Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 73


__ADS_3

Deringan telepon yang terus menerus mengusik aktivitas panas Vincent saat ini. Amira mencoba mendorong tubuh Vincent dan melepaskan ciumannya.


"Vin ...," ucap Amira dengan nafas terputus-putus dan berusaha mencari udara di sekitarnya.


"Aku ... aku angkat telepon dulu ... Takutnya ... telepon penting." Amira berusaha menjelaskan kepada Vincent dengan terengah-engah karena Vincent masih mencoba mengerilya leher Amira.


Vincent melepaskan dirinya dan menjauh dari Amira. Dengan cepat Amira berlari dan merogoh ponselnya dari dalam tas perlengkapannya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menatap nama di layar ponselnya. Amira cukup terkejut karena ibunya yang menelponnya saat ini.


"Siapa?" tanya Vincent penasaran karena melihat raut wajah Amira yang kaget.


"Ibu," jawab Amira sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya meminta agar Vincent jangan bersuara.


Amira menekan nomor kontak ibunya karena panggilannya terputus ketika ia akan menjawabnya. Tidak perlu menunggu lama, Nyonya Merina langsung menjawab panggilan masuk dari putrinya itu.


"Halo, Ami? Kamu ke mana? Kok ibu telepon berkali-kali gak diangkat?" tanya Nyonya Merina panik.


"Itu ... tadi aku di kamar mandi, Bu. Jadi gak kedengeran," ujar Amira berbohong.


"Ada apa, Bu?"


"Ibu dengar dari Daniel kalau kamu dirawat? Kenapa bisa, Ami? Bukannya kamu tau kalau kamu ada alergi? Seharusnya kamu lebih hati-hati," cecar Nyonya Merina.


"Iya, Bu. Lain kali Ami lebih hati-hati kok. Kemarin karena Ami lupa, kelaparan dan bablas deh," jawab Amira asal.


"Kamu ini lain kali jangan begitu lagi lho," ujar Nyonya Merina mengingatkan.


Vincent mendekati Amira dan duduk di sampingnya. Ia memeluk pinggang Amira dan meletakkan wajahnya di pundak Amira. Amira mencoba menggeser posisi duduknya, tetapi Vincent menahannya.


"Halo, Ami. Apa kamu mendengarkan Ibu?"


"Ah, iya Bu. Aku dengar kok," jawab Amira sedikit kaget.


Vincent sengaja mengecup leher Amira dan meniupnya memberikan sensasi bergetar di tubuh Amira. Amira berusaha mengontrol tubuhnya dan menggigit bibirnya.


"Kamu sedang apa, Ami?" tanya Nyonya Merina yang heran mendengar hembusan nafas Amira.


"Aku ... aku sedang latihan ... sit up ... Bu," jawab Amira terbata-bata karena kali ini Vincent bukan hanya mengecup leher Amira tetapi juga menyesapnya dalam hingga meninggalkan tanda di sana.


"Ya sudah. Kamu istirahat saja, baru keluar dari rumah sakit, pakai acara sit up segala lagi," sahut Nyonya Merina yang tidak menaruh curiga dengan sikap aneh putrinya itu.


"Iya, Bu."


"Oh iya, kamu dengan Leon gimana? Apa sudah ada kemajuan?"


Amira terkejut mendengar pertanyaan ibunya itu. Begitu juga Vincent, ia segera menghentikan aktivitasnya di leher Amira dan menatap Amira tajam. Tatapan marah terbesit di matanya. Amira menelan salivanya dengan bersusah payah.


"Ha-Halo ... Bu ... Aku ... aku telepon lagi nanti ya. Sinyalnya kurang bagus di sini."


Amira segera menutup ponselnya dan menghela nafas lega. Ia menatap Vincent yang sudah beranjak dari sampingnya dan berjalan keluar menuju pintu.


"Vin ...."


Vincent menghentikan langkahnya. Amira segera berdiri dan berjalan mendekati Vincent memeluknya dari belakang.


"Vin, Ibu belum tau hubungan kita. Kamu jangan marah ya," pinta Amira dengan manja.

__ADS_1


Vincent berbalik dan mendengus pelan, "Kenapa kamu tidak memberitahu ibumu tadi?"


Vincent merasa sikap Amira aneh yang berusaha menutup-nutupi hubungan mereka dari ibunya tadi. Amira mendongak dan menatap Vincent, ia menghela nafas pelan.


"Bukan begitu Vin. Ada sesuatu hal yang ingin aku cari tau dulu."


"Apa?" tanya Vincent menuntut jawaban.


"Itu ..." Amira mengigit bibir bawahnya pelan, ia sedikit ragu mengatakan bahwa ibunya sepertinya tidak suka dirinya berhubungan dengan Vincent dan Royal Group.


Vincent menunggu jawaban dari kekasihnya, tetapi tidak ada kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Vincent mendengus pelan dan mengacak-acak rambut Amira.


"Ya sudah. Nanti saja kamu cerita kalau kamu mau. Istirahatlah!" perintah Vincent sambil berjalan keluar kamar.


'Maafkan aku, Vin!' gumam Amira di dalam hati. Amira ingin menyelidiki dahulu alasan di balik ucapan ibunya waktu itu. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Vincent saat ini.


