Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 9


__ADS_3

Pukul tujuh malam tepat, Vincent sudah sampai di apartemennya, Jade Elite. Ia memarkirkan mobilnya di basement dan berjalan menuju lift. Lift tersebut membawanya ke lantai lima belas, akan tetapi sebelum itu, lift berhenti di lantai dasar. Masuklah seorang gadis cantik berambut panjang berkulit putih. Ia mengenakan dress berbahan katun berwarna putih dengan model sabrina. Gadis cantik itu adalah Amira Lin.


Amira berdiri membelakangi Vincent. Vincent memperhatikan Amira dari atas hingga ke bawah. Ia melihat gaya berpakaian Amira. Dress yang dipakai Amira mengekspos lehernya yang jenjang dan bahunya sehingga kulit putihnya terlihat menggoda mata. Belum lagi panjang dress itu yang terlihat pendek menurut Vincent, hanya sebatas paha.


Vincent mengerutkan keningnya dan bergumam dalam hati, 'Wanita ini datang ke sini untuk menggodaku?'


Amira tidak memperhatikan Vincent yang berada di belakangnya. Lift berjalan menuju lantai lima belas.


Tidak berapa lama, pintu lift pun terbuka. Amira segera keluar dari lift dan mencari unit apartemen 1508. Vincent mengikuti Amira dari belakang, dia sengaja memperlambat langkahnya.


Setelah sampai di depan pintu, Amira memencet bel yang berada di dinding samping pintu apartemen Vincent. Tidak ada jawaban ataupun orang yang keluar dari dalam. Vincent memperhatikan dari belakang, ia sengaja membuat Amira menunggunya.


Amira berdiri sambil melipat lengannya di dada. Tampak dirinya kesal karena menunggu hingga ia kembali menekan tombol bel itu kembali. Gadis itu melirik ke kiri dan kanan hingga akhirnya matanya bertemu dengan mata Vincent.


Vincent yang kepergok sedang mengamati Amira, memalingkan wajahnya, kemudian berjalan menuju Amira.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Amira sambil menunjuk ke arah pintu apartemen karena melihat pria itu berdiri di depannya.


Vincent hanya diam saja, tidak berniat menjawab pertanyaan itu, sedangkan Amira terus memperhatikan Vincent dan berpikir sambil menundukkan kepalanya, 'Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?'


Amira yang tertegun mendongakkan kepalanya. Mata mereka saling bertemu. Wajah mereka saat ini sangat dekat sekali. Perlahan-lahan, Vincent makin mendekatkan wajahnya, jarak mereka sekarang hanya tinggal lima sentimeter saja.


Amira yang kaget segera memejamkan matanya erat, 'Apa yang ingin dia lakukan?! Jangan-jangan dia ....'


Aroma tubuh mint dari tubuh Vincent tercium di hidung Amira, karena tubuh Vincent yang sangat dekat padanya.


Tidak berapa lama, terdengar bunyi tombol sandi pintu yang ditekan beberapa kali dan suara kenop pintu yang terbuka.


"Apa yang sedang kamu nantikan?" bisik Vincent perlahan dan menggoda di telinga Amira, kemudian ia meniup daun telinga Amira. Amira segera tersadar dari lamunannya. Vincent tersenyum menyeringai dan berlalu masuk ke dalam.

__ADS_1


Ternyata Vincent tadi hanya ingin menekan tombol sandi pintu apartemennya. Pintu tersebut terhalang oleh tubuh Amira. Setelah menyadari itu, wajah Amira merona merah seperti kepiting rebus.


Amira mengikuti Vincent dari belakang. Vincent meletakkan tas kerjanya di sofa dan melirik gadis itu. Ia melihat ke arah sepatu Amira yang belum dilepas. Akhirnya Amira menyadarinya dan buru-buru melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah yang ada di rak sepatu dekat pintu masuk.


"Hei, aku mau bicara," ucap Amira memecahkan keheningan. Pria itu masih tetap diam, tetapi kemudian dia mengernyitkan keningnya mendengar Amira menggunakan bahasa informal, tanpa embel-embel saya.


"Untuk masalah mobilmu, aku benar-benar minta maaf," lanjut Amira lagi karena tidak ada tanggapan dari Vincent. Pria itu bersikap acuh dan berjalan sambil membuka jas yang dipakainya.


"Tapi, itu bukan sepenuhnya salahku," ucap Amira lagi membela dirinya, masih tetap mengikuti Vincent dari belakang. Vincent berjalan ke kamar tidurnya, kemudian ke arah kloset tempat koleksi pakaiannya. Amira tanpa sadar tetap mengikuti Vincent sampai ke kamar tidur.


"Hei, aku sedang bicara. Kamu dengar nggak sih?" tanya Amira mulai kesal.


Vincent hanya mengangkat alisnya, masih acuh. Amira berpikir Vincent masih marah padanya perihal mobil. "Baiklah, aku minta maaf. Aku cuma mau jelasin, kalau kamu itu juga salah, oke?" lanjut Amira.


Vincent membuka kancing kemejanya. Amira masih tetap berbicara tanpa memperhatikan Vincent, karena Vincent membelakanginya.


