
Halo Readers!!
Tinggalkan komentarnya donk untuk cerita ini
Apakah masih menarik dibaca atau tidak?
Aku butuh masukan nih 😅
Maaf baru bisa up hari ini, tapi Author langsung up 3 bab ya hari ini...
Thank you 🙏
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Amira diajak masuk ke dalam kamar Nyonya Thalia. Ia berdiri di ambang pintu menatap ruangan itu yang cukup luas. Ia memperhatikan interior ruangan itu yang klasik, tetapi sangat mewah. Semua furniture terbuat dari bahan dasar kayu mahoni pilihan dengan kualitas terbaik di kelasnya.
"Kenapa hanya berdiri saja? Duduklah di sana," ucap Nyonya Thalia mempersilahkannya duduk di sofa dekat tempat tidurnya.
Amira duduk sambil menunggu Nyonya Thalia mengambil kotak P3K. Nyonya Thalia berjalan mendekati gadis itu dan duduk di samping Amira sambil membawa kotak P3K di tangannya. Ia mengeluarkan alkohol dan menuangnya di atas kapas. Ia mengambil tangan Amira perlahan dan mengusap kapasnya dengan pelan di atas jarinya yang terluka.
Gadis itu hanya diam dan menundukkan wajahnya. Entah kenapa dirinya tidak enak menerima tatapan yang tidak nyaman dari Nyonya Thalia sejak tadi.
"Ami …" panggil Nyonya Thalia setelah memberikan obat luka di jari Amira. Ia menatap gadis itu dengan senyuman yang terpaksa di wajahnya.
Amira mengangkat wajahnya, "Iya Tante," jawabnya pelan dan membalas senyuman itu.
"Kamu dan Vincent sudah berapa lama berhubungan?" tanya Nyonya Thalia memulai percakapan dan menyelidik.
"Sudah dua bulan lebih, Tante," ucap Amira mencoba mengingat hari jadi mereka.
__ADS_1
"Oh, Vincent yang mengejarmu atau … Ah tidak, tidak … pasti kamu duluan yang mengejarnya kan. Anakku itu begitu dingin dan kaku mana mungkin dia duluan yang menembakmu," ucap Nyonya Thalia yang mulai merendahkan gadis di depannya itu dan tersenyum simpul. Amira hanya diam, ia tidak ingin membantah ucapan ibunya Vincent, karena tidak ingin dibilang tidak sopan. Apalagi ini pertemuan pertama mereka.
"Terus apa pekerjaan ayahmu?" tanya Nyonya Thalia lagi.
"Ah, ayahku sudah lama tiada, Tante. Aku hanya tinggal bersama kakek, ibu dan kakakku. Sekarang kakakku yang membantu kakek mengurus perusahaan setelah ayah tiada," jelas Amira yang sebenarnya tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nyonya Thalia.
"Apa nama perusahaannya?" tanya Nyonya Thalia menyelidik.
"Lin Corp, Tante," jawab Amira lagi.
'Ternyata Lin Corp yang akhir-akhir ini turun pamor? Bagaimana dia bisa bersanding dengan putraku, haaah …' batin Nyonya Thalia yang merendahkan status Amira di matanya.
Nyonya Thalia menatap wajah gadis polos di depannya dengan datar. Ia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti seorang polisi yang menginterogasi tahanannya.
"Siapa nama ibumu?" tanya Nyonya Thalia akhirnya yang sudah tidak bisa menahan gejolak di dalam hatinya. Ia penasaran dan ingin memastikan bahwa dugaannya benar.
"Merina Wu, Tante," jawab Amira mengernyitkan dahinya heran mendengarkan pertanyaan dari ibunya Vincent itu.
Bagaikan mendengar suara petir di hari yang cerah, raut wajah Nyonya Thalia berubah setelah Amira menjawab pertanyaannya itu. Tangannya yang saat itu menggenggam tangan Amira mengeratkan genggamannya yang membuat Amira sedikit kesakitan.
'Ternyata dugaanku benar. Sekarang putrinya ingin masuk ke dalam Keluarga Zhang, huh! Jangan harap rencanamu berhasil!' batin Nyonya Thalia melamun membayangkan kejadian berpuluh-puluh tahun silam yang ingin ia lupakan.
Flashback 23 tahun yang lalu.
Saat itu Thalia sibuk dengan aktivitasnya dalam mengurus rumah tangga dan anaknya, Vincent yang baru menginjak usia lima tahun. Ia sedikit kewalahan karena usia Vincent saat itu sedang dalam tahap aktif dan penuh rasa ingin tahu.
Karena kesibukannya itulah, suami Thalia, James Zhang, sedikit terabaikan. Untuk kebutuhan batin, terkadang pun Thalia tidak memenuhinya dengan alasan dirinya sudah lelah dengan aktivitasnya sehari-hari.
Awalnya James tidak mempermasalahkannya, karena dia pikir untuk memberikan istrinya waktu privasinya sendiri. James memang seorang suami yang sangat menyayangi istrinya. Pernikahan mereka selama sembilan tahun ini pun terbilang sangat jarang terjadi pertengkaran, karena sikap James yang suka mengalah terhadap istrinya itu.
