Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 74


__ADS_3

**Halo Readerss-ku tercinta ...


Di sini Author ingin mengucapkan 'SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI' bagi yang merayakan ya.


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Semoga kalian tetap memberikan dukungan untukku ya ... Berikan Like dan Vote untuk cerita ini.


Jangan lupa untuk share cerita ini kepada teman-teman kalian ya!


Thank you ๐Ÿ™


Selamat membaca!


โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†**


Cahaya matahari menggelitik wajah Amira yang sedang tertidur melalui sela-sela jendela. Denganmalas, Amira membuka matanya perlahan. Ia masih membaringkan tubuhnya dan mengucek-ucek matanya pelan. Amira melihat keadaan sekelilingnya dan segera mendudukkan dirinya. Sesekali Amira menguap lebar dan meregangkan kedua tangannya ke atas.


'Kok aku bisa ada di kamar Vincent?'


โ™กโ™กโ™กโ™กโ™ก


Flashback


Amira dan Vincent melepaskan diri dari tautan bibir mereka masing-masing. Mencari udara di sekitarnya karena lamanya waktu mereka bercumbu membuat nafas mereka tersengal-sengal.


"Kamu mau buat aku mati kehabisan nafas ya?" protes Amira karena sedari tadi ia mencoba melepaskan diri dari Vincent tetapi Vincent terus menahannya.


Bibir Amira sedikit membengkak akibat cumbuan mereka yang lama dan memburu. Amira tersipu malu dengan kondisinya saat ini dan segera beranjak dari pangkuan Vincent.


"Kamu mau ke mana?" tanya Vincent membuat Amira menghentikan langkahnya.


"Mau pulang."


"Apa kamu gak dengar apa yang aku bilang tadi?"


Vincent menatap datar ke arah Amira dan tidak ada kemarahan di dalam manik matanya, ia menarik nafasnya pelan.


"Kamu tinggal di sini mulai saat ini," ujar Vincent mempertegas ucapannya tadi.


"Kenapa?" tanya Amira heran karena ia merasa ia tidak punya alasan untuk pindah ke apartemen Vincent. Apalagi ia juga tinggal bersebelahan dengan Vincent, mau bertemu juga gampang.


"Aku tidak mau sampai kejadian kemarin terjadi lagi. Kalau misalnya Daniel tidak menghubungiku, aku tidak tau apa yang akan terjadi padamu," terang Vincent.


"Tapi Sayang ...."


"Aku tidak mau ada penolakan!" balas Vincent tegas memotong ucapan Amira.


Vincent menaikkan satu alis matanya dan tersenyum simpul melihat raut wajah Amira yang cemberut. Ia mendekatkan dirinya dan menggenggam tangan Amira dengan penuh kasih.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu, tetapi aku hanya ingin kamu berada di dekatku agar aku bisa lebih tenang."


Vincent mengangkat dagu Amira pelan dan mereka saling bertatapan. "Apa kamu takut kalau aku berbuat macam-macam?"


Amira hanya diam mendengar pertanyaan Vincent. Ia tidak tahu harus menjawab apa dan menggigit bibir bawahnya untuk menutup rasa gugupnya. Vincent menyadari hal itu.

__ADS_1


"Aku berjanji tidak akan memaksamu untuk melakukan hal 'itu' kalau kamu tidak mau. Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Vincent lagi dengan menatap manik mata Amira tulus.


Amira menghilangkan rasa ragu dan gugup di dalam pikirannya. Ia menatap bola mata Vincent yang terpancar ketulusan dan penuh kasih. Amira tersenyum dan mengangguk.


"Aku percaya sama kamu, Vin."


Amira menghambur ke dalam pelukan Vincent dan Vincent membalasnya. "Terima kasih, Sayang. I love you."


"I love you too, Vin."


Amira melepaskan pelukannya, "Aku pulang dulu ambil barang-barangku di sana ya."


Vincent menarik tangan Amira membuat Amira berbalik menghadapnya, "Tidak perlu. Aku sudah mempersiapkan semuanya."


Vincent menggandeng tangan Amira dan membawa Amira kembali ke kamar miliknya. Vincent membuka salah satu lemari pakaiannya. Amira membulatkan matanya takjub melihat isi lemari yang cukup besar itu penuh dengan berbagai model pakaian wanita, aksesoris dan tas dengan model yang sedang populer saat ini.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Vincent melihat Amira yang masih bengong.


Amira mengangguk cepat dan menjawab, "Aku suka."


"Terus pakaianmu ke mana?" tanya Amira heran melihat isi lemari yang berisi hanya perlengkapan wanita.


Vincent membuka pintu lemari di sebelahnya yang berukuran sama dan memperlihatkan isinya, "Punyaku di sini."


"Jadi? Kamu tidur di kamar ini juga?" tanya Amira kaget.


"Maunya sih gitu ... tapi ... aku kan sudah janji sama kamu tadi," jawab Vincent dengan wajah memelas.


Amira menyunggingkan senyumnya dan memeluk Vincent lagi, "Makasih ya, Sayang."


Cup!


Amira mengecup pipi Vincent sekilas dan segera berlari dari ruangan itu sebelum Vincent meminta lebih dari itu. Amira tertawa mendengar Vincent memanggil namanya dengan manja.