°


°


°


°


°


Setelah selesai mandi, Amira keluar dari kamar Vincent. Ia mencari sosok Vincent di ruang tengah, tetapi nihil. Ia berjalan menuju kamar yang berada di sebelah kamar Vincent. Tanpa mengetuk pintu, Amira membukanya.


"Segera selidiki rencana dia selanjutnya!" perintah Vincent kepada Lucas di telepon. Vincent memerintahkan Lucas untuk menyewa beberapa orang mengikuti Adrian Song. Vincent tidak menyadari kedatangan Amira karena ia membelakangi Amira saat ini.


Amira melihat ke sekeliling ruangan, ternyata kamar ini adalah ruang kerja Vincent. Terdapat sebuah meja besar dan kursi putar beserta lemari yang penuh berisi buku-buku tebal. Di ruangan itu juga terdapat sofa panjang dan meja kecil. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk dijadikan ruang kerja.


"Sejak kapan kamu di sana, Sayang?" tanya Vincent yang kaget karena tidak menyadari kehadiran Amira.


"Baru aja kok."


"Apa kamu ingin menggodaku, Sayang?" tanya Vincent tersenyum menyeringai melihat Amira yang memakai kaos hitam polos dan celana hotpant yang menampilkan paha mulusnya.


"Dasar mesum! Gak bisa lihat yang bening sedikit aja, langsung deh pikirannya ke mana-mana," sahut Amira sewot sambil memanyunkan bibirnya.


Vincent mendudukkan tubuhnya di samping Amira dan mengecup pucuk kepala Amira pelan, "Jangan marah, Sayang. Aku begini cuma sama kamu kok."


"Dasar gombal!"


"Gombalnya cuma sama kamu aja kok," balas Vincent tertawa lepas melihat tatapan Amira yang mendelik terhadapnya.


"Ya udah, aku pulang aja deh."


Amira bangkit dari duduknya, tetapi Vincent dengan cepat menarik tangannya sehingga tubuh Amira terhuyung dan jatuh di pangkuan Vincent. Amira medelik tajam melihat posisi mereka saat ini.


"Kan aku sudah bilang kamu sudah tidak bisa lari dariku lagi."


Wajah Amira memerah mendengar pernyataan Vincent. Tanpa menyia-nyiakan momen saat itu, Vincent melancarkan aksinya lagi di bibir Amira yang disambut Amira dengan menautkan lengannya di leher Vincent sehingga memperdalam ciuman mereka.


°

__ADS_1


°


°


°


°


Sementara itu di Kediaman Lin.


"Ibu sedang memikirkan apa?"


Daniel menghampiri ibu angkatnya, Nyonya Merina, yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia baru pulang dari kantor dan mendapati ibunya duduk termenung di ruang tamu.


"Ah kamu sudah pulang, Niel?" tanya Nyonya Merina yang kaget dengan kedatangan Daniel yang tiba-tiba.


"Iya Bu."


"Tumben kamu jam segini sudah pulang?"


Benar ucapan Nyonya Merina karena tidak biasanya Daniel pulang secepat ini. Hari masih sore dan matahari pun belum bersembunyi di balik cakrawala. Daniel tersenyum dan duduk di samping ibunya.


"Sudah tidak begitu banyak pekerjaan, Bu. Jadi aku pulang lebih awal. Lagian akhir-akhir ini aku juga kurang tidur," jelas Daniel yang disambut anggukan dari Nyonya Merina.


"Maaf Ibu tidak bisa membantu apa-apa."


"Seandainya saja suamiku masih ada, mungkin beban di pundakmu tidak begini berat, Nak."


Nyonya Merina mengusap wajah Daniel yang memang terlihat letih. Garis-garis hitam membentuk lingkaran di sekitar mata Daniel, menandakan ia hanya punya waktu terbatas untuk beristirahat. Daniel menggeleng pelan dan menggenggam tangan ibunya dengan erat.


"Bu, jangan berkata seperti itu. Sudah sewajarnya aku menanggung semuanya, karena ini adalah caraku untuk membalas budi kepada keluarga ini. Tanpa kalian, mungkin aku bukanlah aku yang sekarang."


Nyonya Merina tersenyum lembut dan menepuk tangan Daniel pelan, "Terima kasih, Nak."


"Ngomong-ngomong Ibu tadi memikirkan apa?" tanya Daniel lagi karena belum mendapatkan jawaban dari ibunya.


"Ibu sedang memikirkan Amira. Entah kenapa Ibu merasa cemas dengannya," tutur Nyonya Merina cemas.


"Tenang saja, Bu. Ami tidak apa-apa kok, kan ada ...."


Daniel menggantungkan ucapannya, hampir saja ia menyebutkan nama Vincent di hadapan Ibunya. Nyonya Merina menunggu lanjutan ucapan Daniel dan mengernyitkan keningnya heran.


'Hampir saja aku keceplosan. Bisa habis aku diomelin Ami.'


"Ada siapa, Niel?" tanya Nyonya Merina tidak sabaran.


"Ah ... Ada ... ada Tiffany, Bu." Daniel terpaksa membohongi Ibunya, karena tidak ingin Ibunya cemas dan juga tidak ingin Amira marah padanya nanti. Nyonya Merina menghela nafas lega mendengar perkataan Daniel.


°


°


°


°

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....


__ADS_2