Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 52


__ADS_3

Vincent POV


Saat aku melihatnya bersama Leon di kamar waktu itu. Aku sudah tidak dapat berpikir jernih. Otakku membawaku kepada kenangan lima tahun yang lalu, ketika Anna mengkhianatiku. Aku merasa tidak dapat mempercayai siapapun lagi, termasuk Amira saat ini.


Aku berpikir ketika ia menjelaskan hubungannya dengan Leon dan menyatakan perasaannya padaku, ia berkata begitu agar aku dapat membantu perusahaan Lin Corp.


Aku begitu kesal memikirkan berbagai alasan di balik ucapannya, alkohol yang kuminum merasuki akal sehatku. Aku termakan emosiku sendiri dan memperlakukan Amira dengan kasar, begitu buruk dan begitu rendah.


Tetapi ucapan dan tindakan Amira saat ini yang ingin menyerahkan dirinya meracuni pikiranku, Amira kelihatan serius ketika mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku melihat keseriusan di dalam matanya.


"Ami, benarkah seperti yang kau ucapkan? Bisakah aku mempercayainya?" batinku bergemelut.


Amira menciumku perlahan, aku hanya diam tidak memberikan balasan atas ciumannya. Ia kemudian mengalungkan tangannya di leherku, memperdalam ciuman kami. Aku merasa tergoda dengan tindakannya saat ini.


Kemudian aku melihat ia menciumku sambil menarik ujung kaosnya ke atas, air matanya menetes di pipiku. Aku merasa seperti seorang pria brengsek yang memaksa wanita yang kusukai melakukan hal yang tidak dia sukai. Aku merasa bersalah.


Aku menghentikan tangannya, kemudian segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Aku membanting pintu kamar mandi hingga tertutup rapat.


Aku perlu menjernihkan pikiranku dan hasratku saat ini. Kubuka keran shower hingga air dingin mengguyur kepalaku. "Sial!" umpatku terhadap diriku sendiri.


Aku meninju dinding kamar mandi di depanku dengan kepalan tanganku. Berulang kali aku melakukannya, hingga buku-buku tanganku mengeluarkan darah segar. Darah segar tersebut mengalir bersamaan dengan air shower yang mengguyur tubuhku.


"Kamu benar-benar brengsek Vincent!" umpatku lagi. Memarahi diriku sendiri. Aku mengatur nafasku yang naik turun karena memendamkan nafsu gilaku yang dibangun oleh Amira tadi.


Setelah berhasil mengatasi pikiran dan hasratku, aku membersihkan diriku dan keluar dari kamar mandi. Aku keluar hanya mengenakan jubah mandi. Aku melihat Amira yang masih duduk di atas tempat tidur dan memeluk dirinya sendiri dalam posisi duduk.


Hatiku terenyuh melihatnya menangis seperti itu. Aku bersumpah kepada diriku sendiri tidak akan memaksakan dirinya untuk menyerahkan dirinya seperti hari ini. Aku benar-benar menyesal.


Aku berjalan ke ruang tengah dan menghubungi room service untuk membawakan obat P3K. Tidak berapa lama, petugas hotel membawakannya ke suite roomku.


Aku membawa kotak obat P3K ke dalam kamar tidur. Kulihat Amira sudah tidak menangis lagi, tetapi ia masih bertahan dengan posisinya tadi. Aku mendekatinya, memegang tangannya yang memerah karena terjepit pintu tadi dan karena cengkraman tanganku yang kuat. Ia tidak merespon sentuhanku di tangannya.


Ketika aku mengoles obat di tangannya, tiba-tiba tubuh Amira limbung ke arahku, aku sedikit terkejut. Aku melihat matanya tertutup. "Apa dia tidur?" pikirku.


Aku memegang telapak tangannya sedikit panas. Kemudian menyentuh dahinya dengan punggung tanganku. Terasa hangat. Sepertinya ia demam.


Aku segera mengambil ponselku dan menelepon Lucas.


"Halo bos," jawab Lucas setelah mengangkat panggilanku.


"Lucas, kamu tau gak cara merawat orang yang sedang demam?" tanyaku.


"Ha?" Lucas tertegun, sepertinya ia merasa aneh dengan pertanyaanku.


"Ah sudahlah. Kamu forward ke saya nomor telepon Dokter Michael sekarang!" perintahku padanya dan menutup telepon secara sepihak.


Beberapa detik kemudian, Lucas mengirimkan nomor kontak Dokter Michael ke ponselku. Dokter Michael adalah salah satu dokter pribadi Keluarga Zhang, ia tinggal di kota Amigos.


Aku segera menekan panggilan keluar ke nomor tersebut dan meminta Dokter Michael untuk segera datang ke Hotel Martinez.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Dokter Michael datang ke suite roomku. Ia memeriksa kondisi Amira saat ini.


"Bagaimana Mike?" tanyaku cemas. Dokter Michael dan aku sudah terbiasa memanggil dengan sebutan nama langsung, panggilannya adalah Mike, karena usia kami yang hanya berbeda beberapa bulan dan aku juga menganggapnya seperti teman.


Mike tersenyum dan merapikan stetoskopnya ke dalam tas dokternya. "Tidak apa-apa, Vin. Hanya demam biasa," ucap Mike membuatku bernafas lega.


"Tapi sepertinya ia sedikit syok, apa ia habis menghadapi kejadian yang menegangkan?" tanya Mike padaku.


"Apa aku membuatnya begitu takut?" batinku merasa bersalah lagi.


