
Amira POV
"Iya.. iya.. ini aku bentar lagi, ini mau ke sana," ucapku menaruh ponsel di telingaku dengan satu tangan mencari-cari pakaian di lemariku.
Tiffany meneleponku terus dari tadi. Hari ini adalah hari H pesta ulang tahun Tiffany. Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Tiffany.
Aku sampai bingung mau memakai gaun yang mana. Waktu kemarin di butik, Tiffany memaksaku untuk membeli gaun baru, tetapi aku menolaknya. Kak Leon juga ingin membelikannya untukku, tapi aku sungkan.
Si mesum Vincent malah sama sekali tidak menawarkan untuk membelikan apapun untukku. Dia hanya datang mengganggu acara shoppingku dengan Tiffany kemarin. Sebal!
Dan sekarang, aku melihat lemari pakaianku dan sudah mengacak-acaknya setengah jam. Aku merasa tidak ada yang cocok. Aku menghela nafas sedih. Seharusnya waktu Kak Leon ingin membelikanku gaun, aku gak usah sok jaim.
"Sudah dulu ya, Tif," ucapku memutuskan sambungan teleponnya.
Ting tong!
Ting tong!
Bel apartemenku berbunyi. Aku segera keluar dari kamar dan membuka pintu apartemenku.
"Vincent?" Aku terkejut melihat kedatangan Vincent di depan apartemenku. Vincent memakai mantel jas berwarna biru navy, celana panjang hitam dan kaos hitam. Tampan sekali. "Eh? Apa yang aku pikirkan?" aku menepuk pipiku.
"Ada apa?" tanyaku mengalihkan pikiranku tadi. Sedikit penasaran dengan kedatangannya. Vincent tersenyum simpul.
Tangan Vincent kedua-duanya ditaruh di belakang, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Aku menatapnya curiga.
"Kamu bawa apaan?" tanyaku. "Coba kamu tebak," ucapnya. Aku memanyunkan bibirku, aku tidak jago dalam hal tebak-tebakan.
Aku mencondongkan wajahku ke belakang tubuh Vincent, ingin mengintip barang bawaannya. Vincent menghindar.
"Apa sih? Rahasia amat. Kalau gak mau kasih lihat ya sudah." Aku mengerucutkan bibirku dan menyilangkan tanganku.
Vincent tertawa geli melihat sikapku dan kemudian menyodorkan sebuah kotak persegi berukuran sedang di depanku. "Ini ambillah," ucapnya.
"Apa ini?" tanyaku curiga.
"Buka aja. Nanti kamu juga tau," jawabnya.
Aku mengambil kotaknya dan berjalan masuk ke dalam apartemenku. Vincent mengikutiku dari belakang.
Aku meletakkan kotak tersebut di atas meja ruang tamu. Kubuka kotak itu perlahan-lahan dan mengintip isi di dalamnya. "Kamu tinggal buka aja sih, susah amat!" ucapnya sebal melihat sikapku yang curiga dengan pemberiannya. Aku hanya menyengir dan membuka dengan cepat penutupnya.
Aku melongo melihat isi kotak itu. Kemudian aku mengeluarkan isinya, sebuah gaun cantik berwarna biru navy tanpa lengan dengan panjang di bawah lutut diliputi berbagai aksesoris payet berwarna silver. Sungguh cantik.
__ADS_1
"Ini untukku?" tanyaku lagi. Sungguh pertanyaan yang cukup bodoh. Vincent mengangguk.
"Walaupun aku tidak begitu suka dengan modelnya yang sedikit terbuka, tetapi aku tau kau pasti suka," ucap Vincent.
"Bagaimana kau bisa tau ukuran tubuhku?" tanyaku heran.
"Dengan begini saja, aku sudah bisa tau," ucap Vincent memeluk pinggangku. Aku mendengus dan mendorong tubuhnya menjauh.
"Cepat ganti. Nanti kita bisa telat," ucap Vincent sambil melirik jam tangannya.
"Kita? Memangnya kamu mau ke mana?" tanyaku heran.
"Ke pesta ulang tahun sahabatmu," jawab Vincent santai.
"Kenapa kau bisa tau? Tiffany mengundangmu juga?" tanyaku lagi. Vincent hanya tersenyum.
"Sudah. Sana cepat pergi ganti. Nanti gak keburu lho," ucap Vincent mendorong tubuhku masuk ke dalam kamar Tiffany. "Eeeeh.. eh.. tunggu.. salah," ucapku menghentikannya dan berbalik masuk ke kamarku.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar dengan mengenakan gaun pemberian Vincent. Gaun itu pas sekali di tubuhku. Aku suka dengan modelnya. Aku hanya memakai makeup natural di wajahku. Rambutku kutata dengan style curly di bawahnya dengan hairfall braid style di belakangnya dan poni terurai sedikit di depan.
Vincent yang melihatku keluar hanya tertegun.
