
Setelah selesai dengan keperluannya di toilet, Amira keluar dan tanpa sengaja ia menabrak seorang pria tua berbadan besar yang tadi berbicara dengan Anna.
"Ah, maafkan aku, Tuan!" ucap Amira meminta maaf dan segera berlalu meninggalkan pria itu. Tetapi dengan cepat pria itu menarik pergelangan tangan Amira membuat dirinya kaget dan berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu mau ke mana, Nona Cantik? Kalau mau minta maaf, gunakan dengan tubuhmu bukan mulutmu," ujar pria itu sinis dan menghina.
Amira membulatkan matanya, "KAU …."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, pria itu dengan cepat memasukkan sebuah pil kecil ke dalam mulut Amira. Tanpa persiapan, pil itu tertelan oleh Amira karena bentuknya yang sangat kecil. Ia berusaha mengeluarkannya dari mulutnya, tetapi tidak bisa.
"KAMU! APA YANG KAMU BERIKAN TADI, HAH?!" hardik Amira kepada pria itu.
"Sebuah kenikmatan … nanti kamu akan merasakannya, Sayang. Bersamaku tentunya …" bisik pria itu di telinga Amira.
Amira terkejut dan jijik mendengarkan bisikan pria itu. Ia mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang saat ini masih dicengkram kuat, tetapi tidak berhasil. Pria itu semakin mendekatkan tubuhnya kepada Amira. Tanpa aba-aba, Amira menerjang kuat 'harta' pria itu dengan pahanya hingga membuat pria itu meringis kesakitan dan melepaskan tangannya dari Amira.
Tanpa melewatkan kesempatan, Amira segera berlari keluar meninggalkan tempat terkutuk itu. Ia melupakan sahabatnya yang masih menunggunya di dalam. Pikirannya saat ini adalah segera melarikan diri sebelum pria brengsek itu mengejarnya.
Amira berlari tanpa melihat ke depan hingga sebuah mobil mewah hampir menabraknya. Si pengemudi menghentikan mobilnya tepat di depan Amira, sehingga menimbulkan decitan antara ban mobil dengan aspal.
Amira masih menoleh ke belakang dan melihat pria tua itu masih mengejarnya. Tanpa berpikir panjang, Amira membuka pintu belakang penumpang mobil mewah yang hampir menabraknya dan duduk di dalamnya.
"Nona?" sapa seseorang yang duduk di samping Amira saat ini.
Amira menoleh dan melihat seorang pria muda tampan sedang duduk di sampingnya dan menatapnya dengan heran.
"Tuan! Tuan, tolong aku! Ada pria brengsek yang ingin menodaiku," tutur Amira meminta tolong kepada pria itu sambil mengenggam tangannya dan sesekali menoleh keluar. Tangannya gemetar ketika mengenggam tangan pria muda di sampingnya. Tanpa Amira ketahui, pria muda di sampingnya itu adalah Adrian Song.
Adrian menoleh ke luar melihat seorang pria tua berbadan besar sedang mencari gadis cantik yang berada di depannya ini.
Adrian menatap Amira dengan tatapan mempesona. Ia merasa tertarik dengan sosok gadis bermata besar yang sedang memohon kepadanya saat ini dan tersenyum lembut kepadanya.
'Sungguh wanita cantik yang menggemaskan!' batin Adrian yang saat ini terpesona dengan Amira. Ia belum mengetahui identitas gadis ini, tetapi hatinya sudah terpanah oleh tatapannya.
"Peter, jalankan mobilnya!" perintah Adrian kepada asisten pribadinya yang sedang mengemudikan mobilnya, Peter.
"Baik, Tuan!" jawab Peter dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup jauh, hati Amira mulai tenang. Ia melepaskan genggaman tangannya di tangan Adrian dan bernafas lega.
"Maaf," ucap Amira pelan setelah sadar bahwa ia memegang tangan pria asing di depannya sejak tadi.
Adrian tersenyum melihatnya, "Siapa namamu?"
"A-Amira Lin."
Amira menundukkan wajahnya merasa malu mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
'Kenapa wajahku terasa panas ya?' gumam Amira di dalam hati.
"Ah, perkenalkan saya Adrian Song, Nona Lin," ucap Adrian memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya, tetapi Amira mengabaikannya.
'Kenapa semakin lama semakin panas ya?'
Amira memegang tengkuk lehernya dan mengusapnya pelan. Ia merasa sekujur tubuhnya tidak nyaman. Ada suatu hasrat yang bergejolak di dalam dirinya.