Mike menepuk pundakku dan tersenyum berusaha mengerti keadaanku yang tidak ingin menjawab pertanyaannya. Mike melihat ke arah tanganku yang terluka, ia hanya mengela nafas. Mike membantuku mengobati lukaku.


"Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk mencariku. Kau bisa menceritakannya padaku. Bukankah aku masih temanmu," ucap Mike padaku sambil mengobati luka di buku-buku tanganku.


"Aku akan membuka resep untuk gadis itu. Kamu harus membuatnya minum agar demamnya turun. Ingat untuk mengecek suhu tubuhnya secara berkala," pesan Mike padaku. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Resep ini biar aku saja yang tebus, nanti aku akan meminta room service mengirimnya kemari," ucap Mike setelah membantu membalut perban di tanganku yang luka.


"Baiklah, nanti aku akan mentransfer biayanya ke akun rekeningmu," balasku.


"Kita sudah berteman begitu lama. Masih saja begitu sungkan," sindirnya kepadaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Kamu di sini saja menjaga dan merawat gadis itu," ucapnya lagi. Mike benar-benar pengertian. Aku mengangguk.


"Terima kasih Mike," ucapku tulus. Mike menepuk pundakku lagi dan berjalan keluar kamar.


Setelah mengantarkan Mike ke depan pintu, aku segera kembali masuk ke dalam kamar melihat kondisi Amira. Aku duduk di pinggir tempat tidur, melihat wajah Amira yang merah karena panas dan bibirnya yang sedikit pucat. Bulir-bulir keringat menetes di keningnya. Aku mengelap keningnya dengan handuk kecil yang ada di atas nakas tempat tidur.


"Jangan pergi.."


"Vin.."


"Aku gak bohong..."


"Jangan pergi Vin.."


Amira mengigau dalam tidurnya dan tangannya menggapai-gapai mencoba meraih sesuatu. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat, meletakkannya di pipiku.


"Amira maafkan aku," ucapku dengan rasa bersalah. Aku memejamkan mataku dan mencium tangannya dengan lembut. Aku ikut terlelap di sampingnya.


Ting tong!


Ting tong!


Aku tersentak mendengar bunyi bel pintu ruanganku. Sepertinya pesanan obat dari Mike sudah datang.


Aku beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu, mengambil obat pesananku dari petugas hotel. Tidak lupa aku segera meminumkan obat penurun panasnya kepada Amira. Untunglah ia masih setengah sadar, sehingga ia bisa menelan obat itu.


"Semoga kamu cepat sembuh ya Ami. Maafkan aku," ucapku pelan sambil mengelus rambutnya lembut.

__ADS_1


Tring tring tring..


Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponselku dari atas nakas. Aku berjalan keluar dari kamar, agar Amira tidak terusik dengan pembicaraanku di ponsel.


Aku melihat nama yang tertera di ponselku, Jason. Aku mengernyitkan alisku, dan menjawab panggilannya.


"Halo," jawabku datar.


"Astaga brooo... Akhirnya kau menjawab teleponku juga," balasnya.


Aku menghela nafas pelan mendengar suaranya, sepertinya ada sedikit masalah di perusahaan. Kalau tidak, Jason tidak akan menghubungiku jam segini. Kulirik jam di tanganku menunjukkan jam sebelas malam.


"Apa kau masih di kantor?" tanyaku santai.


"Ah tepat sekali! Seharusnya ini adalah hari weekendku yang berharga. Hiks.. tetapi demi Royal Group aku harus merelakannya.. Hiks.." Aku memutarkan bola mataku malas mendengarkan ucapan Jason yang mulai ngelantur ke mana-mana.


"Sudah cukup aktingmu! Katakan ada apa malam-malam begini meneleponku?" Aku memotong ucapan Jason cepat agar ia tidak lupa tujuannya menghubungiku.


"Ah iya, hampir saja aku lupa bro," ucapnya. Nah benarkan tebakanku.


"Kamu kapan pulang ke Serenity, bro?" tanyanya dengan nada serius.


"Belum tau. Kenapa?" tanyaku masih santai.


"Begini sekretaris Calvin Lee dari Lee Contractor menghubungiku tadi. Katanya Tuan Lee sudah membaca surat kesepakatan kerja sama kita," jelas Jason. Aku mulai mengerti arah pembicaraan ini dan memasang wajah serius.


"Ia menanyakan kenapa untuk desain interior resort bukan ia yang ambil alih juga. Tuan Lee tidak terima, ia tidak ingin menandatangani surat itu karena tidak sesuai dengan perjanjiannya denganmu," jelas Jason panjang lebar. Aku memijat keningku.


"Ia ingin bertemu denganmu langsung," ucap Jason lagi. Aku menghela nafas panjang.


"Baiklah. Aku akan pulang secepatnya," jawabku.


"Secepatnya itu kapan bro?" cecar Jason.


"Aku masih ada urusan di sini. Kalau malam ini bisa selesai, aku akan ikut penerbangan pagi atau siang besok," jawabku.


"Ah baiklah bro," ucap Jason mengakhiri percakapannya.


Aku masuk kembali ke dalam kamar tidur melihat kondisi Amira. Aku menghela nafas. "Sebaiknya aku melihat kondisi Amira malam ini dulu, baru kembali ke Serenity," batinku.


End of Vincent POV


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


*To be continue...


Jangan lupa ya like n votenya readerrrsss...


pinjam jempolnya untuk klik favorit n rate ⭐5 ya

__ADS_1


thank you 🙏*


__ADS_2