"Ehem," aku berdeham mengalihkan perhatian Vincent yang sepertinya kagum dengan penampilanku. Dia mendekatiku perlahan.
"Kenapa? Kalau kamu gak mau pergi, ya sudah. Aku bisa pergi sendiri," protesku.
"Aku tidak mau para pria melihatmu yang cantik seperti ini. Cukup aku saja," ucap Vincent yang sukses membuatku tersipu malu.
"Dasar gombal!" protesku dengan wajah malu bercampur senang.
Aku berjalan ke arah pintu dan baru dua langkah berjalan, Vincent menarik tanganku. Aku berbalik, dia menarik pinggangku dan tubuh kami sangat dekat sekarang.
"Aku akan mengantarmu, tapi imbalan untukku mana?" ucap Vincent menunjuk pipinya. Aku memutarkan bola mataku malas, aku tidak akan tertipu lagi dengan trik yang sama seperti sebelumnya. Aku memalingkan wajahku dan mencoba menjauh darinya.
Dengan gerakan secepat kilat, Vincent mencium bibirku dan melepaskan pinggangku, segera berlari ke arah pintu keluar. "VINCEEENNTTTT!!" teriakku geram.
Vincent tertawa keras di depan pintu. Aku menghentakkan kakiku sebal.
"Ayo nanti pestanya keburu mulai," ucapnya setelah puas tertawa, ia mendekatiku dan menarikku berjalan keluar. Aku berjalan seperti seekor sapi yang ditarik.
Selama perjalanan di dalam mobil Vincent, aku hanya diam. Aku masih marah padanya.
"Kamu masih marah?" tanyanya dengan matanya melihat ke arah jalan.
__ADS_1
Aku hanya mendengus sebal.
"Maaf, siapa suruh kamu secantik ini. Aku jadi tidak tahan untuk tidak menciummu," ucapnya sambil mencubit pipiku pelan. Aku menepis tangannya dan memalingkan wajahku.
Tring tring tring
Ponselku di dalam tas kecilku berbunyi. Bisa kutebak siapa yang menghubungiku. Aku mengeluarkannya dari dalam tas dan benar tebakanku. Tiffany menghubungiku lagi. Ini sudah kelima kalinya dia menghubungiku hari ini.
"Halo, Ami. Kamu di mana?" cerocos Tiffany sebelum aku sempat mengucapkan 'Halo'.
"Ini lagi di jalan, cantikku," ucapku mencoba menenangkannya yang mungkin panik aku belum sampai.
"Oh baguslah. Aku akan menunggumu. Maaf ya kamu jadi harus naik taksi, Ami. Kak Leon sibuk membantu mengatur pestaku jadi tidak bisa menjemputmu tadi," sesal Tiffany.
"Tidak apa-apa, kok. Aku tidak naik taksi. Vincent yang mengantarku sekarang," bisikku pelan, tetapi membuat Tiffany berteriak histeris. Aku menjauhkan ponselku dari telinga.
"Kenapa kamu bisa bersama dia?" tanya Tiffany heran dan juga membuatku heran.
"Lho, bukankah kamu juga mengundangnya?" bisikku pelan sambil melirik ke arah Vincent yang tersenyum, sepertinya ia mendengarkan percakapanku.
"Mana mungkin, Ami. Dia sama Kak Leon saja sudah seperti anjing dan kucing kemarin. Masa aku mau merusak pestaku sendiri," ucap Tiffany lemas. "Ah ya sudahlah. Kamu hati-hati di jalan. Aku mau menyambut tamu dulu," ucap Tiffany menutup teleponnya sepihak dan membuatku bingung.
Aku menatap Vincent tajam. "Kamu berbohong lagi padaku?" tanyaku sebal.
"Berbohong? Aku tidak merasa melakukannya," jawab Vincent santai tanpa melihat ke arahku.
"Kamu bilang kalau kamu juga diundang Tiffany ke pesta ulang tahunnya, tapi Tiffany bilang nggak ada," ucapku menuntut jawaban.
"Apa aku pernah mengatakannya?"
"Aku hanya bilang akan mengantarmu ke sana," jawab Vincent lagi yang sukses membuatku seperti orang bodoh yang dipermainkan.
Benar! Vincent tidak pernah mengatakan kalau ia diundang oleh Tiffany. Aku hanya meyimpulkannya sendiri. Aku benar-benar bodoh dipermainkan olehnya. Sebal! Aku mengerucutkan bibirku.
"Aku ke sana dengan status sebagai pasangan pestamu, bukankah itu lebih bagus daripada datang seorang diri?" ucap Vincent yang membuatku melongo mendengarnya.
"Ami.. Ami.. kapan kamu bisa belajar lebih pintar darinya," batinku pasrah menghadapi orang seperti Vincent.
Vincent melirik sedikit ke arahku dan tersenyum. Ia mencubit pipiku lagi dan aku menepisnya sebal.
End of Amira POV
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue...