
Vincent dan Amira masuk ke area lobby sambil bergandengan tangan. Vincent berjalan di depan Amira dengan santainya, sedangkan Amira berjalan di belakang Vincent sambil menundukkan wajahnya.
Vincent menatap ke belakang melihat sikap kekasihnya itu dengan gemas, Apa sebegitu memalukannya berjalan denganku?
Vincent menghentikan langkahnya tiba-tiba, sehingga membuat wajah Amira menabrak punggung Vincent. Amira meringis dan memegang keningnya. Punggung Vincent yang lebar dan berotot membuat kening Amira memerah.
Vincent berbalik menghadap Amira dan sedikit menundukkan kepalanya, memeriksa kening Amira. Ia mengusap kening Amira dengan lembut, membuat Amira merasa bahagia dan bercampur malu. Saat ini mereka menjadi tontonan orang-orang di sekitar, yang tidak lain adalah para karyawan Little Royal.
"Makanya kalau jalan wajahmu diangkat, jadi bisa kelihatan jalan," ucap Vincent dan mengangkat dagu Amira, menyisir rambut Amira yang tergerai dengan jarinya dan menyelipkannya di daun telinganya.
Amira mengigit bibir bawahnya dan melirik ke sekitarnya yang sedang memperhatikan mereka. Vincent melihat ke arah lirikan Amira dan menatap para bawahannya dengan tatapan dinginnya.
Dalam sepersekian detik, orang-orang yang tadi menatap Amira dan Vincent langsung mengalihkan tatapan mereka dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Vincent berbalik menatap ke wajah Amira dan tersenyum lembut. "Ayo jalan," ucap Vincent dan menggandeng tangan Amira.
Kali ini Amira berjalan di samping Vincent dan Vincent menyamakan langkahnya dengan Amira.
°
°
°
°
Vincent dan Amira berpisah di lift. Ruang kerja Amira berada di lantai 18, sedangkan ruang kerja Vincent di lantai 22.
Amira memasuki ruangan kerjanya dan menuju ke kubikelnya. Ia melewati rekan kerjanya dan menyapa mereka, tetapi yang ia dapatkan bukanlah balasan sapaan melainkan tatapan sinis dari rekan kerjanya, terutama rekan kerja wanita.
Amira menghela nafas dan duduk di kursi kerjanya. Ia meletakkan wajahnya di atas kedua lengannya yang menyilang di atas meja.
Sepertinya satu gedung tau masalah aku dan Vincent sekarang, batin Amira sedih melihat perilaku rekan satu ruangnya yang sangat berbeda hari ini terhadapnya.
"Hei ngelamun aja!" Tiffany menepuk pundak Amira dari belakang.
Tiffany melihat wajah Amira yang sedang sedih. "Kenapa? Kok cemberut begitu?"
Tiffany tidak mengetahui kejadian yang terjadi barusan karena ia baru saja sampai ke kantor.
"Gak pa pa kok," jawab Amira berusaha tegar.
"Beneran? Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Tiffany lagi. Belum sempat Amira menjawab, Melinda Xu, salah satu mahasiswi magang menghampiri meja kerja Amira.
__ADS_1
"Wah ini nih Nyonya Little Group kita ...," sindir Melinda.
Tiffany mendelik ke arah sumber suara, "Hei apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Tiffany dengan nada tidak suka.
"Teman baikmu tidak menceritakannya padamu kalau dia sudah jadi Nyonya Little Group, ah bukan Royal Group yang benar," sindir Melinda lagi.
Tiffany menatap Amira dengan mengangkat satu alis matanya, meminta jawaban. Amira mengangguk pelan.
Tiffany menyilangkan lengannya di dada dan berbalik menatap Melinda, "Mau dia jadi Nyonya Little Group atau Royal Group bukan urusanmu bukan?" balas Tiffany dengan angkuhnya.
"Seharusnya kau menjaga sikapmu, Mel. Kalau Pak Presdir tau sikapmu seperti ini terhadap Ami, mungkin hari ini juga hari terakhirmu di sini," balas Tiffany lagi kali ini dengan senyum seringainya.
Melinda kesal dengan ucapan Tiffany dan mengangkat tangannya ingin menampar Tiffany. Tetapi Tiffany dengan cepat menahan tangan Melinda, "Kan sudah aku bilang, jaga sikapmu!" hardik Tiffany.
Melinda menepis tangan Tiffany dan berjalan meninggalkan mereka, tidak lupa ia memberikan tatapan sinis kepada Amira sebelum berlalu.
Tiffany kembali menatap Amira yang sudah berdiri dengan cemas ketika hampir terjadi perkelahian antara Tiffany dan Melinda tadi.
"Bisa kau ceritakan padaku detailnya?" tanya Tiffany dengan mata penuh harap.
°
°
°
°
"Ya ampun, ternyata Kak Vincent yang dingin itu bisa romantis juga ya," ujar Tiffany kagum sambil memegang gelang pemberian Vincent di pergelangan Amira.
"Romantis apanya, aku merasa seperti buronan aja diborgol begini," balas Amira mengerucutkan bibirnya.
"Iiiih romantis tau! Aku juga ingin menjadi tawanan cinta oleh orang yang aku sukai ...," ucap Tiffany mulai melamunkan khayalannya. Amira tertawa mendengarkan celotehan sahabatnya itu.
"Amira, Tiffany!" panggil Steve menghampiri meja mereka. Amira dan Tiffany yang saat itu sedang bersenda gurau langsung terkesiap, seperti kepergok sedang mencontek saat ujian. Mereka lupa bahwa mereka di sini sedang bekerja dan sekarang adalah jam kerja.
"Ah iya Kak," jawab Amira dan Tiffany bersamaan sambil berdiri dari tempat duduk mereka.
"Tiffany, 15 menit lagi kita akan adakan rapat mingguan, kamu juga bersiap-siap. Jangan lupa bawa catatan nanti kamu yang buat laporan hasil rapatnya," perintah Steve.
"Baik Kak," jawab Tiffany.
"Dan kamu Amira,ikut ke ruangan saya sebentar," pinta Steve. Amira mengangguk dan mengikuti Steve dari belakang.
__ADS_1
Amira melirik ke arah Tiffany yang mengepalkan tangannya dan memberikan semangat kepada Amira.
Amira masuk ke dalam ruangan Steve. Steve duduk di kursi kerjanya dan di atas mejanya tertumpuk beberapa dokumen.
Steve menyilangkan jari jemarinya di atas meja dan menatap Amira. Amira hanya menundukkan wajahnya menunggu perintah dari atasannya itu.
Steve tertawa kecil melihat Amira yang terlihat ketakutan, ia merasa lucu melihat tingkah gadis itu. Amira mendongak melihat Steve yang tertawa dan mengernyitkan dahinya.
Apa ada yang lucu dengan diriku?
Amira melihat ke penampilannya dari atas hingga ke bawah. Steve makin mengencangkan tawanya.
"Kamu ini benar-benar lucu, Ami," ucap Steve berusaha menghentikan tawanya. Amira mendelik ke arah Steve.
"Ok maaf. Ehem."
Steve memasang tampang seriusnya. Amira menelan ludahnya pelan.
"Apa kamu dengan Pak Vincent benaran pacaran?" tanya Steve dengan wajah serius.
Amira mengangguk pelan. Steve menghela nafas panjang, Amira menatapnya menunggu ucapan Steve selanjutnya.
"Baiklah, kamu juga bersiap-siaplah Ami. Nanti kamu juga ikut rapat mingguan ya. Kembalilah ke mejamu," ucap Steve yang membuat Amira bingung.
Cuma itu aja? gumam Amira di dalam hati sambil menatap Steve sekilas dan berjalan keluar ruangan.
Steve memandangi punggung Amira dengan sendu. Padahal ia baru kemarin berharap bisa mendekati Amira, tetapi pagi ini ketika ia membuka grup whatsapp kantornya, ia melihat berita heboh antara Amira dengan atasannya itu.
Awalnya ia tidak begitu percaya, tetapi setelah mendengar jawaban langsung dari Amira, ia hanya bisa pasrah. Ia tidak menyangka Amira dan Vincent berpacaran.
Ternyata yang menjemputnya kemarin adalah Pak Vincent, gumam Steve dalam hati.
Steve memikirkan kejadian kemarin sore saat Vincent menjemput Amira, ia seperti mengenal sosok Vincent saat itu. Memang kemarin Vincent memakai style pakaian santai dan memakai kacamata hitam sehingga membuat ia terlihat berbeda ketika berada di kantor.
°
°
°
°
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue ....