
Leon yang habis melakukan pekerjaannya, segera menuju ruang rawat Amira. Dia mendapat informasi kalau Amira sudah siuman.
CKLEK!
Leon membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam, melihat Amira yang sedang bersenda gurau dengan seseorang yang dikenalnya. "Daniel", panggilnya pada orang itu.
Daniel membalikkan badan dan menyapa Leon, "Halo, Leon."
Daniel mengernyitkan keningnya dan melihat ke arah Amira yang juga menatap Leon heran.
"Wajahmu kenapa, Kak Leon?" tanya Amira cemas.
"Kenapa sampai luka-luka begini?" tanyanya lagi.
Leon lupa kalau wajahnya terluka, karena mendengar Amira siuman, dia segera datang melihat Amira.
Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ah ini, tidak apa-apa, kok. Habis ditodong preman kemarin di jalan," ucap Leon asal.
Amira melirik tajam ke arah Leon, dia tau Leon berbohong. "Apa Vincent yang melakukannya, kak?"
Dia curiga Vincent lah yang memukul Leon, buktinya Vincent juga mengalami hal yang serupa.
Leon hanya diam tidak menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan, "Ah Daniel, kapan kamu datang?"
"Baru beberapa jam yang lalu," jawab Daniel yang sebenarnya penasaran atas pertanyaan Amira, tetapi dia tau baik Leon ataupun Vincent tidak ingin membahas masalah yang terjadi di antara mereka.
Tiffany juga datang menjenguk Amira serta membawa beberapa perlengkapan dan baju ganti Amira. Mereka berempat mengobrol cukup lama, tetapi baik Leon ataupun Tiffany tidak ada yang mau mengungkit kejadian semalam.
Setelah memastikan Amira sudah siuman dan membaik, Leon pamit untuk bekerja kembali, karena dia masih ada jadwal operasi yang lain. Begitu juga Daniel, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, walaupun ia di Amigos hanya beberapa hari, tetapi ia tetap harus memantau perusahaannya. Ia pamit untuk keluar sebentar untuk berbicara di telepon.
Akhirnya tinggallah Amira dan Tiffany yang berada di dalam ruangan, "Kamu juga istirahatlah, jangan terlalu capek," ucap Tiffany sambil membenarkan posisi tempat tidur Amira.
"Tif, semalam Kak Leon dan Vincent berantem?" tanya Amira mencoba mencari tau.
Tiffany menghentikan gerakannya, dan memalingkan wajahnya dari Amira, "A-Aku ambil air panas dulu ya, Ami," ucap Tiffany ingin menghindar.
"Tiffany Kim!" panggil Amira.
Tiffany berbalik dan menatap Amira yang sudah marah padanya, "Haishhh.. kamu ini jangan memaksaku."
Amira memanyunkan bibirnya, "Apa kamu masih menganggapku teman?"
__ADS_1
"Ah sudahlah, aku cerita. Tapi janji kamu pura-pura saja tidak tau," ucap Tiffany yang dijawab dengan anggukan oleh Amira. Sebenarnya dia sudah berjanji pada kakaknya, untuk merahasiakannya.
Akhirnya Tiffany menceritakan hubungan antara Leon dan Vincent yang sebenarnya sudah saling mengenal sejak lama, "Tetapi aku beneran tidak tau sebenarnya mereka berantem karena apa. Vincent sangat membenci Kak Leon sejak dulu, aku juga tidak tau penyebabnya. Mungkin ada masalah yang terjadi di masa lalu, sekarang mereka bertemu dan melampiaskannya."
Tiffany tidak memberitahukan kepada Amira kalau mereka sebenarnya berkelahi juga gara-gara Amira. Masalah Leon yang juga menyukai Amira juga tidak diceritakan, karena dia berjanji kepada kakaknya untuk tidak membocorkannya. Leon ingin memberitahukan sendiri perasaannya kepada Amira.
"Hanya itu?" tanya Amira sedikit meragukan Tiffany.
Tiffany mengangguk cepat.
"Vincent dari semalam menjagamu lho. Katamu kamu dan dia tidak ada apa-apa. Tapi seorang CEO yang dingin seperti dia bersedia menjagamu, aku benar-benar iri," ucap Tiffany kagum.
"Kamu tau gak, waktu tau kamu masuk rumah sakit, dia bawa mobil sudah seperti orang kesambet aja, untung aku selamat sampai di sini. Kalau nggak, aku akan menghantuinya," ucap Tiffany lagi.