Malam itu Amira dan Vincent memesan makanan melalui aplikasi online. Tidak lupa Vincent mengecek terlebih dahulu makanan yang dipesan. Kali ini ia tidak mau kejadian waktu itu terjadi lagi.


Setelah makan malam, mereka menonton acara televisi di ruang tengah dengan Vincent duduk di sofa panjang dan Amira berbaring di pangkuan Vincent.


"Kenapa cemberut?" tanya Vincent melihat wajah Amira yang sedih.


"Ini bentol-bentol merahnya kapan hilangnya? Kan aku malu kalau pergi kerja besok dengan keadaan begini," sahut Amira sambil menunjukkan ruam-ruam di wajah dan tangannya yang masih terlihat walaupun sudah mulai memudar.


"Besok kamu libur aja. Aku sudah bilang ke Robert," balas Vincent santai. Sekedar mengingatkan, Robert adalah Manager Humas di Little Royal.


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi," potong Vincent cepat.


"Baiklah," jawab Amira sambil memanyunkan bibirnya.


Vincent menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Amira sekejap dan tersenyum, "Walau begini, kamu masih tetap cantik kok di mataku, Sayang."


"Dasar mesum gombal!" ledek Amira. Vincent tertawa mendengarnya.


Mereka melanjutkan acara televisi di depannya. Tidak berapa lama Amira terlelap di pangkuan Vincent.

__ADS_1


Vincent mengangkat tubuh Amira di kedua lengannya ala bridal syle dan meletakkannya di atas tempat tidur berbentuk king size di kamarnya. Tidak lupa ia menyelimuti tubuh Amira dan mengecup keningnya dengan penuh kasih.


โ™กโ™กโ™กโ™กโ™ก


"Sepertinya semalam aku ketiduran," gumam Amira kepada dirinya sendiri.


Ia bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan wajahnya dan menggosok giginya. Setelah selesai, ia bergegas keluar kamar dan mencari Vincent di ruang kerjanya, tetapi tidak ada. Amira menuju dapur dan melihat secarik kertas kecil di atas meja makan. Ia membaca catatan kecil itu dan tersenyum.


"Ternyata dia sudah ke kantor," gumamnya pelan.


Amira melihat sarapan pagi yang sudah tersedia di meja makan yang sudah disiapkan Vincent untuknya. Tanpa ragu lagi, Amira duduk di kursi dan menghabiskan makanan itu.


ยฐ


ยฐ


ยฐ


ยฐ


ยฐ


Sementara itu di Little Royal.


Steve memasuki ruangannya dengan raut wajah kesal setelah memimpin rapat di divisinya. Alasan di balik kemarahannya adalah karena para bawahannya yang memberikan hasil rancangannya tidak ada yang menarik dan sesuai dengan permintaan atasannya.


Steve ingin segera menyelesaikan rancangan Green Resort agar dapat menyelamatkan adiknya, Helen. Tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. Ia duduk di ruangannya dan menundukkan wajahnya dengan kedua tangan yang menyangga kepalanya. Ia menarik rambutnya kasar karena merasa sedikit frustasi.


Steve berpikir agar lebih baik segera menyelamatkan Helen, karena semakin lama ia memberikan rancangan kepada pria misterius itu, maka semakin terancam juga nyawa adiknya. Tadi pagi ia mendapatkan video dari pria itu, walaupun adiknya tidak terluka tetapi wajah adiknya terlihat sedikit pucat, sepertinya Helen mengalami depresi atas tekanan yang ia dapat di sana.


'Helen, bertahanlah sedikit lagi! Kakak pasti akan segera menyelamatkanmu!'


Para bawahan Steve merasa heran melihat sikap Steve yang terlihat aneh. Steve yang biasanya terkenal baik dan penyabar, hari ini tiba-tiba meledakkan emosinya pada saat rapat tadi pagi karena melihat hasil rancangan yang tidak sesuai permintaannya. Hal ini sampai di telinga Vincent yang saat itu melewati mereka yang sedang menggosipi Steve di ruangan pantry.


Little Royal memang memiliki *p*antry di setiap lantainya. Pantry itu sendiri adalah tempat para karyawan bersantai sejenak untuk membuat minuman sendiri atau hanya sekedar melepas penat.


Saat itu Vincent memang akan ke ruangan itu karena ruangan pantry di tempat kerjanya sedang dibersihkan. Tanpa sengaja Vincent mendengarkan pembicaraan ketiga wanita yang berprofesi sebagai asisten Steve.


Vincent mengerutkan keningnya dan tidak menegur mereka yang sedang bergosip ria di belakangnya. Ia mencoba menelaah ucapan para bawahan Steve itu.


"Ah, Pak ... Pak Vincent!" sapa salah seorang bawahan Steve terkejut melihat kedatangan Vincent di belakang mereka. Dua wanita lain yang sedang bergosip langsung menghentikan obrolannya dan menyapa Vincent. Vincent hanya mengangguk dan melewati mereka keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ketiga wanita itu hanya bisa berharap-harap cemas agar mereka tidak dipecat hari ini!


ยฐ


ยฐ


ยฐ


ยฐ


ยฐ


โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2