Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 53


__ADS_3

Amira POV


Cahaya matahari yang masuk menusuk mataku melalui jendela kamar. Matahari sudah menyinari dengan teriknya menusuk hingga ke kulit, menunjukkan bahwa ini sudah tengah hari. Aku bangun dengan kepala yang terasa berat. Aku memegang kepalaku dan melihat ke sekelilingku. Sepi.


Sebenarnya aku malas untuk bangun, tetapi aku teringat kejadian semalam. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mencari sosok seseorang, Vincent.


Aku mengetuk pintu kamar mandi di kamar itu. Tidak ada jawaban. Tidak ada juga suara gemericik air. Kubuka pintu kamar mandi, ternyata Vincent memang tidak ada di sana.


Aku berjalan keluar kamar. Mencarinya di ruang tengah, di mini bar, di ruang kerja, di gudang anggur dan di kolam jacuzzi. Sosok yang kucari sama sekali tidak ada.


Aku mencari ponselku ingin menghubungi Vincent. "Ah aku lupa, ponselku kan tertinggal di kamar Tiffany! Aish!" gumamku merasa kesal dengan diriku sendiri. Aku mengacak-acak rambutku sendiri.


Aku berjalan gontai ke kamar tidur lagi dan menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar itu.


"Apa Vincent membenciku dan meninggalkanku sekarang?" gumamku cemas, karena mengingat semalam Vincent sama sekali tidak menggubrisku ketika ia selesai keluar dari kamar mandi.


Saat itu aku juga hanya setengah sadar, karena aku merasa badanku tidak enak. Aku tertidur dan tidak begitu ingat kejadian setelahnya. Aku hanya samar-samar mendengar Vincent mengatakan bahwa ia akan pergi, tapi pergi ke mana. Aku tidak ingat dan tidak begitu mendengarnya.


Air mataku mulai mengalir dari pelupuk mataku, memikirkan Vincent yang mungkin membenciku hingga ia memutuskan untuk meninggalkanku.


Wajar saja kalau Vincent membenciku, apalagi mengingat kejadian semalam yang membuat diriku sendiri merasa malu dan rendah.


"Vin.. aku benar menyukaimu," gumamku pelan dalam sela tangisku.


Ting Tong!


Ting Tong!


Bel pintu ruangan itu berbunyi. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.


"Ah, itu pasti Vincent! Ia kembali," batinku mencoba menyemangati diriku.


Aku membuka pintu ruangan itu. Keceriaan dan senyuman lebarku yang kutujukan kepada Vincent memudar melihat seorang wanita berpakaian seragam hotel berdiri di depan pintu sambil membawa trolley berisi makanan.


"Nona, ini pesanan dari Tuan Zhang. Boleh aku membawanya masuk?" tanya wanita itu yang ternyata adalah petugas hotel.

__ADS_1


Petugas hotel itu masuk dan menata makanan yang dibawanya di atas meja makan. Setelah itu, ia membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan itu.


Aku menutup pintu dan berjalan malas ke dalam kamar tidur lagi. Menghempaskan tubuhku lagi di atas tempat tidur. Aku tidak ada selera makan saat ini, untuk apa Vincent memesankan makanan sedangkan dirinya tidak ada di sini.


"Vincent? Vincent memesan makanan?" Aku beranjak dari tempat tidurku.


Aku memukul kepalaku sendiri, " Kenapa aku tidak menanyakan kepada petugas hotel itu tadi?"


Aku segera meraih telepon di kamar itu dan menekan tombol operator.


"Halo dengan Diana di sini, ada yang bisa saya bantu?" ucap petugas resepsionis yang mengangkat teleponku.


"Ah itu, Ibu Diana. Saya mau tanya apa ada pesan dari Tuan Zhang untukku?" tanyaku ke respsionis hotel.


"Maaf Nona. Tuan Zhang tidak meninggalkan pesan apapun kepada kami," ucapnya membuatku bertambah sedih.


"Oh baiklah.. ah.. apakah anda tau Tuan Zhang ke mana?" tanyaku berharap resepsionis itu tau di mana Vincent berada. Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup konyol. Yang benar saja seorang petugas resepsionis mengetahui ke mana saja tamunya pergi. Aku menghela nafas setelah mengajukan pertanyaan bodoh itu.


"Ah maaf, lupakan saja," ucapku pelan tidak mendapat jawaban darinya.


"Mm.. Nona.. saya hanya bisa memberitahukan bahwa pagi-pagi sekali Tuan Zhang memesan tiket penerbangan ke Kota Serenity melalui kami," ucap petugas resepsionis itu sedikit ragu untuk memberitahu.


"Untuk penerbangan jam sebelas tadi," jawabnya. Aku melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul satu siang.


"Ah baiklah. Terima kasih Bu Diana," ucapku menutup teleponnya.


Ternyata Vincent sudah membenciku dan tidak menginginkan aku lagi. Ia kembali ke Kota Serenity. Aku menghembuskan nafasku kasar. Aku duduk di lantai kamar itu dan menangis dalam diam hingga tertidur lelap karena lelah menangis.


Beberapa jam kemudian, aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku tertidur di atas lantai kamar. Aku berdiri dan berjalan terhuyung-huyung, menahan kepalaku yang terasa semakin berat. Aku memegang kepalaku, terasa sedikit hangat. Sepertinya aku demam.


Aku berjalan ke dapur mengambil segelas air. Tenggorokanku terasa kering sehingga aku susah mengeluarkan suaraku. Seharian menangis membuat suaraku hilang dan serak.


Perutku berbunyi, aku merasa sangat lapar. Aku teringat petugas hotel itu membawakanku makanan. Aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku memegang perutku yang terus berbunyi.


"Iya aku akan mengisimu," ucapku sambil mengelus perutku.

__ADS_1


Aku berjalan ke arah meja makan. Di atas meja terhidang tiga jenis makanan. Aku membuka penutupnya satu per satu. Semua makanan terlihat lezat saat ini, tetapi sayangnya sudah dingin. Kemudian aku membuka penutup makanan terakhir, aku membulatkan mataku melihat dessert kesukaanku, Red Velvet.


Di sampingnya, ada secarik kertas berwarna merah muda yang terlipat membentuk hati. Aku mengambil kertas itu, membuka lipatannya dan membaca isinya.


Dear Ami,


**Ketika kamu membaca tulisan ini mungkin aku sudah berada di pesawat menuju ke Serenity. Maaf aku tidak menunggumu bangun terlebih dahulu. Ada urusan mendesak di sana, sehingga aku haru segera pulang.


Maafkan aku semalam sudah keterlaluan padamu hingga membuatmu demam dan syok. Jangan lupa makan dan minum obatmu. Obatnya ada di atas nakas tempat tidur. Tunggu aku pulang, Ami.


I will miss you from now on...


Love You


Your Vincent ❤


P.S : Sandi apartemenku adalah tanggal hari pertama kita bertemu


°


°


°**


Air mataku mengalir membaca isi surat itu. Bukan air mata kesedihan tetapi air mata bahagia. Aku terharu membaca isi surat itu. Aku sungguh bodoh menyimpulkan semuanya sendiri. Ternyata Vincent tidak membenciku.


Aku memeluk kertas berwarna merah muda itu di dadaku. Aku tersenyum lebar. Seandainya aku segera membaca surat ini dari tadi, air mataku tidak akan sia-sia mengalir begitu saja.


"I will miss you from now on too, Vin," gumamku pelan dan tersenyum.


End of Amira POV


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


*To be continue...

__ADS_1


Tinggalkan komentarnya ya


Tolong bantu vote dan like juga 🤗😘*


__ADS_2