__ADS_1
Saat itu Royal Group masih perusahaan kecil yang sedang berkembang, James membangun perusahaan itu dari nol dan tidak hanya karena skill yang dimiliki James saja perusahaan itu dapat bertahan dan berkembang pesat, tetapi atas bantuan keuangan dari pihak keluarga istrinya juga Royal Group bisa bersaing dengan perusahaan besar lainnya.
Masalah mulai terjadi di dalam rumah tangga dan perusahaan James, ketika seorang sekretaris baru masuk ke dalam perusahaan yang dikelola oleh James, Merina Wu nama sekretaris itu. Merina yang saat itu baru saja lulus sekolah dan melamar ke perusahaan milik James begitu senang dapat masuk perusahaan itu dan menjadi Sekretaris Presdir. Ia bekerja dengan giat dan rajin, membantu James mengatur jadwal dan mengurus segala dokumen yang diperlukan.
Merina termasuk karyawan yang teladan di perusahaannya, bukan hanya itu, paras yang cantik dan tubuh yang menawan membuat para karyawan pria menaruh hati padanya dan berusaha mendapatkannya. Hal itu pun tidak luput dari perhatian James, ia kagum dengan pekerjaan yang dilakukan Merina dan juga kagum terhadap sikap rendah hati dan kecantikan gadis itu. Perlahan James mulai merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada wanita selain istrinya.
James mulai mengejar Merina dan melakukan hal yang telah menodai pernikahannya selama sembilan tahun bersama istrinya. Ia tahu dirinya salah telah melakukan hal itu, tetapi ia juga pria normal yang butuh perhatian dan pengertian dari seorang wanita dan hal itu ia dapatkan dari sekretarisnya itu.
Awalnya Merina yang polos tidak tahu maksud atasannya itu yang selalu memberikan hadiah mahal kepada dirinya dengan alasan sebagai penghargaan terhadap pekerjaannya. Tetapi perlahan Merina mengerti maksud James, ia berusahaa menghindar dan mengembalikan semua hadiah yang pernah diberikan kepadanya. Ketika James menyatakan perasaannya, Merina menolaknya dengan alasan ia tidak mau menjadi orang ketiga di dalam pernikahan James.
Tetapi bukan James namanya kalau ia menyerah begitu saja, akhirnya benteng pertahanan Merina hancur juga dengan segala perhatian dan janji manis yang diberikan kepadanya. Mereka melakukan hal gila di belakang Thalia.
Seperti kata pepatah sedalam-dalamnya bangkai dikubur, lama-lama pasti tercium juga. Hal itu pun tidak luput dari pengamatan Thalia, ia mulai mencurigai suaminya yang selalu pulang larut malam dan terkadang tercium parfum bukan miliknya ataupun suaminya.
Suatu hari ia mengikuti suaminya secara diam-diam, ia heran karena seharian suaminya tidak keluar sama sekali dari kantornya, tetapi hal itu tidak membuat kecurigaan di dalam dirinya sirna. Keesokan harinya ia tetap mengikuti suaminya dan kali ini ia masuk ke ruangan kantor suaminya. Thalia datang tanpa mengabari suaminya terlebih dahulu seperti yang biasa ia lakukan dan apa yang ia lihat di dalam ruangan kantor suaminya saat itu, terus membekas dalam ingatannya bahkan setelah berpuluh-puluh tahun kemudian. James, suaminya yang telah mengucapkan janji akan selalu setia kepadanya di hari pernikahan mereka, bercumbu dengan seorang wanita di hadapannya.
Hati Thalia hancur dan perih melihat hal itu. Suaminya telah menorehkan segores sayatan di hatinya yang tidak akan pernah hilang dan membekas selamanya. Dengan perlahan, ia mendekati wanita yang sedang bercumbu dengan pria miliknya. Ditariknya rambut wanita itu dan satu tamparan keras dilayangkan di pipi wanita itu. Bukan hanya itu saja, segala caci maki pun dilontarkan dari bibir Thalia, ia menumpahkan semua rasa sakitnya kala itu.
Akibat perbuatan tercela yang dilakukan oleh James, pria itu harus menerima akibatnya. Ia dihadapkan dua pilihan, memilih untuk tetap bersama Merina atau bercerai dengan istrinya. Thalia melayangkan gugatan cerai dengan embel-embel menarik seluruh saham milik keluarganya dan membawa putranya bersamanya. Tetapi pada akhirnya James lebih memilih keluarganya dibandingkan Merina, wanita yang telah mengisi sementara kekosongan hatinya itu.
End of flashback.
"Ta-tante? Tante tidak apa-apa?" panggil Amira yang melihat Nyonya Thalia yang mematung sambil menatap dirinya tanpa berkedip.
"Ah … maaf. Tante tidak apa-apa," ucap Nyonya Thalia yang kaget dan melepaskan genggamannya di tangan Amira. Ia membereskan peralatan medisnya ke dalam kotak P3K dan meletakkannya di samping tempat duduknya.
Amira mengusap tangannya yang sedikit memerah karena genggaman Nyonya Thalia tadi.
'Apakah Tante tidak menyukaiku? Tapi kenapa?' batin Amira sedih.
__ADS_1
To be continue ....