continue ….


__ADS_2