"Jadi kamu ke sini sama dia? Kenapa dia bisa tau aku di rumah sakit?" tanya Amira.
Tiffany menggeleng, "Aku tidak tau kenapa dia bisa tau kamu di sini, jangan-jangan dia memasang cctv di tubuhmuuu..." Tiffany menggelitik Amira.
"Hahahahahaha.. sudah Tif, aku geli.. hahahaha" Amira tertawa geli.
Tiffany menghentikan gerakannya dan melanjutkan ceritanya, "Kamu tau gak, Vincent datang ke sini cuma pakai sandal rumah, hahahaha.. kalau aku pikir-pikir, lucu juga, orang-orang pada ngelihatin dia, hahahaha.."
"Woi.. malah ngelamun," panggil Tiffany yang mengagetkan Amira. Amira hanya tersenyum.
"Aku mau tanya, Ami. Vincent kenapa bisa tau apartemenmu?" tanya Tiffany penasaran melihat Vincent yang datang ke apartemen malam itu dengan pakaian seadanya dan sandal rumah.
Amira memutarkan bola matanya malas, "Memangnya kamu belum tau, kalau Vincent itu tinggal di sebelah?"
"APAAAA?!!", teriak Tiffany histeris.
Amira menceritakan semuanya tentang hari itu, dan perjanjian dia dan Vincent untuk tinggal bersama demi membayar hutangnya.
"Jadi kamu setuju bekerja untuknya?" tanya Tiffany.
"Iya, habis siapa suruh aku gak punya uang buat bayar," ucap Amira sedih.
"Kamu kan bisa minta sama Kak Daniel, Ami."
Amira menggeleng pelan, "Tidak, aku tidak ingin menambah bebannya lagi."
"Kalau begitu, biar aku membantumu," ucap Tiffany.
__ADS_1
"Dapat dari mana kamu uang sebanyak itu?" tanya Amira curiga.
"Aku bisa pinjam sama papa, pasti papa akan nolongin kamu, Ami," ucap Tiffany bangga.
"Tidak perlu, Tif. Aku tidak mau ngerepotin paman. Lagian sama aja kan aku juga tetap punya hutang ke paman. Aku tidak mau," Amira menolak.
"Ami, papaku bukan orang seperti itu, dia sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri," bujuk Tiffany lagi.
"Sudah, stop! Pokoknya keputusanku sudah bulat, Tif. Tolong kalau kamu mau bantu aku, kamu gak usah pinjam sama siapapun. Lagian cuma enam bulan kok aku tinggal dan bekerja sama si mesum itu," ucap Amira bersikeras dengan keputusannya itu.
"Tuh, kamu sendiri bilang dia mesum. Gimana aku tidak khawatir coba?" Tiffany masih kekeh.
"Kamu tenang aja, aku bisa jaga diri kok," ucap Amira yang akhirnya membuat Tiffany menyerah.
"Ya udah, terserah kamu. Kalau ada apa-apa, aku tidak mau tau ya," balas Tiffany.
"Iya, kamu janji jangan bilang-bilang ke Kak Leon atau siapapun itu," Amira memaksanya.
"Iya, iya," ucap Tiffany pasrah.
°
°
°
°
Dua hari kemudian, Amira keluar juga dari rumah sakit. Sebenarnya sudah dari kemarin Amira meminta untuk pulang, karena dia sudah tidak betah di rumah sakit, tetapi Daniel dan Leon bersikukuh agar Amira tetap dirawat satu hari lagi. Mereka takut terjadi apa-apa dengan kepalanya Amira, karena Amira masih sering pusing, tetapi setelah kemarin dilakukan CT Scan dan melihat hasilnya, barulah Amira diperbolehkan pulang.
Daniel mengantar Amira sampai di apartemennya. Ketika akan masuk, Amira menoleh sekilas ke unit sebelahnya, apartemen Vincent. "Kenapa, Ami?" tanya Daniel heran.
"Ah tidak kenapa-napa, kak. Oia kak, kakak sudah bertemu dengan Vincent?" tanya Amira penasaran, karena sudah dua hari ini dia tidak melihat batang hidung 'si mesum' itu.
"Belum. Dari kemarin kakak ada coba menghubunginya, tetapi tidak diangkat. Mungkin dia lagi sibuk, nanti kakak coba hubungi dia lagi," jawab Daniel yang membuat Amira makin heran.
*Ke mana si mesum itu? Apa dia marah padaku karena aku usir waktu itu?* batin Amira.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue.....
__ADS_1