Amira berteriak kaget dan menutup matanya dengan kedua tangannya pada saat dia menoleh ke arah Vincent karena saat ini Vincent sudah berbalik menghadapnya dengan bertelanjang dada.


Pria itu mendekati Amira perlahan dan tersenyum menyeringai melihat Amira yang mengintip dari balik telapak tangannya. Terlihat tubuh Vincent sangat atletis, otot-otot di bagian dada dan perutnya membentuk kotak-kotak yang membuat kaum hawa jatuh hati.


'Wow, ini yang dibilang orang six pack atau roti sobek itu?' gumam Amira sambil menelan salivanya dengan bersusah payah.


Vincent terus berjalan mendekati Amira, sedangkan Amira berjalan mundur setiap pria itu berjalan selangkah mendekatinya sambil tetap dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya hingga akhirnya kaki gadis itu membentur tempat tidur berukuran kingsize di belakangnya..


Tubuh Amira terhuyung ke belakang dan terhempas ke atas tempat tidur. Dengan cepat Vincent memerangkap tubuh Amira dengan kedua tangannya di atas tempat tidur, kemudian tangan Vincent mengambil kedua tangan Amira dari wajahnya dan mengangkatnya ke atas kepala Amira. Tangannya yang satu lagi mengelus pipi Amira dengan lembut.


Amira membelalakan matanya dengan sempura. Ia kaget bercampur takut akan perbuatan Vincent selanjutnya.


"A-Apa yang mau kamu lakukan? Kamu gak tau aku siapa, kamu jangan kurang ajar!" teriak Amira dengan suara tercekat berusaha menahan rasa takutnya. Air mata di sudut matanya mulai menggenang tapi masih berusaha ditahannya.

__ADS_1


Vincent tersenyum menyeringai, kemudian bertanya dengan sinis, "Menurutmu, apa yang biasa dilakukan oleh si mesum?"


"AAAAHHH ... DASAR MESUM! BRENGSEK! LEPASKAN! LEPASKAN AKU! TOLOOOONGGG!" teriak Amira sambil meronta-ronta. Namun, apa daya tenaga pria itu sangatlah kuat, Amira tidak bisa berbuat apa-apa.


Amira mulai menangis tidak berdaya. Air mata yang ditahannya dari tadi pecahlah sudah. Vincent kaget karena gadis itu tiba-tiba menangis. Padahal awalnya Vincent hanya ingin mengerjai Amira saja karena sudah merusak mobilnya dengan menulis kata 'mesum' di mobil itu.


Vincent menatap Amira, melihat ke arah wajahnya yang sudah basah. Tangan pria itu meraih wajah Amira dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya, kemudian ia mengelus hidungnya yang kecil dan mancung, turun ke bibir Amira yang merah dan mungil.


Entah apa yang ada di pikiran Vincent sekarang, aroma lavender dari tubuh Amira seakan-akan menggodanya. Ia menatap lama bibir mungil Amira yang terlihat menggoda baginya, perlahan tapi pasti dia melahap bibir tersebut dan menciumnya dengan lembut. Cengkraman tangan Vincent pada tangan Amira melonggar.


Amira terkesiap mendapat perlakuan tersebut, Ia terdiam beberapa detik merasakan bibir Vincent yang menyentuh bibirnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian menyadarkan dirinya. 'My First Kiss? Hiks ....'


Amira menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, tetapi bibir pria itu seperti tidak mau melepaskan bibirnya. Akhirnya ia pun mengigit bibir pria itu dan mendorong dadanya sehingga pria itu jatuh terduduk ke lantai.


Vincent melihat Amira segera beranjak dari tempat tidurnya setelah berhasil membebaskan diri darinya dan berlari ke arah pintu kamar tidur.


"DASAR PRIA MESUM!" teriaknya sebelum berlalu.


Vincent yang terduduk di lantai hanya tertawa kecil mendengar umpatan Amira dan memijat pelipisnya. Ia sendiri bingung dengan tindakannya sekarang ini. Tidak biasanya dia begini terhadap seorang wanita. Biasanya Vincent bisa mengontrol dirinya, tetapi benteng pertahanannya selama lima tahun ini seakan-akan runtuh di hadapan gadis kecil itu.


Amira berlari keluar dari kamar tidur Vincent sambil menangis. Ia mencengkram baju di dadanya, jantungnya berdetak begitu hebat. Entah ini perasaan takut atau apa, gadis itu tidak bisa menerkanya. Amira bergegas menuju pintu masuk apartemen dan membukanya.


"Astaga!" teriak seorang nenek di depan pintu apartemen Vincent. Orang itu adalah nenek Vincent. Nyonya Celine berada di depan pintu apartemen dan kaget karena Amira tiba-tiba membuka pintu.


Wanita tua itu kaget melihat kondisi Amira yang acak-acakan. Rambut Amira yang awut-awutan dan pakaiannya yang digenggam dengan kedua tangannya, serta wajah gadis itu yang basah dengan air mata.


Amira mematung saat ini seperti seorang pencuri yang sedang tertangkap basah oleh pemilik rumahnya.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2