'Apa yang dimasukkan pria brengsek itu ke mulutku tadi?'
"Nona Lin? Apa kamu tidak enak badan?" tanya Adrian yang sedari tadi memperhatikan sikap Amira yang merasa tidak nyaman.
Amira berusaha mengontrol dirinya dan menelan salivanya pelan, dengan perlahan ia memalingkan wajahnya dari Adrian.
Adrian mengetahui ada yang tidak beres dengan kondisi gadis di sampingnya saat ini. Ia memegang lengan Amira dan membuat Amira menoleh kepadanya. Wajah Amira begitu merah dengan bulir-bulir keringat yang membasahi keningnya, nafasnya tidak beraturan dan matanya terpancar suatu keinginan yang begitu kuat, tetapi berusaha ia kendalikan.
'Apa gadis ini sedang dalam pengaruh obat? Apa pria tadi yang memberikannya?' batin Adrian geram mengetahui bahwa Amira dicelakai oleh pria tadi. Ia menyesal karena tadi tidak menghajar pria itu terlebih dahulu.
"Peter! Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Adrian.
Amira menggenggam tangan Adrian kuat dan menggeleng, "An-antarkan … aku pulang," ucap Amira terbata-bata dan nafas tersengal-sengal karena berusaha menahan hasrat di dalam dirinya.
"A-Apartemen Riverside," ucap Amira lagi dengan bersusah payah.
"Tapi Nona Lin dengan keadaanmu seperti ini …."
Belum sempat Adrian menyelesaikan ucapannya, Amira yang sedari tadi memperhatikan Adrian sudah tidak dapat membendung hasratnya. Tanpa Amira sadari, dirinya mendekati Adrian dan memegang wajah pria itu dengan jarinya menyentuh bibir pria itu.
__ADS_1
Adrian tersentak kaget dengan sentuhan Amira. Ia seperti terkena sengatan listrik beribu-ribu volt dan mengeluarkan hasrat yang sama dengan Amira saat ini. Tanpa diminta, Adrian mendekatkan bibirnya ke bibir mungil gadis itu dan mulai menciumnya dengan lembut. Amira sedikit terkejut, tetapi karena pengaruh obat yang diminumnya, dirinya tidak menolak Adrian.
Peter yang sedang melajukan mobilnya terkejut melihat adegan yang sedang terjadi di belakangnya melalui spion dan berusaha tetap fokus dengan kendaraannya.
Desahan dari bibir Amira keluar begitu saja tanpa ia minta. Adrian tersenyum puas mendengarkan suara Amira yang begitu menggoda di telinganya hingga suara dering telepon menyadarkan Amira dari aksi gilanya saat ini.
Amira segera mendorong tubuh Adrian dan menjauh. Ia mencengkram bajunya di dada dengan erat dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menepuk-nepuk pipinya saat ini berusaha menyadarkan dirinya.
'Apa yang baru saja kamu lakukan, Amira Lin?!' batin Amira berteriak.
Amira mengeluarkan ponsel yang tadi berdering dari dalam tasnya. Ia melihat nama si penelepon di panggilan masuk dan menggigit bibir bawahnya. Penelepon itu adalah kekasihnya, Vincent Zhang. Amira berusaha mengatur nafasnya dan melakukan panggilan kembali.
°
°
°
Sementara itu di Little Royal.
Vincent yang baru saja selesai dengan pekerjaannya dan ingin menjemput pujaan hatinya itu, tidak mengetahui lokasi acara ultah teman Amira, sehingga ia memutuskan menelpon kekasihnya saat ini. Ia heran Amira tidak menjawab panggilannya dan ketika akan melakukan panggilan kedua, kekasihnya telah menghubunginya duluan. Ia tersenyum dan menjawabnya.
"Halo, Sayang. Kamu di mana? Kamu gak jadi share lokasi acaranya ke aku?" cecar Vincent kepada kekasihnya.
"Aku … aku lagi dalam perjalanan pulang," jawab Amira gugup.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku langsung pulang saja. Sampai bertemu di rumah, Sayang," ucap Vincent dengan lembut dan memberikan tanda kecupan di ponselnya.
"Mmm …" jawab Amira sambil mengangguk pelan dan segera menutup teleponnya.
Vincent mengernyitkan dahinya heran menatap ponselnya. Ia merasa aneh dengan sikap kekasihnya itu, tetapi ia berusaha mengabaikannya. Dengan segera ia menyambar kunci mobil dan tas kerjanya di atas meja, menuju ke parkiran mobilnya dan ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.
°
°
°
__ADS_1
°
To be continue ....